Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Pasar Tradisional


__ADS_3

"Kita mau kemana Lun?" tanya Chandra saat kini keduanya sudah di dalam mobil keluar dari gerbang rumah mewah milik Chandra.


"Ke pasar tradisional di desa A, Mas."


"Desa A? Kamu yakin?" tanya Chandra sembari berpikir seraya memutar kemudinya karna perjalanan sampai di desa A membutuhkan waktu hampir setengah jam.


ada apa dengan desa A? kenapa Luna ingin sekali mengajakku kesana? apa yang sebenarnya mau dia ceritakan sama aku. batin Chandra.


Sadar jika Chandra sedang mengemudi, Luna yang awalnya akan mengangguk sebagai jawaban, kini wanita itu berkata agar Chandra mendengarnya. "Iya Mas, aku yakin."


"Buat apa kita kesana?" Chandra ingin tahu hal apa yang mendasari Luna mengajaknya kesana.


"Nanti kalau sudah sampai disana, aku pasti bakal cerita kok, Mas." terang Luna yang dijawab anggukan oleh Chandra.


***


Desa A


Setengah jam kemudian, mobil sport mewah keluaran dunia yang dikendarai oleh Chandra sendiri bersama Luna tiba di Desa A.


Desa A merupakan desa dimana Luna dilahirkan dan dibesarkan.


Desa dimana ia dan Ibunya serta Ayahnya dulu sebelum meninggalkannya sendiri dengan Ibunya yang memuat banyak cerita dan banyak kenangan.


Di desa ini pula dia menemukan Radit, anak asuhnya.


"Mas.. Nanti abis perempatan itu terus belok kiri ya, itu pasarnya." terang Luna dengan menunjuk jalan dimana Chandra harus mengendarai mobilnya menuju kesana.


Sesampainya di pasar tradisional, Chandra yang notabene seorang CEO ternama tidak mau diajak turun oleh Luna.


Di pasar tradisional itu kebetulan semalam baru turun hujan, dan jalannya sangat becek.


Banyak pedagang maupun pembeli memakai sepatu boots agar tidak terlalu kotor kakinya dan kebetulan juga Chandra hanya memakai sandal rumahannya karna mengira jika Luna akan mengajaknya ke supermarket terdekat.


"Mas.. Ayo turun!" ajak Luna dengan memegang lengan suaminya.


Chandra menatap tangannya, dan Luna pun melepasnya.


"Gak mau. Kamu aja, terserah mau belanja apa. Aku nunggu disini aja." ungkap Chandra seraya menutup hidungnya dengan tangan karna baru pertama kalinya dia ke pasar.


"Maaaasss... Aku ngajak Mas kesini itu karna aku mau nunjukkin sesuatu sama Mas. Kalau Mas gak mau ikut turun, gimana aku ngasih taunya." Luna berucap dengan raut wajah lelah, lelah untuk merayu suaminya agar mau diajaknya masuk ke dalam pasar.

__ADS_1


"Gak bisa ya ngasih taunya disini aja, gak perlu kesana. Lagian, enak belanja di supermarket." tolak Chandra lagi.


Luna menghela napas panjang, dia pun menarik lagi tangan suaminya tak menghiraukan tatapan aneh dari Chandra.


Wanita cantik itu gak mau menyerah, dan akhirnya Chandra pun dengan raut wajah terpaksa yang tidak bisa disembunyikannya pun mau diajaknya masuk ke dalam pasar.


Pertama kali tempat yang dikunjungi oleh Luna adalah pedagang sayur, dan kebetulan pedagang sayur itu adalah tetangganya dahulu saat tinggal di desa A.


"Eh, nduk Luna.. Mau beli apa nduk? Lama ndak kelihatan.. Kemana aja?" tanya pedagang sayur itu.


"Luna kuliyah Bude.. Luna mau beli sayur wortelnya aja satu kilo, ya." jelas Luna yang dijawab anggukan oleh pedagang sayur itu.


Usai satu kilo wortel itu siap dan diberikan pada Luna, pedagang itu baru saja menyadari jika ada laki-laki tampan yang sejak tadi berdiri kaku di samping Luna.


"Ini siapa nduk? Kok ndak dikenalin sama Bude?"


"Oh.. Ini suami Luna, Bude. Namanya Mas Chandra." ujar Luna yang membuat Chandra yang tadinya malas pun mengatupkan tangannya di depan dada, tanda perkenalan dengan pedagang sayur itu.


"Wah.. Mas Chandra beruntung ya, bisa memperistri nduk Luna.."


beruntung? maksud Ibu ini apa? batin Chandra yang ingin mengiyakan saja perkataan pedagang sayur itu, tapi mengatupkannya kembali saat melihat pedagang itu hendak berbicara lagi.


