Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Berbesar Hati


__ADS_3

Perjalanan ke rumah sakit yang tidak memakan waktu terlalu lama karena Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximum pun dihiasi dengan canda tawa antara kedua insan tersebut.


Biasanya, keheningan lah yang menemani perjalanan mereka saat tidak ada yang penting yang akan dibicarakan.


Tapi sepertinya membicarakan tentang Miko yang sedang melakukan pendekatan dengan Reyna menjadi topik yang pas untuk dibahas mereka hingga sampai di parkiran salah satu rumah sakit internasional tersebut.


"Para Dosen nunggu dimana, Mas?" tanya Luna dengan menutup pintu mobilnya.


Chandra mengunci mobilnya pada remote yang ia pegang, lalu menatap istrinya dan meraih tangannya untuk digenggam. "Di lobi, Lun."


Luna menganggukkan kepalanya lalu keduanya berjalan bergandengan tangan dengan saling melempar senyum manis.


"Maaf menunggu lama." Chandra berujar saat melihat rekan sesama dosennya sudah sampai dahulu daripada dirinya.


"Tidak, Pak.. Kami juga baru sampai." jawab dosen laki-laki yang memimpin acara menjenguk Raka.


Chandra tidak membalas, laki-laki itu memasang wajah datar lalu berjalan beramai-ramai dengan rombongan para dosen menuju ruang rawat Raka.


"Selamat sore, Pak Raka.." sapa Para Dosen sembari memasuki ruang rawat Raka kecuali Chandra.


Laki-laki itu tidak membenci Raka, tapi juga tidak bisa mentolerir perbuatannya.


Ia mengikuti acara menjenguk Raka atas profesionalitas pekerjaannya sebagai dosen bukan untuk berbesar hati memaafkan perbuatan Raka yang sudah keterlaluan.


"Mas baik-baik saja?" bisik Luna bertanya saat melihat wajah suaminya yang kentara sekali menahan amarah.


Apalagi saat melihat Raka tersenyum lalu tertawa menanggapi obrolan teman sesama dosennya. Suaminya itu terlihat mengetatkan rahangnya.


bisa-bisanya dia tidak merasa punya dosa seperti itu? batin Chandra dengan menatap tajam Raka dari kursi sofa.


Laki-laki itu tidak mau berdiri berjarak dekat dari Raka sama seperti dosen lainnya.


"Aku baik-baik saja, Lun." kilah Chandra tetap menatap tajam Raka.


Raka yang sudah tidak terlalu menanggapi obrolan teman sesama dosennya pun mengedarkan pandangannya dan mencari sesosok wanita yang sedari kemarin merawatnya.

__ADS_1


Wanita seusia Luna yang diketahui adalah adik kandung dari Laki-laki yang telah merebut Luna darinya itu mempunyai cinta yang besar untuknya.


Bahkan, penolakannya berulang kali pun tak diindahkannya. Dan sepercik rencana jahat pun muncul di kepala Raka saat mengiyakan jika ia mau menjadi kekasih dari adik laki-laki tersebut.


Edaran pandangan Raka bersitatap dengan tatapan Chandra yang mengarah tajam padanya.


aku sudah mempersiapkan sesuatu yang akan menjadi kabar bagus untukmu, Chan. batin Raka tersenyum sinis pada Chandra.


"Jika Mas merasa kurang nyaman, sebaiknya kita keluar dulu aja, Mas." Luna pun ingin memilih mendinginkan hati dan pikiran suaminya.


Chandra menggeleng tegas sebagai jawaban hingga satu pertanyaan muncul dari dosen wanitanya pada Raka yang juga menyita perhatiannya.


Sedari tadi memang laki-laki itu tidak melihat ada seseorang pun yang menjaga Raka saat menjalani perawatan, hingga sekarang saat lima belas menit telah berlalu belum juga ada tanda-tanda orang yang menemani Raka saat dirawat untuk masuk ke dalam ruangan Raka.


"Pak Raka di rumah sakit sendiri?" tanya salah satu dosen.


"Tidak, Bu.. Saya ditemani sama pacar saya." jawab Raka dengan melirik Chandra.


hah? pacar? Raka sudah punya pacar? secepat itu? batin Chandra tidak percaya.


"Iya, Bu.. Bagaimana lagi.. sudah waktunya untuk saya menikah. Pak Chandra saja sudah menikah. Betul kan, Bu?" Raka pun menanggapi tapi juga berniat meledek Chandra.


