
"Luna.." seru Miko saat melihat Luna memasuki kelasnya.
Luna menoleh dan membalas sapaannya dengan tersenyum tipis lalu duduk di kursinya.
Mendapati Luna yang mau tersenyum dengannya membuat Miko beranjak dari kursinya beralih ke kursi di dekat Luna seperti biasanya.
Memang kursinya dan kursi Luna bersebelahan, tapi tadi saat Luna masuk ke dalam kelasnya, ia sedang sibuk bermain game dengan teman-temannya.
"Nanti kita jalan yuk, Lun. Ada film baru dan bagus banget katanya." ajaknya lagi yang tak pantang menyerah dengan penolakan Luna berulang kali.
"Aku gak bisa Mik, aku harus urusin anakku." alasan yang sering diungkapkan Luna jika Miko mengajaknya jalan.
"Masa iya kamu nolak aku terus, Lun? Beri aku kesempatan donk." Miko berkata dengan nada memohon.
"Kesempatan apa memangnya?" tanya Luna acuh dengan membaca buku yang baru dikeluarkannya dari dalam tas namun ditanggapi lain oleh Miko.
"Kesempatan buat memiliki kamu." teriak Miko sangat lantang dengan penuh penekanan yang membuat Luna menutup telinganya dengan bukunya tiba-tiba.
Ehem.
Chandra berdehem saat memasuki ruang kelas Luna dan ternyata mendengar seruan Miko yang ingin memiliki istrinya.
Sesaat ada rasa lain menyeruak di dalam hatinya, dan tanpa sadar tangannya terkepal dengan kuat di sisi celananya.
Luna dan Miko yang sedang asyik sendiri tidak menyadari dan mendengar jika Chandra sempat berdehem saat masuk ke dalam kelasnya dan tetap melanjutkan obrolan mereka.
"Kamu apa-apaan sih Mik. Gak bisa kalau gak teriak.. Telingaku sakit tau." gerutu Luna dengan mencebikkan bibirnya yang tidak menyadari jika semua mata kini tertuju padanya.
"Hehe.. Maaf ya Lun." ujar Miko yang sama halnya dengan Luna belum menyadari apa yang terjadi dan dengan sengaja mendekati Luna dan mengusap telinga Luna yang baru saja diusap oleh Luna. "Aku cuman mau yakinin kamu kalau aku mencintai kamu dan ingin memiliki kamu, Lun."
Luna yang terkesiap secara reflek tidak menolak usapan Miko pada telinganya dan tidak melihat pada mata yang sedari menatap tajam pada mereka dan ingin sekali memukul laki-laki yang berani mendekati istrinya.
Laki-laki itu memang belum tau apa yang kini tengah dirasakannya, namun yang pasti ia marah jika miliknya disentuh oleh orang lain.
__ADS_1
Hingga seruan minta maaf yang diucapkan oleh Reyna yang terlambat datang pada Chandra menyadarkan Luna jika ia dan Miko tengah menjadi pusat perhatian.
Luna menelan saliva saat melihat rahang suaminya yang mengeras tapi tetap berusaha ramah pada Reyna.
"Maaf, Pak. Saya terlambat tiga menit." ujar Reyna dengan napas yang memburu yang dijawab anggukan kepala oleh Chandra yang artinya membolehkan ia mengikuti pelajarannya.
Reyna memang mahasiswi yang rajin dan mungkin itu baru pertama kalinya anak itu terlambat masuk jam pelajarannya.
Dua jam pelajaran itu berlangsung, Chandra yang masih diliputi emosi karna Miko menyentuh telinga Luna, terlihat tetap konsisten dengan apa yang ingin diajarkannya.
Berusaha meredam segala luapan amarah yang sedari tadi ditahannya, Chandra pun menghela napas saat ia baru saja keluar dari ruang kelas Luna, dan ia pun harus kembali lagi saat menyadari jika ada bukunya yang masih tertinggal.
Namun baru saja sampai di dekat pintu ia kembali mendengar laki-laki yang sedari tadi ingin dipukulnya berusaha mendekati istrinya lagi.
"Gimana Lun? Mau ya nonton film di bioskop nanti sama aku?" Ajak Miko lagi yang tak menyerah.
