
Sekian detik Luna mengalihkan tatapannya, dan lagi kembali menatap suaminya demi meraih ekspresi suaminya setelah mendapat ciuman mendadak dari Kinara--dosen barunya.
Mendapati ekspresi suaminya yang masih membulatkan matanya, lalu mengusap kedua pipinya dengan kedua tangannya tanpa memarahi Kinara yang lancang telah menciumnya, membuatnya sedikit sakit hati.
Sepertinya wanita cantik itu telah salah paham dengan suaminya.
Chandra begitu karena shock.. Dia terkejut, bukan karena senang telah dicium oleh Kinara.
Laki-laki itu sadar jika sekarang dia telah mempunyai seorang istri.
Walaupun tidak dipungkiri jika Chandra memang tidak bisa berkata kasar pada Kinara--wanita yang dulu selalu mendukungnya untuk meraih cita-citanya sebagai dosen.
Kinara-lah yang selalu ada di sampingnya saat kedua orang tuanya menentangnya, Kinara-lah yang selalu menyakinkannya jika cita-citanya itu sebuah cita-cita yang mulia.
Luna pun langsung berbalik badan, pergi berlari-lari kecil keluar dari kampusnya dengan jalan berbeda yang tidak dilewati oleh Chandra yang ada di parkiran menuju gerbang kampusnya dengan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya.
"Tunggu, Lun!" teriak Reyna saat Luna akan menaiki taksi untuk pergi dari kampusnya entah akan kemana.
Luna menoleh menatap Reyna dengan mata basahnya, dan Reyna semakin tidak tega membiarkan sahabatnya yang tengah hamil muda itu pergi sendirian dengan keadaan kacau.
"Aku ikut, Lun." teriak Reyna sembari menahan pintu mobil taksi yang ditumpangi oleh Luna.
Luna menatap Reyna, lalu mengangguk mengiyakan pinta Reyna dan membiarkannya masuk taksi untuk ikut pergi bersamanya.
***
Lima detik setelah Luna berbalik badan, Chandra baru tersadar dari keterkejutannya dan dia pun langsung menegur Kinara.
"Aku udah punya istri, Ra. Jaga sikapmu." pinta Chandra dengan nada lembutnya.
"Maaf, Ndra.. Aku hanya rindu denganmu. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu coba? Kamu enggak rindu sama Aku?" tanya Kinara dengan gaya memelasnya yang membuat Chandra semakin tidak bisa mengontrol ekspresinya.
Ingin sekali laki-laki itu memeluk Kinara, menyalurkan rindu yang teramat karena memang mereka sudah sekian tahun tidak berjumpa.
Pelukan itu pun ditujukan Chandra untuk pertemanan mereka, dulu.. Mereka putus baik-baik dan memutuskan menjadi teman.
Bukankah pelukan teman itu enggak apa-apa? Chandra bertanya dalam hatinya.
Namun, mengingat jika istrinya tengah berjalan menghampirinya karena sudah ia kirim pesan jika ia telah sampai di parkiran kampus, Chandra pun berusaha menetralkan ekspresinya.
__ADS_1
Bagaimanapun, dia sudah mempunyai istri. Kinara adalah masa lalunya.
Chandra berkali-kali berusaha menyakinkan dirinya dan hatinya untuk tidak kebawa perasaan melihat Kinara.
Masa lalu yang begitu indah yang pernah terjadi diantara ia dan Kinara memang tidak bisa dilupakan begitu saja dan pasti selalu menghiasi hari-harinya walaupun dulu ia telah berpacaran dengan Kezia.
"Ngapain kamu disini?" Chandra bertanya untuk mengalihkan pembicaraan, ia tidak yakin bisa menetralkan ekspresinya jika Kinara membawanya mengingat kenangan masa lalu indah mereka.
"Aku mulai mengajar disini, Ndra.. Aku di Indonesia sekarang." jelas Kinara yang membuat Chandra terkejut kembali.
jadi, mulai besok aku harus aktif mengajar kembali karena Moreno telah mengundurkan diri dan akan satu kantor dengan Kinara? batin Chandra berperang.
"Semoga kamu betah disini, aku juga mengajar disini, Ra." timpal Chandra yang membuat Kinara tersenyum.
"Berarti kita akan sering ketemu ya, Ndra?" tanya Kinara dengan binar bahagianya.
"Iya." jawab Chandra datar sembari melihat ke sembarang arah, mencari istrinya.
Dimana istrinya? Kenapa sudah hampir setengah jam lamanya belum juga menampilkan batang hidungnya dan menghampirinya?
"Aku mau cari istriku dulu ya, Ra. Sampai jumpa besok." ujar Chandra sembari melangkah menuju ruang perpustakaan yang tadi katanya istrinya sedang ada di sana.
Jarak dari perpustakaan ke parkiran tidaklah jauh, tapi kenapa istrinya begitu lama tidak menghampirinya. Apa yang sebenarnya sedang dilakukannya?
