Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Merindukanmu


__ADS_3

Sang mentari telah menyapa pagi, Luna yang sudah bangun sedari tadi pun langsung turun ke bawah untuk memasak nasi goreng favoritnya untuk sarapannya seorang diri.


Biasanya, ia selalu sarapan berdua dengan suaminya. Dan di saat seperti ini, tiba-tiba Ia merindukan Chandra.


Dulu, saat Chandra yang katanya pergi mengurusi bisnisnya, ia ditemani oleh Jenifer, adik iparnya.


Jenifer selalu bisa menghidupkan suasana dengan celotehannya tentang dirinya dan kuliyahnya.


Dan sekarang satu suapan pun belum pernah berhasil masuk di mulutnya, padahal tadi dia sangat semangat memasak nasi goreng untuk sarapannya.


Tiba-tiba ia kepikiran suaminya, apa suaminya itu sudah sarapan? apa suaminya sudah minum teh? Luna kembali meletakkan sendok berisi nasi goreng itu di atas piringnya lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengambil telepon genggamnya.


Seakan mereka berdua mempunyai telepati, Luna yang baru memegang handphonennya mendapati Chandra tengah menghubunginya lewat video call.


Tak tunggu lama, Luna pun menjawab video call itu dan terpampanglah laki-laki tampan yang menjadi suaminya sudah mengenakan setelan jas kerjanya.


"Hai Mas.." Luna menyapa lebih dulu dengan melambaikan tangannya di depan handphonenya sembari tersenyum manis.


Chandra membalas dengan tersenyum, "Kamu sudah sarapan?"


"Mas sudah sarapan belum?" alih-alih menjawab Luna malah berbalik tanya.


"Udah.. baru saja." Chandra memperlihatkan piringnya yang masih tersisa sandwich sepotong kecil lengkap dengan teh hangat yang masih separuh gelas. "Kamu sudah?"


"Be--lum, Mas." Luna menjawab dengan malas, mengambil bantal kecil yang ada di sofa, menaikkan lututnya lalu menaruh dagunya di atas bantal yang sudah berada di atas lututnya yang ditekuk itu.


"Kenapa?"


"Gak selera." jawab Luna dengan mencebikkan bibirnya.


"Mau aku suapin?" tawar Chandra tiba-tiba, tak biasanya.


Luna yang tadi menunduk kini mendongak mendengar tawaran dari suaminya itu sembari tertawa pelan yang membuat Chandra terpukau di seberang sana. "Mas ini ada-ada saja, kalau disini aja gak mau nawarin. Kalau lagi jauh aja nawarin." ledeknya.


Perlu waktu beberapa detik untuk Chandra menjawabnya dan Luna melihat jika suaminya tengah menatapnya intens, "Ehm.. Maaf ya Mas."


"Aku merindukanmu. Apa semalam tidurmu nyenyak?" Chandra mengalihkan pembicaraan yang juga tidak berbohong.


Semalam, Chandra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Yang ada di pikirannya hanya istrinya, karna guling yang bisa ia peluk bukanlah guling hangat yang tak lain tubuh sintal istrinya.


hah? Mas Chandra merindukanku?

__ADS_1


"Lun.." panggil Chandra dengan nada begitu lembut.


"Emm.. Mas ngomong apa tadi?" Luna ingin mendengar lagi menyatakan pendengarannya jika ia tak salah mendengar jika suaminya tengah merindukannya.


"Lupakan.. Kamu gak ke kampus?"


"Dua jam lagi, Mas.. Aku mau nulis dulu, daripada dengerin gosip kayak kemarin. Lebih baik aku sampai kampus sebelum jam masuk aja." ujar Luna yang membuat Chandra dilanda rasa bersalah.


"Ya udah.. Aku tutup dulu. Aku ada meeting pagi ini."


"Hati-hati ya, Mas." selang beberapa detik Luna mengucapkan itu, karna ternyata Chandra tak mematikan panggilannya, dan saat detik itu juga, Chandra terlihat tersenyum lalu mematikan teleponnya.


"Mas Chandra merindukanku? Apa dia juga merasakan debaran yang aneh ini saat setiap aku menatapnya?" Luna bermonolog sembari memegang handphonennya yang ia taruh di depan dadanya dengan tersenyum.


Beranjak dari sofa, Luna pun mengambil laptopnya yang berada di atas nakas lalu menghidupkannya untuk masuk ke aplikasi kepenulisan dimana ia menulis di platform tersebut.


Hatinya yang sedang senang saat mendengar jika Chandra juga memikirkannya pun membuat ia mempunyai ide untuk menulis begitu saja muncul dan mengalir begitu cepat hingga tak sampai satu jam dia bisa menulis dua chapter sekaligus dalam novelnya yang masih berstatus on going.


