
"Selamat ulang tahun, istriku." ulang Chandra lagi sembari memberi dekapan begitu hangat untuk istrinya.
Deg
Kehangatan seperti sedang menjalari hati Luna saat ini, saat suaminya berkata begitu lembut dan penuh penekanan mengatakan jika dirinya adalah istrinya.
Suaminya tengah mengakuinya bukan hanya di depannya, bukan hanya di depan Ibu dan anaknya, tapi juga di depan Jaelani sekretarisnya dan... seseorang yang..
Dan tunggu dulu, Luna teringat sesuatu dan seketika ia pun melepas dekapan hangat suaminya demi kemudian mendongak menatap wajah tampan bak Dewa Yunani itu. "Mas mempersiapkan semua ini untukku?" tanyanya bodoh yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Chandra.
"Mas memberitahu hubungan kita pada Reyna?" bisik Luna sesaat sebelum mereka mendekat dimana Reyna tengah mengobrol bersama Ibu dan anaknya.
Dan kembali Chandra mengangguk cepat sebagai jawaban yang membuat Luna membulatkan matanya. "Nanti kalau Reyna cerita sama yang lain gimana, Mas?" khawatirnya.
Chandra menanggapi kekhawatiran istrinya hanya dengan tersenyum tipis tanpa menjawab apapun.
"Kamu yang memberikan tiket liburan untuk aku dan Reyna, Mas?" Keingintahuan Luna sepertinya sedang meningkat dua puluh derajat, dan Chandra terlihat begitu sabar memberi jawaban untuk istrinya.
Mungkin jika Jaelani yang bertanya, laki-laki itu akan kontan memarahinya karna merusak hari bahagia istrinya.
"Iya.. Kamu senang bisa ke Bali, istriku?" Chandra mengakuinya dan Luna pun seketika membulatkan matanya dengan pipinya yang tiba-tiba memanas, masih tak percaya jika suaminya merencanakan semua ini untuknya, bahkan melibatkan sahabatnya yang tidak tau sama sekali tentang pernikahannya dengan Chandra dan dengan sekali lagi mendengar begitu lembut suaminya memanggilnya dengan kata 'istriku' yang mungkin baru kali ini didengarnya.
Sejenak, Luna merasa bersalah dengan Reyna karna pasti Reyna mengira ia masih belum terbuka dengannya, dan membuat ia menuduh Chandra macam-macam kemarin.
pantas Reyna tidak bertanya padaku kemarin soal aku berduaan dengan Mas Chandra, ternyata Mas Chandra sudah memberitahukannya. Tapi kapan ya Mas Chandra memberitahu Reyna tentang pernikahanku dengannya? Bukankah seingatku kemarin Mas Chandra berkata sarkasme agar Reyna tak bertanya lebih lanjut. batin Luna tanpa melepas tatapannya pada wajah tampan sang suami.
"Hei, istriku.." Chandra menggenggam tangan Luna menyadarkan wanitanya dari lamunannya. "Iya kenapa, Mas?"
"Kamu suka tidak ke Bali?" Chandra mengulangi pertanyaannya lagi dan Luna pun mengangguk disertai senyuman tulus sebagai jawaban.
__ADS_1
Mendapati senyuman tulus dan tatapan hangat istrinya yang sangat jarang terjadi itu, Chandra pun menarik lagi istrinya ke dalam dekapannya, menyapukan bibirnya berulang kali di pucuk kepala istrinya sembari mengambil sesuatu dari saku celananya.
Tapi.. baru saja Chandra hendak membuka sesuatu itu, Reyna mendekati mereka dan membuyarkan apa yang ingin dilakukan oleh Chandra untuk istrinya.
"Berduaan terus ni yeee!" Reyna meledek keduanya dan seketika Luna melepas dekapan hangat suaminya.
"Reyna.." panggil Luna sembari menatap malu sahabatnya, tiba-tiba ia merasa salah tingkah sendiri dengan terus merapikan anak rambutnya ke belakang telinganya berulang kali.
"Ehemm.. Pinjam Luna-nya sebentar ya Pak.." Reyna meminta izin pada Chandra lalu menarik Luna membawanya ke dalam dekapannya tapi tetap bersuara lantang agar Chandra juga mendengarnya. "Selamat ulang tahun ya Lun.. Semoga panjang umur dan cepat punya momongan. Aku gak sabar mau gendong keponakan baru aku."
Ucapan Reyna membuat Chandra tertawa pelan mendengarnya. " bagaimana Mau gendong keponakan baru kalau Luna aja belum pernah aku sentuh, Reyn."
