Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Memaafkan


__ADS_3

"Chandra! Luna!" Panggil Raka yang membuat Chandra langsung melepas Luna dari dekapannya.


Laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu menoleh ke arah sumber suara, dan hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah wajah lesu dan penampilan kacau Raka yang masih mengenakan setelan jas yang tadi sore dipakainya ke acara baby shower Luna dan Jenifer.


Bedanya, jas itu sudah disampirkannya di bahu, dan lengan kemeja Raka sudah digulung hingga siku.


Chandra terlihat menaikkan alisnya, sama sekali tidak mau bertanya dahulu kenapa Raka memanggilnya dan istrinya.


Namun, wanita cantik yang menjadi istrinya yang mau berbesar hati memaafkan kesalahan fatal laki-laki penuh obsesi di depannya memilih lebih dahulu bertanya.


Bagaimanapun, Raka merupakan dosennya, terlepas perlakuan apapun yang dilakukan Raka padanya, laki-laki itu berhak dihormati olehnya.


"Ada apa Pak Raka memanggil kami?" Dengan nada begitu lembut, Luna bertanya dan itu membuat Raka terkesiap melihatnya.


Bukan pertama kali, bahkan dulu saat Luna menjenguknya, wanita yang masih dicintainya itu memang begitu sopan padanya, tetap seperti Luna yang dulu yang dikenal olehnya, tak berubah sedikitpun walaupun ia pernah melakukan hal yang mungkin membahayakan untuknya.


"Em.." Raka tiba-tiba menunduk dan sempat kehilangan kata-kata saat menatap bola mata jernih milik Luna yang selalu bisa menghipnotisnya.


Bahkan Chandra pertama kali terpesona dengan Luna memang karena bola mata jernihnya.


"Kita pergi dari sini, Sayang." tegas Chandra dengan berdiri seraya menarik tangan Luna, diajaknya pergi meninggalkan laki-laki yang tak bisa menghargai wanita di depannya.


Kalau tidak ingat jika Luna tengah mengandung anaknya, mungkin sekarang bogem mentah yang sedari tadi ditahannya sudah meluncur di pipi Raka.


"Tunggu Chan!" sergah Raka yang membuat Chandra berhenti melangkah, tapi tidak mau membalikkan badannya.


"Pak Raka kayaknya mau ngomong, Mas. Dengarin dulu." Luna berujar dengan menatap bola mata elang suaminya seraya mengusap dadanya, agar mau mendengar apa yang akan dikatakan Raka.


Bukan Luna sok tahu, tapi dari sorot mata Raka yang menyiratkan beribu penyesalan, wanita cantik itu merasa Raka mau meminta maaf atas kesalahannya.


"Baiklah." Chandra mengiyakan pinta istrinya, tapi tak kunjung berbalik badan yang membuat Raka akhirnya melangkah dan berhenti tepat di depan Chandra dan Luna yang sedang berpegangan tangan.


Raka menghela napas pelan sebelum berbicara, "Aku minta maaf, Chan. Aku minta maaf atas segala perbuatan yang aku sengaja lakukan untuk menghancurkan kalian berdua. Aku minta maaf." Permintaan maaf berulang kali lah yang bisa diucapkannya, karena jika ingin mengembalikan keadaannya seperti semula, ia tidak punya daya kuasa.


Yang Punya Daya Kuasa di dunia hanyalah Tuhan Pemilik alam semesta.


"Minta maaf? Ada hal apa yang membuat kamu tiba-tiba mau minta maaf?" Chandra menantangnya, tidak mau begitu saja memaafkan kesalahan Raka.


"Mas.." sergah Luna yang tidak mau memperpanjang masalah sembari menggelengkan kepala saat Chandra menatapnya.

__ADS_1


Baginya, orang mau minta maaf ya dimaafkan.


Orang yang mau minta maaf berarti ia sudah menyesali berbagai kesalahan yang telah diperbuatnya.


Begitu baiknya hati Luna, dan Chandra patut bersyukur telah memperistrinya.


"Aku menyesal, Chan. Aku menyesal atas semua perbuatan jahatku yang aku lakukan terutama pada kamu Luna." Raka beralih menatap Luna kembali dengan senyum tipisnya yang membuat Chandra langsung menggeser berdirinya di depan Luna agar Raka tidak bisa menatapnya.


Chandra tahu jika tatapan itu tetap seperti tatapan saat dulu Raka menaruh rasa dengan istrinya saat ia dan Raka masih menjadi kawan baik.


"Mas.." panggil Luna yang tidak terima, namun Chandra diam tak menanggapi.


"Aku juga mau meminta maaf atas perbuatan yang aku lakukan pada Jenifer, Chan. Aku menyesal." sambung Raka akhirnya, tidak mau mendebatkan seorang wanita yang tidak akan bisa jadi miliknya.


"Menyesal? Sekarang kamu baru merasa menyesal? Kemarin kemana?" Chandra masih belum bisa memaafkan Raka.


Hatinya tidak bisa berbohong jika dia begitu membenci Raka.


Karena pertanyaan konyol Raka ia hampir kehilangan istrinya.


Karena perbuatan Raka.. Jenifer hamil dan harus cuti dari kuliyahnya.


"Kemarin aku belum sadar.. Dan barusan aku menyadari jika perbuatanku memang sangat salah dan aku pantas mendapat hukuman, Chan." Raka terlihat lebih bisa menguasai emosi, menepati janjinya pada diri.


