
"Hai Bro.." sapa Darius--teman Chandra saat kuliyah di Amerika dengan menepuk pundak Chandra.
Kebiasaan yang mereka lakukan saat mereka bertemu jika ingin menghabiskan waktu bersama, karena mereka kuliyah di jurusan yang berbeda.
"Broo.." Chandra pun membalas dengan apa yang dilakukan Darius, padanya.
Jarak tempuh dari rumah mewahnya dengan gedung olahraga yang tidak begitu jauh, membuat Chandra sampai lebih dulu di gedung itu daripada Darius.
Luna yang sedang menuntaskan sesuatu yang terasa penuh di kandung kemihnya, masih berada di kamar mandi yang berada dalam gedung olahraga itu.
Sepuluh menit, ya lebih dari sepuluh menit Chandra dan Luna menunggu Darius menghampiri mereka.
Darius dan Chandra sama-sama mempunyai hobi bermain bulu tangkis, dan di lapangan ataupun gedung yang ada tempat untuk bermain bulu tangkis, itulah tempat yang biasa mereka bertemu.
Chandra terlahir dari keluarga kaya, tidak munafik jika dia mempunyai pergaulan agak bebas.
Tapi saat laki-laki itu mengenal Darius, Chandra berubah menjadi laki-laki yang begitu menghargai wanita.
Intinya, Darius membawanya menjadi pribadi yang lebih baik.
"Gimana kabar lo? Katanya lo udah nikah?" Darius bertanya dengan mengambil tempat untuk duduk di samping Chandra.
"Iya.. Gue udah nikah, Ri." jawab Chandra dengan tersenyum.
"Wah.. Nikah bawa perubahan yang baik buat lo ya kayaknya." Darius berkata dengan meneliti wajah sahabatnya yang begitu terlihat ceria.
Tidak sekaku biasanya.
"Seperti itulah. Menikah itu memang indah, Bro." Chandra berkata dengan membayangkan percintaannya tadi dengan istrinya.
Kurangajar ya? Wkwkwk
"Ck! Lo ngeledek gue?" Darius kesal karena dia belum menikah.
"Enggak lah.. Gue kan cuman ngasih tau sama lo, kalau menikah itu indah, Bro.. Kenapa lo jadi sewot?" Chandra tergelak mendapati kekesalan Darius.
"Ya lo kan tau sendiri kalau gue belum menikah, Bro.. Jadi gak usah dalami gitu pas bilang kalau menikah itu indah." jelas Darius dengan muka kesalnya.
"Ya gue ngomong gitu sambil bayangin adegan ***-*** gue sama istri gue, Bro.." Chandra pun mulai pintar berkelakar, tapi itu memang yang tadi ia pikirkan.
__ADS_1
"Sialan lo ya!" Darius menepuk paha Chandra dan kini keduanya tertawa terbahak-bahak.
Butuh waktu beberapa detik untuk menertawakan kekonyolan yang baru saja terjadi diantara mereka berdua.
Karena memang Chandra belum pernah bisa sesantai itu dengan siapapun kecuali Darius, sahabatnya.
"Gimana? Lo udah ketemu sama cewek yang lo cari dari dulu itu?" Chandra bertanya tentang perempuan cantik yang selalu diceritakan oleh Darius, padanya.
Laki-laki itu memendam rasa yang lama untuk seorang wanita, bahkan pernah menyatakannya dan pernah menjalin hubungan.. ya walaupun tak lama hubungan itu terjalin.
Dahulu kala, saat ia hendak kuliyah di Amerika, dan wanita itu belum lulus sekolah menengah pertama, Laki-laki itupun meninggalkannya begitu saja namun tidak pernah berhenti mencintainya.
Tidak ada kata putus diantara mereka, hanya saja jarak dan waktu dan usia wanita yang belum terlalu dewasa, akankah wanita itu masih mencintainya?
Darius menggelengkan kepala, "Gue udah tau dimana kampusnya.. Tapi gue gak berani menemuinya."
"Dimana kampusnya?" Chandra terlihat ingin tahu.
"Di Universitas XXX."
"Kenapa gak lo temuin? Siapa namanya, bro?" Chandra menuntut Darius untuk bercerita lebih.
"Luna.. Namanya Luna." jelas Darius yang kini membuat Chandra berpikir keras tentang berapa mahasiswinya yang bernama 'Luna'.
