Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Extra Part 2


__ADS_3

"Sayang.." panggil Chandra pelan saat ia baru saja menarik handle pintu kamarnya.


"Sssssttt!" Luna memperlihatkan jari telunjuknya pada Chandra agar laki-laki itu diam karena Devano baru saja tertidur.


Melihat acungan jari telunjuk dari istrinya, Chandra pun mengangguk walaupun Luna tak melihatnya dan langsung duduk di sofa demi menunggu Devano terlelap dalam tidurnya dan ia bisa ngobrol berdua dengan istrinya.


Sepuluh menit kemudian, Luna pun bangkit dari tidurnya berniat ingin menuntaskan sesuatu yang terasa penuh di kandung kemihnya sembari menata kancing bajunya namun seketika memekik tertahan saat tiba-tiba Chandra memeluknya dan menyusupkan jemarinya di dalam piyama yang kancingnya baru akan dibetulkan oleh Luna.


"Mas!" sergah Luna saat Chandra melucuti kancing piyama yang baru saja dipakainya tadi saat mengajak Devano ke dalam kamar.


"Apa?" dengan muka cemberut yang menggemaskan, Chandra bertanya.


"Aku mau pipis." keluh Luna tapi tetap membiarkan suaminya itu mengeksplor tengkuknya dengan bibir tebalnya seraya membuka piyamanya.


"Kamu mau menghindari, Mas? Kamu marah sama, Mas? Mas salah apa?" Chandra bertanya juga akhirnya.


"Mas.. Aku beneran kebelet pipis." ujar Luna dengan memperlihatkan raut muka jika dia tidak sedang berbohong.


Chandra melihatnya, lalu menghela napas demi kemudian membiarkan Luna menuntaskan sesuatu yang sedari tadi ditahannya.


"Udah?" tanya Chandra dengan bodohnya saat melihat istrinya itu sudah berdiri di depannya.


"Mas lihatnya gimana?" Luna pun mencebikkan bibirnya kesal karena suaminya membuatnya sangat menginginkan, tapi seperti jual mahal.


Chandra tersenyum mendapati istrinya yang terlihat sudah tidak bisa menahan apa yang juga diinginkannya.


"Kata Jenifer, kamu tadi ngambek sama Mas. Apa benar?" tanya Chandra setelah mengecup bibir Luna sekilas.


"Enggak. Tadi kan aku bilang kalau Devano ngantuk, Mas." kilah Luna sembari memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir suaminya pada lehernya dan terpaksa berbohong karena Chandra tidak merasainya.


"Jangan bohong, Sayang. Mas enggak suka kamu berbohong sama Mas."


"Aku enggak bohong, Mas. Aku jujur kok. Aku cuman enggak mau Jenifer nanti sakit hati kalau Mas terlalu membahas kepribadianku dengan Kak Ari. Bagaimanapun kita harus menjaga perasaannya kan karena Jenifer udah tahu kalau aku dulu pernah dicintai oleh Kak Ari." ujar Luna dengan tulusnya yang membuat Chandra tersenyum bangga lalu tanpa sabar ingin segera memasuki istrinya.


Chandra merasa sangat beruntung saat ini, mempunyai istri yang selalu mengutamakan hati orang lain daripada dirinya sendiri.


Entah apa yang diperbuatnya dahulu, sehingga Tuhan memberikan istri sebaik Luna dan ia patut mensyukurinya.

__ADS_1


***


Di kamar Jenifer,


"Kak.. Udah dua ronde loh kita. Kasihan Arini diluar sama Bi Asih." protes Jenifer saat melihat Darius baru saja kembali menindih tubuhnya.


Dua menit yang lalu, baru saja Darius menggulirkan tubuhnya ke samping Jenifer dan sekarang laki-laki itu sudah terlihat begitu segar kembali setelah meraup napas sebanyak-banyaknya.


"Sekali lagi. Please!" pinta Darius begitu lembutnya yang membuat Jenifer memanyunkan bibirnya tapi juga mengangguk setelahnya.


"Terimakasih ya, Honey." ujar Darius sembari memberi kecupan di bibir Jenifer saat ia sudah mendapatkan pelepasan yang entah ke berapa kali, menanamkan benihnya seraya berdoa agar salah satu benih yang ia tanam itu cepat berbuah di rahim istrinya.


"Jangan pernah berpikiran kalau Kakak masih memikirkan Luna ya." pinta Darius sembari mengenakan kembali bajunya.


"Kakak cuman sayang sama kamu sekarang." jelas Darius lagi sembari memberi kecupan di kening Jenifer, lalu berjalan keluar untuk mengambil alih Arini dari gendongan Bi Asih.


