Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Wanita Unik


__ADS_3

Notifikasi pesan di telepon genggamnya menghentikan aktifitas Luna yang kini sedang makan di kantin.


Hari itu memang Luna tidak sempat sarapan karna ia mendapatkan pesanan dalam jumlah besar dalam acara pengajian yang diadakan di masjid dekat rumahnya.


Sejenak ia membuka handphonenya, dan ternyata calon suaminya yang mengirimkan pesan.


Chandra Abimana: Luna, nanti kamu akan dijemput oleh sekretaris saya yang kemarin saya ajak ke rumah kamu. Nanti kamu ikuti saja dia mengajak kamu pergi.


Usai membacanya, Luna pun hanya membalas pesan itu dengan emoticon jari yang menunjukkan tanda OK dan emoticon tersenyum.


***


namanya siapa ya sekretaris pak Chandra ini? kenapa dia diem aja terus dari tadi. batin Luna sembari menatap sekilas Jaelani yang sedang mengemudikan mobil dan kembali menatap jalanan yang ada di depannya.


"Kalau jam segini memang macet ya?" gumam Luna bermonolog yang sengaja ingin membuka percakapan dengan Jaelani.


Sebenarnya Luna sangat ingin bertanya ia mau diajak kemana, namun sikap Jaelani yang sedari tadi menatap sinis padanya membuat nyalinya menciut.


"Iyalah macet, namanya jam istirahat kerja. Orang kan lagi pada nyari makan." ketus Jaelani tanpa menoleh pada Luna.


"Gitu ya.. Pantes aku kalau jualan kalau pas siang gini ramai banget. Berarti itu memang sudah kebiasaan ya?" Luna mencoba mengakrabkan diri, tak terpengaruh sikap ketus yang ditunjukkan oleh Jaelani.


"Bukan kebiasaan, melainkan kebutuhan. Namanya juga manusia. Butuh makan dan minum." jawab Jaelani tetap mempertahankan gaya juteknya namun Luna malah tersenyum menanggapinya.


Luna berpikir, mungkin Jaelani tidak suka jika ia akan menikah dengan Tuannya.


Bagaimanapun, kastanya dan Chandra memang jauh berbeda. Banyak juga faktor yang mendukung untuk Jaelani tidak senang ia menjadi istri Chandra, dengan salah satunya yaitu.. status palsunya yang merupakan seorang Janda beranak satu.


Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai oleh Jaelani berhenti di salah satu Mall terbesar di kotanya.


Tanpa bertanya dahulu, Luna sudah mengira jika ia akan diajak belanja oleh laki-laki yang terus memandangnya sinis sedari tadi.

__ADS_1


Luna yang seakan imun dengan sikap cuek orang tersebut hanya bisa menghela napas untuk menghalau pikiran buruknya sembari membuka seat-beltnya.


"Kita mau ngapain?" tanya Luna akhirnya saat Jaelani ternyata menekan angka di dalam lift naik ke lantai 3 tempat dimana baju dan perhiasan ada di sana.


"Belanja.. Mau ngapain lagi." ketus Jaelani sembari menatap macbook di tangannya.


Sepertinya deretan angka dan huruf di dalam macbook itu lebih mendapat perhatian dan perlakuan lembut daripada dirinya. batin Luna sembari tersenyum miris.


"Belanja buat siapa?" tanya Luna lagi saat mereka sudah keluar lift dan sampai di lantai tiga.


"Buat kamulah. Siapa lagi. Senang ya kamu mau diajak nikah sama Tuan Chandra." Cibir Jaelani sembari menatap kesal pada Luna yang dijawab senyuman oleh Luna.


dia gak tau aja kalau aku tersiksa. aku juga terpaksa kali nerima tawaran menikah dari Tuannya ini. Tapi... jika melihat sikap ketusnya sedari tadi, apa mungkin pak Chandra sama halnya dengan aku yang menyembunyikan pernikahan terpaksa ini. Tapi bagaimana caranya Chandra bercerita padanya tentang aku. batin Luna sembari berpikir seraya berjalan mengikuti kemana langkah Jaelani memasuki salah satu toko baju di Mall tersebut.


aku sudah bersikap ketus terus dari tadi dengannya, tapi kenapa dia selalu tersenyum. apa sih mau dia? apa ini caranya dia memikat hati Tuanku? batin Jaelani bertanya namun tetap melangkah tanpa menghiraukan Luna yang berada di belakangnya.


"Kamu pilih apa saja yang kamu mau." titah Jaelani tanpa menatap Luna, laki-laki itu langsung duduk di sofa tunggal yang ada di dalam salah satu toko baju itu sembari berkutat dengan macbook di tangannya.


