
Pagi menuju siang, Luna dan Reyna pun tiba di Bandara Ngurah Rai Bali dengan raut wajah lelah yang tak dipaksakan karna tadi sempat delay beberapa jam.
Luna yang saat itu baru saja pertama kali menjejakkan kakinya di Bali melihat indahnya pulau Bali itu begitu takjub dan raut wajah lelahnya hilang seketika berganti raut wajah senang tidak terkira.
Oh.. Ini yang katanya pulau yang terkenal dengan sebutan surga dunia itu. batin Luna seraya tersenyum dengan merentangkan tangannya ke samping sembari mendongak dengan mata terpejam, menghirup udara dan menikmati pemandangan yang memang luar biasa indah.
"Mobilnya sudah nungguin itu, Lun. Ayok!" ajak Reyna.
"Aku udah gak sabar, Reyn mau keliling." ujar Luna dengan senyum yang merekah yang membuat laki-laki yang sedari tadi menunggunya di bandara turut tersenyum melihatnya.
Laki-laki itu belum mau menampakkan hidungnya, ia cukup melihatnya dari kejauhan menyaksikan sendiri jika wanitanya telah sampai dengan selamat.
Beberapa jam perjalanan, sampailah Luna dan Reyna di sebuah resort yang begitu mewah yang memang sudah disediakan untuknya dalam tiket liburan yang katanya dikasih oleh 'Om' Reyna itu.
Resort itu pun menghubungkan view-nya langsung dengan pantai, dan Luna yang belum merapikan barang bawaannya di kamar yang tersedia untuknya pun langsung menarik tangan Reyna agar segera menata barang mereka di kamar lalu bermain di pantai yang ada di area resort itu.
Indah. Mungkin kata itu tidak cukup untuk mewakilkan rasa kagumnya, betapa indahnya resort itu dimata Luna yang dulunya hanya bisa bermimpi untuk jalan-jalan ke Bali.
Dan sekarang, itu semua nyata ada di depannya. Luna pun mencubit pipinya sendiri lalu mencubit lengannya dan menepuk pelan pipinya menyakinkannya jika dia memang benar-benar tidak sedang bermimpi dan Reyna yang melihatnya pun gemas.
"Kamu ngapain sih Lun?" Reyna menahan tawanya.
"Aku cuma yakinin diri aku aja, Reyn. Kalau aku tidak sedang bermimpi. Anyway, makasih ya. Karna kamu aku bisa lihat indahnya pulau Bali." tutur Luna sungguh-sungguh.
"Berterimakasihlah nanti dengan orang yang memberi tiket liburan untuk kita, Lun." ujar Reyna yang membuat Luna mengernyitkan dahinya. "Om kamu ikut kesini?"
"Iya.. Dia juga yang punya resort ini." jawab Reyna yang tidak berbohong dan dijawab anggukan kepala oleh Luna tanpa mencurigai sesuatu.
***
"Seharusnya hari ini kita sudah bisa terbang ke Jakarta, Tuan. Tapi, kenapa Anda malah membuat hal sepele seperti ini. Tidak berguna. Apalagi buat istri Tuan yang dulunya Janda itu." Jaelani terus menggerutu sejak tadi saat Chandra kembali ke resortnya dan menyiapkan acara yang tidak melibatkannya sama sekali.
Chandra dan kekuasaannya bisa berbuat apa saja bahkan tanpa bantuan Jaelani untuk merayakan hari lahir istrinya.
Istrinya. Ya, istrinya yang dipaksa menikah olehnya. Istri yang begitu berbaik hati dengannya. Istri yang jujur apa adanya dirinya. Istri yang selalu mendapat nasihat baik dari Ibu mertuanya. Istrinya yang tidak banyak menuntut. Istrinya yang menuruti kekonyolannya menyembunyikan statusnya. Istrinya yang.. entahlah banyak kebaikan yang dibuat oleh Luna untuk dirinya.
Dan Chandra patut bersyukur memilikinya.
Mungkin, saat ini rasa yang ia miliki belum bisa disebut rasa cinta--atau lebih tepatnya dia masih belum bisa menyadarinya.
__ADS_1
Laki-laki itu dulu sudah berjanji sesaat sebelum ijab qobul untuk selalu membahagiakan Luna, dan menatap bola mata jernih milik Luna selalu membuatnya terpesona.
Dan salah satu cara membahagiakan wanita yang mungkin belum menaruh rasa padanya walaupun sudah jadi istrinya, adalah merayakan hari jadinya yang belum pernah dirayakan sebelumnya.
Seenggaknya itulah yang diceritakan Ibu mertuanya kemarin, sebelum ia terbang ke Bali dan memberitahu Ibu Halimah jika beliau akan dijemput oleh privat jet milik Chandra menuju Bali untuk ikut merayakan hari lahir Luna tanpa memberitahu istrinya.
"Kamu kalau mau pulang ke Jakarta, pulanglah. Bukankah sedari tadi aku sudah menyuruhmu untuk pulang!" tegas Chandra dengan nada suara yang dingin tanpa menatap sekretarisnya yang secara terang-terangan tidak menyukai istrinya.
"Saya tidak akan pulang jika Tuan belum pulang." Jaelani bersikukuh.
"Kamu mau apa? Hah? Mau menghancurkan pesta yang aku buat? Iya?"
