
Pagi hari di kawasan rumah elite milik Chandra sedang diguyur hujan deras.
Sederas air mata yang terus turun membasahi wajah cantik Jenifer hingga pagi menjelang.
Wanita itu semalam tidak keluar dari kamar untuk makan malam bersama.
"Mas.. Apa Mas tidak mencoba membuka hati untuk memaafkan perbuatan Pak Raka?" tanya Luna dengan masih memeluk tubuh polos suaminya.
Bahkan wanita cantik itu menjentikkan jarinya di dada bidang Chandra, membuat gambar entah apa.
Olahraga malam sebagai pasangan suami istri yang halal menjadi rutinitas yang harus dilakukan tiap malam oleh mereka.
Bahkan keduanya tidak menyadari jika sudah sebulan mereka tidak pernah absen melakukan itu.
"Alasan apa yang membuat Mas harus memaafkan laki-laki brengsek itu? Dia sudah keterlaluan dengan HAMPIR menghilangkan nyawamu." Chandra menatap langit-langit dengan mengusap lengan istrinya yang kepalanya berbantal di lengannya dengan penekanan di kalimatnya.
"Mas.. Tuhan kita saja Maha Pemaaf. Apapun kesalahan kita jika kita mau meminta ampun pada_Nya, insyaAlloh Tuhan memberi ampun pada kita. Masa Mas sebagai manusia biasa tidak mau memaafkan sesama manusia?" Luna bertanya dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Chandra menghela napas panjang, panjang sekali seperti ingin meluluh lantakkan apa yang ingin ia hancurkan. "Mas tidak bisa segampang itu memaafkannya, Lun."
"Mas.. Jenifer mencintai Pak Raka." Luna berkata pelan-pelan agar mengenai hati suaminya. "Mereka sudah menjalin hubungan sebagai kekasih."
"Mereka akan segera putus." potong Chandra dengan tegas.
"Tidak segampang itu, Mas. Jenifer tidak mau membuka pintu kamarnya dari semalam itu sudah jadi bukti jika dia begitu mencintai Pak Raka." Luna berkata dengan hati-hati, dan kini tangannya beralih memainkan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di dagu Chandra. "Maafkanlah Pak Raka untuk kebahagiaan Jenifer, Mas." pintanya akhirnya.
"Lebih baik kita siap-siap. Sebentar lagi Jaelani akan kesini untuk mengantar kita melakukan foto pre wedding." Chandra mengalihkan pembicaraan sembari melepas dekapannya pada istrinya. Laki-laki itu masih tidak habis pikir dengan istrinya.
Bisa-bisanya wanita yang menjadi istrinya itu memintanya memaafkan perbuatan Raka dan merestui hubungan Jenifer dengan Raka.
Demi apapun, Chandra tidak akan sudi dan tidak akan mau mempunyai adik ipar sebrengsek itu.
****
Sarapan pagi telah usai, Chandra menghela napas panjang sembari melihat pintu kamar Jenifer yang masih tertutup rapat saat akan kembali ke kamarnya guna bersiap sebelum pergi ke tempat foto pre wedding.
__ADS_1
Luna mengusap pundak Chandra guna menguatkannya. Mereka tadi sarapan pagi hanya berdua karena Emily belum juga pulang ke rumah mengurusi agency modelnya yang sedang bermasalah.
"Bi.. Tolong perhatikan kamar Jenifer.. Bujuk dia untuk makan. Saya dan istri saya mau ada urusan sebentar." Chandra berucap pada Bi Asih yang dijawab anggukan kepala oleh Bi Asih.
"Kita enggak diantar Pak Mun saja, Mas?" tanya Luna saat keduanya hampir sampai di pintu rumah Chandra.
Chandra menoleh pada istrinya untuk memberikan tatapan penuh cintanya, "Jaelani lebih tau apa yang harus ia lakukan untuk membantu kita melakukan foto pre wedding daripada Pak Mun, sayang." ucapnya lalu mengecup punggung tangan istrinya yang ia genggam.
***
"Pagi Tuan.. Nyonya." sapa Jaelani sembari membukakan pintu mobil untuk Chandra dan Luna.
"Pagi Pak sekretaris." Luna lah yang membalasnya.
Pertama kali lokasi yang dituju saat Jaelani sudah mulai mengemudikan mobilnya adalah Kampus dimana Chandra mengajar dan Luna kuliyah.
Ya, Chandra memang menginginkan foto pre wedding di tempat mengajarnya.