"Aku disuruh milih. Milih apa? Baju? Aku aja belum pernah beli baju di Mall kayak gini. Paling mentok di pasar tradisional, itupun kalau lagi banyak uang. Kalau lagi kanring alias kantong kering paling kredit dengan penjual baju keliling.. hihi.." lirih Luna bermonolog sembari cekikikan melihat deretan baju yang begitu mewah di depannya, dan yang pasti.. harganya sangat mahal.


Sekian detik menatap deretan baju yang berjejer rapi, ia pun mengernyitkan dahinya heran saat menyadari jika Luna masih berdiri mematung di dekat pintu masuk dengan keranjang belanja yan ternyata masih kosong.


"Hei.. Kenapa keranjang belanjamu masih kosong?" pekik Jaelani dengan suara tertahan.


"Anu.. Anu.." Luna bingung mau menjawab apa sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


Sebenarnya Luna terus berdiri di dekat pintu sedari tadi karna bingung mau belanja yang mana, dan belum tau disuruh Jaelani memilih yang mana.


Intinya ia hanya ingin belanja dengan apa yang ditunjuk oleh laki-laki yang diutus oleh calon suaminya.


"Anu apa? Bicara yang jelas." Jaelani menatap Luna dengan kesal.

__ADS_1


Kesal karna ia merasa sudah memberikan waktu setengah jam untuk calon istri Tuannya ini untuk memilih baju yang diinginkan, tapi wanita di depannya malah belum memilih satupun baju yang berada di toko tersebut.


Jaelani pun terlihat menaikkan alisnya, heran dengan Luna. Wanita ini unik. Pikir Jaelani lagi karna biasanya wanita paling suka untuk belanja, apalagi ini dibayar oleh Tuannya.


Luna masih bingung mau menjawab apa, apalagi Jaelani terlihat begitu kesal dengannya.


"Kamu takut belanja.. karna gak mampu bayarnya." cibir Jaelani akhirnya disertai senyuman meledek.


"I--ya." Luna terpaksa mengiyakan daripada memberi alasan yang mana bisa membuatnya terjebak terus bersama dengan Jaelani.


Ia hanya ingin segera pulang untuk menulis novel, lalu membantu Ibunya yang sedang entah apa di rumah bersama Radit.


"Kamu itu bodoh atau apa.. Kamu kesini sama aku kan? Lalu Tuan Chandra juga sudah memberitahumu jika kamu harus ikut kemana aku mengajakmu. Lalu apa yang kamu takutkan? Bayar bajunya? Bukankah kamu tau jika Tuan Chandra yang akan membayar semuanya.. Gak usah pura-pura lugu." Ujar Jaelani kesal namun sedetik kemudian ia pun memanggil pelayan toko agar memilihkan baju untuk Luna.


Satu jam lagi ada agenda pertemuan penting dengan klien bisnis Chandra, dan dia tidak bisa jika tidak datang.


Oleh karna itu, dia tidak bisa terlalu lama dengan wanita ini. Dia harus secepatnya mencarikannya baju sesuai selera Chandra dan bergegas mengantarnya pulang.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya pelayan itu ramah, dengan sebelumnya menyatukan tangannya di depan dada, tanda sopan.


"Tolong pilihkan baju terbaik yang ada disini untuk dia, dua puluh stel baju rumahan dan sepuluh stel baju pergi-pergi dan satu lagi.. gaun pesta yang paling mahal, untuknya." titah Jaelani yang membuat Luna membulatkan matanya.


buat apa baju sebanyak itu? batin Luna berpikir namun ia pun tetap mengikuti kemana pelayan itu mengajaknya dan memberikannya baju sesuai perintah Jaelani.


Setengah jam kemudian, Luna dan Jaelani pun akhirnya mendapat baju yang diinginkan dan beralih ke toko perhiasan.


Karna tak mau mengulang kesalahan kedua kalinya, kali ini Jaelani langsung menunjuk perhiasan mana aja untuk Luna dan langsung membayarnya.


Dan seakan semesta sedang mendukungnya, semua perhiasan yang ditunjuk olehnya begitu pas dan cantik di badan Luna saat pelayan itu mencobanya.


Luna mendesah memikirkan untuk apa dia dibelikan semua itu, dia juga belum pernah datang ke pesta dengan baju cantik.

__ADS_1


Luna masih begitu ingat jika ia pergi ke pesta paling bagus memakai celana jeans dan kemeja aneka warna karna selepas pesta kondangan biasanya ia juga membantu sang Ibu berjualan di dekat area pesta itu.


Bersambung...


__ADS_2