
*Toko Buku
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dengan menaiki taksi.. melewati jalanan macet bukan dengan motor milik Reyna.. karena Luna memikirkan kandungannya pun sampailah mereka di sebuah toko buku.
Hati Reyna senang tidak terkira setelah menginjakkan kakinya di toko buku tersebut, berbeda dengan Luna yang terus memikirkan suaminya yang belum menghubunginya untuk sekadar bertanya sedang apa.
Reyna yang terus bertanya tentang buku mana yang cocok untuk dijadikan referensi pun tak terlalu diindahkan oleh Luna.. Wanita cantik itu hanya terus mengangguk tanpa memberi saran.
"Kamu kenapa sih, Lun? Aku itu nanya sama kamu mana buku yang bagus.. Tapi kamu jawabnya iya aja terus dari tadi. Jadinya yang bagus yang mana?" gerutu Reyna dengan memegang beberapa buku yang tadi diiyakan oleh Luna.
Mendengar gerutuan sahabatnya, Luna pun memfokuskan kembali pikirannya pada Reyna. "Bagus yang ini, Reyn. Lebih lengkap muatannya dengan apa yang kita butuhkan." jelas Luna dengan mengambil salah satu buku yang dipegang Reyna.
"Gitu dong dari tadi seharusnya, Lun.. Jadi aku kan enggak usah bawa buku sebanyak ini kalau ujung-ujungnya harus aku kembaliin ke raknya." gerutu Reyna lagi.
Luna terkekeh, "Kalau mau kamu beli semuanya, Kasir dan yang punya toko juga bakal ngebolehin kok." kelakarnya yang membuat Reyna seketika menjitak kepala Luna.
"Aww..."
"Enak aja. Mending buat aku shoping kali, Lun." balas Reyna dengan memajukan bibirnya.
"Lha ini kan sama saja shoping, Reyn. Malah bermanfaat loh." timpal Luna yang membuat keduanya pun akhirnya tertawa.
"Iya ya.. Yang istrinya dosen sekarang pinter nasehatin aku ya." ujar Reyna yang membuat Luna seketika tersenyum lalu mereka pun berjalan menuju kasir untuk membayar buku yang mereka beli.
Kurang tiga langkah dari kasir, Luna menghentikan langkahnya dengan Reyna pun yang akhirnya ikut berhenti melangkah lalu menoleh pada Luna.
"Ada apa, Lun?" tanya Reyna dengan bergantian menatap Luna dan arah tatap Luna.
Di depan kasir itu ada seorang wanita cantik yang menggunakan dress selutut berwarna khaki, dipadukan stiletto berwarna senada dan shoulder bag berwarna senada pula.
Wanita cantik itu berambut pirang, alisnya tebal, bibirnya tebal, hidungnya mancung, dan saat menoleh, Luna sangat tau persis wanita itu adalah wanita yang fotonya tadi pagi ia temukan di laci meja kerja suaminya.
*orang mana wanita itu? modis dan sangat cantik, persis yang sangat diinginkan Mas Chandra saat akan merubah penampilan dan kebiasaanku dulu saat di Bandung.
Apa Mas Chandra merubah penampilanku seperti ini karena dia masih mencintai wanita itu? Luna pun mendadak insecure kembali melihatnya. Apalagi, daripada fotonya, wanita itu jauh lebih cantik dua kali lipat aslinya*. batin Luna bergejolak.
__ADS_1
"Lun.." Reyna pun menepuk pelan lengan Luna, menyadarkannya.
Luna tersadar, wanita cantik itu mengerjapkan matanya.
"Ada apa, Reyn?" Luna pun bertanya.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi kelihatan kayak ngelamun, terus katanya terharu karena lagi hamil. Masa iya kalau hanya karena kamu tau kamu hamil kamu sampai ngelamun terus dari tadi, Lun? Dan tadi.. siapa yang kamu lihatin seperti itu sampai aku tanya kamu enggak denger?" Reyna pun mulai curiga.
"Aku enggak lihatin siapa-siapa, Reyn. Kamu salah lihat kali. Aku juga enggak ngelamun kok, tadi itu aku lihat bapak-bapak yang sepertinya mirip Ayahku." jawab Luna sendu dan juga tidak berbohong, karena memang tadi ia juga sempat melihat laki-laki seperti Ayahnya yang berada di luar toko buku tersebut dan menaiki sebuah mobil mewah.
maaf ya Reyn.. aku harus bohongin kamu tentang wanita yang aku lihat tadi. batin Luna menyesal.
