Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Bertemu Mantan


__ADS_3

"Kamu pemilik CA Corps., Mas?" tanya Luna saat melihat tulisan CEO di meja kerja suaminya, dan Chandra pun menganggukkan kepala membenarkannya.


"Heuh? Aku istri seorang CEO CA Corps.?" gumam Luna lirih pada dirinya sendiri sembari menutup mulutnya dengan tangannya yang masih bisa didengar oleh Chandra dari kursi kebesarannya.


"Kenapa memang? Kamu gak suka?" sahut Chandra yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop di depannya.


"Gimana ya Mas?" Luna bingung mau menjawab apa sembari menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Gimana apanya? tinggal jawab suka aja kok susah." Chandra menaikkan alisnya menatap Luna yang kini duduk di sofa ruang kerjanya.


"Ya.. Iya deh. Suka." Luna menjawab kaku perkataan Chandra karna ia masih shock dengan apa yang baru saja ia ketahui.


Chandra tersenyum tipis, tanpa Luna sadari ia sedang mempersiapkan kejutan untuk istrinya.


****


Dress selutut yang didominasi warna maroon itu begitu melekat di tubuh Luna dan sangat sesuai dengan selera Chandra.


Luna juga terlihat lebih cantik dengan make up flawlessnya yang membuat Chandra tak tahan untuk tidak mengecup pipi istrinya.


Cup


Chandra tersenyum tipis setelah mengecup pipi istrinya.


Dan saat Luna tak marah ataupun melarangnya, ia pun melancarkan kecupannya lagi di pipi sebelahnya, lalu kening dan bibir yang dipoles warna nude itu.


Cup


Cup


Cup


Sedikit puas bisa mengecup istrinya, Chandra pun berbalik badan untuk mengambil jas berwarna maroon yang senada dengan dress istrinya.


Menatap pantulan cermin di depannya, Luna hanya bisa tersenyum tak bisa melarang suaminya melakukan kecupan di wajahnya.


***

__ADS_1


Jam merujuk pukul setengah tujuh malam, Chandra menggenggam tangan Luna keluar dari perusahaannya menuju rumah Permana.


Lagi-lagi, Luna tersenyum manis saat Chandra memperlakukannya saat masuk mobilnya bak seorang ratu dalam hidupnya.


Laki-laki itu menaruh tangannya di atas pintu agar kepala istrinya tidak terkena pintu dan memakaikan seat-beltnya dengan napas memburu yang mereka berdua bisa rasakan.


Debaran yang kencang pun bisa Chandra dan Luna rasakan dari keduanya saat mereka dalam posisi sedekat itu.


Chandra terlihat impulsif lagi saat menatap bibir yang baru dikecupnya, dan tak tunggu lama, laki-laki itu mendaratkan bibirnya kembali di bibir Luna, dan kali ini memagutnya.


Gerakan perlahan yang dibuat oleh Chandra belum bisa dibalas dengan baik oleh Luna karna itu baru pertama kali olehnya.


Chandra pun harus sedikit puas karna Luna tak membalas pagutannya, sehingga lidahnya belum bisa mengeksplor ke dalam mulut Luna.


Lalu, tanpa diduga-duga laki-laki itu memberikan lipstick pada Luna dari dalam saku celananya yang membuat Luna terkekeh geli.


"Mas.. ngapain ngasih aku lipstik?" tanyanya pura-pura bodoh seraya menahan tawa gelinya.


"Buat jaga-jaga." jawab Chandra seraya memalingkan wajahnya lalu menutup pintu dan memutari setengah mobilnya untuk masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya dan menghalau pandangan Luna agar wanita itu tak melihat rona merah yang kini menghiasi wajah Chandra.


"Jaga-jaga apa?" pancing Luna dengan senyum yang sedari tadi tak luntur menghiasi wajahnya.


"Oh gitu.. Kan Mas tadi bisa lhooo nyuruh aku buat bawa lipstik. Biar Mas gak perlu repot-repot ngantongin lipstik segala." ujar Luna dengan memiringkan wajahnya menatap suaminya yang kini tersenyum sembari mengemudikan mobilnya.


Chandra yang merasa malu, akhirnya hanya bisa diam hingga mereka sampai di kediaman rumah mewah milik Paman Permana.


"Pengantin baru kita sudah sampai, ayok masuk." ajak Permana pada keponakan dan menantu keponakannya.


