
"Apa ini Tuan?" tanya Jaelani saat melihat paperbag yang dibawa oleh Chandra dan dia tidak boleh menyentuhnya.
Suatu kebiasaan baru yang Jaelani temui dari Tuannya, karna biasanya Tuannya itu selalu membolehkannya membawakan apapun yang dibawanya ke perusahaan termasuk tas kerjanya.
"Ini bekal dari istriku." jawab Chandra sembari menetralkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat kala lagi-lagi mengakui Luna sebagai istrinya.
"Oh.. Istri Tuan yang Janda itu?" sindir Jaelani sembari memutar bola matanya.
"Stop! Janda itu sekarang istriku, Lani. Jangan menyebutnya Janda lagi atau gajimu akan aku potong lima puluh persen." tegas Chandra sembari memasuki lift menuju ruang kerjanya yang berada di lantai teratas.
Ada rasa tidak terima setiap kali Jaelani menghina istrinya. Entah apa yang ia rasakan, suatu rasa yang ingin ia pungkiri setiap menatap bola mata jernih milik istrinya.
Rasa ingin melindungi dan bertanggungjawab atas istrinya mengalir begitu saja di hati Chandra, walaupun ia belum mempunyai rasa Cinta.. tepatnya belum menyadari perasaan yang mulai timbul dihatinya.
"Kenapa sekarang Tuan sering mengancam saya?" tanya Jaelani tak terima, bagaimanapun ia lebih mengenal Chandra lebih dahulu daripada Luna, dan dia tidak mau serba dimarahi hanya karna menyindir wanita yang telah menjadi istri Chandra itu yang memang statusnya Janda mulanya.
"Karna kamu banyak bicara."
"Bukankah Tuan sudah mengenal saya selama ini? Saya memang seperti ini kan Tuan. Dan Tuan tidak pernah mempermasalahkan itu."
Chandra menggeram kesal, "CK! Tapi yang kau bicarakan itu istriku, Lani."
"Istri yang terpaksa Tuan nikahi kan? Apa Tuan mulai mencintai wanita itu sehingga Tuan tidak terima saya mengatainya?" tanya Jaelani yang membuat Chandra seketika terdiam.
Laki-laki itu malah terbayang wajah cantik nan polos Luna yang baru tadi pagi menyiapkan sarapan untuknya.
Wajah penuh raut senyum saat menyiapkan sarapan untuknya itu memang membuat hatinya menghangat. Dan.. Apakah itu Cinta? Chandra menggelengkan kepala, menepis pikiran itu dari pikirannya.
Tidak.. Ia tidak boleh terlalu cepat mencintai wanita, hatinya belum siap patah kembali jika nanti menyadari Luna tidak punya rasa apa-apa darinya.
"Tidak.. Saya tidak mencintainya." tegas Chandra penuh penekanan sembari menatap pantulan dirinya di dinding lift.
"Baguslah, Tuan." Jaelani merasa lega karna ia akan mempunyai kesempatan untuk membuat Tuannya itu menceraikan istrinya yang hanya bekas orang lain.
Chandra tak mendengarkan perkataan Jaelani, ia hanya fokus ke depan, berjalan menuju ruangannya sembari meletakkan tangannya di depan dada saat menyadari ada rasa sakit yang menyeruak saat ia mengatakan tak mencintai istrinya.
Lalu, rasa apakah yang kini sedang bergelung di hatinya? Mungkin Chandra perlu mendownload sebuah aplikasi yang bisa mengartikan perasaan yang kini hinggap di hatinya.
***
Luna yang sedang berada di dalam mobil bersama pak Mun-sopirnya menuju kampusnya, hanya bisa melamun menatap jalanan melalui kaca jendela yang ada di sampingnya.
Lagi-lagi ia memikirkan perkataan Bi Asih dan jawaban Chandra yang seakan membuatnya meragu sekaligus takut akan mencintai laki-laki yang tak mencintainya.
Dering panggilan pada ponselnya berbunyi mengalihkan Luna dari lamunannya.
__ADS_1
Muncul nama "Raka Dosen" saat ia sudah menemukan handphonennya di dalam tasnya, dan ia pun tanpa menunggu lama langsung menekan ikon berbentuk gagang telpon berwarna hijau untuk menjawabnya.
Panggilan tersambung...
Luna: Hallo, Pak.
Raka: Hallo.. Kamu nanti ada waktu, Lun?
Luna: Waktu? Ada apa ya Pak?
Raka: Saya perlu bicara sama kamu, nanti setelah pulang kuliyah kita ketemu ya.
Luna: Ketemu dimana, Pak?
Raka: Di Cafe Pelangi. Bisa kan, Lun?
Luna: Oh.. Bisa Pak.
Raka: Oke.. Sampai nanti, Lun.
Luna menjawab "iya" dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
***
"Hallo Kak.." sapa Jeni dengan suara cemprengnya lewat sambungan telepon yang baru saja tiba di bandara.
