
"Tuan.. Tuan Darius terlihat seperti dalam keadaan marah saat tadi keluar dari ruangan Anda." Jaelani meningkatkan kekepoannya kembali.
"Biarkan saja, Lan." Chandra terlihat acuh tapi dalam hati laki-laki itu membenarkan perkataan Jaelani.
"Memang apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?" Jaelani tidak bisa mencegah rasa ingin tahunya yang tinggi.
Chandra yang tadinya mematuti layar laptopnya, langsung menyandar dan memijit pelipisnya perlahan. "Dia tidak terima karena aku menjalin kerja sama dengan Diamond Grup." Alasan yang dipakai Chandra untuk menjawab kekepoan Jaelani dan juga tidak berbohong.
"Kenapa dia harus tidak terima? Bukankah Tuan selalu memikirkannya matang-matang sebelum Tuan mengambil keputusan final?"
"Dia begitu karena dia tahu bagaimana kinerja Diamond Grup yang begitu licik, Lan. Tapi aku yakin aku bisa bermain cantik untuk menghadapi orang licik seperti mereka." tegas Chandra dengan senyum menyeringai yang tercetak jelas di wajahnya.
Jaelani menganggukkan kepalanya paham, dan akhirnya mereka pun saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
***
"Ke Mall? Memangnya dia siapa, Lun?" Reyna pun bertanya akhirnya saat Luna tidak kunjung menjawab ajakan dari Darius.
"Dia Kak Ari, Reyn.. Dia dulu tetanggaku, dan Kak Ari.. Ini Reyna, sahabatku." Luna pun langsung menjawab saat Reyna bertanya.
Darius menghela napas pelan, sepertinya ia harus cukup tau diri saat Luna memperkenalkannya hanya dulunya mereka tetangga, bukan seorang kekasih.
"Reyna.."
"Darius.."
Reyna dan Darius pun saling bersalaman guna berkenalan.
"Gimana, Lun? Kamu belum jawab ajakanku. Mau ya ke Mall sama aku?" Darius tidak menyerah untuk bertanya mengulangi permintaannya.
"Aku ke toilet dulu, Kak." jawab Luuna yang tidak mengiyaka ataupun menolak. Ia pun akhirnya menghindar, ia harus bertanya dahulu pada suaminya apa benar jika suaminya itu telah mengizinkannya untuk pergi bersama Darius.
*Masih di kantin.
"Kak Ari suka ya sama Luna?" tembak Reyna saat melihat tatapan penuh cinta yang selalu diberikan Darius sedari tadi pada sahabatnya.
Bahkan saat Luna meminta izin akan ke toilet, laki-laki itu terus memusatkan perhatiannya dimana Luna melangkah walau sekadar melihat punggungnya karena Luna tetap bersikap enggan menatapnya.
Bisa saja Reyna diam tak bertanya, tapi sebagai seorang wanita ia tau jika Darius mencintai sahabatnya.
Dan faktor yang mendukungnya untuk bertanya karena Luna sudah ada yang punya, dia seorang istri dari dosennya bernama Chandra Abimana.
"Iya.. Aku mencintainya, Reyna." aku Darius tanpa tau malu dan tanpa menghargai Chandra.
Padahal Chandra begitu menghargainya.
__ADS_1
"Tapi Luna sudah ada yang punya, Kak." Reyna pun memberi tahu fakta yang Darius sudah ketahui.
"Ya.. Aku tahu." tegas Darius dengan memesan minuman di kantin tersebut pada penjualnya.
"Kalau Kakak sudah tahu kenapa Kakak masih ingin mengejarnya?" Reyna pun tidak habis pikir dengan laki-laki yang duduk di depannya.
"Karena aku mencintainya." tegas Darius yang membuat Reyna menggelengkan kepala seraya memutar bola matanya jengah.
"Kak.. Orang mencintai itu bukan berarti harus memiliki." jelas Reyna yang membuat Darius mengepalkan tangannya. "Perkataan itu hanya berlaku untuk orang yang tidak mau berusaha." timpal Darius tidak terima.
"Tidak mau berusaha? Kak.. Kalau Luna masih single mungkin iya Kakak masih bisa berusaha. Tapi ini Luna sudah mempunyai suami Kak.. Suaminya Luna itu dosen kami." jelas Reyna yang membuat Darius menatapnya jengah.
"Kamu hanya anak kecil yang tidak tau apa-apa." ketus Darius tanpa rasa bersalahnya menghina Reyna.
