
Malam hari telah tiba, para tamu yang hadir tanpa terkecuali Paman, Bibi serta Jaelani sudah meninggalkan rumah mewah milik Chandra.
Kini sepasang pengantin baru itupun berada di kamarnya.
Sejenak, rasa canggung pun melanda keduanya namun Chandra secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Luna terlihat mengamati kamar milik Chandra yang kini ia juga menempatinya.
Kamar bernuansa serba abu-abu itu begitu menandakan jika pemiliknya adalah seorang pria.
"Kamu gak mandi? Gak ganti baju?" tanya Chandra saat ia sudah selesai berganti baju rumahannya.
"Eh iya.. Tadi aku nunggu Bapak selesai dulu soalnya." jawab Luna seraya berdiri dari duduknya.
Chandra menganggukkan kepala, "Cepatlah.. Sepuluh menit lagi kita makan malam." ujarnya sembari duduk di sofa lalu mengambil macbooknya.
Cuti yang ia ambil hari ini tidak membuatnya lalai untuk mengecek perusahaannya.
Baginya, perusahaannya adalah separuh nafasnya yang harus ia jaga dan ia rawat sepenuh hati. Mengeceknya setiap hari, laksana ia sedang makan untuk menutrisi tubuhnya.
Lebay ya? Hehe
"Sudah siap?" tanya Chandra saat melihat istrinya kini memakai dress selutut yang membuatnya terlihat begitu muda dengan make up tipisnya.
Luna mengangguk sebagai jawaban.
***
Makan malam pertama sebagai seorang istri tak membuat Luna merasa berbeda.
Ia melayani Chandra dengan sepenuh hatinya. Mengambilkan nasi lalu aneka lauk pauk diatasnya.
Luna terbiasa seperti itu bukan karna ia sering melayani berbagai pria, bukan juga karna status palsunya yang awalnya seorang Janda.
Namun, Luna melakukan semua itu karna ia terbiasa melayani Ibu dan anaknya Radit ketika mereka sempat makan bersama.
Semua itu Luna lakukan karna ia begitu merindukannya, merindukan makan bersama dengan Ibunya yang hanya bisa terjadi di waktu malam. Siang hari ia makan di tempat berbeda, bahkan sarapan pun ia jarang melihat Ibunya itu sarapan dikala pagi hari.
Chandra terpesona dengan ketelatenan Luna dalam melayaninya dan melayani Ibu serta anaknya. Terlihat senyum tipis sebentar mengembang di bibirnya.
Namun, seketika ia menggelengkan kepala samar memikirkan jika perlakuan Luna ini mungkin karna sudah terbiasa dari pernikahan sebelumnya.
__ADS_1
Pikir Chandra, jika Luna sebaik ini, lalu alasan apa yang membuat Luna dan suaminya dahuli bercerai? Bahkan anaknya masih begitu kecil.
"Makan, Pak." ajakan makan Luna menyadarkan Chandra dari lamunannya.
"Pak? Kamu masih memanggil suami kamu seperti kamu memanggil dosenmu, Lun?" Ibu Halimah bertanya karna tidak sepatutnya seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan sepeeti itu.
Luna yang masih merasa canggung disertai takut akan memanggil suaminya apa, hanya bisa meringis menanggapinya.
Sedangkan Chandra hanya terlihat biasa memakan makanannya tak terpengaruh dengan perdebatan Ibu dan Anak itu.
"Radit gak makan? Dia sukanya lauk apa?" tanya Chandra saat melihat anaknya Luna itu hanya meminum susu formula.
Luna dan Ibu Halimah terkesiap mendengar pertanyaan Chandra.. Tak menyangka jika laki-laki yang baru hadir di hidupnya itu perhatian dengan anak asuhnya.
"Radit sukanya lauk telur, Nak Chandra." jawab Ibu Halimah sembari meletakkan sendoknya karna baru sadar jika Radit belum makan sama sekali.
Celetukan Chandra mengingatkannya, jika ia tak boleh terlalu menikmati semua hidangan di depannya karna ada anak kecil yang sedari tadi menanti suapan darinya.
"Terimakasih sudah mengingatkan, Mas." lirih Luna sembari tersenyum pada Chandra, namun Chandra tak melihatnya karna laki-laki itu terlihat sedang memperhatikan Radit.
Mendengar Luna memanggilnya 'Mas', membuat Chandra yang tadi menatap Radit kini menoleh pada Luna.
"Coba ulangi.. Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Chandra ingin menegaskan jika pendengarannya tidaklah salah.
***
"Kamu udah mau tidur?" tanya Chandra saat kini keduanya sudah kembali ke kamar mereka dan melihat Luna memegang bantal dan selimut.
