Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Extrapart 5


__ADS_3

Menikmati suasana malam di desa A ternyata tak seburuk yang dibayangkan oleh Chandra.


Dalam diamnya saat menuruti permintaan sang istri dan adik kesayangannya, laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu tengah memikirkan bagaimana caranya ia membicarakan hal yang memang sudah ia tolak mentah-mentah.


Namun, sebagai kakak yang baik ia harus tetap waspada dan memberi tahu Jenifer dan Darius tentang Raka yang ternyata sangat mengharapkan Arini mengakuinya.


Ya.. Kata itu memang belum terlontar dari mulut Raka, tapi caranya ia memberi saham cuma-cuma sebanyak tiga puluh persen membuat Chandra tidak bisa untuk tidak berburuk sangka pada mantan rekan sesama dosennya itu.


"Ada apa, Ndra? Kayaknya lagi banyak pikiran." Darius menepuk pundak Chandra yang kini sedang duduk termenung di atas bebatuan besar yang ada di halamannya sembari menatap bintang di langit.


"Kelihatan banget ya?" Chandra menoleh sekilas, lalu kembali menatap bintang di langit.


Darius mengangguk walaupun sadar jika Chandra tidak tengah menatapnya, "Ada masalah apa memangnya, Ndra? Cerita lah.. Biar lega. Lo percaya kan sama gue."


Chandra mengamati sekitar sebelum menimpali perkataan Darius, "Raka memberikan saham sebanyak tiga puluh persen untuk perusahaan gue, Ri.."


Chandra menjeda sebentar perkataannya demi melihat raut wajah Darius, lalu kembali melanjutkan, "Tapi udah gue tolak, karena alasannya saham itu untuk Arini."


"Dia pengen diakui sebagau Ayah Arini, Ndra?" setelah sekian detik Darius mencerna perkataan Chandra, dia pun bertanya.


"Dia belum mengatakan itu, tapi menurut gue sih iya."


"Lalu gue harus gimana, Ndra?" Darius tiba-tiba buntu, karena baginya.. Dulu dia hanya seorang direktur pemasaran, bukan pemilik perusahaan besar seperti Raka.


"Ya waspada aja. Gue percaya sama lo kalau lo bisa jaga adik dan ponakan gue dengan baik." Chandra menepuk pundak sahabatnya, "Setelah ini, kalian bisa ke Jerman untuk mengambil alih JA company, perusahaan Dad yang disiapkan untuk Jenifer."


***


Perkenalan dengan kedua orang tua Darius yang awalnya hanya sebentar, ternyata berujung sampai dua hari karena Jenifer benar-benar tidak mau ditinggal oleh Luna dan Chandra.


Chandra sudah mengesah sedari tadi saat Jaelani memberi kabar padanya jika jadwalnya begitu padat.


Ada beberapa client yang tidak mau bekerja sama jika diwakilkan oleh Jaelani.


Dan hari ini pun ia sebenarnya belum bisa berangkat ke perusahaan karena harus mengantar sang adik dan ipar serta keponakannya ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Jerman.


Usai Chandra memberitahu Luna dan Jenifer jika Raka berniat memberi saham cuma-cuma untuk Arini, mereka memang langsung menghubungi kedua orang tuanya, dan mengelola perusahaan mereka di Jerman adalah solusinya.


"Kakak kayaknya enggak bisa nganter kalian, Jen." ucap Chandra yang membuat Jenifer menghentikan suapannya lalu menoleh pada kakaknya dengan raut wajah tak terima.


"Jadwal kakak sangat padat. Kamu kan tahu kalau beberapa hari kemarin kakak lagi healing di desa." sindir Chandra yang membuat Jenifer menangis setelahnya.


"Hikhikhik.. Aku mau ke Jerman lo kak.. Bakalan lama kita baru ketemu, itu pun kalau Kakak sempat ke sana dan aku sempat ke sini. Ngurus perusahaan yang udah lama dipegang sama orang kan butuh waktu untuk memulihkannya, Kak." rengek Jenifer.


