Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Curahan Hati Luna


__ADS_3

Sesampainya di danau buatan yang ada di pinggiran kota, Luna langsung berlari ke tepi danau yang terdapat pohon besar dan rindangnya.


Tepat di bawah pohon besar yang ada di tepi danau itulah tempatnya biasa mencurahkan isi hatinya yang sedang gundah gulana.


Reyna membiarkan sahabatnya itu berlari kecil meninggalkannya yang berjalan di belakangnya.


Reyna juga sadar diri, jika dia tidak sepatutnya ikut campur dalam urusan rumah tangga sahabatnya.


Dia disitu.. berada disitu untuk menghindari hal yang tidak-tidak yang kemungkinan terjadi pada sahabatnya, apalagi Luna tengah hamil muda.


Seseorang yang sedang sakit hati bisa saja melakukan hal yang diluar kepalanya kan? Dan Reyna hanya ingin mencegah itu.


Dia pun duduk di gazebo yang tidak jauh dari Luna yang sedang duduk di bawah pohon rindang, dan tidak mendengar apapun yang digumamkan oleh Luna dengan membuang kerikil-kerikil kecil ke danau itu.


Reyna hanya ingin memberi waktu Luna untuk memikirkan masalahnya.


Kebetulan, sore hari itu danau buatan itu agak sepi pengunjung.


Luna menatap air yang mengalir dengan tenang di danau itu sembari menghela napasnya lalu mengembuskannya dengan pelan seolah berguna untuk mendinginkan kepalanya dan sedikit meluruhkan rasa sesak yang melingkupi hatinya.


Lalu dengan sekali gerakan ia mengeluarkan laptopnya, lalu membuka folder yang ia beri password yang tak diketahui oleh siapapun juga.


Di folder itu terdapat banyak curahan hatinya.


Berbagai masalah dalam hidupnya ia tuangkan disitu sembari menikmati udara segar yang ada di danau buatan itu.


Tidak lupakan kalian kalau Luna adalah pribadi yang tertutup? Dia bercerita dengan Reyna, mulai terbuka dengan sahabatnya baru beberapa bulan ini.


Saat mulai mengetik, Luna tidak bisa membendung air matanya.


Kata demi kata yang ia tulis yang begitu menggambarkan apa yang ia rasa membuatnya tak bisa menahan isakannya.


Hampir dua jam Luna menulis semua curahan hatinya dengan sesekali mengusap air mata yang terus terjun membasahi wajah cantiknya.


Mungkin jika curahan hati Luna itu dicetak ke dalam lembaran kertas, akan mendapatkan sebuah buku yang tebal yang memuat beberapa ratus halaman.


Selesai mengetik, Luna pun kembali menutup folder itu lalu mematikan laptopnya dan ditaruhnya kembali ke tasnya.


Melihat sahabatnya yang sepertinya mulai tenang, Reyna pun melangkah mendekatinya. "Kamu sering kesini ya, Lun?" tanyanya yang mengagetkan Luna, wanita cantik itu lupa jika tadi dia ke danau buatan itu bersama sahabatnya.


"Kamu masih disini, Reyn?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya.. Aku enggak mungkin tega ninggalin kamu sendirian dalam keadaan seperti ini, Lun." jawab Reyna apa adanya lalu duduk di samping Luna.

__ADS_1


"Maafin aku kalau aku jadi ngerepotin kamu ya, Reyn." ujarnya dengan raut wajah bersalah.


"Kok kamu yang minta maaf? Seharusnya Pak Chandra dong yang minta maaf, Lun.. Gara-gara dia, kamu jadi kayak gini." gerutu Reyna, kali ini dia tidak lagi membela Chandra.


"Mas Chandra enggak salah, aku yang salah. Seharusnya aku menghampirinya dulu tadi, Reyn." lirih Luna yang kini membuat Reyna membulatkan matanya.


"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa, Lun? Kamu itu enggak salah.. Yang salah Pak Chandra karena enggak punya sikap. Kita tadi menunggunya beberapa detik untuk melihat sikapnya setelah dicium oleh Miss Kinara kan? Dan Pak Chandra hanya diam saja dan malah mengusap pipinya tanpa marah." Reyna tidak bisa menahan emosinya.


"Mungkin kita salah persepsi.. Bisa saja mereka hanya berteman seperti kata kamu tadi, dan ciuman itu biasa bagi mereka warga orang kaya." lirih Luna dengan tersenyum, menahan segala perih yang sedang melingkupi hatinya.


Reyna terdiam mendengar jawaban dari sahabatnya, walaupun dia berucap dengan tersenyum, tapi tatapan nanarnya tak bisa membohongi Reyna jika wanita itu merasakan sakit yang begitu pedih di hatinya.


"Lalu setelah ini kamu mau kemana?" tanya Reyna setelah keheningan terjadi diantara mereka.


"Aku.. Entahlah.. Aku butuh waktu untuk sendiri dulu, Reyn."


