
Seminggu sudah pernikahan Chandra dan Luna berjalan. Tapi hubungan mereka masih tetap belum ada kemajuan.
Chandra yang mulai sibuk dengan kesibukannya di kantor, dan Luna yang mulai seminggu yang lalu diberikan sopir pribadi oleh Chandra agar tidak terjadi hal yang seperti waktu itu saat ia harus pulang dari kampus dan naik taksi online tanpa membawa uang yang berakhir membuatnya geram.
Hari ini, sudah waktunya Ibu Halimah berpindah ke ruko yang telah diberikan oleh Chandra.
Bangunan tingkat dua itu sudah selesai direnovasi luar dan dalamnya disertai seluruh perabotan dan belanjaan untuk Ibu Halimah memulai dagang kembali.
Sejak semalam, Luna menangis di pelukan Ibunya, tidak mau terpisah sejengkal pun karna dari kecil ia selalu bersama Ibunya.
Chandra yang melihatnya pun maklum, dan tak berusaha menghibur istrinya karna ada Ibu Halimah yang senantiasa menciumi kepalanya, menenangkannya.
Laki-laki tampan itu malah terlihat mulai terbiasa dengan kehadiran Radit, dan mengajak anak kecil yang baru mulai bicara "Na-Na" itu bermain lego dan mobil-mobilan yang baru dibelikannya.
Sepertinya, Chandra mulai menyukai anaknya Luna yang kini diakuinya juga. Bahkan, Chandra beberapa kali berucap di depan Radit agar anak kecil itu menirukannya memanggilnya 'Daddy.'
"Kamu lihat Nak, kamu beruntung mempunyai suami yang tidak hanya menyayangimu, tapi juga Ibu dan Radit." ujar Ibu Halimah seraya meneteskan air mata, mengajak Luna agar anaknya itu melihat interaksi yang terjadi antara Radit dan Chandra.
Luna menoleh, dan tanpa kata ia melepas pelukannya pada Ibunya dan berjalan mendekat ke tempat Chandra dan Radit sedang bermain mobil-mobilan.
"Radit sedang main apa, Nak?" tanya Luna dengan sesekali mengusap air matanya.
"Main mobil, Mommy." jawab Chandra menirukan suara anak kecil yang membuat Luna tergelak.
Gelakan Luna pun menular, dan kini Chandra dan Ibu Halimah turut tersenyum melihatnya.
"Gimana?" tanya Chandra saat kini istrinya duduk di sebelahnya.
"Apanya, Mas?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.
"Hati kamu." tunjuk Chandra dengan dagunya.
Merasa tidak mengerti, Luna pun menatap Chandra agar laki-laki itu menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Hati kamu sudah membolehkan Ibu untuk pindah? Sebentar lagi waktu malam tiba." ujar Chandra yang awalnya membuat Luna mengernyitkan dahinya menjadi tertawa.
"Kalau mau bertanya, gak usah belibet gitu gak bisa ya Mas?" tanya Luna setelah tawanya mereda.
__ADS_1
Chandra menggelengkan kepala, terlalu terpukau atas tawa tulus yang baru saja dihadirkan oleh Luna.
Semalaman ia hanya bisa melihat wanitanya itu menangis tanpa bisa ia memeluknya, ingin sekali ia menenangkannya namun egonya memikirkan takut jika nanti Luna tidak nyaman dengan rasa sentuhannya.
Dan sekarang.. karna pertanyaan sederhana yang tak sengaja ia buat belibet, ia bisa melihat tawa wanita itu kembali lagi.
Wanitanya ceria lagi.
"Aku sudah siap kok.. Lagian Ibu kan pindahnya gak jauh juga kan, Mas." ujar Luna sembari memainkan mobilannya Radit.
Chandra hanya mendengarkan, tidak mau memberi balasan. Menunggu hal apa lagi yang ingin dikatakan oleh Luna.
"Tapi.. Ibu sudah tua, apa tidak apa-apa Ibu tinggal sendiri di ruko itu, Mas?" tanya Luna yang kini menatap Chandra.
Chandra mendekatkan lagi duduknya, memegang tangan istrinya yang kini masih memegang mainan Radit dan berkata, "Ibu tidak tinggal sendiri, Lun."
"Maksud Mas?"
"Kamu lihat saja nanti." ujar Chandra yang langsung bangkit berdiri. "Kamu mau pakai baju itu buat ngantar Ibu pindah?" tanyanya lagi yang membuat Luna seketika berdiri karna semenjak ia bilang ia sudah membolehkan Ibunya pindah, Ibu Halimah langsung menggendong Radit mengajaknya ke kamarnya.
