
"Gimana keadaan Ibu, Lun?" tanya Chandra pada istrinya saat baru saja dirinya memasuki kamar Ibu mertuanya.
Kini mereka berdua bersama Radit tengah menunggu Ibu Halimah yang masih belum bangun dari pengaruh obat yang tadi diminumnya.
Mencoba berulang kali membujuk sang Ibu agar mau rawat inap di rumah sakit, Luna pun akhirnya menyerah menuruti wanita yang dicintainya itu untuk istirahat di rumah.
Beruntung kondisi Ibu Halimah yang memang tidak terlalu parah, sehingga Dokter mengijinkannya untuk berobat jalan.
Luna menatap Ibunya tanpa berkedip, menahan genangan air mata yang bersiap terjun membasahi wajah cantiknya. "Kata Dokter Irwan.. Ibu hanya kecapekan, Mas. Dan maagnya kambuh." ujarnya sembari sekuat tenaga menahan isakannya.
Chandra menghela napas pelan menatap istrinya yang sedari tadi terus saja menatap Ibunya, lalu duduk di samping Luna, menarik wanitanya ke dalam pelukannya dari samping dan mengusap punggungnya perlahan agar wanitanya itu tidak terlalu bersedih. "Aku yakin Ibu akan baik-baik saja, Lun."
Luna menganggukkan kepala tepat di dada Chandra yang membuat desiran berbeda di hati Chandra saat menerima gesekan tidak sengaja dari istrinya itu.
Chandra tau.. Ia tidak boleh seperti itu.. saat itu. Ia harus mengerti bagaimana keadaan Ibu mertuanya. Tapi, hasratnya yang besar setiap kali kontak fisik dengan Luna membuat miliknya sudah menegang di bawah sana.
CK! sial! batin Chandra menahan sekuat tenaga atas apa yang kini diinginkannya.
Lengan Luna yang berada di pertengahan antara paha Chandra pun merasakan jika ada sesuatu yang keras mengenai lengannya yang membuatnya kini mendongak menatap suaminya.
"Gak apa-apa." jawab Chandra dengan memaksakan senyumannya yang dibalas anggukan kepala oleh Luna.
***
"Tuan mau makan bakso?" tanya Sintia perhatian, pekerja baru yang baru diajak oleh pegawai tertua yang dipercaya oleh Chandra untuk membantu Ibu mertuanya berjualan itu mencoba mendekati Chandra saat melihat Tuannya turun dari lantai dua.
Wanita yang terlalu cantik untuk menjadi pegawai biasa itu memakai kaos dan celana jeans yang begitu ketat.
Bahkan, sedari tadi wanita itu terlihat menggigit bibir bawahnya ingin menggoda Chandra.
Sejak tadi saat Chandra baru saja turun dari mobilnya, Sintia terus menatap Chandra hingga matanya tak berkedip.
Bahkan saat teman sesama pekerjanya disitu menegurnya dan memberitahunya jika Chandra adalah Tuannya dan suami dari Luna, dia malah bersemangat sekali ingin mendapatkan perhatian dari Chandra.
Baginya, Luna masih dibawah levelnya. Istri cantik CEO CA Corps. itu terlalu berpenampilan sederhana, berbeda dengan dirinya yang mempunyai daya pikat dengan sejuta pesona. Itu menurutnya..
__ADS_1
Chandra menatap sekilas pegawai baru yang berdiri di depannya itu lalu tanpa menjawab tawaran dari wanita itu, ia duduk di kursi sembari menyugar rambutnya ke belakang.
Laki-laki itu harus menahan hasratnya yang besar karna ia harus sadar akan posisinya sekarang.
Tuan ngeselin banget ya. coba senyum dikit kan lebih tampan. batin Sintia kesal sembari memajukan bibirnya.
"Kamu ngapain Sin? Buruan ambilkan minuman dingin buat Tuan yang ada di kulkas. Jangan membuat Tuan menunggu." pinta pegawai tertua itu melihat Sintia terus memandang Chandra.
"Baik, Bude." balasnya sembari tersenyum licik.
Sintia pun berjalan dengan gaya sok cantiknya, menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, tapi sama sekali tak mendapat perhatian dari Chandra.
Laki-laki itu malah terlihat jijik dengan wanita yang seperti itu.
"Ini minumnya, Tuan." ujar Sintia sembari menunduk sopan, tapi sengaja ingin memperlihatkan dua hal indah yang ia punya karna kaos yang dipakainya berbentuk V.
Chandra tak menatapnya, laki-laki itu tetap menatap langit-langit ruangan itu hingga beberapa detik Sintia tidak juga berdiri dan pergi meninggalkannya untuk kembali bekerja.
