
"Pak.. Ke rumah sakit terdekat ya, Pak!" pinta Reyna dengan mengetuk kursi pengemudinya tanpa menatap mobil siapa yang ia tumpangi.
Kebetulan yang memberhentikan mobil itu adalah yang orang-orang yang menolong Luna.
Dan perhatian Reyna sedari tadi terpusat pada sahabatnya yang kini kepalanya bersandar di pahanya.
"Reyna?" panggil satu suara yang kini membuat Reyna mendongak. "Luna kenapa?" tanyanya yang membuat Reyna membulatkan matanya.
"Kamu tetangganya Luna yang dulu itu bukan?" tebak Reyna, tapi melupakan nama Darius.
Darius menatap rear-view mobilnya, lalu mengangguk sebagai jawaban sembari mengemudikan mobilnya. "Luna kenapa?" Darius mengulangi pertanyaannya.
Reyna menatap gusar ke sembarang arah, ia bingung harus jujur atau berbohong dengan Darius.
Seingatnya, laki-laki itu dulu sangat berniat mendekati Luna dan Luna sangat tidak nyaman jika berada dekat dengannya.
"Luna pingsan, Kak.. Mungkin karena dia sedang hamil muda." jawab Reyna akhirnya yang juga tidak berbohong.
maafin aku ya, Lun.. Tapi kenyataannya kamu kan sedang pingsan. Jadinya aku bilang gitu aja, yang penting aku akan tutup mulut soal kenapa kamu sampai pingsan. Dan semoga tetanggamu ini juga tidak menanyakan. batin Reyna sembari kembali menatap sahabatnya.
Mendengar alasan Reyna yang masuk akal, Darius pun mengangguk tanpa bertanya lebih banyak lagi.
Laki-laki itu khawatir jika nanti sahabat Luna masih berpikiran jika ia ingin memiliki Luna, walau kenyataannya ia masih begitu mencintainya.
***
Sesampainya di rumah sakit, Luna langsung dibawa ke ruang IGD.
Darius berusaha untuk menggendong Luna, tapi dicegah oleh Reyna.
Reyna lebih memilih memanggil suster dan membiarkan suster itu yang menolong Luna.
Wajar kan kalau Reyna begitu khawatir jika akan membuat salah paham nantinya?
Karena Darius dulu pernah sengotot itu saat berbicara ingin memiliki Luna saat ditanya olehnya.
"Apa Chandra sudah tahu?" Darius pun bertanya setelah hampir setengah jam Luna diperiksa, tapi laki-laki yang menjadi suami Luna itu belum menampakkan batang hidungnya.
"Tadi Pak Chandra masih mengajar, mungkin belum tahu." jawab Reyna acuh, karena dia tidak mau memberi tahu Chandra sebelum bertanya dulu dengan Luna.
Melihat bagaimana Luna terluka dan ingin menghindari suaminya, membuat Reyna mengerti satu hal.
Jika kini sahabatnya tengah hamil muda, dan ia harus bisa menjaga hatinya.
Darius menganggukkan kepalanya, tapi laki-laki itu kini mengambil ponsel dari saku celananya seraya berdiri melangkah keluar dari ruang tunggu yang tadi ia duduk bersebelahan dengan Reyna.
Bagaimanapun, Chandra harus tau. Karena laki-laki itu adalah suami Luna.
Darius kembali mengulangi panggilannya yang belum dijawab oleh Chandra.
Dan di dering ketiga pada panggilan kedua, Chandra akhirnya menjawab panggilannya.
Panggilan tersambung...
Darius: Ndra.. Istri lo masuk rumah sakit. (ujarnya to the point).
Chandra: (terperangah) Rumah sakit? Lo tau darimana, Ri?
Darius: Gue yang anterin istri lo.
Chandra: What? Kok bisa?
Darius: Luna pingsan. Mending lo sekarang ke rumah sakit terdekat dari kampus lo, ntar gue jelasin. Gue juga kurang tau kejadiannya kayak apa.
Chandra: Lo sama siapa?
Darius: Sama Reyna.
Chandra pun langsung memutus panggilannya saat Darius mengucap nama "Reyna" yang benar jika Darius tidak membohonginya.
__ADS_1
Laki-laki itupun kini mengakhiri pelajaran yang memang sudah hampir selesai ia ajarkan pada pagi hari itu dan dengan segera melangkah cepat menuju ruangannya.
Ia harus segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya.
Apa yang terjadi dengan istrinya hingga istrinya bisa pingsan? Kenapa Reyna tidak mengabarinya?
Dan kenapa Darius bisa bersama dengan istrinya dan Reyna? Bahkan sahabatnya itu yang telah mengantar istrinya ke rumah sakit.
Setelah meletakkan peralatan mengajarnya, Chandra pun langsung berlari menuju parkiran untuk menaiki mobilnya.
