
"Seingin itu kamu mau bertemu dengan Momku, Lun?" Chandra bertanya akhirnya setelah terdiam begitu lama yang dijawab anggukan kepala antusias oleh Luna.
Wanita cantik itu sedari tadi terus bertanya pada Chandra kapan mereka akan pulang ke Jakarta dan menemui Ibu mertuanya.
Bukan hanya karna alasan itu, tapi juga karna Luna mengkhawatirkan keadaan Ibunya sendiri yang belum terlalu pulih.
Apalagi Reyna tadi mengiriminya pesan jika Ibunya masih tiduran di atas ranjang, belum beraktifitas seperti biasa.
Ingin sekali Luna menghubungi langsung Ibunya, tapi lagi ia menekankan egonya jika dia di Bandung atas izin Ibunya dan sedang bersama suaminya.
"Memang kamu sudah menyiapkan mentalmu? Momku itu bukan orang sembarang, Luna." Chandra mengingatkan lagi yang membuat Luna kini berpikir keras.
"Aku siap kok, Mas." Jawab Luna dengan pelan yang membuat Chandra kini terdiam lagi.
Memangnya semenyeramkan apa sih Mommu itu, Mas? Kenapa kamu segitu khawatirnya saat aku berkata ingin segera bertemu Mommu. Batin Luna berpikir sembari memakan steak dan aneka makanan mengenyangkan lainnya.
Malam itu mereka berdua sedang makan malam di ruang makan yang ada di villa tersebut.
Luna sudah berusaha membujuk Chandra agar mengajaknya ke Cafe atau restoran yang ada steaknya sesuai anjuran guru yang telah membelajarinya, namun usahanya gagal karena Chandra sudah menegaskan jika semua yang ada di Cafe sudah tersedia di villanya.
Bahkan menurut laki-laki itu, makanan yang dimasak oleh Mang Asep--koki handal yang ada di Villanya lebih higienis dan terjamin bumbu serta rasanya dibanding cafe yang pernah ia kunjungi.
Dan lagi, alasan yang membuat Luna tidak bisa menolaknya, karena Chandra sendiri ingin memastikan jika cara makan Luna sudah bagus dan siap untuk bertemu Ibunya.
"Aku bosen dari tadi makan steak terus, Mas." keluh Luna dengan menunjukkan tampang memelas.
"Nanti ganti spaghetti ya.." bujuk Chandra yang membuat Luna menggelengkan kepala.
"Kamu maunya apa?" tanya Chandra sembari menelusupkan tangannya di jemari tangan Luna dan menatapnya.
Tatapan yang diberikan Chandra begitu intens, seintens Luna yang kini juga menatapnya
Mereka berdua sedang duduk berhadapan dan membuat Chandra bisa melihat cara makan Luna seraya melihat tampang memelas yang sedari tadi ditunjukkan oleh istri cantiknya.
Chandra tersenyum tipis saat merasa tangan Luna begitu pas digenggamnya, seolah menemukan kepingan puzzlenya yang lengkap.
__ADS_1
Benar kata Jenifer, jika Luna adalah pelengkap dalam hidupnya.
Dulu, ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Merasa khawatir jika wanitanya akan dihina oleh Ibunya karna perbedaan kasta dan cara keseharian Luna.
Menikah dengan Luna memang dulu bukan termasuk deretan keinginannya.
Karena yang ia siapkan menjadi menantu Momnya itu adalah Kezia, wanita dari kalangan atas, hidupnya berkelas dan cara kesehariannya hampir setara dengan dirinya.
Tidak pernah masuk dalam kategori di hidup Chandra jika wanita yang kini menjadi istrinya, dan secara sadar atau tidak sadar telah mengisi seluruh relung di hatinya itu merupakan wanita dari kalangan bawah, seorang gadis penjual bakso keliling.
Jika mengingat bagaimana dulu ia bisa menikah dengan wanita yang kini duduk di hadapannya, laki-laki itu tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Menyesal? Tentu tidak. Karena wanita ini wanita yang bisa menjaga mahkotanya dan memberikannya hanya untuknya.
Wanita ini juga wanita yang selalu perhatian dengan dirinya, wanita yang apa adanya. Dan tidak pernah menuntutnya macam-macam.
