
"Benar kamu mau menikah, Chan?" tanya Permana sembari menyeruput kopi yang baru saja disuguhkan oleh istrinya.
"Benar, Paman. Minggu depan aku akan menikah." ujar Chandra sembari menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu rumah mewah milik Permana.
"Alhamdulillah... Paman mendukung apa yang jadi keputusanmu. Siapa gadis yang beruntung itu, Chan? Yang akan menjadi Nyonya Chandra Abimana? Seorang Presdir CA. Corps." Permana bertanya lagi dengan nada nyeleneh dan senyum lebar meledek namun sedikit mengarah ke penasaran karna beberapa hari yang lalu keponakannya ini begitu keras tidak mau menikah.
Dan sekarang ia begitu terlihat.. agak menyakinkan untuk menikah.
"Dia bukan seorang gadis, Paman. Tapi dia seorang Janda." ujar Chandra yang membuat Permana kini menegakkan duduknya.
"Janda? Kamu yakin?"
Chandra menganggukkan kepala mantap, begitu yakin dengan keputusan yang ia ambil. Menikah dengan Luna walaupun seorang Janda bukanlah hal yang hina.
Bahkan Nabi kita pun menikah dengan seorang Janda kan? Lalu apa salahnya dengan status Janda yang disandang oleh Luna? Siapapun berhak bahagia dan melanjutkan hidupnya kan? Bahkan seorang Janda pun tak mengharap untuk mendapatkan seorang Perjaka ataupun duda. Bila Tuhan sudah memberikan kita Jodoh mau itu perjaka atau duda, mau gadis atau janda, apa kita bisa memprotesnya? Bukankah semua itu sudah digariskan dalam hidup kita.
Eh, tapi kok kedengarannya kayak Chandra terlalu mendalami perannya ingin menjadi suami Luna ya? Hehe
"Berapa usianya?" tanya Permana yang kini terlihat serius dengan menaikkan kakinya di atas kakinya dan kedua tangannya terlihat bertautan di atas kakinya.
"Dia.. dia muridku di Universitas Paman." jawab Chandra akhirnya karna ia belum tau persis berapa usia calon istrinya. Konyol ya? Seseorang yang dianggap jadi calon istri tapi belum tau banyak tentangnya.
Tapi kan, Chandra hanya butuh status. Ia tak memperdulikan apapun tentang Luna.
"Muridmu? Anaknya sudah besar apa masih kecil, Chan?"
"Masih kecil Paman.. Usianya sekitar baru satu tahun." Chandra terlihat berpikir dengan mengingat tinggi dan tingkah anaknya Luna.
"Kamu yakin mau menikahinya? Biasanya wanita yang masih sekolah terus menikah dan punya anak lalu bercerai adalah wanita yang kurang baik." Permana ingin menyakinkan lagi keponakannya sebelum semuanya terlanjur terjadi.
Bukan ia bermaksud jahat dan tidak merestui, tapi bagaimanapun kedua orangtua Chandra telah menitipkan padanya untuk mengawasi apa yang dilakukan Chandra termasuk perihal yang sangat penting termasuk.. memilih pasangan hidup sang keponakan.
Menjadi istri seorang CEO perusahaan manufaktur terbesar di negaranya haruslah orang yang baik agar bisa mempengaruhi pesatnya perkembangan bisnis.
"Aku yakin Luna bukanlah wanita seperti itu, Paman." satu kalimat Chandra yang mampu mengubah pandangan Permana yang tadinya sempat meragu hanya bisa mengangguk merestui.
"Kapan kamu mau mengenalkannya pada Paman?" tanya Permana akhirnya mengalihkan pembicaraan karna Chandra terlihat mengetatkan rahangnya.
__ADS_1
Tanda jika laki-laki itu tidak mau terlalu dicampuri keputusannya. Dan, Permana yakin sang keponakan pastilah sudah menyelidiki hal tentang calon istrinya.
Lalu apa yang harus ia khawatirkan jika Chandra saja begitu yakin ingin menikahinya?
Bukankah merestui adalah hal yang baik?
Mencari pasangan hidup dalam target waktu hanya sebulan mungkin bukanlah hal yang gampang, namun keputusan rapat para pemegang saham memang tidak bisa diindahkan.
"Minggu depan Paman datang saja ke rumah. Kalian bisa saling berkenalan. Aku pulang dulu." tukas Chandra, lalu berdiri dan berpamitan pada Pamannya.