Tempat dimana dulu ia meminta istrinya untuk menyembunyikan statusnya. Untuk menebus kesalahannya saat belum mau mengakui istrinya di kampus.
Luna yang menangkap senyuman Chandra padanya saat menoleh pada suaminya pun mengernyitkan dahinya heran, tapi tak urung membalas senyuman dengan senyum manisnya tanpa bertanya apapun.
"Sudah sampai, Tuan." Jaelani pun berkata lalu turun untuk membukakan pintu untuk Chandra dan Luna.
Kebetulan hari itu kampus sedang sepi karena tanggal merah.
Lokasi foto pre wedding tersebut pun berada di parkiran, tempat dulu dimana Chandra pertama kali menunggu Luna setelah menurunkan istrinya di halte usai menjadi istrinya.
Sepertinya benar-benar Chandra ingin menebus kesalahannya pada istri cantiknya.
"Beneran disini, Mas?" Luna pun bertanya saat dia sudah memakai gaun berwarna putih yang didesain oleh desainer ternama dengan Chandra yang sudah siap dengan tuxedo berwarna hitamnya.
Wanita cantik itu dirias dengan riasan flawless yang membuatnya tampak lebih muda.
"Iya." Chandra mengiyakan sembari mengecup pelipis Luna.
__ADS_1
Fotografer dan semua peralatan yang akan digunakan untuk foto pre wedding sudah disiapkan begitu apik oleh Jaelani.
Chandra dan Luna pun mulai berpose saat fotografer mengarahkan kameranya pada mereka berdua.
Pose pertama, Luna pun berdiri berhadapan dengan Chandra. Dengan Luna mengaitkan tangannya di leher Chandra dan Chandra mengecup pelipis istrinya.
Senyum merekah yang muncul dari hati mereka berdua menjadi pemanis yang begitu apik dalam photoshoot yang diambil.
Pose kedua, Luna pun duduk di sebuah kursi dengan background gambar bunga mawar merekah berbentuk love yang menggambarkan cinta mereka yang sedang merekah. Chandra pun duduk berjarak dan mengaitkan telunjuknya dengan telunjuk Luna lalu saling melempar senyum.
Usai mendapatkan shoot yang apik, Luna dan Chandra berganti baju adat Jawa sesuai permintaan Emily.
Sesudah dirias dengan riasan lebih glamour menyesuaikan baju adat yang digunakan yakni berwarna merah maroon, Luna dan Chandra pun kembali menaiki mobil untuk menuju lokasi kedua.
Lokasi kedua berada di halte yang kini disulap seperti decor wedding yang begitu mewah.
Tadi, Luna tak sempat menatap halte dimana dulu menjadi tempat dimana ia selalu menunggu ojeg online untuk pulang ke rumahnya atau menuju tempat jualan Ibunya keliling itu karena sedang bertukar pesan dengan Reyna yang memberitahukannya jika Radit sudah pandai berbicara.
Fotografer berbeda dan alat yang berbeda yang tidak kalah lengkapnya sudah berada di halte tersebut. Luna begitu takjub, tanpa sadar wanita cantik itu menitikan air mata lalu mendongak untuk menghalaunya.
"Kamu kenapa, Lun?" tanya Chandra saat melihat istrinya itu mendongak dengan genangan air mata yang siap terjun membasahi wajah cantiknya.
"Aku masih enggak nyangka, Mas. Aku enggak nyangka aku bisa melakukan foto pre wedding dengan begitu mewah seperti ini. Apalagi mimpi kalau Mas itu suami aku. Aku enggak pernah nyangka, Mas." Isakan Luna pun tidak bisa terelakkan, namun wanita cantik itu terus mendongak untuk menghalau agar riasannya tidak rusak terkena air mata.
Chandra mendekap istrinya, mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali. "Aku juga enggak pernah nyangka bisa memilih dan memperistri wanita cantik dan begitu baik sepertimu, sayang. Tapi aku tidak menyesal, aku tidak akan pernah menyesal bisa menikah denganmu."
"Apa Mas mencintaiku?" Luna pun bertanya, untuk melebarkan harapannya jika bukan hanya dia seorang yang telah jatuh cinta pada pasangannya.
Chandra diam tak menjawab, laki-laki itu hanya mengeratkan dekapannya tanpa mau menjawabnya.
Please deh Chandra.. Luna itu bukan cenayang yang bisa tau isi hatimu kalau kamu tidak mengatakannya.
Katakan Ndra.. Katakan kalau kamu mencintai Luna.
Bersambung...
__ADS_1