
"Pagi, Pak." sapa Luna seraya tersenyum pada Raka dan Chandra yang sedang mengobrol di depan mobil Chandra.
Reyna memang memarkirkan motornya di depan parkiran mobil para dosen, dan mengharuskan ia dan Reyna melewati Chandra yang sedikit menoleh padanya.
Selain cantik, Luna memang terkenal sebagai mahasiswi paling ramah dan punya sopan santun yang patut diacungi jempol.
"Pagi, Luna. Kemana aja kemarin? Dua hari kamu gak masuk ke kampus kan?" tanya Raka perhatian, yang merupakan seorang dosen juga yang mengajar di jurusan perkuliyahannya Luna.
Chandra secara tak sadar mengepalkan tangannya, merasa jengkel dengan perhatian yang begitu mendalam dari Raka untuk istrinya.
Yang kamu perhatikan itu istriku, Rak. Bisa gak, jangan memandang istriku sepeerti itu. Dia udah gak janda, janda itu sekarang sudah berubah jadi istriku, Rak. batin Chandra berperang sembari menatap interaksi Luna dan Raka, yang speertinya Luna sangat menikmati perannya, menjadikannya ia berlaku masih seperti single, tidak terikat dengan sebuah pernikahan.
"Biasa, Pak. Ada urusan keluarga. Saya permisi dulu ya, Pak." ujarnya namun tertahan pergi karna Raka lagi-lagi bertanya.
"Urusan keluarga? Ibumu sakit? atau Radit?" tanya Raka lagi sembari mengerutkan keningnya, tanda jika ia begitu khawatir dengan Luna.
Raka juga salah satu dosen yang mengetahui jika Luna masihlah seorang gadis, karna Raka yang meminta penjelasan darinya, dahulu. Saat ada berita yang memberitakan jika Luna sudah berubah menjadi seorang Janda.
Hal mustahil karna Raka yang paling mengerti bedanya orang pernah hamil dan belum itu tidak langsung mempercayainya, dan lagi, Luna pun belum merubah identitasnya yang ia buat untuk kelengkapan persyaratannya tetap kuliyah.
"Biarkan dia pergi, Raka." ujar Chandra yang membuat Luna yang tadinya ingin membuka mulut menjadi mengatupkannya kembali.
Luna yang semula menatap Raka, kini beralih menatap Chandra. Dan sedetik kemudian ia melihat wajah Chandra yang mengeras yang menandakan jika laki-laki itu sedang berada di suasana hati yang tidaklah baik, seperti tadi saat ia tetap memanggilnya "Pak" bukan "Mas."
Apa suaminya sedang cemburu padanya? batin Luna sembari menatap Chandra.
"Tapi, Chan.. Aku mau mendengar alasan Luna kenapa dua hari dia tidak masuk kuliyah." kekeh Raka yang kini malah ingin memegang tangan Luna agar Luna kembali berbalik badan menghadapnya.
Reyna yang merasa jengah karna sedari tadi diacuhkan pun menghentakkan kakinya kesal meninggalkan Luna bersama dua dosen yang terkenal sama-sama tampan dan masih single itu.
"Luna.. Berikan alasanmu, dan cepatlah pergi." titah Chandra tanpa menoleh pada Luna, dan menggagalkan niat Raka yang ingin menyentuh miliknya.
__ADS_1
Luna berbalik badan, menatap Chandra dahulu sebelum menjawab pertanyaan Raka, dan semua itu tak luput dari perhatian Raka.
"Saya hanya ada urusan keluarga, Pak Raka. Ibu dan Radit tidak sakit. Terimakasih perhatiannya, saya permisi dulu." ungkap Luna jujur, dan sebelum ia melangkah pergi masuk ke dalam kelas, ia pun menyempatkan diri menoleh pada Chandra yang sedari tadi membuang muka darinya.
Apa segitunya ia tak mau menganggap aku sebagai istrinya? Menoleh saja tidak mau? batin Luna bertanya namun sedetik kemudian terdengar helaan napas pelan dan ia pun berkata, "Saya ke kelas dulu ya Pak Chandra. Permisi."
**
"Kamu kenapa, Chan? Abis ketemu Luna, malah murung gitu? Kamu tau gak, Luna itu mahasiswi tercantik disini." Raka bertanya heran sembari berjalan menuju ruangan mereka.
