Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Dies Natalis Kampus


__ADS_3

"Luun.. Kamu besok mau pakai baju apa?" tanya Reyna pada Luna saat keduanya sedang duduk di dalam kelas menunggu dosen masuk untuk mengajar.


"Di acara Dies Natalis Kampus maksudmu ya, Reyn?" Luna pun bertanya.


"Iya.. Kamu mau pakai baju apa? Besok kan ada banyak kegiatan yang akan diadakan untuk memperingati hari lahir kampus kita. Dan lagi acara makan bersama yang aku tunggu-tunggu, Lun." Reyna mengungkapkan dengan binar bahagianya, momen makan bersama memang ditunggu-tunggu oleh Reyna karena ia jarang makan bersama keluarganya.


Papa dan Mamanya selalu sibuk bekerja.


"Paling pakai dress yang biasa aku pakai, Reyn. Dan lagi aku lagi hamil muda kayak gini, pasti Mas Chandra tidak akan mengizinkanku ikut kegiatan apapun kecuali makan bersama." Luna berkata dengan sendu, karena di setiap acara Dies Natalis kampusnya, ia selalu antusias mengikuti berbagai kegiatan.


Dan dalam keadaannya yang sedang hamil muda, ia pun harus memprioritaskan keselamatan anak yang ada di dalam kandungannya.


"Enggak apa-apa lah Lun.. Ikut makan bersama kan juga bagian dari kegiatan kita.. Jangan sedih ya.." Reyna pun mencoba menghibur Luna dengan mendekapnya dari samping lalu mengusap lengannya.


"Iya.. Aku enggak sedih kok, Reyn.. Aku cuman lagi kangen sama Ibu aja. Udah berapa minggu aku belum mengunjunginya." ujar Luna yang memang sudah lama tidak mengunjungi Ibunya.


Menjadi istri dari seorang CEO perusahaan besar, membuat weekendnya selalu terisi dengan menemani Chandra dengan banyak kegiatan.


Apalagi setelah Moreno mengundurkan diri, Chandra menjadi sibuk dua kali lipat dari biasanya walaupun perusahaan sudah dihandle oleh Jaelani.


Ya, walaupun ia hanya duduk menemani dan melihat suaminya yang sedang sibuk dengan banyak kliennya.


Melihat Darius yang begitu memperlakukan Jenifer dengan baik lewat sambungan video call yang mereka lakukan hampir tiap malam membuat Chandra tambah peka pada istrinya.


"Kamu kan bisa ajak Pak Chandra ke ruko Ibu, Lun." Reyna mencoba mengingatkan.


"Ya aku tahu itu, Reyn. Tapi aku enggak setega itu untuk mengganggu pekerjaan suamiku yang lagi padat-padatnya karena Pak Moreno yang sudah mengundurkan diri." ujar Luna yang membuat Reyna mengangguk paham.


***


Jam pulang kuliyah sudah tiba.. Luna pun bergegas menuju mobil suaminya karena Chandra sudah menunggunya.


Kebetulan jam pulang mengajar Chandra bersamaan dengan Luna keluar dari kelasnya.


"Mas.. Habis ini kamu mau ke kantor?" Luna bertanya saat mobil yang dikemudikan Chandra sudah keluar dari gerbang kampusnya.


"Iya.. Ada sesuatu yang harus aku urus. Kenapa?" Chandra pun bertanya.


"Enggak apa-apa, Mas." Luna pun mengurungkan niatnya yang ingin ke ruko Ibunya karena Pak Mun sama sekali tak diizinkan oleh Chandra mengantar istrinya pergi.


Sesampainya di rumah, Chandra langsung memutar mobilnya menuju perusahaan setelah menurunkan Luna di depan pintu rumah mewahnya.


Meeting penting dengan klien baru yang akan memasok keuntungan begitu besar untuk perusahaannya membuat Chandra bergerak cepat mempelajari proposal kerja sama yang diajukan dan pastinya harus menyelidiki siapa pemilik perusahaan besar tersebut.

__ADS_1


Chandra tidak mau kecolongan lagi.


"Ibuu.. Radiit!" pekik Luna bahagia saat melihat dua orang yang dirindukannya berada dalam rumah suaminya.


"Mommy!" Radit langsung memeluk kaki Luna dan membuat Luna harus berjongkok demi bisa memeluk anak asuhnya itu dengan benar.


"Ibu.." panggil Luna dengan menyalimi tangan Ibunya. "Diantar siapa Ibu kesini? Rukonya gimana? Lancar jualannya, Bu? Maafin Luna yang jarang mengunjungi Ibu ya.." Luna pun berujar dengan menatap sendu wajah Ibunya.


Rasa rindunya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ibu kesini dijemput sama Pak Mun.. Katanya yang nyuruh Nak Chandra, Sayang. Kata Nak Chandra kamu merindukan Ibu dan Radit." tutur Ibu Halimah menjelaskan dengan mengusapi wajah Luna.


oh ya? Mas Chandra yang nyuruh Ibu kesini? Tapi kenapa Mas Chandra tadi terlihat begitu cuek dan tidak berkata apa-apa. batin Luna mengingatnya.


"Kita ke kamar Luna yuk, Bu.. Luna capek mau mandi dulu. Gerah soalnya."


"Ibu nunggu disini aja, Nak." tolak Ibu Halimah langsung yang membuat Luna paham.


"Kalau Radit? Mau ikut Mommy ke kamar Mommy enggak sayang?" tanya Luna pada anak asuhnya.