Pun saat ia melihat jika platform tersebut sedang mengadakan lomba dengan genre yang ia sukai, waktu setengah jam sebelum bersiap menuju kampusnya pun digunakannya semaksimal mungkin untuk membuat outline cerita yang ingin ia ikut sertakan dalam lomba agar mendapatkan hasil yang maksimal.


***


Hari itu Luna ada dua mata kuliyah yang harus diikuti, Reyna yang sedari tadi menatapnya karna ingin membicarakan sesuatu pun menunggu hingga mereka pulang dari kampus.


"Iya.. Ada apa Reyna?" tanya Luna yang sedikit merasa lega karna Reyna tidak menanyakan tentang hubungannya dengan Chandra, dan ia tidak perlu berbohong dengan sahabatnya itu.


Walaupun ia belum bisa terbuka dengan Reyna siapa suaminya, tapi ia juga belum pernah berbohong tidak mengakui jika Chandra adalah suaminya di depan Reyna. Kala itu ia hanya bilang jika dia memang tidak punya hubungan darah.


"Besok kan weekend, kamu ada acara tidak?" tanya Reyna dengan menunggu taksi online yang dipesannya.


Berpikir sebentar, Luna pun menggeleng. "Tidak ada Reyna. Memangnya kenapa?"


"Aku mau ngajak kamu ke Bali." Reyna berkata dengan hati-hati dan begitu pelan.


"Hah? Ke Bali?" Luna bertanya dengan nada bicara yang secara tidak sadar ia naikkan satu oktaf.


"Pelan-pelan Luna.." Reyna mengingatkan karna teman-temannya seketika menoleh pada mereka.


"Hehe.. Maaf." Luna memegang bibirnya. "Kamu mau ngapain ngajak aku ke Bali?"


"Kemarin Om aku ngasih aku dua tiket liburan ke Bali, Lun. Terus kamu tau sendiri kan kalau sahabat dekat aku itu cuma kamu. Jadi, aku mau mengajakmu ke Bali buat liburan bersama aku. Gimana? Mau ya, Lun?" Reyna memegang tangan Luna, memohon agar sahabatnya itu mau diajaknya.

__ADS_1


"Tapi, aku harus izin suami aku dulu, Reyn. Kamu tau kan kalau aku sudah punya suami? Aku bukan wanita bebas lagi yang bisa ikut kamu kemana kamu ngajak aku, Reyn." Luna memberi tatapan sendu pada Reyna.


Reyna menganggukkan kepalanya, "Iya.. Aku paham kok, Lun. Kamu minta izin dulu aja sama suami kamu, nanti malam aku tunggu jawabannya, ya. Berarti kamu gak menolakku kan?" tanyanya memastikan.


"Iya.. Tapi, kalau suami aku gak kasih izin, kamu jangan kecewa dan mutusin persahabatan kita ya." Reyna mengangguk mendengar perkataan Luna.


"Aku juga harus izin sama Ibu, Reyn. Kalau Ibu gak kasih izin aku juga tidak bisa nemenin kamu liburan." Luna mengingatkan Reyna lagi jika temannya itu tidak boleh terlalu berharap.


"Pasti Ibu kasih izin, Lun. Kan kamu perginya sama aku."


"Aku tunggu jawabannya ya, besok pagi kita langsung ketemu di bandara saja kalau kamu dapat izin. Bye, Luna." sambung Reyna kemudian lalu menaiki taksi online yang tadi sudah dipesannya.


***


"Hem? Apa Lun?" tanya Chandra pada panggilan teleponnya dengan istrinya.


Sore itu saat jam Chandra pulang kerja, Luna pun berpikir jika suaminya sudah selesai meeting dan ia pun memberanikan diri menghubunginya untuk meminta izin pergi ke Bali bersama Reyna.


"Aku diajak ke Bali sama Reyna besok, Mas."


"Lalu?" tanya Chandra yang membuat Luna tanpa sadar menghentakkan kakinya kesal karna suaminya tak sadar jika dia tengah meminta izin.


"Mas izinin aku gak?" tanya Luna akhirnya.


"Berapa hari memangnya?"


"Cuman weekend ini katanya, Mas."


"Boleh." jawab Chandra yang membuat Luna tersenyum. "Makasih ya, Mas."


"Iya. Ya udah, aku tutup dulu ya."


"Emm.. Mas.." cegah Luna saat Chandra ingin mengakhiri panggilan yan sedang berlangsung.


"Apa Lun?"


"Mas makan apa nanti?"


"Memangnya kenapa?"


"Jaga kesehatan ya, Mas." ujarnya dengan malu-malu lalu mematikan panggilan tersebut.

__ADS_1


Bergegas Luna pun mengirim pesan pada Reyna jika Ibunya dan Chandra sudah mengizinkannya pergi ke Bali bersama Reyna, karna tadi sebelum ia meminta izin pada Chandra, ia sudah meminta izin dengan Ibunya.


Bersambung...


__ADS_2