
Hari telah berganti. Sang mentari pun sudah menampakkan sinarnya untuk menerangi hari.
Namun sepertinya laki-laki tampan yang masih mengeratkan pelukannya pada wanitanya, terlihat begitu enggan melepasnya walau sedetikpun.
Semalam, dia hampir kehilangan wanitanya. Wanita yang secara sadar atau tidak sadar telah memberinya kenyamanan dan membuatnya tersenyum setiap kali melihat perhatiannya.
Bahkan, wanita yang kini dalam pelukannya itu adalah wanita satu-satunya yang ia sentuh saat pertama kali melakukan 'Itu' dalam hidupnya.
Wanita yang menjaga kehormatannya dan diberikan hanya padanya. Betapa bahagianya hati Chandra saat mengingat hal itu.
"Mas.."
"Hemm!"
"Lepas ih!" pinta Luna yang sudah berulang kali diucapkannya sedari tadi namun hanya dianggap angin lalu oleh suaminya.
Semakin Luna minta dilepaskan, semakin erat pelukan itu dan tanpa sadar membuat Luna mengulum senyum.
"Mas.. Aku mau kuliyah lo.. Ini udah hampir jam delapan, Mas." Luna pun mengungkapkan alasan yang masuk akal agar suaminya itu mau melepas pelukannya.
Apalagi, cacing di perutnya sudah meronta sedari tadi karna memang sudah waktunya mereka sarapan pagi.
"Cuti aja!" Chandra tetap menolak alasan istrinya. Bahkan menghiraukan cacing di perutnya yang juga sudah meronta minta diisi.
"Loh!! Kenapa harus cuti, Mas? Hari ini ada mata kuliyah penting loh, Mas." tolak Luna halus.
"Aku menginginkanmu." balas Chandra yang membuat Luna membulatkan matanya dan terasa susah menelan salivanya.
"Ini udah pagi loh, Mas. Tadi malam kan udah." tolaknya lagi yang sebenarnya tidak enak hati.
Suaminya menginginkannya, bukankah kata Ibunya jika ia menolaknya, ia akan berdosa?
Luna mengesah mengingat pesan dari Ibunya, lalu mendongak menatap suaminya yang kini terlihat memajukan bibirnya.
Sekilas, Luna ingin tertawa melihatnya, namun sebisa mungkin ia tahan karna tidak mau melukai hati suaminya.
Menjaga hati suami bukankah kewajiban seorang istri? Lalu, apa artinya menjaga hati suaminya jika dia saja menolak saat suaminya tengah menginginkannya?
Menggigit bibir bawahnya, Luna pun melihat langit-langit kamar dahulu lalu menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. "Mas beneran menginginkanku?" tanyanya bodoh yang dijawab anggukan antusias oleh Chandra yang kemudian langsung memberikan senyuman manisnya yang jika wanita diluar sana tengah melihatnya, akan terpesona.
Lalu, apakah Luna biasa saja saat melihatnya?
__ADS_1
Ya, kalian benar. Luna terpesona melihat senyuman manis suaminya itu, sejenak ia membiarkan suaminya melihat jika dia begitu mengagumi suaminya.
Wajah tampan yang hampir tidak ada celanya itu membuat Luna sedikit bertanya dalam hatinya, Apakah Tuhan dulu saat membuat suaminya itu dengan tersenyum?
Bahkan saat bangun tidur, laki-laki itu tetap terlihat tampan.
"Bukankah Mas hari ini ada meeting?" tanya Luna mengingatkan saat bibir Chandra memberi kecupan di bibirnya.
"Meetingnya jam sebelas. Masih bisa buat satu ronde, Lun." jawabnya malas yang kemudian mulai memagut bibir istrinya dengan lembut dan perlahan.
Beberapa kali melakukan 'itu' dengan istrinya sudah tidak membuatnya dan Luna tidak sekaku awalnya.
Bahkan mereka bisa melakukan 'itu' dengan berbagai gaya yang mereka pelajari.
"Maaassss.." Luna mulai mendesah saat suaminya mengecup, lalu membuat cap kepemilikan di dua hal indah yang menjadi tempat favorit bagi Chandra.
Chandra pun semakin terangsang setiap kali Luna begitu lembut memanggil namanya, hingga keduanya mencapai pelepasan dan serasa terbang ke puncak surga dunia.
***
"Apa Tuan? Tuan izin hari ini?" tanya Jaelani saat mendengar Tuan-nya menyuruhnya mengikuti meeting dengan Tuan Robert, menggantikannya karna ia harus mengajar melalui sambungan teleponnya.
"Baik, Tuan." Jika menyangkut pekerjaan, Jaelani tanpa membantah langsung mengiyakan.