Radit mendongak menatap wajah Luna. "Aku disini aja sama Nenek, Mommy.." Radit pun menolaknya, karena ia sudah disiapkan berbagai mainan baru oleh Chandra di rumahnya.


Luna mencebikkan bibirnya, namun untuk bisa menuntaskan rindu pada Ibu dan anak asuhnya, ia harus mandi dulu agar bisa terasa nyaman.


***


Di kampus Luna hari ini sedang merayakan hari lahirnya.


Berbagai kegiatan diadakan untuk memperingati hari lahir kampus terfavorit di negaranya itu.


Luna yang sedari tadi hanya bisa menatap Reyna yang sedang asyik bergelut dengan berbagai lomba pun hanya bisa ikut tersenyum bahagia saat melihat sahabatnya itu menang dalam salah satu kegiatan lomba.


"Tahun depan kamu masih bisa ikut kegiatan Dies Natalis kampus kita, sayang." Chandra tiba-tiba mendekati istrinya, lalu merangkul pundak Luna demi menghibur istrinya.


Laki-laki itu tau jika istrinya begitu menginginkan mengikuti berbagai kegiatan tapi terhalang karena tengah mengandung anaknya.


"Ndra.. Bentar lagi acara makan bersama." Kinara tiba-tiba nimbrung sembari mengusap pundak Chandra.


Chandra menoleh pada wanita yang sedari kemarin berusaha selalu mendekatinya dan membuatnya curiga.


Kinara yang ia kenal dulu bukanlah wanita seperti itu. Kinara dulu adalah wanita bermartabat yang tidak akan mau mengganggu laki-laki yang sudah menikah.


Pernah dulu saat kuliyah sebelum menjadi kekasihnya, Chandra mengagumi wanita sholihah yang ternyata sudah mempunyai suami lewat jalan ta'aruf.

__ADS_1


Di saat itu.. Kinara mengingatkannya jika mengagumi wanita yang sudah bersuami tidaklah baik, karena akan berujung menyakiti hati lain dan berbuat apapun untuk merebutnya.


Dan kemarin.. Istrinya sudah salah paham dengannya karena Kinara, dan janjinya untuk menjaga jarak pun harus ditepatinya demi keutuhan rumah tangganya.


Dan demi calon anak yang akan melengkapi keluarga kecilnya.


"Iya.. Kamu duluan aja." Chandra berkata dengan datarnya dengan mengusapi perut Luna.


"Buat makan para dosen di sebelah sana ya, Ndra." Kinara pun tidak menyerah untuk menarik perhatian Chandra.


kita lihat.. apa kamu benar sudah tidak peduli dengan aku, Ndra? batin Kinara menyeringai.


Chandra hanya mengangguk tanpa memperhatikan arah tunjuk Kinara.


"Maas.." panggil Luna pada suaminya yang sibuk mengusapi perutnya.


"Ada apa, sayang?" Chandra bertanya dengan lembut sembari menatap penuh cinta istrinya.


"Buruan gih kesana, udah ditungguin para dosen yang lainnya juga kan?" Luna pun mengingatkan suaminya yang selalu profesional.


Dengan malas-malasan, Chandra pun akhirnya berjalan menuju tempat makan bersama untuk para dosen yang tidak berjarak jauh dengan tempat makan bersama para mahasiswanya.


"Kamu ikut makan bareng Mas aja ya?" Chandra tiba-tiba balik lagi menghampiri istrinya.


"Luna enggak akan hilang kok, Pak.. Ada aku yang jagain." Reyna menyela, buru-buru menghampiri Luna saat kegiatan makan bersama sudah diumumkan.


"Aku makan bareng para mahasiswa lainnya aja, Mas.. Mas bareng para dosen. Kalau aku ikut bareng, Mas.. Aku yang enggak enak, Mas." tutur Luna yang membuat Chandra mengangguk lalu berjalan menuju tempatnya makan bersama.


Kebetulan.. Tempat duduk Chandra untuk makan bersama bersebelahan dengan Kinara.


Melihat semua tempat duduk sudah dibagi dengan rapi, Chandra yang hendak menolak pun akhirnya menutup mulutnya lagi.


Chandra tidak tahu, jika semua itu rencana Kinara untuk membuat Luna salah paham lagi dengannya.


Anak buah Raka yang selalu mengikutinya membuatnya tahu jika Luna pernah salah paham dan pergi seharian karena ia telah lancang mencium Chandra.


"Kamu makan seafood, Ra?" tanya Chandra panik saat melihat Kinara makan seafood, makanan yang selalu bisa membuat alergi Kinara kambuh dan jatuh pingsan.


"Iya.. Lagi pengen, Ndra." ujar Kinara enteng.


Chandra tidak tahu kalau Kinara memang sengaja memesannya untuk membuat Luna terbakar api cemburu karena Chandra pasti panik saat melihatnya.


Dan benar, tebakan Kinara benar.. Baru saja Kinara memakan lima suap seafood beserta nasi. Tiba-tiba dadanya terasa panas dan sesak dan tidak berapa lama Kinara jatuh pingsan di pundak Chandra.

__ADS_1


Chandra panik, ia menepuk pipi Kinara dan seketika menggendong Kinara menuju mobilnya dengan lebih dulu menghampiri istrinya. "Ikut Mas ke rumah sakit, Kinara kumat alerginya." ujar Chandra pada istrinya yang membuat Luna mengangguk lalu mengikuti kemana sumaminya membawa Kinara.


Bersambung...


__ADS_2