Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Maksud Tersembunyi


__ADS_3

"Jen.." panggil Chandra pada adiknya yang berjalan menunduk menatap ponselnya dan membawa sebuah kantong plastik hitam yang entah berisi apa.


gawat. kenapa Kak Chandra bisa ada disini? ah? apa jangan-jangan Kak Chandra menjenguk Bang Raka? batin Jenifer bergejolak menatap nanar Kakaknya.


Melihat Jenifer yang terdiam di tempat, Luna pun berinisiatif menghampirinya.


Jenifer menatap nanar Kakak iparnya, seakan memohon pada Luna untuk memberi dukungan padanya.


"Kamu bawa apa, Jen? Dan ngapain kamu disini?" tanya Luna lembut.


"Aku... Aku lagi ngerawat temanku, Kak." kilah Jenifer yang bisa ditangkap oleh Luna dan Chandra.


Laki-laki itu tahu jika adiknya belum punya teman di Indonesia selain keluarganya.


"Siapa yang kamu maksud teman itu, Jen?" Chandra melangkah mendekati adiknya.


gawat.. bagaimana ini? Jenifer menggigit bibirnya, memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikannya pada Chandra.


"Em..." Jenifer menatap gusar ke sembarang arah yang membuat Chandra semakin mendekatkan dirinya pada adiknya. "Siapa, Jen?" Chandra mengulangi pertanyaannya dengan suara tegasnya.


"Mas.. pelan-pelan.. ini di rumah sakit." Luna memperingatkan yang tak dianggap oleh Chandra.


"Siapa, Jen? Katakan sama Kakak!" tegasnya lagi dengan mendekatkan wajahnya pada wajah adiknya yang semakin menunduk dalam.


"Sayang.." panggil satu suara yang mampu mengalihkan perhatian Chandra.


Laki-laki itu langsung membalikkan badan demi meraih siapa yang telah dipanggil dengan panggilan "sayang" oleh Raka.


"Sini!" jelas Raka sembari melambai pada... Chandra melihat ke arah tangan Raka melambai dan.. yang dilihatnya adalah adiknya.


hah? apa benar yang dipanggil sayang oleh Raka adalah Jenifer? Apa yang dimaksud pacar dan wanita yang menemaninya saat dirawat adalah adiknya? Apa ini arti dari senyuman sinisnya? Kapan mereka bertemu? dan kapan mereka jadian? kenapa aku baru tau.. batin Chandra berperang melihat interaksi Raka yang memanggil adiknya, dan Jenifer menatapnya seakan meminta izin.


"Maksud kalian apa?" tanya Chandra dengan menatap bergantian pada Raka yang duduk di kursi roda dan Jenifer yang tengah dipeluk oleh istrinya.

__ADS_1


Jenifer terisak.. membuat prasangka Chandra semakin menguat jika ada hubungan antara Raka dan Jenifer.


"Kamu pacar Pak Raka, Jen?" Luna lah yang bertanya, saat meneliti tatapan Jenifer dan Raka sedari tadi.


"Iya, Kak.. Aku pacar Bang Raka." jawabnya lirih yang masih bisa didengar oleh Chandra.


"Katakan lagi! Kamu bilang apa tadi, Jen?" Chandra bertanya dengan mendekat pada adiknya, dengan suara memekik tepat di telinga Jenifer.


"Aku.. Aku pacarnya Bang Raka, Kak.." jawab Jenifer terbata sembari memeluk Chandra erat.


Chandra menatap adiknya dengan mata yang tiba-tiba berubah berang, jelas Ia tidak bisa menerima jika Raka tengah menjalani hubungan dengan adiknya.


Hubungan apa yang mereka maksud? Pacaran? Sedangkan beberapa minggu yang lalu laki-laki itu melakukan hal diluar batas hanya karena terobsesi pada istrinya.


Apakah perasaan orang bisa berubah secepat itu? Tidak.. Itu tidak mungkin karena dia saja butuh waktu untuk menerima Luna walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri.


Lalu kapan mereka bertemu? Dan motif apa yang mendasari Raka menjalin hubungan dengan adiknya?


"Mas.. Ini di rumah sakit." Luna kembali memperingatkan.


"Aku tau, Lun. Aku hanya ingin tahu maksud tersembunyi yang sedang direncanakan laki-laki brengsek ini." Chandra menatap tajam Raka, saat menjawab peringatan dari istrinya.


aku gak akan memberi tahumu, Chan. Hahaha. batin Raka begitu gembira melihat wajah berang Chandra.


Chandra tidak bisa menerima? Itu sudah pasti ada di pikirannya saat ia mengajak Jenifer menjalin hubungan dan itu menjadi motif terbesarnya untuk melihat pertengkaran antara Kakak beradik itu.


"Jangan menuduh Bang Raka macam-macam, Kak.. Aku yang memaksanya untuk menerimaku." Jenifer mencoba melerai dengan mengungkapkan fakta sebenarnya, karena memang dia yang mengejar Raka.