Luna mengangguk sebagai jawaban.
"Baru jam sembilan.. Beneran udah mau tidur?" tanya Chandra sekali lagi, menyakinkan Luna karna wanita itu juga terlihat memegang laptopnya.
"Iya.. Ada apa memangnya, Pak?" tanya Luna akhirnya karna merasa Chandra tak mempercayainya.
"Pak? Bukannya tadi kamu sudah merubah panggilan kamu?" tanya Chandra seraya mendudukkan bokongnya di sebelah Luna sedang duduk di ranjangnya.
Luna teelihat gugup, wanita cantik itu mengedipkan bulu matanya secara cepat dan degub jantungnya berdetak lebih cepat saat kini Chandra duduk di sebelahnya.
"Panggilan yang mana?" kilah Luna masih belum mengaku.
"Terserah kamu kalau kamu memang belum siap aku tidak akan memaksamu." putus Chandra saat melihat Luna seakan takut padanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa megang bantal dan selimut? untuk apa?" tanya Chandra saat Luna hanya menunduk saat ia membahas panggilan untuknya.
"Untuk tidur di sofa.. Bukankah pernikahan kita hanya terpaksa, Pak. Biasanya, kalau nikah secara terpaksa, salah satunya pasti akan tidur di sofa. Makanya saya memegang bantal dan selimut ini." jawab Luna cepat tak menghiraukan tatapan aneh dari Chandra.
Pletak.
"Ssshhhh... Aw.." Luna memegang hidungnya yang terkena sentilan dari tangan Chandra.
"Bapak kenapa menyentil hidung saya? Saya salah apa? bukankah benar dengan apa yang saya katakan?" tanya Luna sembari mengusap hidungnya yang sedikit memerah.
Pletak
"Ssshhh.. Aw.. Bapak KDRT ya." ujarnya yang membuat Chandra menaikkan alisnya.
"KDRT? Apa itu alasanmu cerai dengan mantan suamimu dulu?" Chandra terlihat memicingkan mata penasaran saat mendengar kata 'KDRT' yang muncul dari bibir mungil Luna.
apa pak Chandra tidak memeriksa berkas yang aku kumpulkan kemarin ya? kenapa dia masih mengira aku benar-benar seorang Janda? tapi ya sudahlah, mungkin ini semua lebih baik. biarlah berjalan begini saja. batin Luna berpikir dengan keningnya yang terlihat berkerut.
"Emm.. Maaf Luna, jika saya malah membahas masa lalumu. Lupakan saja pertanyaan saya tadi."
"Enggak apa-apa, Pak." Luna berujar yang membuat Chandra lega mendengarnya.
"Kamu masih mau tidur di sofa? Luna.. Pernikahan itu sesuatu hal yang sakral, walaupun aku memang memaksa kamu untuk menikah denganku agar aku mendapatkan sebuah status, tapi kita tidak boleh tidur di tempat yang berbeda. Bahkan kita bisa berdosa."
Chandra terlihat menghela napasnya sebentar, lalu meneruskan perkataannya. "Yang kamu pikirkan itu pasti seperti kebanyakan novel yang kamu baca kan? Hidup itu tidak selalu seindah novel yang kamu baca, Lun. Apalagi pernikahan, itu tu bukan sebuah mainan. Jadi, jangan berpikiran macam-macam."
"Berarti saya tidak boleh tidur di sofa ya Pak?" tanya Luna yang terlihat menggemaskan dimata Chandra karna Luna terlihat seperti anak yang meminta persetujuan dengan Ayahnya.
Seperti anak pamannya yang saat ia berkunjung ke rumah Permana, pastilah sepupunya itu meminta persetujuan dulu dari Ayahnya jika hendak melakukan sesuatu.
Berbeda hal dengan dirinya. Dan Chandra tersenyum miris jika mengingat hidupnya.
Chandra terlihat menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Tapi, aku punya satu permintaan, Lun." sambungnya.
"Permintaan? Apa Pak? Saya belum siap, Pak." tanya Luna sembari menyilangkan tangannya di depan dadanya, waspada.
Chandra terlihat tidak terpengaruh dengan perkataan Luna, ia malah menghela napas sebentar menyakinkan diri sebelum berkata perkataan yang mungkin menyinggung perasaan Luna.
Bagaimanapun, ia telah berjanji untuk membahagiakan Luna.
"Aku ingin, kamu menyembunyikan status pernikahan kita saat di kampus." ujar Chandra akhirnya usai menyakinkan diri.
__ADS_1
Deg
Bersambung....