Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Extra Part 3


__ADS_3

"Siang, Bu.." Sapa Kezia saat tiba-tiba berkunjung ke ruko Ibu Halimah.


Ibu Halimah yang kebetulan sedang berjalan di dekat gerobak baksonya pun membalas sapaan Kezia dengan senyuman.


"Mau pesan apa?" Ibu Halimah pun bertanya dengan ramahnya.


Terbiasa berprofesi sebagai penjual, membuat Ibu Halimah bisa tetap bersikap biasa saja dengan Kezia walaupun wanita itu kerap kali menghina anak semata wayangnya.


"Pesan bakso lava, Bu. Sama orange jus." jawab Kezia seraya mengambil duduk di kursi paling belakang dimana ia bisa melihat Radit sedang bermain dengan mobil remote-nya.


"Baiklah. Ditunggu ya." jelas Ibu Halimah yang membuat Kezia mengangguk lalu memusatkan perhatiannya pada Radit.


"Sini, Dit." panggil Kezia saat Radit baru saja berdiri ingin mengambil mobil remote-nya dengan Ibu Halimah yang sedang berbicara dengan pegawainya mengenai pesanannya.


"Ada apa, Tante?" Radit pun bertanya dengan nada cerianya, setelah mendapati mobilnya sudah diberikan oleh Kezia.


"Tante mau meluk Radit sebentar, boleh?" Kezia mengungkapkan keinginannya dengan sorot mata penuh kerinduan yang sangat terbaca.


Radit berpikir sebentar, dan setelahnya ia pun mengangguk, lalu dengan sekali gerakan Kezia pun langsung merentangkan kedua tangannya demi agar Radit langsung masuk ke dalam pelukannya.


Kezia tersenyum begitu bahagia saat merasakan Radit berada di pelukannya.


Dalam keterdiaman saat Radit tengah berada di pelukannya, Kezia pun mengambil gunting dari saku blazer yang dipakainya yang sudah dipersiapkannya untuk mengambil sedikit rambut Radit untuk ia gunakan melakukan tes DNA agar ia tidak terus terbayang dengan anak yang ada di masa lalunya.


Anak yang ia titipkan pada seorang Asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumahnya hanya untuk menghilangkan jejaknya jika ia bukanlah seorang gadis dan bisa menghancurkan nama baik keluarganya.


Namun, saat matanya tanpa sengaja bertubrukan dengan mata Radit saat pesta pernikahan Luna dan Chandra terjadi, Kezia pun terus terbayang dan memikirkan anak yang dahulu ia buang itu.


"Nona Kezia.." panggil Ibu Halimah yang membuat Kezia langsung melepaskan pelukannya pada Radit.


"Ini bakso dan minumannya. Silahkan dimakan." sambungnya seraya menyuruh pegawainya meletakkan pesanan Kezia di meja.


"Terimakasih, Bu." ujar Kezia sedikit salah tingkah, berkali-kali wanita itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya.


"Sama-sama." Jawab Ibu Halimah, lalu Wanita yang telah melahirkan Luna itu beralih pada Radit. "Radit bisa ke atas sebentar, Sayang. Ambilkan kertas Nenek yang ada di meja nakas." pinta Ibu Halimah begitu lembut yang langsung dijawab anggukan antusias oleh Radit. "Iya, Nek. Radit ambilin dulu ya." jawabnya yang dijawab anggukan oleh Ibu Halimah.

__ADS_1


Setelah Radit naik ke lantai dua, dan pegawainya sibuk kembali dengan dagangan yang sedang dijualnya, Ibu Halimah pun duduk di sebelah Kezia yang sedang memakan baksonya.


"Buat apa Nona Kezia mengambil rambut Radit? Apa untuk melakukan tes DNA?" tanya Ibu Halimah yang membuat Kezia seketika tersedak dan secepat kilat mengambil minumannya.


Uhuk!


"Maksud Ibu apa?" Kezia berusaha mengelak karena menurutnya perbuatannya tadi tidak ada yang melihat.


"Saya tadi melihatnya, Nona. Anda tidak usah membuat alasan macam-macam." tegas Ibu Halimah yang membuat Kezia terasa susah menelan salivanya.


"Sebenarnya, kalau Anda memang merasa yakin jika Radit adalah anak Anda. Anda tidak perlu melakukan tes DNA. Anda melihat kaca besar yang ada di dekat kursi kasir Saya kan?" Ibu Halimah menunjuk kaca besar yang memang ada di dekat kursi kasirnya. "Ajaklah Radit berkaca disitu, dan pasti Anda tidak memerlukan lagi tes DNA untuk mencari tahu lebih tentangnya."


"Saya sebenarnya sudah mengira jika Nona adalah Ibu kandung Radit saat kita bertemu di acara baby shower Luna di London tempo hari lalu. Waktu itu Saya melihat dengan jelas jika anak laki-laki Anda begitu mirip dengan Radit." sambung Ibu Halimah yang membuat Kezia seketika meletakkan sendok di tangannya.


"Kenapa Ibu tidak memberitahuku?" Kezia seakan malah menyalahkan Ibu Halimah.