"Kalau enggak ngelamun.. enggak mungkin kamu lama jawabnya saat aku panggil Lun.." Reyna pun geram akhirnya, karena sahabatnya itu terus berusaha menutupi apa yang kini sedang dipikirkannya.
"Udah ah.. Bayar aja dulu bukunya, baru lanjut ngobrolnya." Luna pun menepuk lengan Reyna pelan, mengalihkan pembicaraan yang dijawab anggukan kepala lemah oleh Reyna.
Sejujurnya, Reyna ingin mengetahui apa yang kini tengah dipikirkan sahabatnya.
****
Jam merujuk pukul dua belas malam.. Chandra yang masih berada di lokasi proyeknya pun mengesah, karena proyeknya itu masih kurang lima persen lagi dan waktu yang dibutuhkannya pun tinggal enam jam lagi.
"Apa tidak ada lagi pekerja yang sanggup bekerja untuk menyelesaikan proyek ini, Lan?" Chandra pun bertanya dengan raut wajah lelahnya ditengah-tengah keputusasaannya memandang proyeknya yang belum jadi.
"Sepeertinya tidak ada, Tuan. Saya sudah menghubungi seluruh teman saya dan mereka tidak bisa." Jaelani pun berujar dengan menunduk sembari menggelengkan kepala.
Laki-laki itu kasihan dengan Tuannya. "Para pekerja sepertinya juga sudah kelelahan, Tuan. Dari pagi mereka tidak beristirahat. Mereka berhenti cuma untuk makan dan minum." sambung Jaelani yang membuat Chandra menganggukkan kepala membenarkannya.
"Beri bonus tiga kali lipat untuk mereka, Lan." titah Chandra yang membuat Jaelani mengernyitkan dahinya.
"Tapi, Tuan.. Bukankah jika proyek ini tidak selesai besok pagi, Tuan akan kehilangan sebagian aset Anda." Jaelani seolah mengingatkan.
"Aku tau... Dan aku yakin proyek ini akan selesai besok pagi." ujar Chandra mantap, entah apa yang membuatnya begitu yakin seperti itu.
Sepertinya ia yakin jika keajaiban itu pasti ada.
__ADS_1
Tapi, satu hal yang pasti. Tuhan itu tidak tidur, dan usaha tidak akan menghianati hasil.
"Semoga, Tuan."
Satu jam kemudian.. tiba-tiba masuk ke dalam lokasi proyeknya beberapa truk dengan membawa banyak pekerja yang mampu mengalihkan perhatian Chandra.
Pekerja itu lengkap dengan semua yang dibutuhkan Chandra untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Darius..
Ya.. Laki-laki itu, sahabatnya itu yang turun dari kemudi truk paling depan dan membuat Chandra terperangah.
apa maksud Darius? batin Chandra bertanya.
"Broo.. Gue enggak telat, kan?" Darius menepuk pundak Chandra, seperti biasanya.
"Mereka semua darimana?" Chandra pun bertanya dengan menatap pekerja yang sudah turun dari truk.
"Dari Desa A.. Tempat tinggal gue dan Luna dulu." jawab Darius yang membuat Chandra menoleh menatapnya.
"Gue cuma mau bantu lo, Bro.. Gue enggak ada maksud lain." jelas Darius yang dijawab senyuman tipis oleh Chandra.
"Thank's ya bro." Chandra pun menepuk pundak Darius, dan kini Darius pun memerintahkan semua pekerja yang ia bawa untuk menyelesaikan proyek Chandra tepat pada waktunya.
"Lo enggak balik? enggak kangen istri lo?" Darius bertanya yang membuat Chandra yang sedang meminum air mineral pun memuntahkan airnya.
Byuuurr~~~
Laki-laki itu baru ingat jika ada wanita cantik yang tengah hamil anaknya yang pasti tengah menunggunya karena sampai dini hari dirinya belum pulang ke rumah.
Hati Chandra pun seketika merasa bersalah, bagaimana jika istrinya ngidam dan meminta ITU di tengah malam lagi? Sedangkan dirinya masih harus fokus memangtau dan menyelesaikan proyeknya.
Laki-laki itu pun langsung berdiri dan mengambil ponsel yang ada di saku jasnya.
"Lo mau kemana?" Darius bertanya lagi setelah pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Chandra.
__ADS_1
"Nelpon Luna." jawab Chandra sembari mencari kontak nama istrinya lalu menghubunginya.
Bersambung..