Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Meminta Hak


__ADS_3

Usai merayakan pesta ulangtahun Luna, mereka pun kembali ke dalam kamar masing-masing kecuali Luna yang harus mengikuti kemana suaminya mengajaknya ke kamarnya.


Sesampainya di depan kamar Chandra, Luna baru menyadari jika kamarnya tadi pagi yang ia tempati berada tepat di depan kamar Chandra. Tapi, kenapa seharian tadi dia tak melihat Chandra sama sekali? Bahkan saat ia menoleh ke samping, tepat di sebelah kamarnya yang sekarang dipakai oleh Reyna adalah kamar Ibunya bersama Radit.


Yang ada di benak Luna saat ini, bagaimana mereka bisa mempersiapkan semua itu tanpa mereka keluar dari kamar? Sehebat apa suaminya itu? Sepertinya Luna harus patut berbangga hati menjadi istri seorang CEO CA. Corps.


"Istriku.." panggil Chandra sembari menyadarkan Luna untuk masuk ke dalam kamarnya karna wanita itu terus sibuk mematuti kamar-kamar yang ada di depannya.


Luna yang sadar pun langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu Chandra secepat kilat mngunci kamar tersebut.


"Kamu mau ganti baju dulu apa tidak, istriku?" tanya Chandra yang membuat Luna tersenyum geli.


"Mas.. Kalau panggilnya biasa aja gak bisa, panggil namaku aja kayak biasanya, Mas."


"Gak.. Gak bisa."


"Kenapa, Mas?"


"Karna hari ini hari bahagiamu." Chandra pun mengambil lagi apa yang tadi ingin ia kasih ke Luna dari saku celananya. "Ini untuk kamu."


"Maaaaas.." Luna menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya saat melihat satu kalung berlian dengan inisial namanya yang harganya mungkin sangatlah fantastis berada di depannya.


"Aku pakaikan ya." Chandra mengambil kalung itu dari kotak perhiasannya. "Berbaliklah." Chandra meminta Luna berbalik agar ia bisa memakaikan kalung berlian itu.


"Apa ini tidak berlebihan, Mas?" tanya Luna saat kalung itu sudah menempel di lehernya.


"Apanya yang berlebihan?" Chandra mengernyitkan dahinya heran, kenapa istrinya itu selalu ingin menolak pemberiannya, dulu blackcard dan sekarang kalungnya.


Bahkan blackcard yang diberikan olehnya, belum pernah sekalipun terlihat ada transaksi. Dan darimana istrinya itu membeli kebutuhan pribadinya?

__ADS_1


"Kalungnya, apa ini gak terlalu mahal, Mas?"


"Gak.. Gak mahal." Ucap Chandra acuh lalu duduk di sofa hendak membuka kemeja lengan pendek yang ia pakai untuk berganti kaos polos rumahannya.


Melihat suaminya yang hendak membuka kancing kemejanya, Luna pun secepat mungkin menyusulnya lalu duduk di sampingnya dan menahan tangan Chandra yang akan melepas kancing kemejanya.


Pekerjaan itu diambil alih oleh Luna tanpa menatap suaminya, sedangkan Chandra kini terlihat menikmati seraut wajah cantik berbulu mata lentik wanita cantik yang ada di depannya.


Usai Luna selesai membuka kancing kemejanya, wanita itupun membantu Chandra melepasnya dari badannya dan saat sudah terlepas, tiba-tiba Luna mendaratkan bibirnya di pipi sang suami yang membuat Chandra mengerjapkan matanya demi meraih kesadarannya dari keterkejutannya.


"Makasih ya, Mas. Makasih buat semua yang Mas lakuin hari ini untukku. Makasih juga karna Mas lebih mengutamakan kenyamanan Ibu dengan membuat Ibu naik privat jetnya, Mas." Luna teringaat obrolannya tadi dengan Ibunya sepeninggal Chandra saat mendapatkan telepon penting bersama Jaelani mengenai perusahaannya.


"Ada cara yang lebih baik jika kamu mau berterimakasih sama aku, istriku." Chandra masih berkata dengan dramatis untuk meminta haknya.


Sebenarnya, Chandra bisa saja langsung memintanya, tapi dia tidak ingin Luna seakan terpaksa melakukannya. Ia ingin istrinya itu membolehkan ia memberinya nafkah batin atas keinginannya juga, bukan semata keinginannya demi memenuhi kebutuhan biologisnya yang sudah dia pendam sejak lama.


