Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Foto Pre Wedding


__ADS_3

"Bang.. Kamu dimana? Aku sudah sampai di Indonesia."


Kalimat tersebut merupakan isi pesan yang dikirimkan Jenifer pada Raka untuk menanyakan keberadaannya saat ia sampai di Indonesia menyusul Momnya.


Pertemuan pertamanya dengan Raka di Cafe Pelangi saat ia tengah menunggu Chandra menjemputnya, adalah pengenalan pertamanya bersama laki-laki yang kini menjabat sebagai kekasihnya.


Di cafe pelangi itu Jenifer tidak sengaja menabrak punggung Raka saat keduanya sedang akan duduk di kursi yang ternyata berjarak sangat dekat.


Jenifer yang saat itu salah paham karena dipandang penuh cinta oleh Raka--padahal pandangan itu buat Luna, karena Raka kira yang menabrak punggungnya adalah Luna--merasakan perasaan berbeda dan tersenyum manis sebagai tanggapannya.


Selanjutnya, mereka pun saling berkenalan dan bertukar nomor telepon hingga Raka tau jika wanita yang telah menabrak punggungnya adalah adik dari sahabat--perebut wanita yang ia cintai sejak lama.


Raka: Aku di Rumah Sakit, Jen.


Balasan dari Raka, membuat Jenifer mengernyitkan dahinya heran.


Wanita cantik itupun langsung menanyakan dimana Raka dirawat dan langsung menuju kesana untuk merawatnya.


Dan karena itulah, ia telat datang saat Luna dan Chandra sudah sampai di perusahaannya dan sudah bertemu Momnya, dan melewati pertengkaran yang membuat Luna harus belajar membuat kue bakpia.


Beberapa hari setelahnya, Jenifer pun selalu menyempatkan diri merawat Raka hingga suatu hari dia menanyakan hubungannya dengan Raka.


"Emm.. Bang, apa kau mencintaiku?" Jenifer bertanya saat menyuapi Raka semangkuk bubur.


Raka tidak pernah menolak perhatiannya, dan laki-laki itu selalu memberi senyuman yang membuatnya hatinya menghangat.


Jenifer butuh kejelasan, bukan hubungan tanpa status yang selama ini ia perankan.


"Aku.." Raka bingung untuk menjawabnya, di satu sisi rasa sakit hatinya pada Chandra membuatnya ingin menerima Jenifer agar Chandra merasakan sakit yang lebih.


Tapi, disisi lain Raka juga kasihan pada wanita cantik yang begitu telaten merawatnya.


"Terimalah cintaku, Bang." Jenifer menatap penuh harap pada Raka.


Melihat Jenifer yang sepertinya begitu mencintainya, sepercik rencana jahat pun bermunculan di pikirannya. "Aku akan menerimamu, tapi aku mempunyai syarat untukmu." Raka menyeringai.

__ADS_1


"Apa Bang? Apapun syaratnya akan aku penuhi." tanya Jenifer dengan binar mata bahagia, sebentar lagi ia akan mempunyai kekasih seperti kebanyakan temannya.


Apalagi, laki-laki yang membuatnya jatuh hati adalah teman baik Kakak kandungnya.


Jenifer menyimpulkan hal tersebut karena melihat Chandra yang saat di Cafe itu begitu akrab saat mengobrol dengan Raka.


"Aku menginginkan ini." Raka menunjuk pada dua hal indah yang tertutupi mini dress bertali spaghetti yang dipakai oleh Jenifer.


"Apa jika aku memberikannya.. Abang akan menerima cintaku?" tanya Jenifer dengan tidak berpikir dahulu, pemberian batas yang ketat pada laki-laki selain keluarganya membuatnya seperti orang bodoh yang mau saja menuruti keinginan Raka hanya untuk 'memiliki kekasih' seperti temannya lainnya.


Raka mengangguk tegas sebagai jawaban. Laki-laki itu seperti mendapat makanan empuk yang bisa dibodohinya.


Melihat tatapan penuh mendamba dari laki-laki yang sangat ia inginkan untuk menjadi kekasihnya, tanpa ragu Jenifer pun menarik tali dress-nya dan terpampanglah dua hal indah itu yang masih dikemas bra berwarna pink.


Raka menatapnya dengan rakus, tapi saat mau melahapnya laki-laki itupun menyuruh Jenifer mengunci pintu ruangannya dahulu.


Usai Jenifer sudah mendekat di tempat tidurnya, Laki-laki itu langsung duduk dan menyuruh Jenifer semakin mendekatinya agar dia bisa segera menikmati dua hal indah milik Jenifer.