Bahkan laki-laki itu kini meluruhkan lututnya ke lantai, bersimpuh di depan Chandra. Meminta dimaafkan oleh orang yang selama ini ingin dihancurkannya.


"Hukuman apa yang pantas untuk kamu, menurut kamu?"


"Berdiri Pak Raka.. Jangan seperti ini." pinta Luna dengan mencuri pandang dari samping tubuh Chandra.


"Mas.. Suruh Pak Raka berdiri, kita dan dia sama-sama makhluk Tuhan.. Dan tidak sepantasnya dia berlaku seperti itu." bisik Luna pada Chandra yang membuat Chandra tanpa sadar menggeram namun juga menuruti permintaan istrinya.


"Berdirilah Rak." pinta Chandra akhirnya saat Raka masih memikirkan hukuman apa yang pantas untuknya.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kalian mau memaafkan aku dan mengikutiku." ujar Raka yang membuat Chandra tidak terpengaruh dan malah menarik tangan Luna yang ada di belakangnya dan berjalan lewat samping Raka meninggalkan laki-laki yang masih bersimpuh sembari menunduk.


"Mas.. Maafkan dulu Pak Raka." pinta Luna saat keduanya sudah berjalan meninggalkan Raka.


"Dia mau kita mengikutinya, apa kamu tidak takut dia berbuat macam-macam dengan kamu lagi, Sayang? Sudah cukup Mas tidak membalas perbuatan yang sama yang dilakukan dia pada kita." tegas Chandra yang kini membuat Luna terdiam, tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Dan Raka yang tanpa sengaja mendengarnya karena Chandra berkata dengan menaikkan nada suaranya pun merasakan tenggorokannya seakan tercekat.


Benar kata orang, jika seseorang pernah berbuat jahat, sekalipun dia minta maaf dan menyesal, orang yang dijahati itu tidak gampang untuk percaya jika dia telah mengakui dan menyesali kesalahannya.


Kecurigaan orang yang pernah dijahati kepada seseorang yang telah menjahati akan selamanya ada, dan itu semua tidak bisa disalahkan begitu saja.


Katanya.. Kita harus serba berhati-hati. Mungkin kata 'hati-hati' itu yang membuat orang tidak gampang percaya dengan orang lain, apalagi orang yang telah berbuat jahat pada kita dan selalu bawaannya curiga.


"Kinara terbaring lemah di rumah sakit, aku ingin kalian mengikutiku karena aku ingin dia mendengar dan melihat sendiri jika kalian telah memaafkanku." seru Raka yang kini membuat Chandra seketika menghentikan langkahnya.


Deg


Kinara masuk rumah sakit? Terbaring lemah? batin Chandra tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, namun saat menoleh menatap istrinya ia langsung bisa menguasai kekhawatirannya.


Luna menatapnya tak biasa, dan dia harus menyakinkannya jika hanya Luna yang ada di dalam hatinya.


Kekhawatiran pada Kinara.. Hanya sebatas rasa kemanusiaan semata.


Melihat Chandra dan Luna yang menghentikan langkahnya, Raka pun kembali mendekatinya.


"Tuhan telah menghukumku, Chan. Aku dan Kinara telah kehilangan calon anak kita dan Kinara selamanya tidak akan bisa mengandung lagi." sambung Raka yang membuat Chandra malah salah sangka.


"Kamu minta maaf, kamu pura-pura menyesal karena ingin mengakui anak yang ada di perut Jenifer? Iya? Karena Kinara tidak bisa memberimu keturunan?" Chandra memberikan pertanyaan sesuai asumsinya, karena dengan tak sengaja Raka meminta maaf dan mengucapkan kata menyesal padanya tepat di hari yang sama setelah ia hadir di acara baby shower Luna dan Jenifer.


Dan lagi kata Luna, wanita yang telah menjadi istrinya itu melihat jika Raka meneteskan air mata.


"Kalau diijinkan memang aku ingin mengakuinya, Chan. Tapi kalau tidak diijinkan aku pun tidak akan memaksa. Bagaimanapun aku tahu, mungkin itu hukuman untuk aku karena aku dulu tidak bertanggung jawab pada Jenifer." Raka lagi-lagi bisa mengontrol emosinya dan itu membuat Chandra tiba-tiba mendongakkan kepalanya menatap langit-langit gedung rumah sakit.


"Di mana Miss Kinara dirawat, Pak Raka?" Luna bertanya, karena ia tidak mau suaminya terlalu memikirkan Kinara lagi.


Ia tahu, Suaminya mengkhawatirkan mantan kekasihnya, namun Luna juga sadar jika kini dialah pemilik hati, dan jiwa raga suaminya. Bukan Kinara.


Dan tidak sepantasnya ia melarang ataupun tidak mau menjenguk wanita yang bukan orang lain di hidupnya.


Kinara juga dosennya, walaupun wanita itu belum pernah menganggapnya ada dan memperlakukannya baik sepertti mahasiswi lainnya.


"Kamu mau menjenguk Kinara, Sayang?" Chandra seakan tidak percaya jika Luna mau menjenguk Kinara.


"Iya.. Miss Kinara juga dosenku, Mas." jawab Luna dengan tenang yang kini membuat Raka langsung mengajaknya ke ruangan dimana Kinara sedang dirawat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2