***
"Kata siapa? Kan banyak maid dan penjaga." ungkap Chandra yang terlihat sedang duduk di ranjang sembari menunggu istrinya bersiap.
"Tapi, mereka kan kalau malam tidur di paviliun, Mas." timpal Luna.
"Lantas kenapa? Kamu takut tidur berdua sama saya? Selama ini kan kita tidur berdua." jelas Chandra yang membuat Luna terlihat berpikir.
"Aku boleh tanya sesuatu, Lun." tanyanya lagi memecah keheningan yang terjadi tiba-tiba.
"Apa Mas?" tanya Luna yang sudah selesai bersiap dan duduk di samping Chandra.
Awalnya Luna memang selalu gugup jika harus duduk berdekatan dengan Chandra, tapi setelah tau jika Chandra bukan pria yang suka memaksakan kehendaknya terutama hasratnya, ia pun mulai memberanikan diri setiap berbicara selalu duduk berdua tepat di samping Chandra.
Setidaknya, itulah yang terjadi setelah seminggu mereka menjadi sepasang suami istri.
"Kamu gak pernah tidur sama Radit?" tanya Chandra sembari menatap mata Luna, mencari kebohongan atas apa yang nanti akan diucapkan oleh istrinya.
__ADS_1
Seminggu ini, Chandra pun terus kepikiran dengan perkataan Raka yang menyebutkan tidak percaya jika Luna masihlah seorang Janda, dan hal itulah yang kini mendorongnya mempertanyakan itu pada Luna, dan lagi Radit terlihat belum pernah tidur bareng mereka berdua dan terlihat tidak terlalu manja dengan Luna.
"Nggak, Mas. Radit selalu tidur sama Ibu." ujar Luna, dan Chandra menangkap kejujuran di mata Luna.
"Kamu gak rindu dengan dia? Apa dia biar tinggal disini saja sama kita?" tanya Chandra lagi, ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Gak Mas.. Radit sudah biasa tidur sama Ibu. Aku takut nanti kalau dia tidur sama aku, dia gak nyaman."
"Tapi, kamu kan Ibunya, Lun." Lagi, Chandra ingin menggali fakta dari istrinya.
Namun, sepertinya usahanya belum berhasil karna Luna terlihat mengambil tasnya lalu mengajaknya pergi karna Ibunya pasti sudah menunggu mereka. "Yuk Mas, Ibu pasti udah nunggu."
***
Luna dan Chandra beserta Ibu dan Radit sampai di depan bangunan tingkat dua yang kini disulap menjadi ruko paling bagus interiornya.
Bahkan, di depan pintu masuknya terdapat poster "Depot Bakso Sabrina" yang membuat Luna langsung menoleh pada suaminya.
Tak hanya itu, ada lima pegawai wanita yang juga telah disiapkan oleh Chandra untuk membantu Ibu Halimah berdagang, dan lagi-lagi Luna membulatkan mata, mulutnya menganga, matanya berbinar seakan takjub dengan apa yang telah disiapkan suaminya, untuk Ibunya.
Sepertinya, Chandra memang menepati janjinya dalam hati, yang mana ingin membahagiakan Luna walaupun ia belum tau caranya menjadi suami-- walaupun kini ia telah menjadi seorang suami.
"Mas yang mempersiapkan semua ini?" tanya Luna memastikan jika yang dilihatnya kini memang ulah laki-laki tampan bak Dewa Yunani yang sedang berdiri dengan gagah di sampingnya.
Chandra mengangguk sebagai jawaban disertai senyuman tulus.
"Ini yang Mas bilang jika Ibu tidak tinggal sendiri?" tanya Luna lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh, ia merasa sangat dicintai oleh suaminya. Dan suaminya begitu berbaik hati menyiapkan segalanya dengan baik untuk Ibunya.
"Iya.. Dan kamu tidak perlu khawatir. Karna ada mereka yang akan membantu Ibu berjualan, Ibu hanya cukup duduk di meja kasir menunggu orang yang mau membayar makanannya." ujar Chandra seraya menatap istrinya.
Luna yang tadinya matanya berkaca-kaca, kini kristal bening itu mengalir begitu derasnya, dan kini ia pun melangkah mengikis jarak, lalu kembali memeluk suaminya.
Pelukan kedua yang sangat diharapkan Chandra dan berulang di depan bangunan tingkat dua yang telah menjadi saksinya dimana Luna memeluknya dengan begitu sayang dan tanpa paksaan.
"Terimakasih ya Mas. Terimakasih." ujarnya yang membuat Chandra sekarang membalas pelukannya dan menyapukan bibirnya di pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
Bersambung....