Mendapati gigitan penuh nikmat di dua hal indah kepunyaanya yang begitu lihai Raka mempermainkannya, Jenifer pun tanpa sadar mengeluarkan erangan nikmat dan menekan kepala Raka untuk menuntutnya memberinya kenikmatan lebih hanya itu.


Raka tidak tinggal diam, mendapati restu dari wanita bodoh yang sedang ia nikmati tubuhnya, Raka pun mengusap punggung Jenifer yang begitu mulus itu dengan gerakan tangannya yang begitu membuat Jenifer kembali menginginkan lebih.


Raka menelan salivanya lekat, laki-laki itu menepuk pahanya agar Jenifer naik di pangkuannya. Dan tak butuh waktu lama untuk membuat Jenifer merasakan perasaan berbunga-bunga seperti ada kupu-kupu beterbangan di perutnya saat merasakan sensasi jari Raka di bagian inti tubuhnya yang membawanya merasakan indahnya surga dunia.


Raka pun menyuruh Jenifer membuka baju dan celananya, dan kemudian penyatuan itupun terjadi.


Isakan tangis Jenifer menahan kesakitan untuk pertama kali melakukannya menjadi saksi jika wanita itu telah memberikan mahkotanya pada laki-laki yang memanfaatkan kebodohannya hanya demi 'memiliki kekasih' seperti temannya lainnya.


Tak ada penyesalan di wajah Raka, laki-laki itu mengecup dahi Jenifer dan menyetujui jika mereka kini menjalin hubungan sebagai kekasih setelah wanita itu memberikan sesuatu berharganya.


***


Jenifer menangis tergugu di kamarnya mengingat apa yang ia lakukan dengan Raka hanya untuk membuat laki-laki itu mau menjadi kekasihnya.


Wanita itu belum berani jujur dengan Kakaknya jika sekarang dia sudah tidak suci lagi.

__ADS_1


Dia sudah kotor.


"Jen.. Buka pintunya, Kakak mau bicara." Chandra sedari tadi mengetuk pintu kamar Jenifer ingin mendengar penjelasan dari adiknya bagaimana bisa dia berpacaran dengan Raka.


Sesampainya di rumah, memang Jenifer langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam.


Bisa saja Chandra meminta Bi Asih memberikannya kunci cadangan. Tapi laki-laki itu ingin adiknya sendiri yang membuka pintunya.


"Sudahlah, Mas.. Besok pagi kita bicarakaan lagi." Luna mengusap pundak suaminya.


"Enggak bisa, sayang. Besok pagi kita ada jadwal pemotretan." Chandra pun memberi tahu hal apa yang belum diketahui istrinya.


"Pemotretan apa, Mas?" Luna mengernyitkan dahinya.


"Kita akan melakukan foto pre wedding. Mas sudah menyiapkan semuanya." Dan mereka pun terlibat pembicaraan, melupakan Jenifer yang masih tergugu di kamarnya.


"Besok kita mau ke studio foto ya, Mas?" Luna pun bertanya dengan bodohnya yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.


"Biasanya orang foto pre wedding kan di studio foto, Mas." Luna mengungkapkan apa yang ia ketahui berdasarkan fakta dari tetangganya yang mau menikah.


"Foto Pre Wedding itu bukan hanya di studio foto, Lun. Dimana tempat yang kita inginkan pun bisa." Chandra mencoba menjelaskan.


"Memangnya besok pagi kita foto pre wedding dimana, Mas?"


"Besok kamu juga tahu." Chandra pun menghela napas pelan, lalu berbalik badan mengetuk pintu Jenifer lagi.


"Kalau kamu tidak mau keluar dan menjelaskan dengan Kakak bagaimana kamu bisa berpacaran dengan Raka.. Kakak tidak akan mengizinkanmu keluar rumah."


"Dan satu lagi.. Kamu harus segera memutuskan hubungan kalian. Dia bukan laki-laki yang baik, Jen. Dia hampir membunuh Kakak iparmu." Chandra mengatakan hal yang ingin sekali ia sembunyikan dari adik dan keluarganya.


Beruntung, malam itu Emily masih sibuk di kantor agency modelnya. Hingga tidak mendengar apa yang dikatakan Chandra pada adiknya.


Deg


Jenifer terperanjak mendengar Chandra yang mengatakan hal baru di dengarnya.

__ADS_1


aku sudah memberikan sesuatuku yang begitu berharga pada Bang Raka, Kak.. Bagaimana aku bisa memintanya memutuskanku? Aku enggak bisa Kak.. batin Jenifer sembari menggelengkan kepala dengan tangis yang terus membasahi wajahnya.


Bersambung...


__ADS_2