"Aku mau makan nasi, Mas." Lirih Luna sembari menunduk.
"Nasi? Kamu memangnya gak takut gemuk makan nasi kalau malam, Lun?"
"Enggak, Mas.. Berat badanku segini aja walaupun aku makan nasi tiap malam, Mas." jelas Luna yang membuat Chandra terdiam kembali.
"Mas lupa ya.. Aku dulu siapa.. Aku bukan orang punya seperti Mas.. Jadi, sudah bisa makan nasi genap sehari tiga kali itu sudah cukup. Buat makan kayak gini itu kasihan Ibu, Mas.." terang Luna lagi yang membuat Chandra kini berdiri lalu melangkah mendekap istrinya yang sedang duduk dengan menunduk menyembunyikan air matanya.
"Aku gak tau kenapa Mas seperti ini, kenapa Mas seingin itu aku belajar kayak gini.. Tapi, aku sadar Mas.. Mungkin ini semua demi kebaikanku." tambah Luna lagi yang membuat Chandra kini menatap langit-langit ruang makannya tanpa bisa membalas perkataan istrinya.
Apa ia salah jika ia ingin melindungi istrinya?
****
Keesokan Paginya
*Di gedung CA Corps.
__ADS_1
"Jae.. Dimana Chandra?" Nyonya besar bertanya dengan suara yang menggema di ruang kerja Jaelani saat berkunjung Ke perusahaan milik Chandra saat sudah tiga hari dia di Indonesia, tapi anaknya belum pernah menemuinya.
Bahkan Jenifer selalu diam setiap ditanya dimana keberadaan kakaknya itu.
"Tuan di Bandung, Nyonya besar."
"Ada apa? Kenapa dia tiba-tiba ke Bandung?" Nyonya Besar yang bernama Emily itu menuntut penjelasan pada Jaelani.
"Perusahaan disana sedang membutuhkan penanganan langsung dari Tuan, Nyonya." jelas Jaelani dengan terus menunduk.
Laki-laki yang punya tingkat kekepoan tertinggi itu tidak berani menatap Emily, karna wanita yang masih cantik di usianya itu selalu memberikan tatapan tajamnya.
"Apa dia tidak tahu jika aku ada di Indonesia, Jae?" tanya Emily geram.
"Sa--Saya tidak tahu, Nyonya." Jaelani terbata menjawabnya.
"Telpon dia sekarang, Jae!" pinta Nyonya Besar dengan menggebrak meja kerja Jaelani.
"Dia siapa, Nyonya Besar?" Jaelani mendadak bodoh.
"Bodoh! Tuanmu itu siapa? Masih tanya!" Emily memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening lalu duduk di sofa tunggal yang tersedia di ruang kerja Jaelani.
Ruang kerja Jaelani berada tepat di sebelah ruang kerja Chandra. Ruang itupun digunakan disaat Chandra tidak ada di perusahaannya.
Karena setiap Chandra stay di perusahaan, Jaelani akan selalu siap sedia di belakang Chandra baik Tuannya itu sedang duduk ataupun berdiri.
Tanpa basa-basi lagi karna takut dengan tatapan tajam yang selalu mengintimidasinya itu, Jaelani pun mengambil ponselnya yang ada di saku celananya lalu dengan buru-buru menekan nomor handphone Chandra, kemudian menekan ikon gagang telpon berwarna hijau itu guna memanggilnya.
Nada dering di ponsel Chandra terdengar dari ruang kerja Jaelani saat panggilan itu mulai berdering di ponsel Jaelani.
Mencari bunyi ponsel Chandra yang dikira tertinggal di ruang kerja Chandra karena laki-laki itu sudah dipesan oleh Chandra agar tidak menghubunginya selama ia pergi ke Bandung pun langsung berjalan ke luar mencari arah suara ponsel Chandra yang tengah dihubunginya.
Hingga sampai di daun pintu dan ia membukanya, ponselnya tiba-tiba terjatuh saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya dengan wanita cantik yang penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Tuan Chandra.." gumamnya yang membuat Emily seketika berdiri dari duduknya dan menghampiri anak dan menantunya.
__ADS_1
Bersambung...