Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Dia Adikku


__ADS_3

Chandra mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia mengebut hanya untuk memastikan keadaan istrinya.


Sesekali laki-laki itu mengumpat kesal jika ada kendaraan yang menyalip mobilnya dan sedikit menghalangi jalannya.


Entah dorongan apa yang membuatnya seperti itu, tapi dalam hati kecilnya berkata jika istrinya sedang tidak baik-baik saja. Dan ia harus secepat mungkin melihat keadaan istrinya.


Sesampainya di depan ruko, disaat Chandra baru saja membuka pintu mobilnya, sialnya Jaelani-sekretaris pribadinya tiba-tiba menelponnya.


Panggilan Tersambung...


Jaelani: Hallo, Tuan..


Chandra: Apaan?


Jaelani: Laporan keuangan perusahaan sepertinya ada masalah, Tuan. Tuan sedang sibuk? Kalau tidak, Tuan bisa ke kantor sekarang untuk mengeceknya.


Chandra: Aku sibuk. Kirim lewat email aja Lan.


Jaelani: Baik Tuan, tapi kalau saya boleh tau, Tuan sedang sibuk apa? Kata Nona Jenifer Anda pergi menyusul istri Anda? (mulai kekepoannya)


Chandra: CK! Itu urusanku.


Tegas Chandra lalu mematikan sambungan teleponnya.


Moodnya yang sedang kurang baik, menjadi tambah hancur karna kekepoan sekretarisnya itu.


Perlahan, Chandra pun memasuki ruko yang ternyata sudah sepi pengunjung dan hampir tutup itu.


"Nak Chandra?" Panggil Ibu saat melihat menantunya seperti mencari seseorang.


"Iya Bu.. Luna dimana ya Bu?" tanya Chandra sopan dengan sebelumnya menyalami tangan Ibu mertuanya.


"Luna ada di kamar kalian di atas, barusan aja naik sepuluh menit yang lalu. Tadi sudah Ibu suruh dia pulang ke rumah, tapi katanya tidak mau, Nak." Ibu menghela napas sebentar dengan guratan sedih yang terpancar di wajahnya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Tadi dia sampai sini dengan mata sembab, dan air mata yang gak berhenti mengalir. Katanya dia dibully sama teman kuliyahnya, Nak. Ibu sedih melihatnya, makanya Ibu pun tidak tega untuk memaksanya pulang kerumahmu, karna walau bagaimanapun Luna adalah anak semata wayang Ibu.. Kalau dia bersedih, tentu Ibu sebagai wanita yang melahirkannya begitu sangat hancur melihatnya. Kamu jangan salah paham ya, Nak."


FLASHBACK ON


"Hikhikhik.." Luna menangis sesenggukan sesampainya di depan Ibunya, lalu memeluknya menyalurkan rasa yang begitu menyakitkan yang baru dirasainya.


"Kamu kenapa menangis sayang? Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Ibu Halimah sembari mengusap punggung Luna, menenangkannya.


"Luna... Luna dibully teman Luna, Bu. Luna dikatai." alasan kebohongan demi menutupi suaminya yang bersama wanita lain.


"Dibully? Memangnya mereka membullymu seperti apa, Lun?"


"Panjang ceritanya, Bu."


"Ya sudah, kamu main dulu sama Radit ya, banyak pelanggan yang datang soalnya."


"Iya Bu.. Hikhik" Luna pun mengiyakan perintah Ibunya untuk bermain dengan Radit.


Disaat Radit sudah tertidur pulas, dan saat ia terasa mengantuk, ia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas agar ia bisa merebahkan badannya di kasurnya.


"Kamu ngapain mau naik ke atas? Kamu gak pulang ke rumah suamimu, Lun?" tanya Ibu Halimah saat Luna sudah naik tangga.


"Ti--dak Bu.. Luna pengen sendiri dulu, jangan usir Luna ya Bu.." ujar Luna penuh permohonan sembari menunjukkan raut wajah kesedihan.


