Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Perasaan Chandra


__ADS_3

"Kak!!" teriak Jenifer sembari membuka pintu ruangan kerja Chandra dengan kasar.


"Maaf Tuan... Nona Jenifer memaksa ingin bertemu Anda. Saya sudah mencegahnya, tapi Nona Jenifer mengancam saya, Tuan. Maafkan saya." Ungkap Jaelani tidak mau disalahkan Tuan-nya karna memang tadi dia sudah mencegahnya.


Chandra sudah memberi ultimatum padanya bahwa dia tidak mau menerima tamu siapapun di ruangannya. Dan karna ancaman Jenifer yang akan menyuruh Putri untuk memutuskan hubungan dengannya berhasil membuatnya tak bisa mencegah adik dari Tuan-nya itu masuk.


"Keluarlah." titah Chandra pada Jaelani dengan melambaikan tangannya agar sekretarisnya itu meninggalkannya berdua dengan adiknya.


Jaelani mengangguk, dan saat Jaelani sudah benar-benar keluar dari ruang kerjanya, Chandra pun memulai pembicaraan dengan adiknya.


"Ada apa Jen?" tanya Chandra dengan memijit pelipisnya.


"Ada apa? Kakak tanya sama aku ada apa?Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Kak.. Ada apa sama Kakak? Dan kenapa Kakak tidak pulang ke rumah sejak seminggu yang lalu semenjak Aku bertanya soal perasaan Kakak ke Kak Luna?" Jenifer bertanya dengan nada yang tersulut emosi.


Wanita cantik berambut ikal berwarna coklat itu tidak mau duduk di kursi melainkan berdiri di samping meja kerja Chandra dan menggebraknya.


Ia geram, kesal dengan sikap kakaknya yang tidak berubah sejak dulu. Awalnya ia percaya pada Jaelani jika Kakaknya memang pergi ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya, tapi saat lebih dari lima hari Kakaknya itu tidak pulang ke rumah.


Jenifer pun mulai curiga dan dia berinisiatif untuk datang ke kantornya.


Setelah bertanya dengan resepsionis di kantor Chandra yang juga menyebutkan jika Kakaknya itu memang ke luar kota, Jenifer sedikit mulai percaya lagi. Tapi, saat di parkiran ia melihat Chandra yang baru saja memasuki mobilnya dia pun berjanji untuk kembali ke kantor Chandra esok hari.


Dan disinilah dia berada, menuntut penjelasan dari Kakaknya.


Sedangkan Luna, wanita cantik berbulu mata lentik itu hanya bisa diam, karna ia merasa tidak berhak mencampuri urusan suaminya.


Dan saat ditanya oleh Jenifer tentang suaminya dia hanya mengangguk membenarkan perkataan Jenifer dan tersenyum menanggapinya.


Sekian detik Jenifer menunggu jawaban Kakaknya, dan saat Kakaknya itu tidak kunjung memberinya jawaban Jenifer pun tersenyum miris memiringkan kepalanya menelisik raut wajah Chandra. "Kakak pengecut ya? Kalau aku boleh menyesal, aku menyesal jadi adiknya Kakak."


"Jen.." bentak Chandra dengan tatapan tak terbaca pada adiknya.

__ADS_1


"Apa Kak? Aku memang menyesal punya Kakak pengecut seperti Kakak." tantang Jenifer menyulut emosi Chandra, dan seketika laki-laki itu bangun dari duduk di kursi kebesarannya menghampiri adiknya seraya mencengkeram lengannya.


"Jangan pernah bicara sama aku kalau kamu menyesal punya Kakak seperti aku." balas Chandra yang membuat Jenifer membulatkan matanya.


tidak. tidak. bukan itu maksudku Kak.. Ya Tuhan.. kenapa kakak malah seperti ini sih nanggepinnya. batin Jenifer menatap kakaknya.


"Oke.. Kalau Kakak maunya seperti itu. Aku akan kembali ke London sekarang juga. Aku akan bilang ke Dad dan Mom kalau Kakak adalah laki-laki pengecut yang tidak mau mengakui perasaannya pada istrinya." tembak Jenifer langsung pada pointnya, karna ia tidak bisa berbasa-basi dengan Kakaknya yang keras kepala.


Chandra melotot mendengar perkataan adiknya, tapi tak berniat menimpalinya.


Adiknya benar, ia hanya laki-laki pengecut. Ia tidak pulang ke rumah selama seminggu hanya karna pertanyaan Jenifer tentang perasaannya dan melihat istrinya menangis.


Ada apa dengan hatinya? Kenapa sesakit itu ia melihat Luna menangis saat itu? Saat ia mau menjawab asal "iya" pertanyaan Jenifer.


Jenifer menghela napas sebentar, lalu tanpa permisi kristal bening itu lolos dari genangannya mengalir membasahi wajah cantiknya.