***


Keesokan paginya..


Luna dan Jenifer kompak menyiapkan sandwich tuna untuk sarapan pagi mereka.


"Mas mau ke kantor sekarang?" tanya Luna pada suaminya saat melihat Chandra sudah rapi dengan setelan kerjanya.


"Iya, Sayang. Tadi Jaelani telpon kalau ada hal penting yang harus Mas selesaikan."


"Mas enggak jadi menemani Kak Ari dan Jenifer ke Desa A?" tanya Luna lagi, bertepatan dengan Darius dan Jenifer yang baru saja ikut bergabung di ruang makan setelah Jenifer memanggil Darius untuk sarapan bersama.


"Jadi. Mereka akan pergi ke Desa A nanti setelah Mas pulang bekerja, Sayang." jawab Chandra sembari menatap penuh cinta pada istrinya.


"Kak Chandra pulangnya sore enggak?" Jenifer pun bertanya.


"Sore.. Kalau bisa nanti setengah hari Kakak kerjanya, Jen." jelas Chandra yang membuat Jenifer menganggukkan kepalanya paham.


"Kalau kamu enggak sempat enggak usah maksain, Ndra. Aku bisa sendiri dengan Jenifer dan Arini." sela Darius tidak mau terlalu menyusahkan Chandra.


"Jenifer itu adik aku, Ri. Kamu menikah dengan adik aku." tegas Chandra yang membuat semua orang itu tidak bisa lagi membantahnya.

__ADS_1


***


Beberapa menit kemudian, Chandra pun sampai di perusahaannya dengan Jaelani yang seperti biasa sudah menunggunya di pintu masuk perusahaannya.


"Pagi, Tuan." Sapa Jaelani saat Chandra memasuki perusahaannya.


"Pagi, Jae." balas Chandra yang membuat Jaelani tersenyum mendengarnya.


Mempunyai anak ternyata bisa merubah panggilan Chandra untuknya.


Dan Jaelani senang mendengarnya.


"Ada apa kamu senyum-senyum seperti itu? Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan sama aku, Jae." tanya Chandra dengan suara tegasnya saat mereka berdua sudah masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai teratas dimana ruang kerja Chandra dan Jaelani berada.


"Saya tersenyum karena senang Tuan sekarang sudah konsisten merubah panggilan Tuan pada saya. Saya senang sekali, Tuan." ungkap Jaelani.


"Itu semua karena Luna. Luna yang memintaku untuk merubah panggilanku padamu, karena dia takut nanti aku terbiasa dengan panggilan itu dan Devano mendengarnya lalu memanggilmu seperti itu. Luna enggak mau anaknya menjadi anak yang tidak sopan pada orang yang lebih tua nantinya, Jae." jelas Chandra panjang lebar dengan tersenyum membayangkan wajah Luna yang sedang tersenyum saat berkata padanya.


Istrinya itu memang mampu mengubah kepribadiannya menjadi jauh lebih baik lagi dan lagi.. Chandra patut bersyukur memilikinya.


"Sampaikan ucapan rasa terimakasih saya pada Nyonya ya, Tuan. Saya sangat berterimakasih padanya."


"Iya.. Memang kamu patut berterimakasih padanya, Jae. Nanti aku sampaikan." balas Chandra dan seketika ia pun teringat dengan hal penting yang ingin dibicarakan Jaelani padanya. "Hal penting apa yang tadi yang akan kamu beritahu padaku, Jae?" tanyanya.


"Hal penting tentang Diamond Grup, Tuan."


"Diamond Grup?" ulang Chandra dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya, Tuan. Diamond Grup. Pemiliknya memberikan saham sebesar tiga puluh persen untuk CA CORPS. Milik Tuan." jelas Jaelani yang membuat Chandra langsung menoleh seraya berbalik badan pada Jaelani yang berdiri di belakangnya.


"Diamond Grup memberikan saham sebesar tiga puluh persen pada perusahaanku, Jae?" ulang Chandra lagi yang membuat Jaelani menganggukkan kepalanya.


"Siapa yang datang memberikannya, Jae? Apa Papanya Raka?" tuntut Chandra.


"Asisten pribadinya yang datang memberikannya, Tuan. Anda bisa meneliti berkas yang ditinggalkannya yang sudah ada di meja kerja, Tuan." jelas Jaelani yang membuat Chandra langsung berbalik badan untuk mengecek berkas pemberian saham dan siapa yang telah memberikannya.


Dan lagi, apa maksudnya?

__ADS_1


...


__ADS_2