"Tapi, kamu sedang hamil muda, Lun.. Di dalam rahimmu ada calon anakmu." Reyna mengingatkan yang dijawab anggukan oleh Luna. "Aku tahu, Reyn.. Aku tahu." jawabnya.


"Lalu?"


"Mungkin sebentar lagi aku akan pulang ke rumah Mas Chandra. Bagaimanapun dia suami aku. Tidak sepatutnya seorang istri pergi tanpa izin dari suaminya, Reyn. Dan mungkin Mas Chandra sekarang lagi nyari aku." jawab Luna mengingat pesan Ibunya yang membuat Reyna langsung mendekapnya.


"Kamu begitu menjaga hati Pak Chandra.. Tapi, Pak Chandra.." Reyna tidak tega untuk melanjutkan perkataannya, karena Luna baru saja bisa saja menenangkan hati dan pikirannya.


"Mas Chandra juga pasti sangat menjaga hatiku, Reyn." balas Luna yang membuat Reyna semakin mengeratkan dekapannya.


Bagaimanapun ia hanya seorang sahabat yang tidak berhak memberi keputusan untuk Luna agar pergi dulu dari kehidupan Chandra, atau sekedar menginap dirumahnya semalam.


Keputusan ada di tangan Luna.. dan mungkin itu salah satu cara Luna menyelesaikan masalah dalam rumah tangganya.


***


"Bi.. Apa Luna sudah sampai di rumah?" tanya Chandra pada Bi Asih lewat sambungan teleponnya yang entah sudah keberapa kalinya.


"Belum, Tuan. Nyonya belum pulang." jelas Bi Asih yang membuat Chandra langsung memutus panggilan tersambungnya begitu saja.


Kemana ia harus mencari istrinya?


Dengan siapa ia bisa bertanya?


Chandra terus memukul kemudinya sembari menggeram tertahan saat mengemudikan mobilnya mencari istrinya.


Jingga di ufuk barat mulai terlihat, dan sebentar lagi waktu malam tiba.

__ADS_1


Sudah hampir setengah hari ia mencari istrinya, tapi belum juga menemukan titik temu.


Ponsel istrinya masih dimatikan, dan sepertinya Luna memang ingin menghindarinya.


Dan situasi yang terjadi, semakin membuat pikiran Chandra tentang istrinya yang telah melihatnya dicium oleh Kinara semakin menguat.


Ponsel Luna masih mati jam segini? Di ruko Ibu dia juga tidak ada, lalu dia kemana? Chandra bermonolog sembari mengemudikan mobilnya.


Ia harus mengingat hal-hal yang bisa ia jadikan titik temu untuk menemukan istrinya.


Luna? Istrinya itu.. Ia belum tahu apa makanan favoritnya.


Tempat yang sering dikunjunginya pun ia juga belum tahu. Apalagi hobinya.


Tiba-tiba, Chandra merasa gagal menjadi seorang suami. Hal-hal kecil tentang istrinya saja ia tidak tahu.


Chandra masih mencoba berfikir jernih untuk mencari celah menemukan dimana istrinya kini tengah berada dan apa yang sedang diperbuatnya.


Ia pun memarkirkan mobilnya dahulu di pinggir jalan sebentar untuk mengotak-atik ponselnya yang kemungkinan bisa membantunya mencari keberadaan istrinya.


Setelah beberapa menit mengotak-atik ponselnya, mata Chandra pun tertuju pada akun sosial medianya.


Ia baru ingat, jika ia dan Reyna saling memfollow.


Ya? Chandra pun bisa sedikit tersenyum setelah ia ingat jika ia mengikuti akun sosial media milik Reyna.


Mungkin lewat itu ia bisa melihat apakah istrinya sedang bersama Reyna apa tidak dan bisa mengiriminya pesan.


Tanpa tunggu lama, Chandra pun langsung masuk ke akun sosial medianya, dan dengan cepat mencari akun sosial media milik Reyna.


Beberapa menit mencari karena nama Reyna agak susah pengejaannya, Chandra pun berhasil menemukannya.


Dan ia pun langsung melihat update-an cerita Reyna hari ini.


Di update-an cerita Reyna itu, ia bisa melihat jika Reyna tengah memfoto istrinya yang sedang duduk di bawah pohon di dekat danau dan sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya.


Caption Reyna pun menyita perhatiannya.


laki-laki itu brengsek ya.. bisanya nyakitin hati perempuan.


Chandra membaca caption Reyna itu dengan menggelengkan kepala. "Enggak.. Mas enggak brengsek, Lun." ujarnya seolah mengelak dari tuduhan Reyna.


Mendapatkan lokasi dan jam berapa Reyna mengupdate cerita hariannya pada akun sosial medianya, Chandra pun langsung memutar kemudinya menuju lokasi dimana istrinya berada.

__ADS_1


Tidak.. Istrinya tidak boleh salah paham. Ia bukanlah sebrengsek seperti yang Reyna kira. Dan Luna harus mempercayainya.


Bersambung..


__ADS_2