Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Fokus Ke Istri


__ADS_3

"Kita mau kemana, Mas?" tanya Luna berulang kali yang hanya dijawab senyuman oleh Chandra.


Keduanya sedang berada di dalam mobil untuk menuju sebuah Mall terbesar di kotanya.


Dan Chandra masih merahasiakannya dari Luna.


"Mas.. Dijawab kenapa sih!" Luna pun merajuk akhirnya yang lagi-lagi hanya dijawab oleh Chandra. "Nanti kamu juga tahu, sayang."


Luna mencebikkan bibirnya kesal karena suaminya belum juga mau mengatakan ia mau diajak kemana.


Wanita cantik itu juga mengembungkan pipinya tanda protesnya yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Chandra.


***


Beberapa saat kemudian, Chandra membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah Mall terbesar di kotanya yang membuat mata Luna berbinar bahagia sembari menepuk pelan lengan suaminya.


Chandra pun menghentikan mobilnya setelah mendapatkan tempat parkir.


"Mas ngajak aku ke Mall?" tanyanya begitu senang yang tidak perlu menunggu jawaban dari Chandra, karena baru pertama kalinya setelah sah menjadi istri Chandra Abimana, ia diajak ke Mall oleh suaminya.


Bukan tidak pernah Luna ke Mall.. Luna pernah. Tapi ini berbeda, dia bersama suaminya.


Dan satu lagi perbedaan yang begitu menonjol.. Suaminya lah yang mengajaknya, bukan atas rengekannya.


Tapi.. Atas dasar apa suaminya mengajaknya ke Mall? Luna pun menggelengkan kepala samar tidak mau terlalu memikirkan sembari melepas seat-beltnya.


"Sesenang itu kamu, Lun." batin Chandra merasa bersalah sembari menatap istrinya yang terus tersenyum menatap gedung Mall yang ada di depannya.


Sejak ia menetapkan pilihannya pada Luna.. Chandra bukan hanya menata hatinya, tapi juga sikap dan perilakunya pada istrinya.


Chandra ingin fokus juga pada istrinya.


Mungkin.. Eh, bukan mungkin tapi memang..


Memang istrinya tidak pernah menuntutnya macam-macam selama ini.


Jarang sekali bahkan belum pernah istrinya itu merengek padanya untuk menemaninya belanja.


Bahkan istrinya itu begitu pengertian dengannya, tidak pernah memboroskan uangnya.


Jika dengan Reyna.. Mereka hanya makan di kantin dan belum pernah hang out bersama.


Mungkin gaya pertemanan antara istrinya dan Reyna hanya sebatas itu karena Luna dulu sibuk jualan bersama Ibunya.


Pertanyaan menohok dari istrinya saat ia tidak bisa menjawab makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh istrinya, menyadarkan Chandra jika laki-laki itu tidak boleh terlalu fokus pada kampus dan perusahaannya.


Di rumah.. Dia punya istri yang juga membutuhkan perhatian darinya.


Rasanya Chandra patut bersyukur telah memperistri wanita sebaik Luna.


"Mas.. Kita mau ngapain ke Mall?" tanya Luna yang membuat Chandra yang tadinya menatap jalan di depannya kini menoleh pada istrinya.


"Kamu maunya ngapain?" Chandra malah berbalik tanya.


"Kok aku yang ditanya.. Kan Mas tadi yang ngajak." Luna mengerucutkan bibirnya yang membuat Chandra langsung mencuri kecupan di bibirnya.


Cup

__ADS_1


"Mas!" pekik Luna setelah bibir tebal suaminya lepas dari bibir mungilnya.


"Apa?" tanya Chandra sembari tersenyum tanpa dosa.


"Banyak yang lihat." Luna menunjuk banyak orang yang ada di Mall tersebut karena mereka berdua sudah memasuki Mall itu.


Chandra hanya tersenyum lalu mengajak Luna memasuki lift menuju lantai dua tempat food court berada tanpa menghiraukan tatapan aneh dari para pengunjung Mall tersebut.


"Kamu mau beli makanan apa?" tanya Chandra dengan merangkul pinggang ramping istrinya.


"Mas ngajak aku ke Mall buat beli makanan?" Alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.


"Iya.. Mas mau tahu makanan yang disukai sama istri Mas." jawabnya yang membuat Luna yang tadinya menatap berbagai stand makanan kini menoleh menatap suaminya.


Tiba-tiba Luna meneteskan air mata.


"Kamu nangis? Kenapa, sayang?" Chandra bertanya yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.


Sepertinya mood Ibu hamil memang Naik turun.


Mendapat perhatian kecil dari suaminya, membuat Luna terharu dan langsung mendekap suaminya.


"Mas masih mikirin pertanyaan dari aku dulu itu ya? Maaf ya, Mas. Aku enggak sengaja tanya kayak gitu waktu itu, Mas. Aku cuman.." ucapan Luna terpotong saat jari telunjuk Chandra menempel di bibirnya.


"Pertanyaanmu itu enggak salah. Mas yang harusnya intropeksi diri karena belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu." sela Chandra yang membuat Luna kembali mendekap suaminya.


"Bagi aku.. Mas itu suami yang baik. Mas memang belum tau apa makanan kesukaanku, tapi Mas selalu berusaha mengertiku dulu. Mas ingatkan bagaimana dulu Mas yang tiap pagi harus rela sarapan nasi goreng agar Ibu dan Radit nyaman di rumah, Mas? Bagi aku.. Semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Mas itu orang baik. Mas bukan laki-laki egois yang hanya memikirkan kepentingan Mas sendiri."


