Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

"Dimana Kinara?" tanya Raka pada orang yang dibayarnya untuk mengawasi istrinya lewat sambungan telepon.


Hari sudah menjelang sore.. Dan biasanya istrinya sudah selesai mengajar dan sampai di apartemen.


Raka memang berada di apartemennya, bukan di perusahaannya ataupun rumah mewahnya karena untuk mengelabui orang-orang jika ia masih berada di luar negeri.


"Di rumah sakit, Tuan. Alergi Nyonya kambuh karena makan seafood yang dipesannya tadi."


"Kenapa kamu enggak bilang?" sentak Raka langsung.


"Saya tidak berani mengganggu Tuan. Bukankah Tuan hanya menyuruh kami mengawasi Nyonya dan jika Tuan tidak bertanya dahulu kita tidak boleh menggganggu." ujar orang itu mengingatkan yang dijawab decakan kesal oleh Raka.


"Di rumah sakit mana?"


"Di rumah sakit internasional, Tuan. Tapi-"


Tut Tut Tut


panggilan itu diputus begitu saja oleh Raka sebelum orang yang dibayarnya melanjutkan perkataannya.


Orang yang dibayarnya itu ingin memberitahu jika masih ada Chandra dan Luna yang menunggu istrinya belum sadarkan diri.


***


Reyna: Makanan serba seafood yang untuk acara makan bersama itu yang memesan adalah Miss Kinara sendiri, Lun. Miss Kinara juga yang bertanggung jawab atas kegiatan itu.


Satu pesan dari Reyna itu dibuka dan dibaca berulang kali oleh Luna saat Dokter bertanya tentang status Kinara padanya dan suaminya.


Bahkan Luna tidak sempat mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter itu tentang keadaan Kinara karena ia sedang memikirkan motif apa yang ingin digapai Dosen Barunya itu dengan membahayakan nyawanya.


Apa Kinara melakukan itu karena ingin dekat lagi dengan suaminya?


Apa karena suaminya yang sudah tidak menyukai minuman favorit mereka dengan Kinara, hingga membuat Kinara seperti itu?


"Kamu kenapa, Lun?" tanya Chandra setelah selesai mengobrol dengan Dokter yang menangani Kinara.


Dokter pun melewatkan satu informasi saat mendengar status Kinara yang belum jelas, dengan akan menanyakannya nanti saat Kinara sudah sadarkan diri.


"Enggak apa-apa, Mas. Aku lagi baca pesan aja dari Reyna." jawab Luna dengan menoleh menatap suaminya.


"Dari Reyna? Pesan apa sampai kamu jadi diam kayak gitu?" Chandra mengernyit.


Luna memberikan ponselnya pada suaminya. "Mas baca aja sendiri." ujarnya dengan berbalik badan untuk kembali duduk di kursi yang ada di ruang tunggu.


"Kinara yang pesan makanan serba seafood itu, Lun?" Chandra membeo.

__ADS_1


Luna mengangguk lemah sebagai jawaban, "Kata Reyna sih gitu, Mas."


"Itu kan bahaya buat dia, Lun." Chandra pun ikut duduk di samping Luna.


"Mungkin karena dia lagi cari perhatian dari Mas kali." jawab Luna asal yang membuat Chandra menoleh menatapnya. "Maksud kamu apa? Kamu cemburu sama Kinara?"


"Iya.. Aku cemburu, Mas. Wanita mana yang enggak cemburu kalau suaminya masih menyimpan foto mantan kekasihnya, terus dicium juga enggak marah. Lupa kali ya kalau udah punya istri." Sindir Luna akhirnya dengan mata yang tidak mau menatap suaminya.


Chandra merasa susah menelan saliva saat mendengar sindiran dari istrinya.


Sebenarnya Luna juga tidak ingin melakukan itu.


Ia tidak seberani itu untuk menyindir suaminya. Tapi saat suaminya terus saja selalu perhatian dengan apa yang menyangkut Kinara, ia juga tidak bisa menahannya.


Berbekal pelajaran dari Dokter yang mengatakan jika Kandungannya lemah karena ia stress memikirkan suaminya dalam hati, membuat ia mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.


Bagi Luna, tumbuh kembang janin dalam perutnya lebih prioritas.. tapi ia juga harus bisa membuat hatinya tidak terbebani dengan mengatakan terus terang apa yang ia rasakan pada suaminya.


Suaminya yang jarang peka itu harus disindir sedikit-sedikit. Apalagi jika sudah menyangkut Kinara.