Chandra menganggukkan kepala, lalu menarik pinggang Luna mengajaknya masuk dan Luna yang melihat suaminya bertindak impulsif sedari tadi merasakan ada motif lain dibalik semua ini.


"Chandra.." seru wanita cantik yang memakai mini dress yang begitu ketat hingga memperlihatkan lekukan tubuhnya yang begitu mempesona.


Luna seketika rendah diri saat melihatnya.


Tapi tunggu, wanita cantik itu langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah menyapa suaminya, dan Luna hanya bisa menatap suaminya yang rahangnya sudah mengeras dan tak berani menanyai siapa wanita itu.


Beberapa langkah memasuki rumah Permana, sampailah mereka berdua di ruang makan dan barulah Luna melihat lagi jika wanita yang memakai mini dress tadi duduk di atas pangkuan seorang laki-laki yang mungkin usianya lebih matang dari suaminya.

__ADS_1


"Hai Chan.." sapa laki-laki yang dipanggil Kenzie itu.


Chandra terlihat malas dan tak menanggapi sapaan kakak sepupunya dan Luna pun kembali bertanya-tanya.


"Duduk Chan.. Duduk nak Luna." pinta Permana yang kini sudah duduk di kursinya dan mau memulai makan malam mereka.


Luna tersenyum lalu duduk di kursi tepat di sebelah Chandra karna adik Kenzie yang biasanya menghibur Chandra sedang diluar negeri.


Beberapa menit makan malam itu berlangsung tanpa suara dan Luna bisa merasakan jika ia perlu banyak belajar lagi untuk menyesuaikan diri, karna ia sendiri yang terlihat susah payah memakan makanannya tanpa menimbulkan suara di piringnya.


"Luna.. Ini Kezia.. Calon menantu Paman." Permana mengenalkan Luna pada calon menantunya, yang tak lain mantan Chandra.


"Halo Luna.. Aku Kezia.. Aku mantannya Chandra." ujar Kezia memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya pada Luna.


Luna terasa susah menelan salivanya, insecure sudah pasti. Tapi saat ia hendak membalas uluran tangan Kezia, tangannya dicekal oleh Chandra dan terpaksa Kezia pun menarik tangannya kembali sembari duduk kembali di atas pangkuan Kenzie.


"Aku Luna, Kak." balas Luna sembari tersenyum tipis yang dipaksakannya karna melihat suaminya yang sedari tadi terlihat muak.


"Chandra... Kamu ikut Bibi yuk." Bibi Maria mencoba mencairkan suasana, tapi punya maksud lain di dalamnya sembari mengedipkan mata dengan Kezia.


Tadi, Jaelani sudah menelponnya untuk rencana yang telah ia susun dan Bibi Maria membutuhkan Kezia untuk melancarkan aksinya.


Ia ingin membuat Luna rendah diri dan sadar diri jika dia hanya janda beranak satu yang tidak pantas untuk Chandra.


Suasana hati Chandra yang tidak baik karna bertemu mantan dan sepupunya yang telah menghianatinya pun mengikuti Bibi Maria yang mengajaknya ke taman samping rumahnya bersama Permana dan tak menyadari jika dia telah meninggalkan Luna untuk bertiga dengan Kenzie dan Kezia.


Kezia mendekat pada Luna, dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Chandra.


"Anak kamu mana, Lun? Kenapa gak kamu ajak? Kamu malu mengakui kalau kamu dulunya seorang Janda beranak satu?" Kezia mulai melancarkan serangannya yang membuat Luna menatap nanar pada taman di sebelah rumah Permana, dimana suaminya berada.


Merapalkan doa dalam hati, Luna hanya diam sembari tetap menatap taman itu, berharap suaminya ingat padanya dan menyusulnya.


"Luna seorang Janda beranak satu?" Kenzie bertanya pura-pura belum mendengarnya.


"Iya.. Dan dia menikah dengan Chandra hanya mau hartanya, honey." Kezia menimpali perkataan Kenzie menyudutkan Luna.


"Mau hartanya? Berarti Chandra sudah dibodohi honey?" Kenzie semakin melancarkan aksinya saat melihat Luna menitikan air mata.

__ADS_1


"Iya.. Chandra kan memang bodoh, honey." Kezia melantangkan perkataannya dan tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya dan mendengar semuanya.


Bersambung..


__ADS_2