Dulu, Chandra memang belum pernah menyentuh seorang wanita, tapi disaat Luna sering memberinya pelukan refleks diam-diam dalam hatinya ia menginginkan lebih dari itu.


Namun, saat Ibu mertuanya selalu membicarakan tentang berhubungan badan, Chandra pun tersadar jika membangun keluarga harus melakukan 'Itu' untuk menambah tumbuhnya cinta diantara keduanya.


Dan disinilah mereka berada, di kamar kedap suara yang sudah dipersiapkan oleh Chandra untuk memulai hubungan yang memang sudah halal ke jenjang yang lebih intim.


"Apa Mas?" tanya Luna bodoh demi menutupi kecemasan yang kini melingkupinya.


Ia tau, ia tidak bodoh dengan apa yang kini diinginkan oleh suaminya. Apalagi kemarin saat suaminya sebelum pergi ke Bali secara terang-terangan mendukung nasihat Ibu untuk melakukan hubungan badan yang seharusnya sudah mereka lakukan sejak lama.


"Kamu kemarin bilang sama Ibu kalau kamu belum berhubungan badan denganku karna aku belum memintanya." Chandra membuka jalan dengan berkata lebih lembut dan lebih mendekat dimana posisi istrinya sedang duduk berjarak dengannya hingga tidak ada jarak lagi.


"I--ya, Mas." jawab Luna terbata dengan mengalihkan pandangannya ke segala arah.

__ADS_1


"Apa jika aku memintanya kamu akan memberikannya?" Chandra bertanya dengan raut wajah mendamba yang tercetak jelas.


Bahkan hanya dengan menatapnya saja, Luna tau seberapa besar suaminya itu menginginkannya.


Luna menggigit bibir bawahnya demi menutupi kegugupannya, ia belum siap, itu sudah pasti. Tapi jika mengingat pesan dari Ibunya yang mengingatkan ia tidak boleh menolak ajakan suaminya, beberapa detik menimbang, Luna pun akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Chandra yang meminta haknya sebagai suami untuk memberikan nafkah batin padanya.


Mendapat restu dari istrinya, Chandra pun membutuhkan beberapa detik untuk mengamati wajah istrinya yang sepertinya tidak tertekan dengan ajakannya, dan setelah ia tidak menemukannya, Chandra pun tak menunggu detik menjadi menit untuk memulai semuanya.


Tak lupa, Chandra mengajak istrinya untuk menunaikan sholat dulu, lalu mencium kening istrinya sembari merapalkan doa untuk memulainya.


Usai berdoa, Chandra pun mulai memagut bibir mungil istrinya dengan pelan dan perlahan karna ia tahu jika itu masih permulaan untuk istrinya dan ia sendiri.


Mendapat bekal dari Jaelani cara memulai hubungan badan dengan istrinya, Chandra pun berhasil membawa Luna agak santai untuk mengikuti permainannya yang juga masih kaku.


Sedikit membuat bengkak bibir istrinya, Chandra pun melepasnya sebentar untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menuju permainan inti mereka.


Dirasa sudah mendapat oksigen, Chandra pun mulai mengecup menelusuri setiap inci wajah istrinya, lalu beralih ke bawah menuju lehernya yang membuat Luna kini sedikit mendongak agar Chandra lebih leluasa bermain di lehernya.


Kecupan itu pun turun setelah membuat cap kepemilikan di leher istrinya ke dua hal indah dengan pucuk ranum yang kini terlihat terpampang nyata di depannya.


Entah bagaimana dimulainya kegiatan panas itu hingga keduanya sudah tidak mengenakan busana sembari tetap duduk di sofa.


Chandra seketika susah menelan saliva, tak pernah dibayangkan sebelumnya olehnya untuk menyentuh Luna sebagai istri yang dinikahinya bukan hanya status tapi juga untuk memenuhi haknya sebagai suami.


Dan malam itupun menjadi saksi bagaimana Dua insan itu melebur menjadi satu demi meneguk indahnya kenikmatan surga dunia.


"Terimakasih ya, Lun. Terimakasih karna sudah menjaganya dan memberikannya untukku." Chandra mengecup kening istrinya lalu menggendongnya untuk beralih ke tempat tidur untuk melanjutkan lagi apa yang diinginkannya.


Luna seketika merasa tersanjung, pipinya merah merona dengan debaran jantungnya yang terus berdetak lebih cepat saat mendapat ucapan terimakasih dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya karna ia memberikan apa yang sudah menjadi haknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2