"Tapi kabari suamimu ya Lun. Kalau kamu mau menginap disini." putus Ibu Halimah kemudian sembari berbalik badan kembali melayani pembeli yang datang. Dan dijawab anggukan oleh Luna.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


luna menangis? matanya sembab? apa gara-gara aku menekannya lagi tadi. Astaga.. Maafin aku ya, Lun. batin Chandra sembari mendengarkan penjelasan dari Ibu mertuanya.


Mendengar perkataan Ibu Halimah, seakan memperkuat perasaan dalam hati kecilnya jika istrinya memang sedang tidak baik-baik saja.


Chandra pun bergegas ingin melihatnya, dan hanya mengangguk menjawab permintaan Ibu Halimah agar ia tidak memarahi istrinya.


"Chandra melihat Luna dulu ya, Bu." pamit Chandra pada Ibu Halimah yang setelah Ibu mertuanya itu menganggukkan kepala ia pun bergegas naik ke lantai atas.


**


Sesampainya di lantai atas, Chandra menyakinkan hatinya untuk membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci Luna dari dalam itu.


Niat hati yang ingin mengajak Luna berbicara, ternyata menemukan istrinya sudah tertidur dengan pulasnya dengan setelan tidur yang baru pertama kali dilihatnya.


Chandra menelan salivanya lekat saat melihatnya, sejenak ia menatapi tubuh sintal istrinya itu dari wajah hingga pangkal kakinya karna biasanya istrinya itu memakai piyama dengan berbagai macam kain dan berbeda motif setiap malamnya.


Dan malam itu Luna memakai tanktop berwarna merah maroon, yang sangat kontras dengan kulit Luna yang seputih susu, dan hotpants yang membalut kaki jenjangnya.


Di sudut matanya pun masih terlihat tetesan air mata dan ia yakin jika istrinya tertidur karna kelelahan menangis.


Apa ini salahnya? Apa ia salah menekan Luna untuk tidak bertemu dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya? Apa Luna membohongi Ibunya demi menjaga agar ia tidak terlihat jelek dimata Ibunya?


Perlahan, Chandra membuka jaketnya dan menaruhnya di sofa.


Lalu naik ke atas tempat tidur dimana istrinya sedang tertidur dengan nyaman berbaring ke kiri dengan memeluk guling.


Dengan hati yang masih penuh tanda tanya, Chandra pun memberanikan diri memeluk istrinya dari belakang, sekadar memberikan kenyamanan untuk menebus kesalahan yang mungkin ia yang membuat istrinya seperti ini.


"Maafin aku ya, Lun." gumamnya sembari memejamkan mata dan sekilas mencium pipi istrinya.


Tapi ciuman disertai nafas hangat Chandra yang menerpa pipinya seketika membangunkan Luna dari tidurnya.


Luna mengedarkan pandangannya dan seketika merasakan jika ada tangan yang melingkar begitu erat di atas perutnya.


Ia pun menoleh, dan mendapati suaminya yang menatapnya dengan senyum menawannya.


"Mas Chandra?" panggilnya sembari bangkit untuk duduk dan melepas pelukan Chandra.


"Hemm.. Maaf aku peluk kamu. Kamu kerasa gak nyaman ya?" Chandra bertanya dengan menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


Ia juga tidak tau kenapa ia bersikap impulsif seperti itu pada seorang wanita. Tapi, wanita ini kan istrinya?


Luna terlihat menggelengkan kepala. "Mas kok bisa disini?"


"Aku nyusul kamu."


"Nyusul aku?" tanya Luna dengan menunjuk badannya dengan jarinya.


Chandra menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Untuk apa? untuk apa Mas nyusul aku?" tuntut Luna dengan menyandarkan badannya di kepala ranjang.


"Kamu pakai kayak gini disini? Kenapa di rumah enggak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan, sepertinya Chandra terlihat takjub mengamati dua hal indah yang kini ada di depan matanya.


Luna yang menyadari jika dia tidak menggunakan piyama pun seketika menarik selimut untuk menutupi badannya.