Keheningan tiba-tiba melanda keduanya, Chandra yang terlihat mengingat berapa dan siapa mahasiswi yang bernama Luna kecuali istrinya, dan Darius yang tiba-tiba bersedih saat mengingat jika ia tidak memberi wanita itu kepastian dulu sebelum ia berangkat kuliyah ke Amerika.
"Lo tadi nyuruh gue kesini buat menyelidiki siapa, Bro?" Darius bertanya guna memecah keheningan.
"Diamond Grup.. Lo tau kan siapa pemilik Diamond Grup?" Chandra pun baru teringat akan tujuannya mengajak Darius bertemu.
Bukan hanya sekadar basa-basi untuk melepas rindu dengan sahabat, bukan hanya untuk bermain bulu tangkis bersama, tapi juga untuk menyelidiki siapa pemilik Diamond Grup yang sepertinya ingin menyusahkannya.
"Iya.. Gue tau. Memangnya kenapa?" Darius bertanya dengan serius.
Chandra pun menceritakan apa yang menjadi pikirannya sedari kemarin pada Darius, tentang pilihan yang diberikan oleh Diamond Grup padanya.
"Lebih baik lo gak usah terima kerja samanya, Bro." tegas Darius yang membuat Chandra menatapnya intens.
"Diamond Grup memang perusahaan besar, tapi dia sangat licik. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk ngebuat lo bangkrut. Lo tau kan Wijaya Grup?" tanya Darius yang dijawab anggukan oleh Chandra. "Wijaya Grup baru saja diakuisisi oleh Diamond Grup karena tidak tepat waktu mengerjakan proyek darinya. Ada pasal-pasal yang ditambahkan saat lo selesai tandatangan." jelas Darius lagi.
__ADS_1
Suara derap langkah anggun dari Luna yang berjalan menghampiri Chandra, membuat Chandra yang tadinya ingin menjawab perkataan Darius pun kini menoleh ke belakangnya lalu tersenyum simpul saat menemukan jika itu benar istrinya.
"Sini sayang." Chandra melambaikan tangan lalu menepuk kursi yang disebelah kanannya untuk duduk Luna.
"Bro.. Kenalin ini istri gue." Chandra mengenalkan Luna pada Darius.
Darius yang masih sibuk berkutat dengan ponselnya untuk memberi tau siapa pemilik Diamond Grup pada Chandra pun mendongak lalu menoleh saat mendengar Chandra mengenalkannya pada istrinya.
Deg
Sekian detik Darius menatap Luna tanpa berkedip, bahkan ponsel yang ditangannya tiba-tiba terjatuh saat melihat siapa yang telah menjadi istri dari sahabatnya.
"Luu-----na." gumamnya sembari menatap Luna dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasanya hatinya hancur berkeping-keping saat mengetahui jika Luna telah menikah dengan sahabatnya.
"Lo kenal sama istri gue, Ri?" Chandra berusaha tetap tenang, walaupun dia dalam kondisi waspada saat melihat sikap Darius setelah melihat istrinya.
"Ri?" Luna pun menatap Darius saat mendengar suaminya mengatakan nama panggilan yang biasa digunakan laki-laki yang dicintainya dulu saat bersamanya.
Panggilan itu panggilan khusus yang ia berikan agar tidak ada yang menyamainya.
"Kak Ari?" Luna pun bangkit dari duduknya demi meraih jika benar laki-laki yang duduk di samping suaminya adalah laki-laki yang dulu ia cintai dan meninggalkannya tanpa kabar.
"Iya... Ini aku, Lun." jawab Darius yang membuat Chandra kini juga menegakkan duduknya.
Ingin sekali ia bertanya pada Darius, apa benar wanita yang sering diceritakan padanya yang begitu dicintai sahabatnya, yang katanya namanya 'Luna' adalah Luna istrinya?
Tapi semua itu diurungkannya, Chandra belum siap akan hal itu.
Laki-laki itupun langsung menggenggam tangan istrinya, mengabaikan raket yang ia bawa untuk bermain bulutangkis.
"Sorry Bro.. Gue lupa sesuatu hal. Gue harus jenguk Ibu mertua gue yang kemarin sakit." pamit Chandra sembari menepuk pundak Darius seperti biasa sebelum benar-benar berlalu dari hadapannya.
***
Sesampainya di dalam mobil, Chandra yang sedari tadi berperang dengan pikirannya akhirnya pun tidak tahan untuk bertanya, "Kamu kenal dengan Darius, Lun?"
"Iya, Mas.. Dia dulu tetanggaku." jawab Luna yang juga tidak berbohong yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung...