
"Nona Jenifer?"
"Iya.. Ada apa Kak Jae?"
"Anda bisa menelpon Nyonya Luna sekarang?"
"Memang ada apa Kak Jae? Kenapa dengan Kak Luna?"
"Nanti bisa saya jelaskan.. Yang penting Nona telpon Nyonya sekarang, dan tanyakan pada Nyonya dimana Tuan berada."
"Heuh? Maksud kamu ini apa Kak? Aku kurang paham. Dan apa lagi? Tanya dimana Kak Chandra? Memangnya dimana Kak Chandra?"
"Nanti saya jelaskan, Nona.. Anda nanti pasti dapat semua jawaban dari pertanyaan Nona dari Saya setelah Nona menelpon Nyonya. Kalau bisa panggilan video ya, Nona."
"Heuh? Oke Kak."
Jaelani pun memutus panggilan tersambungnya dengan Jenifer yang berada di London sana saat Jenifer mau mengiyakan pintanya.
"Semoga ini bisa sedikit menebus rasa bersalah saya pada Anda, Nyonya." Ujar Jaelani dalam hatinya.
Perbedaan waktu tujuh jam lebih cepat dari Indonesia, membuat Jenifer yang baru saja melakukan makan siang bersama Darius pun langsung menelpon Kakak iparnya.
Sedangkan Luna.. Wanita cantik yang matanya basah karena air mata itu baru saja memasuki kamarnya dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Dulu.. Tidak pernah terpikirkan oleh Luna untuk menikah dengan Chandra.
Tidak pernah terpikirkan juga oleh Luna bisa mengandung calon anak dari benih suaminya yang dulunya memaksanya menikah dengannya.
Menyesal? Tentu tidak. Karena tidak semua wanita bisa merasakan mengandung sepertinya.
Sebagian kecil dari mereka harus melakukan berbagai cara agar bisa mempunyai anak untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Tapi.. Apa sekarang Luna masih boleh berharap bila dia menginginkan itu terjadi pada keluarga kecilnya?
Setelah ia mendengar dengan jelas suaminya tidak menolak maupun tidak mengiyakan permintaan Raka untuk menukarnya dengan Kinara.
Apakah tidak ada secuilpun rasa cinta yang terlihat di hati suaminya untuknya setelah kedatangan Kinara?
Apa benar Kinara--wanita itu terlalu berpengaruh pada hati dan hidup suaminya?
Lalu.. Kalau memang semua itu jawabannya iya, apa yang harus dilakukannya?
Apa pantas ia masih berada di dalam rumah mewah suaminya sedangkan suaminya tidak pernah sama sekali benar-benar menginginkannya.
Lalu untuk apa suaminya dulu mengenalkannya pada Kinara jika dia adalah istrinya, jika di hati laki-laki itu masih menetap pada Kinara dan belum beranjak sedikitpun untuknya?
Luna berderai air mata menatap tempat tidur yang biasa digunakannya tidur dan bercinta dengan suaminya.
Di tempat tidur itu jadi saksi sejarah bagaimana dulu awal pernikahannya dengan Chandra terjadi hingga Chandra begitu memperlakukannya lembut setiap melakukan kegiatan halalnya.
Kring~~~~
Ponsel Luna berbunyi menampilkan adik iparnya yang tengah menelponnya.
__ADS_1
Buru-buru Luna pun menghapus air matanya lalu menekan ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan dari Jenifer.
Panggilan tersambung..
Jenifer: Halo Kak..
Luna: Halo Jen.. Ada apa? (Dengan suara sengaunya yang tertangkap jelas di telinga Jenifer).
Jenifer: Kakak udah tidur? Aku ganggu ya Kak?
Luna: Enggak.. Kakak belum tidur Jen.
Jenifer: Belum tidur ya? Bisa video call aja enggak Kak? Aku kangen nih.
Luna: Video Call? (Tiba-tiba berdiri beranjak dari duduknya di tempat tidur)
Jenifer: Iya, Kak.. Boleh ya? Aku lagi ngidam pengen lihat wajah cantik Kakak nih. Please!
Luna mengesah mendengar pinta Jenifer, bagaimana ia mau mengiyakan jika dia dalam keadaan berantakan.
Make upnya pasti sudah tidak rapi pada tempatnya karena terkena air matanya.
Bagaimana jika nanti ada Ibu mertuanya yang selalu perfect menilai penampilan itu berada di sebelah Jenifer dan melihat penampilan kacaunya?
Apalagi nanti yang akan diperbuat suaminya untuknya jika mendapati komentar buruk tentangnya dari Ibu mertuanya?
Luna pun akhirnya berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya sebentar, lalu merapikan riasannya secepat mungkin sebelum mengiyakan pinta Jenifer.
Video call berlangsung..
Jenifer melambaikan tangannya. "Kakak.." Teriaknya bahagia.
"Jen." Luna hanya membalasnya dengan tersenyum, tidak seantusias Jenifer dan Jenifer bisa melihat jika senyum Kakak iparnya itu sebatas hanya di bibirnya, tidak sampai pada matanya.
"Kakak abis nangis ya?" Jenifer pun bertanya pada poinnya langsung setelah mengamati wajah Luna.
"Kak Chandra ngapain Kakak? Kak Chandra nyakitin Kakak?" tanyanya lagi begitu perhatian yang belum bisa dijawab oleh Luna.
Wanita cantik itu hanya tersenyum getir tanpa bisa menjawab banyak pertanyaan dari adik iparnya.
"Kak Chandra dimana, Kak? Udah tidur? Baru jam delapan malam kan disitu?" Jenifer pun kembali bertanya yang membuat Luna melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
Luna tiba-tiba menunduk, bingung mau menjawab bagaimana.
Karena ia sendiri tidak tahu suaminya berada dimana.
Apakah tadi setelah ia membentaknya suaminya itu langsung pergi ke perusahaannya karena ada meeting dengan klien pentingnya atau memilih menunggu Kinara di rumah sakit karena masih begitu mencintainya dan terjadi perkelahian lagi karena ternyata Kinara sudah menikah dengan Raka.
Satu air mata yang ditahannya pun lolos membasahi wajah cantiknya yang membuat Jenifer langsung memberondongnya dengan pertanyaan lagi. "Kak Luna menangis? Ada apa Kak? Cerita sama aku." tuntutnya geram karena baru pertama kalinya melihat Kakak iparnya itu rapuh.
"Kak Chandra ngapain Kakak? Jawab Kak.." Jenifer pun kembali bertanya setelah Luna tidak menjawabnya.
Chandra akhirnya membuka pintunya, dan bisa melihat punggung istrinya yang tengah membelakanginya dengan pundaknya yang naik turun.
__ADS_1
Istrinya begitu terluka, dan dia tidak bisa untuk berlama-lama menentukan pilihannya.
Chandra pun melangkah mendekati Luna lalu mendekapnya dari belakang sembari mencium tengkuknya.
"Kak Chandra?" Panggil Jenifer dengan menutup mulutnya yang terbuka saat melihat wajah tampan Kakaknya dipenuhi luka lebam.
"Kak Chandra berantem? Sama siapa Kak? Kenapa Kak Luna menangis?" Jenifer pun mengajukan banyak pertanyaan yang hanya dijawab senyuman pelik oleh Chandra lalu memencet ikon gagang telpon berwarna merah untuk memutuskan video call tersambungnya.
"Kenapa Mas matikan?" Luna bertanya dengan menatap lurus pada balkon depan kamarnya.
"Mas perlu bicara banyak hal dengan kamu, sayang." Ujar Chandra yang membuat air mata Luna mengalir begitu derasnya.
"Bicara apa? Tentang Mas yang mau menukar aku dengan Miss Kinara?" tanya Luna sarkas yang membuat Chandra membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya.
"Kamu salah paham sayang."
"Salah paham apa, Mas? Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Mas tidak mengiyakan juga tidak menolak permintaan Pak Raka."
"Tatap mata, Mas." tuntut Chandra dengan menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya.
Luna yang tadinya terus menunduk akhirnya pun mendongak menatap wajah suaminya yang penuh lebam.
Rasa bersalah pun kini mencuat di hati Luna saat melihat luka lebam suaminya, dia seorang istri yang harusnya langsung mengobati luka suaminya bukannya meneriaki suaminya.
"Mas tau kamu cemburu dengan kepedulian Mas pada Kinara. Mas tau Mas salah karena masih menyimpan fotonya yang mana membuatmu terluka. Mas ngaku salah karena Mas enggak bisa langsung dengan tegas menolak ciuman Kinara bahkan pertanyaan konyol dari Raka."
Chandra menghirup udara sebentar demi menjeda perkataannya, untuk melihat respon dari istrinya.
Melihat Luna yang terdiam dengan mengamati matanya mencari kebohongan dari apa yang dikatakannya membuat Chandra semakin yakin untuk menetapkan pilihannya.
Kinara sudah menikah dengan Raka. Dia sudah menikah dengan Luna.
Mungkin sudah waktunya ia menghilangkan bayangan Kinara dari hidupnya dan menata cinta yang tumbuh di hatinya untuk istrinya dan calon anaknya.
Ucapan Jaelani menyadarkannya, jika dia bukan laki-laki bodoh dan benar kata Jaelani.. Jika istrinya bukanlah wanita yang egois pada pilihannya.
"Mas mencintai kamu, Luna." sambung Chandra akhirnya yang membuat Luna mengerjapkan matanya dan seketika melepas tangan Chandra yang menangkup wajahnya.
Apa.. Mas Chandra bilang cinta? batin Luna bertanya.
Tidak munafik jika kini hatinya berbunga mendengarnya.
Kata itu yang ditunggunya keluar dari mulut suaminya.
"Sayang.." panggil Chandra dengan mencekal pergelangan tangan istrinya saat Luna berjalan meninggalkannya.
Luna menoleh menatap suaminya seakan meminta penjelasan kenapa suaminya memanggilnya.
"I love you, Luna." ujarnya lagi yang kini mampu membuat Luna akhirnya melangkah mendekatinya lagi.
"Mas salah minum obat? Mas tadi minum obat apa?" tanyanya konyol yang membuat Chandra tersenyum sembari mengikis jarak lalu mendekap istrinya sembari menghujani banyak kecupan di dahi Luna.
Bersambung..
__ADS_1