***
"Kemarin kamu gak masuk kemana, Lun?" tanya Miko sembari berjalan menyejajari langkah Luna yang terlihat buru-buru.
Luna, yang terkenal sebagai mahasiswi tercantik di Universitasnya memang selalu menjadi pusat perhatian.
Statusnya yang kini katanya seorang Janda pun tak menyurutkan hampir kebanyakan mahasiswa lainnya untuk mendekatinya, termasuk.. Miko.
Bagi mereka, sebelum ada janur kuning melengkung 'lagi' mereka masih bisa mendekatinya dan.. mendapatkannya.
"Kenapa kamu buru-buru banget sih, Lun?" Miko bertanya lagi saat Luna tak kunjung memberinya jawaban.
"Aku sibuk jualan, Mik." jawab Luna akhirnya sembari duduk di kursi dalam kelasnya.
"Biasanya kamu juga jualan, tapi tetep rajin masuk kan." Miko masih bertanya yang membuat Luna memutar bola matanya jengah.
"Hai Luna.." sapa Aldi yang baru saja masuk ke kelas dan mendapati wajah cantik Luna yang terlihat kesal.
Aldi juga merupakan laki-laki yang juga memperebutkan Luna.
Deheman seseorang yang baru saja masuk ke kelas membuyarkan semangat Aldi untuk melangkah mendekati kursi Luna.
"Selamat siang." Chandra membuka pertemuan mengajarnya.
"Siang Pak.." jawab murid serempak dengan semangat kecuali Luna.
Wanita itu hanya menjawab lirih dan terlihat menatap Chandra dengan tanda tanya besar di atas kepala.
__ADS_1
apa benar laki-laki yang sangat tampan dan begitu sempurna ini sebentar lagi akan menjadi suamiku? batin Luna seraya menaruhkan genggaman tangannya di dagu.
"Terimakasih.. Hari ini kita kuis." ujar Chandra yang membuat semua mahasiswanya langsung tidak terima.
"Kuis Pak?"
"Besok aja lah, Pak."
"Bapak tampan, jangan kuis sekarang ya."
Pertanyaan disertai penolakan terlontar satu-satu dari mulut para mahasiswanya namun tak menyurutkan Chandra mengadakan kuis di kelasnya.
Dua jam kemudian, Jam mengajar pun selesai dan Chandra kembali ke ruangannya dengan sekilas menoleh pada Luna.
Saat itu ia pun baru menyadari jika Luna adalah mahasiswi tercantik di kelasnya yang ternyata duduk di pojokan dekat kursi belakang.
Pantaslah jika selama ini ia tidak tau soal Luna dan tidak mengenalinya saat ia memberinya tawaran menikah.
"Kenapa pak Chandra melirik kamu, Lun? Kamu ada sesuatu ya sama beliau?" tanya Reyna sembari berbisik.
Reyna tak menyadari jika laki-laki yang berbisik di telinga Luna saat di taman kemarin adalah dosennya karna Chandra berpakaian casual dan kacamata yang membalut mata elangnya.
"Sesuatu? Aneh kamu Reyn. Emang aku itu siapa, aku tau diri kali." kilah Luna sembari memakai tas gendongnya.
"Kalau gak ada apa-apa ya udah. Gak usah ngegas juga kali, Lun. Anyway, ikut aku ke perpustakaan yuk. Aku mau cari referensi buat bikin tugas." ajak Reyna sembari menarik tangan Luna.
Sesampainya di perpustakaan, Luna mengikuti Reyna mengambil buku yang diinginkan. Dan saat Reyna sudah mendapatkan buku yang dicari, Luna pun bergantian mencari buku di antara rak yang berjejer rapi.
Di tengah-tengah susunan rak buku tersebut, ia pun akhirnya melihat buku yang dia inginkan.
Namun, saat ia hendak menggapainya, ia kesusahan hingga lompat tinggi pun tetap tidak bisa diraih.
Seseorang yang melihatnya kesusahan mengambil buku yang diinginkan Luna pun berdecak kesal namun juga seketika berdiri untuk mengambilnya.
Luna tersenyum senang saat ada tangan kekar yang mengambilkannya buku dari belakangnya.
Saat buku itu sudah di tangannya, Luna pun berbalik ingin mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Tapi, seketika wajahnya pun merona saat menyadari siapa yang telah berbaik hati padanya.
Bersambung...