
"Ndra.." panggil Emily saat ia sudah bisa menguasai hatinya dan berjalan menghampiri Chandra dan Luna yang masih saja berpelukan dengan erat di dekat lift.
Luna langsung melepas dekapan suaminya saat mendengar suara dan langkah Ibu mertuanya mendekatinya, begitupun dengan Chandra. "Apa?" tanyanya datar.
"Mom ingin berbicara empat mata dengan istrimu." pinta Emily tiba-tiba yang membuat Chandra langsung merapatkan berdirinya dengan Luna lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya. "Bicaralah!" tegas Chandra tak terbantahkan dengan menatap tajam Ibunya.
"Mom ingin bicara berdua dengan istrimu, Ndra." jelas Emily lagi sembari memberikan ekspresi tak terbaca yang membuat Chandra semakin mengetatkan rahangnya. "Bicara disini ada aku.. Atau tidak sama sekali." Chandra tetap bersikeras dengan kekhawatiran yang sedari kemarin mengungkung dirinya.
Emily pun menghela napas pelan menghadapi kekerasan hati Chandra, karena mungkin itu menurun darinya. "Mom ingin mengajak istrimu test kehamilan." gumam Emily sembari menatap jengah menantunya.
"Test kehamilan? Buat apa Mom?" Chandra mengernyitkan dahinya heran.
buat apa Ibu mertuaku ini ingin mengajakku test kehamilan? batin Luna bertanya namun tak juga hendak menyela pembicaraan itu.
"Mom hanya ingin memastikan kalau istrimu ini sudah mengandung anakmu atau belum." aku Emily.
"Memastikan? Memang ada apa?" Chandra masih berusaha mencerna perkataan Ibunya yang tiba-tiba ingin mengajak istrinya test kehamilan.
"Mom ingin memastikan jika penerus keluarga kita belum ada di perut istrimu dan kamu harus menceraikannya." pintanya tanpa menutupi apapun dan memikirkan perasaan Luna.
"Tidak akan. Aku tidak akan menceraikan Luna." tegas Chandra.
"Apa yang kamu pertahankan dari dia, Ndra? Dia hanya wanita kampung yang dulunya mengaku Janda." Emily sudah menunjukkan sikapnya yang berbeda pada Luna.
Di awal pertemuannya tadi bersama anaknya, ia berpura-pura lembut agar anaknya mau menuruti keinginannya.
Tapi saat melihat Chandra yang begitu keras kepala ingin mempertahankan istrinya, Emily pun malas untuk melanjutkan sikap pura-puranya.
Luna menelan salivanya lekat mendapati kenyataan Ibu mertuanya tak menyetujui pernikahannya dengan Chandra lalu menoleh menatap nanar suaminya.
apa aku memang tidak pantas untukmu, Mas? batin Luna bertanya.
"Dia memang bukan wanita dari kalangan kita, Mom, tapi seenggaknya dia gak murahan seperti Kezia." Chandra berkata dengan tegas tapi menatap istrinya dengan lembut. "Dia juga memang bukan wanita kaya seperti keinginan Mom, tapi Mom harus ingat satu hal. Semakin aku ditentang aku semakin melawan. Bukankah Mom tau jika selama ini aku selalu menang melawan Mom dan keinginan absurd Mom yang tidak masuk diakal itu?"
"Chandra! Kau berani dengan Mom. Mom wanita yang melahirkanmu, Nak." Emily tidak terima dirinya dihina di depan menantunya yang bukanlah siapa-siapa.
Harga dirinya yang menembus langit tidak akan mau kejelekan yang selama ini ia simpan terdengar oleh orang lain, karena disitu juga ada Jaelani yang mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aku akan tutup mulut jika Mom juga tutup mulut." ancam Chandra yang membuat Emily menatap gusar ke sembarang arah.
Belum apa-apa, dia harus mengaku kalah.
Di tengah situasi yang dibilang sedikit menegang, Jenifer yang baru saja keluar dari dalam lift dan tidak mendengar perkelahian antara Ibu dan Kakaknya itu seketika menghampiri kakaknya.
Kak.." panggil Jenifer dengan mengusap lengan Chandra.
Mendengar suara Jenifer, Chandra langsung menoleh menatapnya karena ada sesuatu yang harus ia tanyakan. "Kau ikut aku Jen." titahnya lalu masuk ke dalam lift seraya mengajak Luna bersamanya. "Kamu ikut juga Lan." titahnya pada Jaelani yang membuat sekretarisnya itu langsung lari mengejar pintu lift yang hendak tertutup.