Kring~~~~


Ponsel milik Chandra berbunyi, menampilkan Jaelani yang tengah menelponnya.


Secepatnya Chandra pun menekan ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menjawabnya.


Jaelani: Halo, Tuan.


Chandra: Ada apa, Lan?


Jaelani: Tuan bisa ke kantor sekarang? Ada meeting penting yang tidak bisa diwakilkan. CEO perusahaan K menginginkan Tuan yang menemuinya langsung.


Chandra: Jam berapa, Lan?


Jaelani: Sekitar setengah jam lagi, Tuan. CEO perusahaan K juga mendadak mengabarinya. CEO itu baru pulang dari Australia.


Chandra: Kamu bisa kesini?


Jaelani: Maksud Tuan?


Chandra: Kinara masuk rumah sakit. Dan sangat tidak memungkinkan kalau aku meninggalkannya sendirian. Luna pun tidak mungkin menunggu Kinara seorang diri, Lan.


Jaelani: Nona Kinara mantan terindah Anda, Tuan?


Chandra: Iya.. Kinara. (jawabnya ngegantung)

__ADS_1


Jaelani: Nyonya Luna mengenal Nona Kinara, Tuan?


Chandra: Ya... Dia dosen baru di kampus, Lan.


Jaelani: Heuh? Anda ketemu setiap hari dengan Nona Kinara, Tuan? Lalu bagaimana dengan Nyonya Luna?


Chandra: Luna istriku. Memang ada apa?


Jaelani: Tidak ada, Tuan. Baiklah.. Saya akan segera kesana.


Mendengar Jaelani yang mau mengikuti perintahnya, Chandra pun langsung memutus sambungan teleponnya sembari menoleh menatap istrinya.


"Apa Mas?" Luna pun bertanya saat suaminya seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Kita ke perusahaan sekarang, Lun. Mas ada meeting penting dengan CEO perusahaan H." ujarnya lalu berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya.


Luna pun langsung berdiri sembari menerima uluran tangan suaminya tanpa bertanya dan mereka berdua pun kini melangkah keluar dari rumah sakit internasional itu.


Sesampainya di dekat ruang informasi, Chandra menghentikan langkahnya saat mendengar dan mengenali suara lantang laki-laki yang sangat ingin dibunuhnya.


Seketika Chandra pun menoleh mencari arah suara itu dan matanya menatap nyalang pada laki-laki yang tidak diduganya akan bertemu dengannya pada sore hari ini.


"Di ruangan mana Kinara Maheswari dirawat, sus?" tanya Raka dengan suara lantangnya pada suster jaga.


Orang yang dibayarnya tidak masuk ke rumah sakit internasional itu melainkan hanya berjaga di parkiran dan mengharuskannya bertanya pada suster jaga untuk mengetahui di ruangan mana istrinya dirawat.


"Di ruang VVIP nomor 01, Pak." jawab Suster itu yang langsung dijawab anggukan oleh Raka dan langsung pergi tanpa berucap 'terimakasih.'


"Raka!" panggil Chandra dengan suara yang tak kalah lantangnya yang mampu membuat Raka seketika menghentikan langkahnya.


Chandra! batin Raka bersuara saat mendengar suara Chandra yang berjarak beberapa langkah di belakangnya memanggil namanya.


ngapain Chandra disini? Kenapa aku harus bertemu dengannya sekarang? Kinara belum bisa merebut dia dari Luna. batin Raka menggeram sembari mengepalkan tangannya.


Raka menulikan telinganya, ia tidak mau berbalik badan untuk sekadar menjawab panggilan dari Chandra dan langsung melangkah kembali untuk berjalan menuju ruangan Kinara.


Bukan tentang pengecut, karena kata itu sudah disandangnya saat ia dengan kurangajarnya mengambil mahkota kepunyaan adik Chandra tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.


Chandra mencoba mengejar langkah Raka yang menghindarinya, pertemuan tidak terduganya dengan Raka bukanlah suatu kebetulan bukan?


Tidak mungkin laki-laki itu berada di rumah sakit jika tidak ada hal penting yang mengharuskannya ke rumah sakit.


"Mas.. Katanya mau meeting." Luna pun berusaha mencegah agar tidak terjadi perkelahian.


"Mas harus tahu dia mau apa di rumah sakit ini, Lun. Meetingnya bisa ditunda sebentar. Mas enggak lama." tegas Chandra akhirnya yang memutuskan untuk membuntuti dimana Raka berjalan melangkah dan menulikan telinganya dari pendengarannya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2