Ia terisak, sakit hatinya jika Kakaknya masih seperti ini. "Kak.. hikhik.. Kalau memang Kakak tidak mau aku memanggil Kakak sebagai Kakakku lagi karna aku berani sama Kakak.. Aku tidak apa-apa... Tapi, aku tidak mau Kakak menyesal nantinya."


"Kakak adalah Kakakku.. Aku ingin Kakak bahagia, dan aku yakin kak Luna adalah kepingan puzzle yang cocok untuk melengkapi puzzle hidup Kakak yang belum lengkap."


"Aku tau Kakak dan kak Luna menikah dengan terpaksa walau aku tak mendengarnya langsung dari kalian berdua, Kak Jae cerita semuanya sama aku Kak... Gimana frustasinya Kakak karna para pemegang saham mengharuskan Kakak menikah.


Dan entah apa yang mendasari kalian bisa menikah, aku juga gak tau. Yang pasti yang Jeni tau.. kalau Kakak udah milih kak Luna sebagai istri Kakak terlepas dia seorang gadis atau Janda, kakak harus mencoba membuka hati untuknya.


Kakak dan kak Luna mungkin memang berjodoh dengan cara Tuhan yang mempertemukan kalian.."


"Kamu tidak tau apa-apa tentang pernikahan Jen.. Kamu masih kecil." tegas Chandra sembari membalikkan badannya seraya memijit pelipisnya.


"Aku memang masih kecil Kak.. Tapi seenggaknya pemikiranku lebih dewasa daripada Kakak."


"Jen.." bentak Chandra lagi dengan menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


"Ah sudahlah.. Aku lelah kak..Terserah kakak.. Aku mau ke kampus kak Luna.. aku ingin menemui kakak iparku sebelum aku kembali ke London.


Aku ingin berkata pada kak Luna jika Kakak telah menipunya, dan aku akan menyuruh kak Luna memberi kesempatan pada laki-laki yang kemarin mengirim pesan cinta padanya. Mungkin kak Luna akan lebih bahagia jika bersamanya bukan dengan Kakakku yang seorang pengecut." teriak Jenifer sembari membanting pintu ruangan kerja Chandra dengan kasar.


****


"Ini siapa, Lun?" tanya Reyna saat mereka bertiga sedang duduk di kursi yang ada di taman sekitar kampusnya.


Luna yang mendapat telepon dari Jenifer jika adik iparnya itu akan menyusulnya ke kampus pun mengajak Reyna ke taman agar Raka dan dosen lainnya tidak mengenali siapa Jenifer dan berakhir kesepakatan persembunyian statusnya akan terkuak.


"Hallo, Kak.. Namaku Jenifer.. Adik iparnya kak Luna." Jenifer memperkenalkan dirinya sembari tersenyum ceria terdahulu sebelum Luna menjawabnya.


Reyna menatap Luna meminta penjelasan dan Luna mengangguk membenarkannya.


"Oh.. Kenalin aku Reyna.. Sahabatnya Luna." Jenifer mengangguk mendengar Reyna memperkenalkan dirinya padanya.


aku harus bicara bagaimana dengan kak Luna? bagaimanapun kak Chandra adalah kakak kandungku yang aku sayangi. aku memarahinya hanya karna ingin melihatnya bahagia dengan pasangannya walaupun aku juga belum yakin gimana perasaan kak Chandra pada kak Luna..Dan perasaan kak Luna untuk kak Chandra. Huft. batin Jenifer menatap Luna.


"Ada apa Jen? Katanya tadi ada yang mau dibicarakan sama Kakak." tanya Luna sembari menggenggam tangan adik iparnya.


tapi.. dari cara Kak Chandra menatap kak Luna.. juga cara melindunginya dari cercaan pertanyaan yang tidak mau aku menyakiti hati kak Luna. apa kesimpulan yang aku buat jika kak Chandra menyayangi kak Luna itu salah? batin Jenifer bergejolak memikirkannya.


"Aku.. Hari ini aku akan balik lagi ke London kak.. Dad dan Mom tadi menelponku dan.." ujar Jenifer terpotong sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Dan apa Jen?" tanya Luna menatap mata Jenifer.


"Dan kak Chandra hari ini udah pulang dari luar kota Kak... tadi kak Jae ngabari aku." terang Jenifer yang ditanggapi oleh Luna dengan satu kata. "Oh.."


"Kok cuman Oh sih Kak? Kakak gak suka Kak Chandra pulang?"


"Suka kok." seperti biasa Luna hanya menyetujui apa yang diucapkan Jenifer agar adik iparnya itu tak mengetahui bagaimana keadaan hatinya.

__ADS_1


mas Chandra udah pulang? aku harus gimana donk ngadepinnya nanti? udah gak ketemu selama seminggu, gimana ya dia sekarang? batin Luna tersenyum pelik memikirkannya.


Bersambungg....


__ADS_2