Dosen itu terdiam karena tidak berani menjawabnya, dan Raka pun melanjutkan, "Pak Chandra sudah menikah dua bulan, eh salah.. hampir tiga bulan ya, Bu.." Raka seakan tidak ada hentinya untuk berniat menghina Chandra.


Dosen itu masih terdiam, dan Chandra pun berdehem untuk menetralkan suasana yang tiba-tiba tidak sehat itu.


Ehem


"Perhatian! Saya ikut kesini tadi selain menjenguk Pak Raka, memang ada satu hal yang ingin saya umumkan." Chandra meminta perhatian pada semua orang yang ada di ruangan rawat Raka.


"Apa, Pak?" tanya dosen yang tadi terlibat perbincangan dengan Raka.


Dosen itu terlihat menatap khawatir pada Chandra jika laki-laki itu akan memarahinya karena berani membahasnya di depannya.


Padahal yang ia niatkan hanya untuk menghibur Raka agar lekas sembuh dan kembali mengajar seperti biasanya.

__ADS_1


"Minggu depan saya akan mengadakan pesta pernikahan saya dengan istri saya. Saya harap kalian bisa hadir untuk memberi selamat kepada saya." ujar Chandra yang membuat rekan sesama dosennya menganggukkan kepala.


Berbeda dengan Luna, wanita cantik itu mengernyitkan dahinya heran sekaligus menatap suaminya dengan terus menerus seakan meminta penjelasan.


"Kenapa baru mau diadakan pesta pernikahan, Pak Chandra? Kalian kan sudah menikah hampir tiga bulan.. Kemarin kemana saja?" sahut Raka dengan mulut pedasnya.


Sepertinya bogem mentah yang diberikan Chandra yang mampu membuatnya dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu tidak berarti apa-apa.


"Karena saya ingin menyiapkan sesuatu yang berkesan untuk istri saya. Dan itu membutuhkan waktu yang lama." tegas Chandra yang membuat suasana terlihat tegang.


Raka tersenyum sinis, "Segitunya? Sampai hampir tiga bulan lamanya?" sindirnya.


"Sesuatu yang berkesan itu tidak bisa instan." tegas Chandra lagi sembari berdiri dari duduknya.


Chandra mengulurkan tangannya pada istrinya sebagai tanda jika ia ingin segera keluar dari ruang rawat Raka.


Sebisa mungkin ia menahan amarah yang memuncak. Berbesar hati menerima sindiran dari Raka untuk menjaga image baiknya di depan rekan sesama dosennya.


Tidak lucukan jika seorang dosen bertengkar karena memperebutkan wanita? Bukankah itu akan menjadi contoh yang tidak baik untuk mahasiswinya ke depannya jika sampai terdengar?


Luna yang mengerti kode dari suaminya pun menerima uluran tangan suaminya lalu berdiri dan menatap Raka dengan tatapan kasihan yang tidak bisa disembunyikannya.


Dulu, ia sangat menghormati dosennya tersebut. Tapi setelah perbuatan yang dilakukan padanya membuatnya marah dan kecewa.


"Saya mewakili kelas saya ingin mengucapkan pada Pak Raka.. Semoga Bapak lekas sembuh dan bisa segera aktif mengajar kembali." ujarnya dengan begitu tulus yang membuat Raka terhenyak.


Setelah apa yang diperbuatnya, wanita cantik itu masih berkata baik dan lembut seperti itu padanya.


Raka menelan salivanya lekat saat menyadari jika Luna berbesar hati menerima perbuatan keji yang pernah ia lakukan padanya, bahkan ingin menghilangkan nyawanya tanpa pemikiran yang matang.


"Kami permisi dulu.. Pak, Bu.." ujar Luna dengan sopan pada para dosennya saat ia baru saja mencapai daun pintu dengan suaminya.


Luna menatap terus suaminya saat mereka sudah keluar dari ruang rawat Raka, hingga matanya menangkap seseorang wanita cantik yang tak lain adik iparnya melewati lorong untuk menuju ruang rawat Raka.


"Mas.. Itu bukannya, Jenifer?" tanya Luna dengan menunjuk dimana Jenifer sedang berjalan yang membuat Chandra seketika menoleh dan menatapnya dengan pertanyaan yang memutar di kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2