"Tapi dia seorang Janda kan?" Chandra menjawabnya dengan acuh, tapi terbesit rasa bersalah di dalamnya.
"Kata orang-orang kan? Kalau aku, aku gak percaya kalau dia seorang Janda." ungkap Raka membeberkan fakta.
"Alasan apa yang buat kamu bisa bilang kalau kamu gak percaya?" tanya Chandra yang kini terlihat antusias.
"Kamu gak bisa membedakan wanita yang sudah pernah hamil dan belum?" tanya Raka, yang tidak menjawab rasa penasaran yang baru saja bersarang di pikiran Chandra.
"Maksudnya? Memang ada bedanya?" tanya Chandra yang memang tidak tahu menahu tentang ini.
Ia pun tak mengetahui jika Kezia sudah tidak perawan lagi, jika ia tak memergokinya berduaan di kamar Kezia saat ia berkunjung ke rumahnya.
"Ada lah. Masa kamu gak tau? Tapi udah dulu ya, aku mau langsung masuk ke kelas, karna sudah waktunya mengajar. Aku tinggal dulu ya, Chan. Udah, gak usah dipikir. Luna biar jadi urusan aku aja." ujarnya yang membuat Chandra mengetatkan rahangnya tak terima.
Bisa-bisanya ada laki-laki lain yang mengatakan jika istrinya itu urusannya. Padahal dia berkata itu kepada suaminya.
Dimana hati Raka itu? Tapi kan ini juga salahnya karna tidak mau mempublikasikan hubungannya dengan Luna.
Lagi-lagi, kegamangan hati untuk tidak mempublikasikan hubungannya dengan Luna bersarang di hati dan fikirannya.
Kapan ia bisa menyembunyikan hubungan ini jika ada laki-laki yang secara terang-terangan mengatakan mengurusi istrinya, perhatian dan sepertinya sangat tertarik dengan istrinya.
__ADS_1
Tapi, Chandra juga tak munafik untuk tidak mengakui jika Luna adalah mahasiswi tercantik dan banyak poin plus yang menambahnya membuatnya selalu menjadi bahan pembicaraan orang-orang terutama kaum laki-laki.
Mengingat jika ia yang telah memenangkan untuk memiliki Luna walaupun awalnya ia tak terlalu mengenalnya dari banyak laki-laki yang mengejarnya, pun tersenyum bahagia.
Bagaimanapun, mau mereka mendekati Luna seperti apapun, Luna tetaplah istrinya.
Tapi, yang kini menjadi tanda tanya besar di kepalanya adalah kenapa Raka begitu terlihat mantap dan yakin jika Luna bukanlah seorang Janda.
Apa yang mendasari Raka spercaya diri itu mengatakan itu padanya?
***
"Siang semua." sapa Chandra sepeeti biasa membuka pelajarannya.
"Siang, Pak." jawab seluruh mahasiswanya tanpa terkecuali.
Chandra memusatkan perhatiannya pada Luna kala mendengar salah satu mahasiswanya memanggil Luna dengan berbisik dan ternyata Luna tak menanggapi.
Wanita itu terlihat menutupi telinganya dengan telapak tangannya, dan tanpa sadar ia tersenyum.
"Pak Chandra tersenyum, Bapak tampan banget sih." Celetuk salah satu mahasiswi yang duduk paling depan.
Celetukan mahasiswi itu pula yang membuat Luna yang tadinya melihat buku yang ada di hadapannya beralih menatap Chandra, namun Chandra langsung menunduk melihat buku yang ada di tangannya untuk memulai pelajaran yang harus ia ajarkan.
Ada rasa kecewa hinggap di hati Luna saat ia tak melihat senyum Chandra, karna laki-laki itu jarang tersenyum padanya.
"Lun.. Nanti pulang kuliyah kita ke cafe ya?" ajak Miko tidak mau menyerah.
"Hei kamu yang pakai kemeja warna abu-abu, bisa jelaskan apa yang tadi saya jelaskan?" tembak Chandra yang seketika membuat Miko susah menelan salivanya.
gawat. aku gak mendengarkan apa yang dijelaskan pak Chandra lagi. Duuuhhh. batin Miko sembari berdiri namun tatapannya tetap menatap Luna.
__ADS_1
Chandra yang melihat Miko gugup hanya bisa tersenyum menyeringai melihatnya.
Bersambung...