"Chandra!" teriak Kinara yang membuat Chandra hendak masuk ke mobilnya, kembali menutup pintu mobilnya demi menjawab panggilan dari Kinara.
"Ada apa, Ra?" tanyanya lembut, walaupun ia tidak menatap Kinara seperti biasanya.
Tatapannya sedikit berbeda.
"Kamu kan tadi udah janji mau ke Cafe sama aku." ujarnya dengan gaya manjanya.
"Aku enggak bisa. Maaf." Chandra kembali membuka pintu mobilnya.
"Kenapa, Ndra? Aku pengen ngobrol banyak sama kamu." Kinara bertanya yang membuat Chandra menghela napas pelan, tapi langsung masuk ke dalam mobilnya.
Kini, kaca jendela mobilnya diturunkan oleh Chandra agar bisa menjawab pertanyaan dari Kinara. "Istriku masuk rumah sakit. Aku harus secepatnya kesana untuk mengecek kondisinya." jawab Chandra akhirnya sembari menyalakan mesin mobilnya dan langsung mengemudikan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan dengan nada merajuk dari Kinara.
***
"Bagaimana keadaan Luna, Dok?" tanya Reyna setelah Luna selesai diperiksa.
"Dimana suami Nona Luna?" tanya Dokter itu yang tidak menjawab pertanyaan Reyna.
Reyna menoleh pada Darius dengan mencebikkan bibirnya, ia bingung harus menjawab apa.
Sedangkan Luna yang masih berada di dalam sana belum sadarkan diri.
"Suaminya sebentar lagi akan sampai sini, Dok. Apa terjadi sesuatu dengan Luna?" Darius lah yang kini bertanya.
"Saya akan menjelaskannya nanti dengan suaminya langsung, Pak." putus Dokter seraya tersenyum pada Darius.
"Iya.. Luna butuh Chandra, Reyn." jawab Darius yang membuat Reyna menggelengkan kepala.
Lima menit kemudian, Chandra sampai di rumah sakit itu dan langsung menuju ruangan dimana istrinya berada.
"Reyna.. Dimana Luna? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Chandra dengan nada khawatirnya.
"Lebih baik pertanyaan Bapak itu Bapak lontarkan pada diri Bapak sendiri. Karena Bapak pasti tau jawabannya." tegas Reyna sarkasme lalu menunduk kembali untuk melihat ponselnya.
Chandra terpaku mendengar kalimat sarkasme dari Reyna. Apa dia penyebab istrinya pingsan?
"Lo udah ditungguin sama Dokter.. Ada yang mau dijelasin soal kondisi Luna. Mending lo cepetan masuk." Darius menepuk pundak Chandra, menyadarkannya dari lamunannya atas perkataan sarkasme dari Reyna.
Chandra mengerjapkan matanya, lalu setelahnya mengangguk dan langsung masuk menuju ruangan untuk menemui Dokter yang telah memeriksa istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Chandra setelah ia melihat istrinya yang masih belum sadar dengan selang infus yang tertancap di tangannya.
"Nona Luna terlalu stress, Pak." jawab Dokter itu yang membuat Chandra menatapnya.
"Orang yang sedang hamil muda tidak boleh terlalu stress, karena akan berakibat fatal pada kandungannya." sambungnya yang kini membuat Chandra menatapnya dengan isyarat menuntut penjelasan lebih.
"Kandungan Nona Luna tergolong lemah, Pak. Jika Anda tidak bisa menjaga suasana hati dan pikirannya untuk lebih santai, Saya tidak bisa memprediksi apakah calon anak Bapak bisa bertahan." jelas Dokter itu yang membuat Chandra menatap istrinya.
apa yang kamu fikirkan sampai kamu stress, Lun? tanya Chandra dalam hatinya sembari mengusap pucuk kepala istrinya.
Tidak tahukah Chandra.. Jika sikap berbeda yang ia tunjukkan pada Kinara daripada wanita lainnya membuat pikiran dan hati Luna terkuras untuk memikirkannya.
"Terimakasih, Dok." ujarnya kemudian yang dijawab anggukan oleh Dokter itu.
Melihat Dokter itu sudah pergi dari ruangan, Chandra pun mengambil kursi untuknya menjaga istrinya.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa kamu sampai pingsan?" tanya Chandra dengan menggenggam tangan Luna, sembari menciuminya dan mengusap kepala istrinya bersamaan.
__ADS_1
Tiba-tiba ia merasa bersalah.
"Kalau memang itu semua karena aku yang dicium oleh Kinara.. Maafkan aku." sambung Chandra dengan tak melepas pandangannya pada istrinya.
