
"Pak Raka enggak diundang, Mas?" tanya Luna setelah para tamu sudah selesai bersalaman dengannya.
Kini, mereka berdua sedang berjalan ke presidential room, tempat mereka akan melaksanakan makan siang.
Dahi Chandra mengernyit, "Ada apa kamu tanya Raka?" tanyanya dengan nada datarnya tanpa menoleh pada istrinya.
Luna meringis mendapati sikap suaminya, "Aku cuman tanya, Mas. Maaf." lirihnya.
jenifer tadi bertanya, Mas.. Kalau aku bilang jika Jenifer yang menanyakan Pak Raka, kamu pasti marah. batin Luna.
"Aku mengundangnya, bukankah kamu sendiri juga mendengar kalau aku mengundangnya saat kita menjenguknya dulu." gumam Chandra yang membuat Luna baru mengingatnya.
Luna pun terdiam, wanita cantik itu menelan apapun yang kini ada di hadapannya tanpa berani mengungkapkan apa yang sedang diinginkannya.
Luna sendiri heran, apa yang sedang terjadi dengannya? Hingga dia selalu menginginkan sesuatu yang harus dikatakan dulu dengan Chandra? Apa ini bagian dari kata orang jika sekarang dia terlihat gemuk dan berisi?
"Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Chandra setelah makan siang dan baru menatap wajah cantik istrinya.
"Chandra.." panggil Emily yang membuat Chandra langsung berdiri menghampiri Momnya. "Sebentar ya.." ujarnya pada Luna yang membuat pundak Luna terasa lemas seketika.
Baru saja wanita cantik itu mau membuka mulutnya untuk mengatakan apa yang kini diinginkannya, dan suaminya malah meninggalkannya seorang diri.
"Luna.." panggil Ibu Halimah bersama Radit saat memasuki ruangan dimana Luna sedang makan.
Mata Luna berbinar bahagia. Wanita cantik itu langsung berdiri dan memeluk Ibu dan anaknya. "Ibu dan Radit sudah makan?" tanya Luna perhatian.
"Sudah.. Ibu dan Radit sudah makan." jawab Ibu Halimah lembut sembari menatap anak semata wayangnya.
"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menatap Luna seperti itu?" Luna pun menatapi tubuhnya sendiri saat bertanya.
"Ladit tadi makan bakso, Mommy." gumam Radit sembari menampilkan cengirannya. yang membuat Luna langsung mencubit pipinya gemas. "Makan yang banyak biar gemuk ya, Dit."
"Enggak mau Mommy, kata Nenek.. Bial Ladit kayak gini aja, yang penting sehat." timpal Radit yang membuat Luna menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak apa-apa.. Ibu hanya senang melihatmu bahagia. Semoga pernikahanmu langgeng ya, Nak. Ke depan, pasti banyak rintangan dalam mengarungi rumah tangga. Tapi percayalah, kekuatan cinta yang dipupuk dengan kesetiaan dan kejujuran, itu semua yang membuat kalian bertahan dalam satu ikatan." doa tulus Ibu Halimah terucap yang membuat Luna langsung menatap dan memeluknya lagi.
"Terimakasih ya, Bu. Berkat Ibu, Luna bisa seperti sekarang ini. Berkat doa Ibu juga, Luna bisa mempunyai suami seperti Mas Chandra." ujar Luna yang membuat Chandra yang baru memasuki ruangannya kembali, melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Terimakasih juga dari saya, Bu. Karena telah melahirkan seorang wanita yang cantik yang Tuhan hadiahkan untuk menjadi istri saya." celetuk Chandra yang membuat Luna melepas dekapannya lalu ketiganya menoleh pada Chandra.
Ketiganya menatap haru laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu. Baru kali ini Luna mendengar jika suaminya mengucapkan terimakasih pada Ibunya karena telah melahirkannya dan berterimakasih pada Tuhan karena telah menghadiahkannya menjadi istri Chandra.
Tuhan... Luna sedang tidak bermimpi kan? Benar Chandra berkata seperti itu kan? Kalau tidak sedang memakai stiletto dan gaun yang mempunyai ekor panjang, mungkin Luna sudah lari mendekap Chandra dan menciumi di setiap inci wajah tampannya.
Tidak.. Luna tidaklah seperti itu. Luna hanya tersenyum sembari menatap penuh cinta suaminya sebagai balasan perkataan suaminya pada Ibunya.