"Buat apa, Nona? Radit sudah bahagia bersama Saya. Anda dulu sudah membuangnya dan Anda tidak patut mengambilnya kembali." tegas Ibu Halimah lalu berdiri kembali saat melihat Radit turun dari lantai dua.


"Tapi, Bu--"


"Ini, Nek. Benar kertas yang ini kan, Nek?" Suara Radit menghentikan Kezia yang akan kembali berbicara.


***


"Apa maksud mereka? Telpon asisten pribadi yang telah dikirim Diamond Grup, Jae. Aku ingin berbicara langsung dengan pemiliknya." Pertanyaan sekaligus perintah bernada begitu tegas itu Chandra keluarkan setelah membaca berkas pemberian saham dan langsung membuat Jaelani menganggukkan kepalanya.


"Anda ingin berbicara lewat sambungan telepon dengan pemilik Diamond Grup, Tuan?" Jaelani pun kembali bertanya sesaat setelah ia menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Tidak! Ajak mereka bertemu di Sanjaya's Restaurant satu jam lagi." titah Chandra yang membuat Jaelani menganggukkan kepalanya lalu berbicara pada Asisten pribadi Diamond Grup di ruangan yang sama dengan Chandra.


"Bagaimana?" tanya Chandra setelah Jaelani selesai melakukan panggilan tersambungnya.


"Mereka siap, Tuan. Kita akan bertemu dengan mereka satu jam lagi." jawab Jaelani yang membuat Chandra menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi kebesarannya seraya terus membaca ulang berkas pemberian saham yang belum dimengerti olehnya motifnya apa.


***

__ADS_1


Berbulan-bulan selalu bersama dan selalu membuat kue kesukaan suami masing-masing, membuat Luna dan Jenifer terlihat begitu semakin akrab.


Jenifer yang tidak mempermasalahkan hubungan masa lalu antara Luna dengan Darius, membuat semuanya terasa baik-baik saja.


Bahkan Jenifer kerap kali bersyukur karena bisa dinikahi oleh laki-laki sebaik Darius yang mau menerimanya apa adanya tanpa membicarakan kekurangannya sedikitpun saat bercinta.


"Kak.." panggil Jenifer saat keduanya sedang terlibat dunia perdapuran bersama.


Devano dan Arini sedang bermain dengan Darius di ruang keluarga.


"Ya. Ada apa, Jen?" Luna sesekali menoleh menatap Jenifer demi agar adik iparnya itu tahu jika ia menyimak perkataannya.


"Orang tua Kak Darius itu galak, enggak?" Pertanyaan bernada khawatir dengan raut wajah sendu yang tercetak jelas di wajah Jenifer membuat Luna langsung meletakkan mesin mixer yang tengah dipegangnya.


"Kenapa? Kamu gerogi, Jen?" tanya Luna dengan mengusap lengan adik iparnya.


Jenifer menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk sebagai jawaban.


Luna tersenyum, wanita itu seketika teringat dengan momen ia akan bertemu dengan Ibu mertuanya, walaupun pernah bertemu tanpa sengaja di rumahnya dan belum mengenalinya.


Luna mengingat saat ia harus melakukan berbagai kegiatan hanya untuk diterima oleh Ibu mertuanya dan merasa pantas disandingkan oleh Chandra.


"Kakak kok senyum sih?" Jenifer mengeluh dengan mencebikkan bibirnya.


"Enggak. Kakak lagi ingat aja sama perjuangan Kakak saat mau ketemu sama Mom, Jen." jawab Luna yang membuat Jenifer merasa serba salah di tempatnya.


Jenifer sangat tahu bagaimana perjuangan Kakak iparnya itu untuk diterima oleh Momnya setelah Momnya itu dihasut begitu picik oleh Bibi Maria.


"Maafin Mom ya, Kak. Mom cuman kemakan omongan Bibi Maria aja waktu itu." Jenifer menyorot sendu Luna yang djawab gelengan kepala oleh Luna.


"Mom enggak salah kok, Jen. Mom hanya ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Dan kak Luna yang terbaik untuk Kak Chandra." timpal Jenifer yang membuat Luna tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu, kamu juga harus yakin kalau kamu yang terbaik untuk Kak Darius." Luna mengikuti panggilan Jenifer pada Darius agar adik iparnya itu tidak sakit hati dengannya. "Kamu harus yakin sama diri kamu, enggak boleh gerogi apalagi insecure. Kamu wanita yang sangat cocok disandingkan dengan Kak Darius, Jen. Yakinlah." tutur Luna begitu bijak seraya mengusap lengan adik iparnya.

__ADS_1


Jenifer terlihat berpikir sebentar, dan Luna pun langsung menariknya ke dalam pelukan. "Semua orang punya kekurangan, Jen. Jangan jadikan kesalahan masa lalumu sebagai acuan untuk dirimu selalu merasa insecure. Masa lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang kamu sudah berubah menjadi lebih baik. Dan pikirkanlah masa depanmu." Luna berkata begitu bijak yang membuat Jenifer hanya bisa menganggukkan kepalanya.


...


__ADS_2