Chandra menoleh dan menaikkan alisnya seperti bertanya tentang maksud apa Kinara kembali memanggilnya.
"Istrimu kuliyah disini?" tanya Kinara yang dijawab anggukan sekilas oleh Chandra lalu kembali melangkah mencari istrinya.
Sesampainya di perpustakaan, Chandra mencari istrinya di kursi tempat membaca buku, lalu di lorong yang ada di antara rak buku yang berjejer rapi, dan hasilnya nihil.
Istrinya tidak ada disana.
Chandra pun langsung bertanya pada petugas yang menjaga perpustakaan. "Permisi.. Apa Luna Sabrina tadi ke perpustakaan?"
Petugas perpustakaan itu terlihat berpikir, dan sekian detik setelahnya petugas itu mengangguk. "Iya, Pak... Tadi, Luna Sabrina memang di perpustakaan bersama Reyna.. Tapi mereka sudah keluar setengah jam yang lalu." jelas Petugas itu yang membuat Chandra kini mengernyitkan dahinya dan bertanya dalam hatinya. kemana istrinya?
Chandra pun mengangguk akhirnya. "Terimakasih" ujarnya lalu keluar dari perpustakaan.
Saat sudah diluar perpustakaan, Chandra pun mencoba menghubungi istrinya.
__ADS_1
Tapi, berulang kali ia mencoba menghubunginya, ponsel istrinya itu tidaklah aktif. Ponsel itu dimatikan oleh Luna.
Chandra pun kembali berjalan menuju parkiran, demi menemukan istrinya yang mungkin sudah menghampirinya di parkiran dan tengah menunggunya.
Sesampainya di parkiran, hasilnya pun nihil lagi. Istrinya tidak ada di dekat mobilnya dan tidak terlihat di sepanjang jalan yang ia lalui dari perpustakaan menuju parkiran.
Dimana kamu, Lun? Kenapa nomormu tidak aktif? Kamu sudah pulang dari kampus? Kenapa tidak menghubungiku dulu? batin Chandra bermonolog sembari menyugar rambutnya ke belakang, merasa frustasi karena tidak menemukan istrinya.
Chandra pun langsung menaiki mobilnya, untuk pulang ke rumah untuk sekadar membuat hatinya tenang karena istrinya memang sudah selamat sampai rumah.
Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal tapi tetap mematuhi peraturan lalu lintas demi cepat sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia pun langsung menaiki tangga rumahnya untuk mencari istrinya di kamarnya.
Chandra membuka pintu kamarnya dengan napas memburu, dan ia pun melemaskan otot kakinya lalu terduduk dengan berlutut di pintu saat juga tidak menemukan istrinya di kamarnya.
Kamarnya itu terlihat rapi, tas yang biasa dipakai istrinya juga belum tergeletak di sofa.
Merasai sudah mempunyai sedikit tenaga, Chandra pun lalu langsung menuruni tangga rumahnya untuk bertolak ke ruko Ibu mertuanya.
Mungkin istrinya itu ingin berkunjung ke ruko Ibunya dan lupa tidak mengabarinya. Chandra mencoba membesarkan hatinya.
Ketatnya persaingan bisnis dan sudah dipublikasikannya Luna di area bisnisnya, tidak memungkiri jika pikiran Chandra terpusat pada hal buruk yang diperbuat musuh bisnisnya dan takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
Apalagi ia baru memenangkan proyeknya dengan Diamond Grup, dan dia tau segila apa Raka pada istrinya.
Tidakkah kamu tahu Chandra.. Itu semua gara-gara kamu.. Hahhhaa.
semoga kamu ada di ruko Ibu ya, Lun. Semoga kamu baik-baik saja. kenapa ponselmu tidak aktif? Chandra terus bergumam bermonolog sembari mengemudikan mobilnya menuju ruko Ibu mertuanya.
Sesampainya di ruko Ibu mertuanya, tanpa menutup pintu mobilnya, Chandra berlari masuk ke dalam ruko.
"Apa istri saya disini?" tanya Chandra pada pegawai tertua yang dipekerjakan olehnya.
Laki-laki itu tidak mau bertanya pada Ibu mertuanya karena tidak ingin membuatnya kepikiran.
"Nyonya Luna kabur ya, Tuan." Sintia menimpali yang langsung dibalas delikan tajam oleh pegawai tertua itu.
"Jangan dimasukkan hati omongan Sintia, Tuan. Dan Nyonya Luna tidak ada disini." jelas pegawai tertua itu dan membuat Chandra langsung berlari menaiki mobilnya setelah mengucapkan "terimakasih."
__ADS_1
aku harus cari kamu kemana? kenapa ponselmu belum juga aktif? semoga tidak terjadi apa-apa denganmu dan si baby ya, Lun. batin Chandra berdoa sembari mengemudikan mobilnya untuk mencari istrinya.
Bersambung..