"Daddy.." panggil Radit yang langsung berlari mendekap Chandra dengan gaya khasnya.
Chandra balas memeluk, tanpa sungkan laki-laki itu menggendong Radit lalu memberi kecupan di pipi kanan dan kirinya bergantian. "Radit mau tidak punya adik?" tanya Chandra yang membuat Luna menatapnya dan menampilkan ekspresi murungnya.
"Mau.. Mau Daddy... Ladit mau punya adik. Jadi, Ladit punya teman belmain ya, Daddy? Holeeee!!" teriak Radit begitu senang yang membuat Chandra tersenyum.
Baru semalam.. Ya, semalam hasil test itu menunjukkan garis satu, negatif.
Luna pun dengan jelas menangkap ekspresi suaminya saat memegang alat test tersebut.
"Kalian sering melakukannya kan?" tanya Ibu Halimah saat Radit sudah pergi keluar untuk bermain dengan Reyna.
"Melakukan apa, Bu?" Luna pun merasa salah tingkah sendiri, jika ditanya hal lebih intim.
"Hubungan suami istri, sayang." jawab Ibu Halima yang membuat Chandra langsung mendekap pinggang ramping istrinya. "Tentu, Bu." Chandra yang menjawab, yang membuat Luna langsung menoleh padanya, dan mencubit perutnya.
Ketiganya pun tertawa, dan berjalan kembali memasuki ballroom untuk melanjutkan pesta pernikahannya.
****
Pesta pernikahan yang berlangsung dari pukul sembilan pagi hingga sepuluh malam itu sungguh membuat pegal seluruh badan Luna.
__ADS_1
Chandra yang memang berniat menginap di presidential suite yang tersedia untuknya di hotelnya itu langsung menggendong istrinya ala bridal style menaiki lift.
"Kita enggak pulang ke rumah, Mas?" tanya Luna setelah keduanya sudah sampai di kamarnya.
Chandra belum menjawab, laki-laki itu menurunkan istrinya di ranjang dengan begitu hati-hati. "Enggak.. Malam ini, kita menginap disini." ujar Chandra sembari menatap istrinya, dan mulai mencium bibir istrinya, dan memagutnya sebentar.
Pipi Luna terlihat merona mendapati tatapan penuh dambaan dari suaminya, apalagi gaun yang dipakainya kini memperlihatkan dua hal indahnya yang terlihat menyembul dengan malu-malu yang membuat Chandra sedari tadi ingin menerkamnya.
"Mas mau kemana?" tanya Luna sembari duduk saat Chandra berjalan menuju pintu.
"Mau mastiin kalau udah dikunci." Chandra menjawab saat dia sudah kembali duduk di hadapan istrinya.
Chandra memiringkan kepalanya, menatap wajah cantik istrinya sembari merapikan anak rambut Luna ke belakang telinganya.
Usapan tangan Chandra itupun kini beralih mengusap seluruh inci wajah cantik istrinya, lalu menekan tengkuknya sembari memajukan wajahnya untuk memberi kecupan disertai pagutan yang selalu membuat Luna merasa melayang.
"Mas menginginkanmu." ujar Chandra dengan suara paraunya setelah memberi tanda kepemilikan di leher istrinya, yang membuat Luna kini menganggukkan kepala.
Keduanya pun berusaha saling membantu melepas kain yang menghalangi kedua tubuh mereka agar bisa saling menempel satu sama lain.
Permainan panas sepasang suami istri itupun siap dimulai saat keduanya sudah sama-sama polos.
Chandra yang sudah sangat menginginkan istrinya, langsung kembali memagut bibir Luna sembari memainkan dua hal indah milik istrinya secara bergantian dengan tangannya.
Luna tanpa sadar mengeluarkan erangan nikmat saat suaminya sudah berhasil membawanya ke permainan inti hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan perutnya seperti kesakitan.
"Aw.. Mas.. Sakiit.." rintihnya sembari memegang perutnya yang membuat Chandra langsung menghentikan permainannya.
"Ada apa? Ada apa sayang?" Chandra panik melihat istrinya kesakitan sembari memegang perutnya, apalagi kini di bagian inti milik istrinya mengeluarkan darah.
Ada apa ini? Ada apa? Dalam kepanikannya, Chandra pun langsung berlari menggendong istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan tubuh istrinya dahulu sebelum memakai pakaian ganti dan mengajak Luna untuk periksa memeriksakan keadaannya.
Bersambung...
__ADS_1