Chandra mengesah melihat adiknya merengek, tentu ia tidak akan tega. Tapi nasib beribu karyawannya ada di tangannya dan ia tidak boleh egois untuk kali ini.


"Aku berangkat dulu, Lun. Baik-baik di rumah." Chandra mengecup pucuk kepala Luna, dan mencium pipi gembul Devano, tak menanggapi rengekan adiknya walaupun ia terus mengumpat di hatinya sepanjang jalan menuju perusahaannya.

__ADS_1


***


"Jenifer!"


Deg


'Suara itu.. Suara laki-laki yang--'


Belum selesai Jenifer membatin mengingat suara Laki-laki yang meneriakinya, Laki-laki itu kini berada di depannya, menghalangi jalannya yang ingin masuk ke dalam toilet.


"Ka--Kamu?" tunjuk Jenifer sembari menunjuk wajah Raka yang hanya berjarak beberapa centi dari dirinya.


"Iya.. Ini aku. Kamu masih ingat aku kan?" tanya Raka menatapnya intens yang membuat Jenifer langsung mengalihkan pandangannya.


Dulu, tatapan itu membuatnya jatuh cinta. Tapi sekarang, tatapan itu terlihat menjijikkan karena ternyata laki-laki ini telah merusaknya.


Katanya, jika laki-laki yang benar dan tulus mencintai pasangannya, laki-laki itu akan menjaga perempuannya hingga ia halal baginya.


Tapi, apa yang telah dilakukan oleh Raka?


"Aku tahu kamu mungkin benci sam aku--"


"Bukan mungkin, tapi udah benci banget." Jenifer mau tak mau mendorong dada Raka agar laki-laki itu tidak menghalangi jalannya, "silahkan pergi dari hadapanku, aku udah enggak mau kenal lagi sama kamu."


Belum Jenifer melangkah, lengannya dicekal oleh Raka. "Apa kamu enggak bisa memaafkan aku? Aku dulu mau bertanggung jawab, tapi kamu enggak kasih kesempatan ke aku untuk ketemu dan mengakui kalau kamu udah hamil anakku. Kamu langsung menikah dengan Darius waktu itu, Jen."


"Oh ya? Lalu kabar yang beredar dulu kalau kamu pergi ke luar negeri mau menikah itu cuman karangan belaka?" tanya Jenifer dengan beraninya.


Jenifer melepas lengannya yang dicekal oleh Raka. "Aku berterimakasih sama kamu karena telah 'merusak aku' . Aku bersyukur karena hal itu yang membuat aku bisa menikah dengan laki-laki baik yang meratukanku."


Adik kesayangan Chandra itu tidak mau membahas 'kesempatan' yang ditanyakan oleh Raka.


"Darius tidak mencintaimu, dia menikahimu karena ingin menjadi pahlawan keluargamu, Jen." Baru pertama kali setelah ia ketahuan 'merusak' Jenifer, Raka mempunyai kesempatan berbicara berdua.


"Lalu kenapa? Apa urusannya sama kamu?" tantang Jenifer.


"Aku mau kamu mengakui kalau aku ayah kandung Arini." ucap Raka akhirnya yang membuat Jenifer membulatkan mulutnya, syok.


"Atas dasar apa aku harus mengakui itu? Arini lebih baik tidak mengenal kamu, kamu bukan orang baik yang patut dibanggakan olehnya."


"Aku Ayahnya, Jen. Kamu enggak bisa memungkiri itu." desis Raka.


"Ayahnya?" Jenifer mengulang perkataan Raka. "Kamu tidak berhak menyebut dirimu Ayahnya. Karena Ayah Arini adalah Kak Darius. Dia.. Dia laki-laki yang dari aku mengandungnya selalu berada di sampingku. Dia laki-laki yang ada di sampingku saat aku melahirkannya, dan hanya dia yang aku inginkan menemaniku hingga tua untuk merawat dan membersamai Arini dan calon adik-adiknya."


Huh?