"Maaasss.." teriak Luna reflek saat ia melihat pekerjanya sengaja ingin menggoda suaminya.
"Iya, sayang." sahut Chandra cepat sembari menoleh pada istrinya, mendengar istrinya yang tidak pernah berteriak padanya sebelumnya.
hah? apa? s**ayang? Mas Chandra manggil aku sayang? batin Luna jingkrak-jingkrak karena senang.
Luna yang tadinya kesal, kini duduk sembari mengulum senyum dengan pipinya yang seketika merah merona. "Ada apa? Ibu tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Chandra terlihat bingung, tadi istrinya itu menampakkan muka kesalnya, dan sekarang wanita itu memperlihatkan senyum bahagianya.
Luna menggeleng sebagai jawaban. Lalu wanita itu merapatkan duduknya dengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak kekar Chandra sembari memeluk suaminya posesif seolah kehabisan batrei, tapi matanya terus menatap jengah pekerja barunya. "Apa kamu mempunyai baju yang lebih seksi dari itu?" tanya Luna dengan sarkasme.
"Maksud Nyonya?" tanya Sintia mengernyit.
Luna mencuri kecupan sekilas di pipi Chandra sebelum menjawab pertanyaan Sintia, "Kalau kamu punya.. Saya mau meminjamnya untuk menggoda suami saya." ujar Luna sarkasme yang kini membuat Chandra menoleh padanya dengan wajah bahagia.
Apa istriku ini sedang cemburu? batin Chandra geli menatap istrinya yang belum pernah seperti itu biasanya.
"Maksud Nyonya apa? Saya tidak paham, Nya."
__ADS_1
Luna menegakkan duduknya, menaruh lipatan tangannya di depan dada. "Maksud saya.. Berpakaianlah yang sopan dalam bekerja. Karena penilaian orang saat pertama melihat kita adalah tata cara berpakaian kita."
"Ba-baik Nyonya.. Saya akan lebih memperhatikan cara berpakaian saya." jawab Sintia yang tidak sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
Mengangguk mendengar jawaban Sintia, Luna pun langsung berdiri dan mengulurkan tangannya pada suaminya. "Ayok, Mas. Kita ke kamar." ajaknya.
Mendengar ajakan istrinya yang mengajaknya ke kamar membuat pikiran erotis Chandra bermunculan dan miliknya seketika menegang.
"Mas.." panggilnya lagi menyadarkan Chandra dari lamunannya.
Chandra yang tersadar pun langsung menerima uluran tangan istrinya dan tersenyum menatap istrinya.
***
"Kita gak pulang ke rumah aja, Lun?" tanya Chandra saat keduanya sudah menyelesaikan satu ronde.
Laki-laki itu ingin mengajukan negosiasi dengan istrinya karna tadi saat melakukan pelepasan ia dan Luna harus menahan suara ******* mereka.
Chandra menaruh kepalanya di pundak terbuka istrinya saat istrinya lama tidak menyahut pertanyaannya dan memeluk istrinya dari belakang.
Istrinya itu memang melayaninya, tapi wajah kesal istrinya itu membuatnya merasa ia telah melakukan kesalahan. "Lun.. Kamu kenapa?"
"Mas yang kenapa?" sahut Luna ketus.
"Maksud kamu?"
"Maksud Mas apa mempekerjakan wanita tadi disini? Buat ngegoda Mas? Iya?" tanya Luna bersarkasme lalu melepas tangan Chandra yang melingkar posesif di atas perut ratanya.
Chandra membalikkan badan Luna untuk menghadapnya. "Kamu cemburu?" tebak Chandra setelah meneliti ekspresi istrinya yang terus memajukan bibirnya.
Harusnya Luna menjawab tidak, tapi karna pikirannya yang sedang tidak singkron wanita itu malah mengangguk yang membuat Chandra tersenyum lalu menelusupkan lengannya di leher Luna dan menarik wanitanya ke dalam dekapannya dengan begitu erat.
gini ya rasanya dicemburuin istri? kenapa aku gak bisa marah sama dia waktu dia berkata ketus sama aku? kenapa hatiku malah senang mendengarnya cemburu? apa Luna sudah menaruh rasa sama aku? batin Chandra bergejolak dengan menyapukan bibirnya di pucuk kepala istrinya sembari mengingat hal yang dulu dilakukannya saat ia dicemburui oleh mantan kekasihnya.
Tidak.. Chandra tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hatinya belum pernah sebahagia ini hanya karna dicemburui seorang wanita.
__ADS_1
Bersambung...