"Tapi Mas belum pernah mengertimu, Luna. Berulang kali Mas menyakiti hatimu, membuatmu menangis karena kehadiran Kinara." Chandra mengungkapkan penyesalan terdalamnya.


Hampir saja ia kehilangan istri sebaik Luna hanya karena cintanya tergoyahkan karena kehadiran Kinara.


Itulah yang kini sedang dipetik oleh Chandra.


Ia ingin mementingkan Luna diatas segalanya.


Ia tidak mau lagi egois dengan perusahaannya maupun kampusnya.


Apalagi dipusingkan dengan Kinara.


Luna adalah istrinya.. Wanita cantik itu berhak meminta sebagian waktunya untuk menemaninya melakukan kegiatannya.


"Ssstt.. Yang lalu biarlah berlalu, Mas. Bukankah sekarang Miss Kinara sudah tidak di Indonesia? Buat apa Mas masih membicarakannya. Aku saja sudah melupakannya, Mas." Ujar Luna sembari menatap suaminya.


Pembicaraan mesra antara Luna dan Chandra yang berada di depan salah satu food court itu membuat pegawai yang menunggu senyum-senyum sendiri saat melihatnya.


Pegawai itu tidak bisa mendengarnya karena Luna dan Chandra saling berbisik dalam dekapan eratnya.


"Ehem.. Mbak sama Mas mau beli apa?" tanya pegawai itu akhirnya saat melihat keduanya terus saja berpelukan di depannya.


Pegawai itu tidak mengenali Chandra, karena Chandra memakai pakaian casual disertai kaca mata hitam yang membalut mata elangnya.


"Kamu mau beli apa?" tanya Chandra setelah melepas dekapannya.


"Burger boleh?" tanya Luna yang dijawab anggukan oleh Chandra.


"Burger dua. Tapi harus matang dagingnya." titah Chandra yang dijawab anggukan oleh pegawai tersebut.

__ADS_1


"Minumnya?" Chandra kembali bertanya pada istrinya sembari mencari tempat duduk.


"Thai tea aja, Mas." Jawab Luna sembari duduk di kursi yang sudah didapat.


"Camilannya?" Chandra bertanya kembali yang membuat Luna menoleh menatapnya.


"Mas yang mau pesanin? Biar aku aja, Mas.. Aku yang istri, Mas." sergah Luna dengan bangun dari duduknya.


Chandra terlihat menggelengkan kepala sembari menekan pundak istrinya agar Luna tetap duduk. "Biar Mas yang beli. Mas mau melayani istri Mas."


"Tapi, Mas.."


"Mau cemilan apa?" Sela Chandra tak mengizinkan istrinya itu protes.


"Apa ya? Cemilan yang enak disini apa, Mas? Kalau dessert boleh enggak?" tanya Luna yang memang belum tahu makanan apa yang diinginkannya.


Begitu banyak camilan yang tersedia di food court itu membuatnya bingung ingin memakan yang mana.


"Mas yang milih aja kalau kayak gitu." Chandra pun berlalu menuju tempat camilan saat istrinya tidak menimpali perkataannya.


Menunggu beberapa menit, pesanan mereka pun siap dihidangkan.


Luna dan Chandra makan dan minum dalam diam.


Tidak ada yang bersuara sama sekali kecuali Chandra hanya menatap istrinya dengan senyuman yang tak luntur.


"Mas!" Panggil Luna setelah ia menghabiskan makananannya.


"Iya?" Chandra masih menghabiskan camilannya.


"Aku bisa minta tolong buat bungkusin makanan yang sama yang kayak aku makan dua porsi enggak?" tanya Luna dengan tampang serba salahnya.


Kebiasaannya setiap membeli makanan juga harus membelikan Ibunya dan Radit, membuatnya tidak bisa begitu saja menghilangkan kebiasaan itu setelah menikah dengan Chandra.


"Dua porsi? Buat siapa, Sayang?" Chandra pun bertanya karena belum tahu apa-apa.


"Buat Ibu dan Radit, Mas. Boleh enggak? Kalau enggak boleh biar pakai gaji aku dari nulis aja, Mas. Aku punya kok." Luna pun membuka tasnya mencari dompetnya.


"Enggak usah. Biar Mas yang bayar." ujar Chandra dengan tampang datarnya yang membuat Luna akhirnya mengangguk.


"Nanti ada ojeg online yang akan ambil kesini, ini biar disini saja." ujar Chandra pada Luna saat melihat Luna akan mengambil pesanan makanan yang sama untuk Radit dan Ibunya.


"Heuh? Emang Mas mau ngapain lagi? Kenapa harus pakai ojeg online?" Luna tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Mas mau ajak kamu beli baju."


"Beli baju? Bukannya kemarin baru aja datang sepuluh dress baru buat aku, Mas?" Luna yang sangat mengerti bagaimana susahnya mencari uang begitu menghemat pengeluaran.


"Ya itu kan pilihan Mas.. Sekarang, Mas maunya kamu yang milih sendiri." Chandra tetap bersikeras dengan mengajak Luna menaiki tangga excavator menuju lantai tiga yang menjual berbagai macam pakaian.


"Buat apa sih, Mas? Aku belum butuh baju baru." Luna tetap ingin menolak.


"Kamu butuh, Sayang." Titah Chandra tegas tapi dengan nada begitu lembut yang akhirnya membuat Luna tidak bisa menolaknya.


"Buat apa beli koper juga, Mas?" Luna heran ketika suaminya membelikannya koper dan menyuruh pegawai itu memasukkan semua baju yang dipilih oleh Luna ke dalam koper tersebut.


"Nanti kamu juga tahu." jawab Chandra yang lagi-lagi membuat Luna kesal sembari merotasi matanya malas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2