Reyna melongo, menatap tak terbaca pada laki-laki yang baru dikenalnya dan menghinanya. "Kalau aku masih anak kecil, berarti Luna juga masih kecil dong, Kak." Reyna pun tidak mau kalah.
"Beda.. Kamu sama Luna itu beda." timpal Darius dengan nada disertai tampang datarnya.
Reyna bersemangat sekali dengan timpalan dari Darius, wanita itu menganggukkan kepalanya berulang kali. "Kakak benar.. Aku dan Luna itu memang berbeda. Aku masih single dan Luna sudah ada yang punya."
"Ck! Aku mau dekatin Luna atau tidak, itu bukan urusan kamu." ketus Darius kembali melihat wajah tenang yang ditunjukkan oleh Reyna.
"Bakal jadi urusanku kalau Kakak tidak mau berhenti ingin merusak rumah tangga Luna dan Pak Chandra." bantah Reyna to the point yang membuat Darius semakin mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Aku tidak merusak kebahagiaan orang lain. Karena kebahagiaan Luna itu bersamaku." Darius tetap kekeh dengan keyakinannya.
"Oh ya? Kakak tau darimana? Sepertinya Kakak salah deh.. Soalnya dari sepengamatanku tadi saat melihat interaksi yang terjadi antara Kakak dengan Luna.. Luna terlihat terus menghindari dan tidak nyaman dengan kehadiran Kakak." ungkap Reyna sesuai dengan apa yang tadi dilihatnya.
Dan lihatlah, Darius sekarang terlihat gusar, lalu menatap ke sembarang arah mendapat pertanyaan bernada sarkasme dan menyindir dari Reyna.
Laki-laki itu tidak bisa menyangkal karena memang benar adanya Luna sedari tadi tidak mau menatapnya.
Reyna yang melihat Darius tidak setenang dan tidak seenaknya seperti tadi tersenyum puas.
****
Di depan toilet.
Sesampainya Luna di toilet, Luna tidak masuk ke dalam toilet itu melainkan mencuci mukanya di wastafel.
Entahlah.. Hari itu dia merasa lemas dan tidak bersemangat sekali untuk mengikuti kuliyah.
Ditambah kedatangan Darius membuatnya semakin jengah karena laki-laki itu belum bisa menerima jika dia telah menikah.
Wanita itupun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu mencari kontak yang sekarang ia beri nama "My husband" itu lalu menekan ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menelponnya.
__ADS_1
Baru dering kedua, Chandra pun menjawab panggilan tersebut.
Panggilan tersambung..
Chandra: Halo, sayang.
Luna: Halo, Mas. Mas lagi sibuk enggak?
Chandra: Enggak.. Mas baru saja selesai meeting. Ada apa?
Luna: Emm.. Mas beneran kasih izin buat Kak Ari buat ngajak aku ke Mall?
Chandra: Enggak.. Mas enggak kasih izin sama dia.
Luna: Syukurlah.
Chandra: Darius ke kampusmu ya?
Luna: Huum Mas.. Sekarang dia sedang di kantin sama Reyna. Dari tadi dia maksa aku.
Chandra: Mas perlu kesitu enggak?
Luna: Buat apa, Mas?
Chandra: Buat ngeyakinin Darius kalau kita beneran suami istri. Mas jadi ragu sama kepintaran dia sekarang, sayang.
Luna (tertawa pelan): Mas bisa aja, ih.
Chandra: Bisa lah. Mas bisa lakuin apapun untuk kenyamananmu. Kamu pasti enggak nyaman kan diintilin terus sama Darius?
Luna: Iya, Mas.. Aku enggak nyaman banget memang. Apalagi sikap pemaksanya yang sekarang bikin aku pengen mual aja terus dari tadi.
Chandra: Kamu mual? (fokusnya pada perkataan Luna bagian belakang).
Luna: Iya, Mas.. Aku juga enggak selera makan dari tadi.
Chandra: Makanlah sayang.. Nanti kamu sakit.
Luna: Iya, Mas.
Chandra dan Luna pun memutus panggilan yang tersambung itu setelah Luna mengiyakan berbagai nasihat baik dari Chandra untuknya.
Menghela napas pelan, Luna pun berjalan menuju kantin kembali dimana Reyna dan Darius berada untuk memberi jawaban yang baik yang tidak menyinggung hati Darius.
Bersambung..
__ADS_1