"Ada lagi yang mau Tuan bicarakan? Kalau tidak ada, saya putus dulu sambungan teleponnya, Tuan." tanya Jaelani saat mendengar Chandra hanya menghela napas pelan lalu membuangnya perlahan.
"Terimakasih, Jaelani." ucap Chandra akhirnya.
"Terimakasih untuk apa, Tuan?"
"Terimakasih karna kamu telah menyelamatkan istriku." ujar Chandra lalu memutus sambungan teleponnya karna tidak mau mendengar alasan Jaelani melakukan itu pada istrinya.
Ia tahu, dibalik sikap Jaelani yang begitu tidak baik pada istrinya, Jaelani mempunyai sisi kemanusiaan yang tinggi.
Ingatkan Chandra, untuk memberi bonus yang banyak untuk Jaelani karna telah mempunyai inisiatif untuk mencegah hal yang tidak ia inginkan.
****
"Aku gak diantar sama Pak Mun, Mas?" tanya Luna saat suaminya sudah memakai setelan mengajarnya dan membukakan pintu mobilnya untuknya.
Mereka sudah selesai sarapan bersama, Luna yang sudah dipersiapkan vitamin oleh Chandra pun tidak merasa kelelahan usai mereka melakukan hubungan badan yang awalnya kata satu ronde menjadi tiga ronde hingga jam sembilan pagi Luna baru diijinkan bersiap oleh Chandra untuk pergi ke kampusnya.
__ADS_1
"Kamu aku antar, aja. Hari ini Moreno juga izin, jadinya aku yang ngajar." balas Chandra sembari duduk di kemudinya lalu mulai melajukan mobilnya.
Luna mengangguk mendengar penjelasan Chandra dan kini menatap jalanan padat di depannya menuju kampusnya.
Tapi, saat ia mengingat jika suaminya ada meeting penting, Luna pun tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Mas, ini udah jam sepuluh lo.. Mas kan meetingnya jam sebelas. Aku naik taksi online aja ya, Mas?"
"Jaelani sudah aku minta tolong buat hadiri meeting itu buat gantiin aku, Lun." Chandra menoleh lalu memegang punggung tangan Luna, untuk membuat istrinya berhenti khawatir pada pekerjaannya. "Kamu tenang saja, ya." ujarnya lalu mengecup tangan istrinya yang berhasil ia genggam itu.
****
"Cie.. Cie.. Yang diantar suami!" ledek Reyna saat melihat Luna yang baru saja turun dari mobil Chandra.
Sesampainya Luna di kampus, Reyna pun juga baru saja memarkirkan motor kesayangannya.
Suatu kebetulan yang sangat menggelikan bagi Luna saat itu.
"Ssstt.." Luna menaruh jari telunjuknya di bibir. "Kalau ada yang denger gimana, Reyn?" tanyanya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Emang kenapa kalau ada yang denger?" Reyna bertanya acuh seakan itu bukan hal besar yang harus disembunyikannya.
"Kan Mas Chandra belum bolehin, Reyn." Luna menunduk menjawab lirih pertanyaan Reyna.
"Kamu itu punya akun sosial media gak sih, Lun?" tanya Reyna lagi seakan kesal dengan sahabatnya yang memang begitu cuek dengan akun sosial medianya.
Padahal, jaman sekarang itu serba digital. Dengan berselancar di seluruh akun sosial media, kita bisa melihat ada berita dan informasi apa, ada kejadian apa, bahkan ada gosip apa di daerah manapun tanpa pergi di daerah tersebut dahulu.
"Punya, lah. Kamu kan punya akun sosial mediaku kan, Reyn?" tanya Luna kesal seakan Reyna merendahkannya.
Kesal dijawab kesal ya? Hehe
"Kalau kamu punya akun sosial media, pasti kamu udah lihat update-an status dari hampir seluruh anak-anak kampus sini, Lun." Reyna berusaha sabar menghadapi Luna, sedangkan Chandra laki-laki itu langsung menuju kantornya untuk mengambil apa yang dibutuhkan untuk mengajarnya.
"Hah? Update-an status? Memang mereka update status apa, Reyn?" tanya Luna sembari berpikir lalu mencari ponselnya di dalam tasnya.
"Kamu lihat aja sendiri." balas Reyna sembari menjulurkan lidahnya di depan Luna, lalu pergi tanpa menunggu Luna yang sedang mengotak-atik ponselnya mencari tahu apa yang telah di update teman kampusnya di akun sosial media mereka.
"Reyna.. Tunggu!!" teriak Luna saat menyadari jika Reyna telah meninggalkannya sendirian di parkiran, tapi Reyna tak menghiraukannya.
Sahabatnya itu ingin melihat Luna melek sosial media.
Bersambung...
__ADS_1