Namun, tindakannya berhenti saat Chandra mencekal pergelangan tangannya. "Ngapain ditutupi. Aku sudah melihatnya."

__ADS_1


"Tapi, ini tidak seharusnya Mas. Mas gak seharusnya melihatnya." ujar Luna sembari menatap Chandra.


"Kenapa aku gak boleh melihatnya? Kamu istriku, Lun."


ya, istri. Istri yang gak pernah Mas harapkan kan? batin Luna berteriak namun ia pun menuruti suaminya dan tidak jadi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Aku nyusul kamu karna aku mau mengenalkanmu pada adikku, dan tidak seharusnya seorang wanita yang sudah punya suami menginap dirumah Ibunya tanpa sepengetahuannya." Chandra berucap panjang lebar setelah sesaat keheningan melanda keduanya yang membuat Luna menundukkan kepala.


"Maaf." kata yang terlontar dari bibir mungil milik Luna.


"Ayo kita pulang." ajak Chandra tak menjawab permintaan maaf Luna sembari bangkit dari tidurnya dan memakai jaketnya.


"Mas belum jawab pertanyaan aku." tolak Luna halus.


"Apaan?"


"Untuk apa Mas nyusul aku?" tuntut Luna yang membuat Chandra ingin sekali merasakan bibir mungilnya.


Dan.


Cup..


Keinginannya pun direalisasikannya dan Luna mengerjapkan matanya saat menyadari bibir tebal milik suaminya menempel di bibir mungilnya.


"Aku tadi sudah menjawabnya Lun," ucapnya kemudian sembari mengarahkan tangannya memegang dua hal indah milik Luna yang sedari tadi ditatapnya.


Gagal, Luna menghentikan aksinya lalu berdiri memakai dressnya. Yang membuat Chandra berdecak pelan.


"Mas.. Tolong jangan lakuin itu padaku jika Mas belum punya rasa sama aku."


"Melakukan itu bisa tanpa menggunakan rasa, Lun."


"Huft.." Luna malas menanggapi Chandra dan ia pun mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.


"Mas kan tadi sore sudah pergi sama kekasih Mas. Kenapa masih cari aku." gerutunya sembari memakai sneakersnya.


Chandra mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu?"


"Cewek yang tadi ke Cafe sama Mas, kekasih Mas kan?"


"Astaga Luna.. Dia adikku." jawab Chandra yang membuat Luna yang tadinya menunduk sembari menggerutu kini mendongak menatap Chandra sembari membulatkan matanya.


hah? adik? jadi aku salah paham? pantes, kayaknya Mas Chandra sayang banget sama cewek itu. batin Luna.


"Bukan kekasih Mas?" tanya Luna lagi.


"Oh.. Ini yang membuat kamu pergi kesini lalu tidak mau pulang ke rumah?" tanya Chandra yang membuat Luna tidak bisa berkutik.


"Luna.. Luna.. Aku kan sudah bilang, walaupun aku memaksa kamu untuk menikah sama aku, tapi aku sangat menghargai pernikahan ini."


dan karna itulah aku gak bisa melihatmu jalan dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuanku. aku juga gak tau kenapa aku bisa berlaku posesif seperti itu padamu, tapi yang jelas, sepertinya hatiku mulai terbuka dengan kehadiranmu. batin Chandra menatap Luna yang kini sedang berdiri di hadapannya.


"Maafin aku ya Mas, sudah menuduhmu yang enggak-enggak."


"Sudahlah.. Ayo kita pulang, Jenifer sudah menunggumu dari tadi." ajak Chandra yang diajwab anggukan kepala oleh Luna, lalu keduanya pun turun ke bawah untuk berpamitan pada Ibu Halimah sebelum menaiki mobilnya untuk pulang ke rumah.


Di dalam ruko saat berpamitan pada Ibu Halimah, Chandra menggenggam tangan istrinya yang membuat Luna menoleh padanya, tapi tak dihiraukannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2