"gendong ponakan baru? aku masih perawan tau, Reyn.." batin Luna tersenyum dan buru-buru melepaskan dekapan Reyna lalu menepuk lengan sahabatnya itu pelan dengan pipinya yang seketika merah merona, lagi ia menoleh pada suaminya dan suaminya itu seketika mengedipkan mata padanya dan menunjuk resort yang menurut Luna ingin meminta haknya.
Ih, Kok Luna malah yang jadi pengen banget kayaknya ya? hahahaha
"Om aku kan yang di sebelah kamu, Lun. Buruan gih kamu ucapin makasih, tadi kan katanya kamu mau berterimakasih. Sekalian deh, cium pipinya atau bibirnya biar tambah romantis bikin kejutan buat istrinya. Masa Istrinya ulangtahun cuman dibuatin pesta kecil kayak gini sama kue ulangtahun aja tanpa kado mewah gitu.. Hehe.. Peace ya, Pak. Saya cuman bercanda." Reyna memperlihatkan cengirannya sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal karna berani meledek dosen tampannya yang tak lain suami sahabatnya.
"Reyna aja peka.." Satu kalimat Chandra yang membuat Luna tersipu malu namun juga membalasnya, "Reyna aja peka.."
Dan kali ini Reyna bisa melihat Chandra tertawa keras hanya karna mendengar Luna membalas perkataan yang sama dengan apa yang telah diucapkannya pada Luna.
"Kamu berani memutarbalikkan perkataan aku sekarang ya." Chandra melangkah mengikis jarak lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya namun terhalang karna Reyna juga menarik tangan istrinya.
Luna menjadi serba salah ditarik oleh kedua orang yang menyayanginya itu. Ia bingung milih yang mana.
Chandra menatap tajam pada Reyna yang menghalanginya mendekap istrinya yang membuat nyali Reyna menciut namun juga memberanikan diri berkata agar suami sahabatnya itu peka untuk memberi kado pada Luna. "Saya akan ngelepasin tangan Luna, tapi kalau Bapak udah kasih kado ke Luna.." desaknya.
"Saya tadi mau kasih hadiah buat istri saya.. Tapi kamu kecepatan datangnya." tutur Chandra yang membuat Reyna membulatkan matanya dan lagi, melepaskan tangan Luna lalu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. "Ya maaf, Pak.. Jadi saya ganggu ya."
__ADS_1
Reyna tak perlu mendengar jawaban dari Chandra, karna menatap mata elangnya yang memberikan delikan tajam membuat Reyna sudah cukup mengerti dan.. ia pun langsung berlari yang membuat Luna hendak mengikutinya.
Suara bariton milik Chandra menginterupsi langkah Luna yang akan meninggalkannya. "Tunggu!"
"Selamat ulang tahun ya anakku, putri semata wayang Ibu.. Semoga panjang umur, sehat, jadi istri yang sholehah, jadi Mommy yang baik untuk Radit, dan semoga cepat punya momongan." doa tulus Ibu Halimah pada Luna saat Luna dan Chandra sudah duduk di dekatnya.
kenapa semua kompak berdoa tentang momongan sih. cara buatnya aja aku belum tau. batin Luna tertawa geli.
"Terimakasih ya, Bu."
"Kamu tidak mengucapkan selamat kepada istriku, Lani?" tanya Chandra dengan suara tegas dan penuh penekanan pada sekretarisnya yang tiba-tiba jadi pendiam itu yang membuat Luna menoleh pada Jaelani.
Kini, Jaelani mendapat tatapan perhatian dari semua orang yang hadir termasuk seluruh pegawai Resort yang juga disuruh Chandra untuk ikut merayakan hari lahir istrinya.
"Kan tadi saya sudah mengucapkannya, Tuan."
Nah kan.. Jaelani tetaplah Jaelani, yang bukan langsung mengiyakan perintah Chandra, tapi tetap punya alasan untuk sekadar membantahnya.
Chandra kali ini tak membalas perkataan Jaelani karna ada Ibu mertuanya yang juga mendengarnya, laki-laki itu cukup memberikan tatapan membunuh pada Jaelani yang membuat sekretarisnya itu tiba-tiba merasa susah menelan saliva. "Selamat ulang tahun, Nyonya." ucapnya akhirnya yang membuat Chandra tersenyum puas.
"Terimakasih pak Sekretaris." balas Luna tulus yang membuat Jaelani menatap Luna tidak percaya.
Bagaimana Nyonya-nya bisa berkata lembut seperti itu padanya, padahal secara terang-terangan ia menyatakan tidak menyukainya.
Bahkan tatapan mengintimidasi selalu ia berikan agar Luna menyerah dengan pernikahannya bersama Chandra.
Tapi sekarang, saat melihat semua ini. Dimana Chandra begitu perhatian dengan istrinya bahkan merayakan hari jadi istrinya, akankah Jaelani harus merubah sikapnya pada Luna?
Bersambung...
__ADS_1