"Aku sudah sampai di Indonesia, Kak."
"Hah? Ulangi coba, Kamu bilang apa tadi Jen?" tanya Chandra memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.
"Aku di Indonesia Kak.. Nanti Kakak jemput aku ya, di Cafe Pelangi. Aku mau ketemuan dulu sama seseorang."
"Kakak lagi sibuk. Lagian kamu ngapain ke Indonesia? Bukankah kamu seharusnya kuliyah? Dad dan Mom tau kamu ke Indonesia?"
"Aku gak bilang sama Dad dan Mom.. Aku hanya ingin kenalan sama kakak ipar aku. Kakak nikah gak ngundang aku sih.."
"Buat apa aku ngundang kalian.. Emang kalian peduli sama kakak?"
"Kak.. Dad dan Mom sayang sama Kakak."
"CK! Aku gak percaya."
"Ya udah.. Yang penting nanti kakak jemput aku ya, kalau kakak gak jemput aku, aku bakalan lapor sama Dad dan Mom kalau Kakak menelantarkan adiknya yang cantiknya kebangetan ini disini." tandas Jeni lalu mematikan sambungan teleponnya.
Jenifer Abimana adalah adik kandung Chandra Abimana yang juga tinggal di luar negeri. Berbeda dengan Chandra, hidup Jeni begitu disayang dan dimanja oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Ck! Sial!" Chandra mengumpat karna kesal adiknya itu selalu mengancamnya jika menginginkan sesuatu.
"Ada apa Tuan?" tanya Jaelani saat mendengar umpatan dari mulut Tuannya.
"Jeni disini, Lan."
"Nona Jeni disini? Apa saya harus menjemputnya Tuan?"
"Tidak usah.. Sepuluh menit lagi ada meeting dengan perusahaan kosmetik. Lagian Jeni tidak mau dijemput sama kamu. Katanya kamu cerewet." Chandra berkelakar untuk mengusir rasa kesal yang hinggap dihatinya.
"Cerewet? Bukankah Nona Jeni senang jika bertemu saya, Tuan? Saya yang menanggapi jika Nona Jeni berkata apapun yang ingin diceritakannya dan memberengut kesal jika Tuan tidak menanggapi perkataannya. Betul kan Tuan?" tanya Jaelani mengernyitkan dahinya heran.
"Kau sadar tidak? Dari tadi saya bilang satu kalimat, kamu balas lima kalimat. Apa itu tidak cerewet namanya?" ujar Chandraw yang membuat Jaelani menatapnya dengan tanda tanya.
"Sepertinya kepergianmu memperjuangkan cintamu membuahkan hasil." ujar Chandra yang membuat Jaelani tersenyum geli padanya.
"Tidak sepenuhnya berhasil, Tuan. Karna dia masih membutuhkan waktu untuk mengurus semuanya."
"Tapi mood kamu jadi baik dan cerewet lagi setelah dari sana."
"Itu karna saya mendapatkan vitamin K darinya Tuan." jawab Jaelani jujur tanpa ada yang ditutupi.
"Vitamin K? Apa itu?"
"Vitamin Kiss, Tuan." jawab Jaelani sembari menunduk, malu.
"Kiss? Kamu sudah berbuat kurangajar dengan anak gadis orang, Lani?" tanya Chandra yang seketika mengetukkan penanya dengan begitu kencang karna kesal atas perkataan Jaelani.
Tak memungkiri jika dia tidak pernah berpacaran sebelumnya, tapi ia selalu menjaga harkat martabat seorang wanita yang dicintainya dengan belum pernah menyentuhnya, apalagi kiss.
Kiss di matanya lebih dari sekedar ciuman dan menjurus hal yang akan merugikan wanita.
"Saya tidak merusak anak gadis orang, Tuan. Kami saling memberi vitamin Kiss karna kita saling suka."
"Tapi kalian bukan suami istri, Lani." tandas Chandra tak terima.
"Lalu, Tuan dan Janda itu sudah pernah ciuman belum?" tanya Jaelani hati-hati.
"Janda?" tanya Chandra dengan melirik tajam Jaelani.
Mental Jaelani menciut mendapatkan tatapan membunuh dari Tuannya. "Maaf Tuan.. Maksud saya Istri Tuan. Apa Kalian sudah pernah berciuman?"
"Lalu apa urusannya sama kamu? Mau kamu potret kalau kamu tau." tandas Chandra tak menjawab pertanyaan Jaelani dan tersenyum kala mengingat ia pernah mencium hidung Luna hanya karna wanita itu mengaduh karna bekas sentilannya.
"Tidak Tuan.. Saya tidak berani kalau Anda tidak memerintahkan saya untuk mempotretnya." ujar Jaelani yang membuat Chandra menganggukkan kepala dan mereka pun bergegas ke ruang meeting karna CEO perusahaan kosmetik sudah sampai di kantornya.
__ADS_1
Bersambung...