"Nduk Luna itu gadis yang sopan, mandiri, pekerja keras dan masih perawan lagi." terang pedagang sayur lagi yang membuat Chandra menajamkan pendengarannya.


apalagi maksudnya dia senyum gitu? batin Chandra bergidik geli.


Chandra hanya tersenyum menanggapi perkataan pedagang sayur itu karna Luna juga tak membantahnya padahal yang Chandra tau jika Luna adalah seorang Janda.


Luna pun mengajak Chandra kembali berjalan menuju tempat kedua.


Tempat kedua ini seperti kios di pasar pada umumnya, ada gerobak baksonya yang sudah hampir lapuk kayunya dan meja kursinya juga sudah hampir lapuk.


Menjawab rasa penasaran Chandra, Luna pun mendekati gerobak bakso itu, lalu mengusap kacanya yang kotor, dan saat sudah sedikit bersih terdapat tulisan "bakso Luna" yang membuat Chandra semakin bingung.


"Maksud dari semua ini, apa Lun?" Chandra bertanya.


"Ini gerobak bakso buat aku jualan bersama Ibu jika di pasar, Mas. Seminggu sekali pasar ini ramai pengunjung." jawab Luna yang tak menjawab rasa penasaran Chandra.


"Aku ubah pertanyaannya. Maksud Ibu penjual sayur tadi jika kamu masih perawan itu apa?" tanya Chandra yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari pasar itu karna sekarang ia menjadi pusat perhatian.


Luna menaruh plastik berisi wortel dan sayuran yang ia beli tadi di meja jualannya, lalu mengikis jarak mendekat di depan Chandra.

__ADS_1


Menggenggam tangan laki-laki itu lembut, mendongak menatapnya seraya menghela napas panjang sebelum bercerita.


"Mas.. Aku ngajak Mas kesini karna aku mau memberi tahu status asliku, Mas."


"Status asli? Apaan sih, Lun? Gak usah muter-muter gak bisa ya." kesal Chandra tapi tetap membiarkan istrinya menggenggam tangannya dan tatapannya pun tak ia alihkan, walaupun raut wajah kesalnya ia tampakkan.


Luna menunduk, mengumpulkan segala keberaniannya. "Aku masih gadis, Mas."


"What? Ulangi coba? Kamu bilang apa tadi, Lun?" cecar Chandra dengan kini melepas genggaman tangannya, dan memegang pundak Luna.


"Aku masih gadis, Mas. Radit hanya anak asuh yang aku temukan saat aku berjualan di pasar ini." terang Luna sembari meneteskan air mata.


Chandra mengusap wajahnya, masih tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


Tidak mendengar suaminya menimpali perkataannya, Luna pun mendongak menatap suaminya lalu memegangi punggung suaminya yang kini berdiri membelakanginya.


"Semalam saat aku bertanya soal berkas yang aku kasih ke Mas saat kita akan menikah karna ini Mas." Luna tidak bisa menahan isakannya.


Ia merasa bersalah pada suaminya, namun ia juga merasa tidak menipunya.


"Aku kira Mas mengeceknya dahulu sebelum kita menikah, tapi saat malam pertama kita Mas bilang seperti Mas belum membacanya, aku pun sebenarnya tidak berani hal jujur seperti ini sama Mas. Tapi, kemarin saat Mas pergi ke luar kota, Ibu mendorongku untuk berbicara status asliku ini pada Mas yang bahkan pak Raka pun sudah tau." terang Luna lagi yang membuat Chandra kini memutar badan kembali menghadap padanya.


apa? Raka sudah tau? apa ini hal yang membuat Raka begitu yakin jika Luna bukanlah seorang Janda? batin Chandra yang kini menatap Luna sedang menangis dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.


Ingin sekali Chandra marah karna Luna baru memberitahunya, tapi melihat awal cerita bagaimana ia bisa menikah dengan Luna karna paksaan darinya membuatnya mengurungkan niatnya itu.


Wanita ini, istrinya ini sudah berani jujur padanya, lalu apa yang harus diperbuatnya?


Marah? Kecewa? Hal itu tidak bisa ia lakukan.


Mengembuskan napas kasar, Chandra pun maju mengikis jarak dengan istrinya, lalu mendekapnya.


Mengusap pucuk kepalanya, menenangkannya jika ia menerima semua ini penjelasannya. Karna hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Ibu menyuruhmu berkata jujur seperti ini karna apa?" tanya Chandra saat keduanya sudah kembali ke dalam mobilnya.


"Karna... Karna Ibu bertanya soal kita yang belum berhubungan badan, Mas." jawab Luna sembari menatap kaca jendelaa yang ada di sampingnya.


"Lalu, kamu maunya gimana?" tanya Chandra yang membuat Luna malu, dan tak mau menoleh padanya.


Chandra tersenyum, ia harus menyusun rencana untuk bisa memiliki istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2