Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Tidak Ada Kesempatan


__ADS_3

"Kak Darius kenal sama kak Luna, kak?" Jenifer bertanya pada Chandra setelah Luna menuruti keinginan Darius untuk berbicara berdua di teras rumah Chandra.


"Kenal.. Mereka dulu tetangga." jawab Chandra datar.


"Oohh.." Jenifer dan Emily membulatkan mulutnya bersamaan.


***


Duduk di kursi berbeda dengan sekat sebuah meja kecil di tengahnya adalah tempat kini Darius dan Luna saling terdiam.


Sekat meja kecil itu seperti sekat yang kini dibangun oleh Luna, untuk sebisa mungkin tidak menatap laki-laki yang dulu pernah mengisi relung hatinya.


Bahkan, tadi siang suaminya berkata padanya jika laki-laki itu masih mengharapkannya untuk menjadi istrinya.


Apa sebenarnya yang diinginkan Darius padanya? Kenapa sampai hal tersebut diceritakannya pada suaminya.


Sedari tadi Luna menatap lurus ke depan, dimana para penjaga rumah sedang berlalu lalang.


"Luna." panggil Darius setelah keheningan beberapa lamanya.


"Apa, Kak?" tanya Luna sembari menunduk menatap tautan jemarinya.


"Aku minta maaf." Darius terus menatap wanita yang sedari tadi sama sekali tidak mau menatapnya.


Di dalam pikiran Darius, Luna bersikap seperti itu karena pernah ia tinggalkan sebelumnya.


Padahal yang sebenarnya terjadi, Luna seperti itu karena ingin menjaga hati suaminya, yang tak lain sahabatnya sendiri.


"Buat apa, Kak? Kakak tidak punya salah apapun." Luna berkata dengan tetap menunduk.


"Aku punya salah yang besar denganmu." Darius berkata dengan berdiri lalu duduk di depan Luna demi meraih wajah cantik wanita yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya.


"Berdiri Kak, aku mohon.. Jangan seperti ini." Luna masih tidak mau menatap Darius, wanita cantik itu malah menoleh ke samping untuk menghindari bersitatap dengan Darius.


Darius maju menggenggam tangan Luna dengan terlebih dahulu menoleh pada pintu masuk rumah Chandra, khawatir sahabatnya itu melihatnya. "Maafkan aku, Lun." pintanya.


Merasakan tangannya digenggam begitu lembut tapi juga kuat oleh Darius, Luna pun langsung melepasnya dan menyembunyikan tangannya di bawah paha.


Ia tidak mau suaminya salah paham.

__ADS_1


"Aku akan maafin Kakak kalau Kakak mau duduk di kursi yang tadi Kakak duduki." tegas Luna tetap menoleh ke samping.


Darius menghela napas pelan, lalu bangkit berdiri dan duduk di kursi dimana Luna sedang menatap kursi tersebut.


Harapannya pun seakan hancur saat ia duduk dan ternyata Luna langsung menunduk kembali.


"Kalau kamu memaafkanku, tataplah mataku, Lun. Aku ingin melihatmu." pinta Darius dengan suara lemahnya, lemah karena ia telah kalah untuk memiliki wanita cantik yang kini duduk bersekat meja di sampingnya.


"Bukankah Kakak sedari tadi melihatku?" Luna bertanya sarkasme.


"Bukan seperti ini, Lun. Aku ingin menatap bola mata jernihmu yang selalu membuatku kagum sedari dulu." desak Darius dengan suara lemahnya yang akhirnya membuat Luna tidak tega lalu menatapnya.


Keduanya tidak menyadari jika kini Chandra sudah berdiri di samping pintu, mendengar suara lemah Darius yang penuh dengan nada permohonan.


Dalam pikiran Chandra saat ini, apa istrinya itu sedari tadi tidak menanggapi perkataan Darius hingga membuat laki-laki itu begitu memohon seperti itu?


Dalam heningnya mendengar percakapan istri dan sahabatnya, Chandra tersenyum simpul.


"Beri aku kesempatan, Lun." Darius berkata saat ia sudah bisa menatap bola mata jernih milik Luna, bola mata yang selalu bisa membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa selain ingin memilikinya.


"Kesempatan apa yang Kakak maksud?" tanya Luna datar.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Kak." tegas Luna lalu langsung berdiri.


"Kenapa, Lun?" Darius bertanya dengan mencekal tangan Luna.