"Gak bisa.. Luna mau pergi sama saya." jawab Chandra yang membuat Luna mendongak menatapnya dan sesaat merasa susah menelan salivanya.
"Itu bukan urusan kamu." ujar Chandra yang kini mendekat ke arah Luna lalu memegang tangannya mengajaknya pergi dari kelasnya.
Memang kebetulan setelah itu Luna tidak ada kelas dan Chandra yang harus kembali ke kantor tidak menyempatkan diri masuk ke dalam kantornya terlebih dahulu dan memilih membawa buku yang digunakannya dalam mengajar.
Dan untunglah saat itu terjadi, Reyna sudah tidak di dalam kelas dan tak melihat Luna yang dibawa oleh Chandra.
Tapi, Luna harus siap dengan gosip yang pasti akan menyebar dengan cepat.
Sedangkan Miko, laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal menyadari jika ada pesaing barunya mendapatkan Luna, dan anehnya, kenapa Luna mau saja dibawa oleh pak Chandra?
****
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Luna saat menyadari jika jalan yang ia lalui bukanlah jalan menuju rumah Chandra dan bukan menuju ruko tempat Ibunya berdagang.
Chandra yang masih kesal tidak menjawab pertanyaan Luna dan memukul kemudinya dengan kencang yang membuat Luna terlonjak kaget.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau Mas gak mau jawab. Aku gak maksa. Tapi, jangan culik aku ya, Mas." kelakarnya sembari menunduk yang membuat Chandra awalnya marah kini tersenyum tipis.
Luna.. aku itu sedang marah, kenapa kamu malah ngelucu kayak gini, siapa lagi yang mau nyulik kamu. aku itu suami kamu, berhak atas kamu. batin Chandra berteriak menjawab kelakar Luna namun tetap berlaku diam.
"Mas.. Mas beneran gak nyulik aku kan?" tanya Luna lagi dan Chandra tetap mempertahankan ke-diam-annya hingga mereka tiba di perusahaan Chandra.
Luna mengerjapkan mata hingga ingin meneteskan air mata saat menyadari jika kini ia ada di depan gedung CA Corps. Perusahaan yang ingin sekali ia magang nanti.
"Mas.. Mas mau ngapain disini? Mas kerja disini? Bagian apa?" tanya Luna polos karna memang ia belum tau sisi lain dari Chandra sebenarnya, yang ia tahu hanya Chandra yang seorang dosennya dan atasan seorang sekretaris bernama Jaelani dan menikahinya karna ingin mempertahankan jabatannya.
Selebihnya Luna belum mengetahuinya.
Luna hendak membuka mulutnya lagi untuk bertanya pada Chandra, tapi saat melihat Jaelani yang berdiri di pintu masuk CA Corps. ia pun mengurungkannya.
Tatapan tidak suka yang selalu diberikan oleh Jaelani membuatnya hanya diam mengikuti kemana Chandra mengajaknya.
Laki-laki itu walaupun masih diam, tapi menyempatkan menggenggam tangan Luna saat memasuki perusahaannya dan membuat Luna berjalan sembari menatap tangannya yang terus digenggam lembut oleh Chandra.
Tanpa sadar, senyum tipis sebentar hinggap di bibir mungilnya.
Mereka bertiga menaiki lift khusus excekutive untuk menuju ruang kerja Chandra yang berada di lantai teratas dengan Jaelani yang sedari tak tinggal diam membacakan jadwal Chandra satu minggu ke depan.
"Kamu carikan baju buat Luna." titah Chandra pada Jaelani bersamaan dengan pintu lift yang terbuka karna mereka sudah sampai di lantai atas.
"Baju buat apa, Tuan?" tanya Jaelani dengan kekepoannya yang tidak langsung mengiyakan perintah Chandra.
"Buat undangan makan malam."
"Undangan makan malam dari siapa, Tuan?" tanyanya lagi yang membuat emosi Chandra yang tadinya sempat surut kini berkobar lagi, "Dari Paman Permana." jawabnya akhirnya malas berdebat dengan Jaelani.
Jaelani menganggukkan kepala dengan senyum yang mengembang di bibirnya, kini ia tau apa yang harus dilakukannya untuk istrinya Tuannya itu.
Bersambung...
__ADS_1