Jaelani kontan menggeleng, walaupun ia tidak menyukai Luna, tapi jika Chandra sudah dingin seperti itu ia pun tak berani membantahnya.
"Bagiku, istriku adalah orang yang berharga untukku. Kalau kamu tidak menyukainya, silahkan pergi dan aku tunggu surat pengunduran dirimu." gumam Chandra dengan mencoret kertas yang entah bertuliskan apa.
"Berharga Tuan? Bukankah Istri Anda itu dulunya hanya seorang Janda." Jaelani tidak menyangka jika Luna bisa membuat posisinya terancam.
"Stop Jaelani!" tegas Chandra sembari menatap nyalang Jaelani.
"Kenapa Tuan? Perkataan saya benar kan.. Jika istri Anda itu dulunya seorang Janda."
"Kamu yang tidak becus bekerja."
"Kamu aku perintahkan untuk mengurusi perlengkapan Luna dulu saat mau menikah denganku, tapi kamu tidak meneliti berkas perlengkapan itu dulu."
"Saya sudah menelitinya, Tuan." kilah Jaelani cepat.
"Menelitinya kamu bilang? Kalau kamu menelitinya pasti kamu tidak punya nyali untuk menghinanya terang-terangan didepanku seperti ini."
"Maksud Tuan bagaimana? Saya benar-benar sudah menelitinya, Tuan."
"Bohong!" sentak Chandra dengan menegakkan tubuhnya, melangkah untuk berdiri di depan sekretarisnya.
"Saya tidak berbohong, Tuan." Jaelani menunduk.
"Apa kamu menemukan surat cerainya di berkas perlengkapannya?"
Jaelani menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kalau kau tidak menemukannya, lantas kenapa mulut sampahmu itu bisa menyebut jika Luna itu seorang Janda. Apa orangtuamu tidak pernah mengajarimu untuk memeriksa segala sesuatu dulu termasuk mengaca dirimu sendiri dulu sebelum kamu menghina orang lain?" Chandra membentak Jaelani tepat di sebelah telinganya membuat si empunya terdiam tetap menunduk.
"Luna itu istriku. Wanita yang selalu kau sebut janda dengan mulut sampahmu itu sekarang sudah jadi istriku. Janda itu Istriku, Jaelani. Kalau kau tidak suka dengannya, kau tidak usah bekerja lagi denganku." tegas Chandra tidak memberitahukan fakta jika Luna masih gadis dengan sekretarisnya yang terang-terangan tidak menyukai istrinya hanya karna statusnya.
Jaelani terdiam, tidak membantah adalah pilihan terbaik saat ini daripada ia kehilangan pekerjaannya.
***
Usai bermain di pantai, Luna dan Reyna pun tidur siang agar tubuhnya bugar kembali.
Sore menuju malam, sesuai rencana Reyna mengajak Luna ke Mall untuk membeli baju dan singgah ke salon sebentar.
"Buat apa sih kita pakai didandani segala kayak gini, Reyn?" tanya Luna dengan melihat pantulan wajahnya yang sudah dirias oleh MUA terbaik.
"Buat foto-foto aja, Lun. Kan kita jarang ke Bali, jadinya nanti kita bisa foto dengan make up bagus dan bisa kita up di sosial media kita." elak Reyna cepat agar Luna tidak curiga dan Luna pun mengangguk mengiyakan.
***
Tepat di pinggir pantai di dekat resort tempat menginapnya, Reyna mengajak Luna berjalan menyusuri pinggir pantai itu hingga berhenti di salah satu titik dimana Chandra telah menyiapkan semuanya.
Reyna sengaja berdiri di belakang Luna, lalu tanpa memberitahunya, Reyna pun berjalan menjauh pelan-pelan.
"Pemandangannya tambah bagus kalau malam kayak gini ya, Reyn." gumam Luna dengan tetap menatap pantai di depannya.
Beberapa detik merasai Reyna tak membalas gumamannya, Luna pun menoleh lalu membalikkan badan.
Dan..
Happy Birthday, Luna!
Teriak Reyna, Chandra, Ibunya, Radit dan seorang laki-laki yang tidak sangka ikut juga merayakan hari lahir untuknya.
Laki-laki itu belum pernah memberikan tatapan terbaik padanya, dan sekarang ia melihat jika laki-laki itu begitu tulus mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
Luna membulatkan mulutnya melihat surprise di hari lahirnya yang baru pertama kali terjadi di hidupnya dengan kristal bening yang tanpa permisi membasahi wajah cantiknya.
Perlahan, dengan perlahan Chandra maju melangkah menghampirinya dengan membawa kue ulang tahun bertuliskan angka 23 di atasnya dengan senyum mengembang yang begitu menambah level ketampanannya.
"Make a wish, Baby!" pintanya yang membuat Luna kini sekilas memejamkan matanya, berdoa meminta apa yang menjadi kebahagiaannya sekarang akan selamanya selalu bersamanya. Bolehkan Luna sedikit serakah untuk kebahagiaannya?
__ADS_1
Usai berdoa, Luna pun meniup lilin itu dan langsung memberi kecupan di pipi Chandra yang membuat laki-laki itu seketika menaruh kue ulangtahun Luna di meja yang paling dekat dengannya lalu merentangkan kedua tangannya menarik istrinya ke dalam pelukannya, mencium kening, dua pipi, hidung dan bibir istrinya. "Selamat ulang tahun, istriku."
Bersambung...