"Lepaskan tangan Kakak dari tanganku. Kakak lupa Kakak sekarang ada dimana? Kakak dirumah siapa? Dan kenapa aku bisa ada disini? Jika Kakak tau jawabannya pasti Kakak tidak akan mungkin berkata seperti tadi denganku." jawab Luna sarkas lalu melepas tangan Darius dari lengannya dan berjalan memasuki rumah Chandra.


Tangan Darius yang dilepas oleh Luna menggantung di udara, bersamaan dengan hatinya yang seakan tidak berbentuk mendapati kenyataan jika wanita itu sudah sama sekali tak mencintainya apalagi memberinya kesempatan untuk selalu bersama.


"Ayo masuk, Ri. Mom sudah menunggu." ujar Chandra dari samping pintu membuyarkan Darius dari lamunan beserta patah hatinya yang sedang menatap nanar pintu yang telah dilewati oleh Luna.


Darius terlihat mengusap ujung matanya, lalu menyahut dengan datarnya. "Iya, Ndra." Laki-laki tersebut pun melangkah masuk ke dalam rumah Chandra.


***


"Berapa lama kamu di Indonesia, Us?" Emily bertanya setelah Darius duduk di kursi yang tersedia di sebelah Jenifer.


Kembali berhadapan dengan Luna. Dan wanita itu kembali tidak mau menatapnya.

__ADS_1


Luna malah terlihat melayani suaminya dengan begitu baik dan sayang, hingga ia mencium bau sesuatu dari masakan yang membuatnya seakan ingin mual namun sebisa mungkin ia tahan mengingat aturan makan yang ditetapkan oleh Chandra sewaktu di Bandung dulu, padanya.


"Andai aku yang menjadi suamimu, mungkin aku akan bahagia mendapat perhatian seperti itu darimu, Lun." batin Darius tanpa berkedip menatap Luna yang sama sekali tidak memperhatikannya.


"Us?" panggil Emily kembali saat melihat laki-laki itu selalu menatap anak menantunya.


"Iya Tante.. Ada apa?" tanya Darius sesaat setelah sadar dari lamunannya.


"Berapa lama kamu di Indonesia?" Emily mengulangi pertanyaannya.


"Aku di Indonesia untuk mencari wanita yang selalu dan masih aku cintai sedari dulu, Tan." jawabnya tanpa rasa bersalah dan tatapannya mengarah pada Luna.


Kepala Luna tiba-tiba merasa kaku untuk sekadar mendongak mendengar pernyataan dari Darius.


Chandra yang sedari tadi melihat arah tatap Darius pun menghela napasnya, ingin sekali ia memarahi sahabatnya, tapi ia sangat menghargai persahabatannya.


Apalagi, Wanita yang telah menjadi istrinya yang dari dulu dicintai oleh sahabatnya, berkata dengan tegas jika telah mencintainya.


Jadi, apa yang perlu ditakutkannya?


"Oh ya? Siapa wanita itu, Us? Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Emily lagi saat Bi Asih masih mempersiapkan makan malam untuknya.


"Sudah, Tante. Wanita itu sudah aku temukan setelah sekian tahun lamanya." jawab Darius dengan tetap mengarah ke Luna.


"Wow.. Sekian tahun lamanya. Berarti kamu sangat mencintainya, Kak?" tanya Jenifer yang terlihat kagum dengan Darius yang mencintai wanita sedalam itu.


Jenifer yang belum pernah dicintai laki-laki seperti Darius mencintai wanitanya, membuatnya sedikit penasaran.


Dan mereka pun tidak melihat wajah Chandra yang kini memerah menahan amarah.


"Sangat.. Aku sangat mencintainya, Jen. Dan mungkin akan terus mencintainya. Karena hanya dengan dia aku merasakan apa itu cinta." jelas Darius dengan tetap menatap Luna.


"Uuuuuhhh.. Aku pengen deh Kak dapat cowok kayak Kak Darius yang cintanya begitu besar pada wanitanya.." Jenifer berceloteh yang membuat Chandra menghela napas pelan.


"Tidak usah bermimpi seperti itu, Jen


Karena itu hanya akan jadi khayalanmu. Orang yang benar tulus mencintai. Ia akan merelakan wanitanya jika wanitanya sudah mempunyai jalan sendiri. Karena Cinta tidak harus memiliki." tegas Chandra yang membuat semuanya terdiam dan Luna, wanita cantik itu semakin menunduk dalam dan Chandra yang seakan tahu istrinya sedang tidak baik-baik saja, mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya yang berada di bawah meja untuk sekadar menguatkannya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2