"Aku akan lebih menjaga sikapku ke depannya pada Kinara.. Jika itu yang membuatmu stress seperti ini." sambung Chandra yang membuat Reyna yang baru saja memasuki ruangan menganggukkan kepalanya. "Syukurlah kalau Bapak sadar diri." ketusnya dengan tatapan lurus pada Luna.
"Lo ketemu Kinara dimana, Ndra?" Darius yang sangat mengerti perjalanan cinta antara Chandra dan Kinara, bertanya.
"Dia dosen baru di kampusku, Kak." sela Reyna langsung.
"Dosen baru? Astaga.. Jadi kalian..?" Darius mengurungkan pertanyaannya saat melihat Chandra menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenal dengan Miss Kinara, Kak?" Reyna yang menangkap gerak-gerik tak biasa dari Darius dan Chandra pun bertanya.
Darius menghela napas panjang, sangat panjang saat melihat Chandra terus menggelengkan kepalanya.
Tapi jika ini demi kebaikan Luna, Darius pun akhirnya bersuara. "Kenal.. Dia pernah satu kampus sama aku dan Chandra." jelasnya yang membuat Reyna membulatkan matanya dan mulutnya secara bersamaan.
maafin gue, Ndra. Gue enggak bisa lihat Luna kayak gini kalau memang benar ada hubungannya dengan Lo dan Kinara. Lo yang selalu labil setiap ketemu Kinara. batin Darius bersuara sembari menatap Chandra dan setelahnya mengalihkan tatapannya pada Reyna.
"Pak Chandra dan Miss Kinara pernah satu kampus? Apakah mereka pernah terlibat jalinan kasih?" Reyna pun bertanya dengan beraninya.
Darius mengangguk, "Mereka dulunya adalah sepasang kekasih." jelas Darius yang membuat Luna yang baru saja membuka matanya merasakan sesak bertubi-tubi.
jadi benar kalau Mas Chandra dan Kinara pernah menjadi sepasang kekasih? batin Luna berteriak, namun tetesan air mata kembali berlinang membasahi bantalnya.
"Cukup, Ri.. Cukup!" cegah Chandra saat melihat Reyna akan bertanya lagi.
"Kenapa Pak Chandra? Apa ini alasan yang membuat Pak Chandra tidak berani memarahi wanita yang telah lancang mencium pipi suami orang?" Reyna bertanya dengan lantangnya.
Sepertinya emosinya ikut meluap saat mendengar hal yang baru diketahuinya.
Dan itu semua adalah akar dari masalah yang membuat sahabatnya hingga pingsan dalam dekapannya.
"Kamu enggak tau apa-apa, Reyn... Dan kamu harus ingat satu hal, kalau aku ini dosenmu."
"Aku tau, Pak.. Aku sangat tau kalau Bapak adalah dosenku. Tapi wanita yang Bapak nikahi itu sahabat aku." bantah Reyna telak dengan penekanan di setiap katanya.
"Cukup, Reyn.. Lebih baik kalian keluar dulu dari ruanganku. Aku mau berbicara dengan Mas Chandra." Luna lah yang berbicara, membuat ketiga orang yang sedang terlibat pembicaraan langsung menoleh menatapnya.
"Kamu sudah sadar, sayang?"
"Kamu sudah sadar, Lun?"
Ketiganya kompak bertanya, yang dijawab anggukan kepala disertai derasnya air mata oleh Luna.
"Ada apa? Kenapa kamu sampai pingsan, sayang?" tanya Chandra dengan mengecup tangan Luna yang ia genggam, setelah Reyna dan Darius keluar dari ruangannya.
"Bolehkah aku bertanya satu hal, Mas? Dan bolehkah aku meminta satu hal dari kamu?" tanya Luna tanpa menatap suaminya.
Wanita cantik itu kini lebih memilih melihat langit-langit ruangannya.
"Apa, Lun?" tanya Chandra tidak sabaran.
"Apa benar Mas dan Miss Kinara dulunya adalah sepasang kekasih?" Luna mengawali pertanyaannya.
Chandra yang melihat istrinya tidak mau menatapnya sembari meneteskan air mata pun tidak bisa untuk tidak menjawab "Iya."
"Kenapa Mas masih menyimpan fotonya?" Luna tidak tahan akhirnya.
"Kamu melihatnya?" Chandra terperanjak kaget mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Aku melihatnya saat dulu Mas mengajakku ke perusahaan Mas. Maaf kalau aku lancang." lirihnya, begitu lirih.
Chandra terdiam, ia belum bisa mengatakan kenapa dia masih menyimpan foto Kinara.
"Boleh aku minta satu hal, Mas?" Luna kembali berujar setelah Chandra tidak menjawab pertanyaannya.
"Apa?"
__ADS_1
"Tolong jaga jarak dengan Miss Kinara. Aku enggak sanggup melihatnya, Mas." aku Luna akhirnya, dengan kini mengubah posisinya membelakangi Chandra.
Bersambung..