"Kamu memaksanya untuk menerimamu?" Chandra melepaskan cengkraman di kerah baju Raka, tidak habis pikir dengan adiknya. Laki-laki itu kini mendekati adiknya lagi. "Kamu wanita yang cantik dan banyak laki-laki yang mengantri ingin mendapatkanmu, Jen. Lalu apa yang membuat kamu memaksanya dan berhubungan dengannya?" tanyanya dengan emosi yang naik turun.


"Karena selama ini aku tidak pernah bertemu laki-laki lain selain Kakak, Dad dan keluarga kita, Kak." Jenifer tidak bisa membendung air mata yang membasahi wajahnya. Wanita cantik itu berlutut di depan kaki Chandra. "Kak.. Aku tau Dad dan Kakak sangat menyayangiku. Tapi aku juga butuh laki-laki yang juga mengerti perasaanku."


"Apa Kakak tidak mengerti perasaanmu?" Chandra menggelengkan kepalanya, masih belum menerima alasan adiknya mendekati Raka.

__ADS_1


Luna terdiam, ia sadar jika ini bukan waktunya untuk menyela. Untunglah para dosen yang menjenguk Raka sudah pulang dan Ruangan Raka terdapat di ruang VVIP paling atas dan tidak ada orang lewat saat pertengkaran itu terjadi.


"Kakak sangat mengerti perasaanku. Tapi, aku juga ingin merasakan apa itu cinta Kak.. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mempunyai perasaan yang katanya berbunga-bunga. Kakak dan Dad terlalu ketat memberiku batas untuk mengenal laki-laki." Jenifer mengungkapkan isi hatinya dengan pundaknya yang naik turun, mengusap air mata yang terus berjatuhan membasahi wajah cantiknya.


"Semua itu pasti ada waktunya nanti, Jen." Chandra bersikeras.


"Kapan, Kak? Bahkan kak Luna saja sudah menikah dengan Kakak yang usianya seusia denganku. Lalu aku.. Aku belum pernah sekalipun berpacaran dan mengenal laki-laki."


"Itu bukan alasan yang masuk akal, Jen. Kakak dan Dad memberimu batas mengenal laki-laki karena Kakak dan Dad tidak mau terjadi hal yang diluar batas dalam pergaulan masa kini yang bisa merugikanmu. Kamu pewaris JA Company yang didirikan oleh Dad di Jerman untukmu, dan kamu butuh ilmu untuk memimpin perusahaan tersebut. Kakak dan Dad melakukan itu untuk kebaikanmu." Chandra berkata dengan menatap tembok di depannya, amarah yang mengungkungnya tidak meminta adiknya untuk sekadar berdiri, dan tetap membiarkannya berlutut.


Jenifer tidak bisa berkata-kata, wanita itu terisak semakin menjadi yang membuat Luna lama kelamaan tidak tega melihatnya.


Sedangkan Raka, laki-laki itu tersenyum puas melihatnya. Apalagi Chandra belum mengetahui satu hal yang pasti akan membuatnya tambah berang.


"Berdirilah, Jen." pinta Luna dengan memegang pundak Jenifer guna membantunya berdiri.


"Biarkan dia seperti itu, Lun.."


"Tapi, Mas?" Luna menatap suaminya yang kini menggelengkan kepala, dan dia pun menghela napas pelan lalu berdiri kembali.


Chandra menghela napas pelan, lalu menunduk demi meraih wajah adiknya yang kini basah karena air mata. "Mungkin Kakak bisa sedikit mentolerir jika kamu berhubungan dengan laki-laki yang baik. Tapi, kenapa kamu memilih Raka? Kenapa harus Raka? Dia bukan laki-laki yang baik, Jen." dengan sedikit frustasi Chandra menyugar rambutnya ke belakang lalu mencengkeramnya kuat.


"Bang Raka laki-laki yang baik, Kak.. Dia begitu menyayangiku. Dengannya aku bisa merasakan perasaan yang berbunga-bunga." Jenifer tetap dengan keras kepalanya.


"Raka itu mencintai Luna... Bukan mencintai kamu." aku Chandra akhirnya agar Jenifer memutuskan hubungannya dengan Raka.


"Aku mencintai Jenifer, Chan.. Bukan Luna." tegas Raka yang membuat Chandra tambah menatapnya tajam.


"Aku tidak akan membiarkanmu mendekati adikku lagi, laki-laki brengsek!" Chandra memberi bogem mentahnya lagi pada Raka lalu menarik tangan Jenifer dan Luna untuk diajaknya pergi dari laki-laki yang pernah berbuat di luar batas pada istrinya.


Laki-laki itu memang belum tau motif apa Raka mendekati adiknya, tapi demi kebaikan adiknya untuk menghindarkannya dari laki-laki yang bermuka dua ia harus semakin ketat menjaganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2