Raka terdiam mendengar penuturan Jenifer yang entah kenapa terasa begitu menyakitkan hatinya.

__ADS_1


Dulu.. Ia sangat menginginkan Luna untuk menjadi wanita yang selalu bersamanya, menjadi istrinya dan Ibu dari anak-anaknya.


Namun, melihat getaran kepahitan di setiap nada yang diucapkan Jenifer disertai tatapan kebencian dari wanita yang pernah mengandung anaknya itu, kenapa terasa sangat sakit?


Apa dulu segitu buruknya ia sehingga ia tidak dikasih kesempatan untuk diakui sebagai Ayah kandung Arini, anaknya?


Sepertinya, Raka harus cukup puas diri dengan gagalnya misi kembali.


Ia yang terlalu percaya diri jika Jenifer masih menyimpan rasa padanya, mengingat dulu Jenifer yang gencar mendekatinya.


Dan karena rasa optimis itu lah yang membuat Raka membayar orang untuk mengintai Jenifer agar ia bisa berbicara berdua dan mengutarakan keinginannya.


Namun nyatanya ia salah, sangat salah.


Hukuman terberat bagi seorang Raka bukan karena ia tidak punya apa-apa, tapi selamanya ia tidak akan memperkenalkan dirinya pada Arini anaknya, sebagai Ayahnya.


***


"Lama banget Jen. Sakit perut?" tanya Luna sembari memperhatikan mata sembab adik iparnya.


"Aku tadi ketemu Raka, Kak.."


"Di toilet?" tanya Luna yang dijawab anggukan oleh Jenifer.


"Dia minta diakui sebagai Ayahnya Arini, juga menyalahkan aku karena tak memberikan ia ruang untuk bertanggung jawab kala itu, Kak." Jenifer mengusap air matanya, "Apa aku memang salah, Kak? Aku hanya menuruti Kak Chandra untuk tidak berhubungan lagi dengan dia setelah waktu itu.."


Jenifer menggantungkan penjelasannya demi mengingat hal yang dulu dilaluinya.


Dia yang sangat mencintai Raka harus ditampar oleh kenyataan jika laki-laki itu merupakan lawan kakaknya untuk memperebutkan Luna.


Laki-laki itu juga pernah membahayakan nyawa kakak iparnyam


Dia yang masih polos, yang hanya ingin mempunyai kekasih, tidak tahu jika Raka mempunyai alasan dibalik rencananya 'merusaknya.'


"Jen.. Kenapa nangis?" Darius baru mendekat setelah memeriksa semua barangnya agar tidak ada yang tertinggal.


"Arini minta digendong sama kamu, Kak." Luna mengalihkan perhatian Darius, karena melihat Jenifer yang kini tengah menatap kosong.


"Jen.." Luna mengusap lengan adik iparnya usai Darius menenangkan Arini yang agak rewel. "Kakak enggak tahu keputusan yang diambil oleh Mas Chandra waktu itu baik atau enggak, tapi.. Kita sebagai keluarga hanya ingin yang terbaik untuk kamu."


"Menurut Kak Luna.. Apa aku harus memberi kesempatan untuk Raka mendekat dengan Arini?"


Luna menghela napas pelan, ia tahu tidak mudah untuk Jenifer menghadapi ini.


Kalau kemarin memang iya dia menuruti semua perkataan Chandra, tapi setelah bertemu Raka dan bertatap muka tentu beda lagi ceritanya.


Luna pun tidak bisa memberi jawaban, karena sebagai anak yang juga ditinggal Ayahnya sewaktu kecil, sebaik apapun ia, sepemaaf apapun ia, ia tetap manusia biasa yang punya hati yang bisa sakit jika menyangkut ibunya.

__ADS_1


"Tanyakan sama Mas Chandra, Dad, Mom.. Dan Darius sebagai suamimu bagaimana baiknya, Jen. Kak Luna enggak bisa kasih solusi." tuturnya yang membuat Jenifer menganggukkan kepala.


__ADS_2