**
Di dalam lift Chandra langsung menatap tajam Jenifer.
Dan Jenifer yang tidak tau menahu pun langsung memberi tatapan bingungnya. "Ada apa Kak?"
"Nanti kita bicarakan di mobil." jawab Chandra seraya menahan emosinya yang sedang naik turun.
"Kamu nanti ikut Jaelani memakai mobilnya, aku ada pembicaraan penting dengan Jenifer." ujar Chandra dengan nada begitu lembut pada istrinya.
"Iya, Mas." Luna langsung mengiyakan tanpa memikirkannya dahulu, karena menurutnya sikap Jaelani padanya sudah berbeda.
Mungkin karena medengar terang-terangan jika Mom Emily tidak menyukainya, atau karena ia sudah menganggap Luna sebagai Nyonya-nya.
Entahlah, Luna hanya ingin selalu berpikiran positif agar ia bisa hidup dengan senang berdampingan dengan Chandra.
**
Sesampainya di parkiran, Jaelani pun langsung membukakan pintu mobilnya untuk Luna. "Silahkan Nyonya." ujarnya yang membuat Luna terpaku.
"Nyonya.." panggil Jaelani yang membuat Luna mengerjapkan mata dan langsung masuk ke dalam mobil Jaelani. "Terimakasih." ujar Luna yang dijawab anggukan oleh Jaelani.
Lagi... ia merasakan sikap yang berbeda dari Jaelani.
"Kita akan kemana, Tuan?" Jaelani pun bertanya dahulu pada Tuannya sebelum ia mengemudikan mobilnya agar ia tidak salah.
"Kamu ikuti saja mobilku." jawab Chandra yang membuat Jaelani mengangguk paham.
__ADS_1
***
*Mobil Chandra
"Kenapa Mom secepat itu ke Indonesia?" tuntut Chandra langsung pada poinnya saat mobilnya sudah mulai melaju dengan kecepatan sedang.
"Memangnya kenapa Kak? Mom kesini itu untuk Kakak.. Dan untuk mengurusi agency model miliknya yang ada disini." Jenifer terlihat lebih menguasai dirinya.
Tidak terpancing emosi melihat kemarahan Kakaknya yang siap meledak kapanpun juga.
"Jawaban yang Kakak butuhkan itu ada di kalimat kedua yang kamu ucapkan Jen." Chandra berkata dengan begitu sinis.
"Kak.." sergah Jenifer yang dianggap angin lalu oleh Chandra.
"Aku kan sudah bilang Jen.. Mom dan Dad itu harus kesini saat usia pernikahan kakak sudah tiga bulan. Ini belum. Dan ini tidak sesuai dengan kesepakatan kita." Chandra mengingatkan pembicaraannya dulu dengan Jenifer saat adiknya itu berkunjung ke negaranya.
"Memang apa bedanya sih kak sekarang atau sebulan lagi? Bukankah sama saja?" Jenifer menuntut penjelasan.
beda. karena itu janjiku pada hatiku sendiri saat mengajukan permintaan konyol pada Luna untuk menyembunyikan status di kampus. Kalau saja aku tau jika aku terlalu nyaman dengannya, mungkin permintaan itu tidak akan terjadi, Jen. Dan aku juga tidak perlu menunggu waktu 3 bulan untuk memberikan pesta pernikahan untuk Luna. batin Chandra menjawabnya.
"Mom menyuruh Luna untuk test kehamilan." ujar Chandra mengalihkan pembicaraan setelah kediamannya tidak menjawab pertanyaan adiknya.
"What? Buat apa kak?"
"Mom menyuruh Kakak untuk nmenceraikan Luna jika ternyata Luna belum mengandung anak Kakak." jawab Chandra datar.
padahal aku dan Luna baru saja memulai semuanya, Jen. Aku dan Luna baru saja merasakan bagaimana indahnya pengantin baru. batin Chandra berkecamuk sembari mencengkeram kemudinya dengan kencang.
"Tapi Mom bilang sama Dad, kalau Mom ke Indonesia untuk menyetujui pernikahan Kakak. Bukan seperti ini." Jenifer terlihat berpikir dengan mengetukkan jarinya di dagunya.
"Maksud kamu?" tanya Chandra dengan menarik tuas remnya karna lampu di lalu lintas itu berganti warna merah.
"Dad menyetujui siapapun wanita pilihan Kakak."
"Dad tau soal Luna?" tanya Chandra memastikan.
"Iya.. Dad tau semuanya, Kak." jelas Jenifer yang membuat Chandra kini terlihat berpikir.
__ADS_1
Bersambung...