Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Tentang Pantas Atau Tidak


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah sang mentari yang siap menyinari hari.


Luna yang sudah siap bangun dari pagi setelah melayani suaminya yang tak ada hentinya meminta ITU dengannya pun sudah siap berkutat di dapur untuk membantu Bi Asih menyiapkan sarapan paginya.


Pagi itu, pagi pertama untuknya sarapan pagi bersama Ibu mertuanya.


Senyum seakan terus terukir di wajah Luna saat membantu Bi Asih menanak nasi dan menekan tombol "Cook" pada mesin penanak nasi itu.


"Nyonya sepertinya sedang senang sekali?" tanya Bi Asih perhatian.


"Eh! Kelihatan banget ya, Bi?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya yang membuat Bi Asih langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


Bi Asih pun menganggukkan kepalanya, "Baru semalam saya melihat Tuan dan Nyonya besar berpelukan lagi, Nyonya." ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Loh! Kok bisa, Bi?" Dan Luna pun mulai ingin tahu saat Bi Asih memulai pembicaraan yang sedari kemarin ingin ia tanyakan pada suaminya.


Namun, untuk menjaga hati Chandra, Luna pun mengurungkan niatnya itu dan memilih memendamnya sendiri.


"Bi.." panggil Luna saat Bi Asih terdiam.


"Saya mau nyuruh Pak Mun nyiram bunga dulu, Nyonya." Bi Asih pun menghindar, memilih menutup mulutnya daripada ia memberi informasi yang juga tidak sepenuhnya mengetahuinya.


***


"Pagi semuanya." Emily memberi ucapan selamat pagi pada anak-anaknya dan menantunya saat ia duduk di kursi makannya.


"Pagi, Mom." Ketiganya pun kompak menjawab.


Usai menyapa anaknya, Emily pun mulai memakan sarapannya yang sudah disiapkan oleh Bi Asih secara langsung dan membuat ketiga anak yang tengah menunggunya langsung ikut sarapan bersama.


Luna yang sudah belajar cara makan yang baik pun, terlihat santai dan bisa menerapkannya dengan baik.


Semua tingkah laku dan cara makan Luna tidak lepas dari pandangan Emily.


Dalam hati Emily memuji anak menantunya itu, Luna dari kalangan bawah tapi bisa makan dengan anggun dan cara yang mahal.


Padahal Emily tidak tahu, bahwa semua itu sudah dipersiapkan oleh Chandra karena tau sifatnya.


"Mom.." panggil Jenifer saat menyadari Momnya itu meneliti cara makan Luna.


"Iya, sayang." Emily pun menyahut cepat dan memusatkan perhatiannya untuk Jenifer.


"Aku nanti mau jalan sama kak Luna."


"Kita bicarakan nanti setelah makan, Jen." sergah Emily mengingatkan jika mereka masih dalam keadaan sarapan.

__ADS_1


Dan bicara saat makan, bukanlah perbuatan yang baik.


Jenifer tersenyum, ia senang bisa mengalihkan Momnya saat Luna belum menyadari jika Momnya sedari tadi meneliti cara makan kakak iparnya itu.


***


Sesuai kesepakatan saat sarapan, mereka berempat pun sekarang berada di ruang keluarga.


Dan lagi, Emily tidak bisa mengalihkan pandangannya saat melihat cara duduk Luna yang begitu anggun.


Wanita yang masih cantik di usianya itu lagi-lagi berdecak kagum.


darimana dia belajar cara duduk seperti itu? elegan dan begitu mahal. batin Emily berteriak.


Chandra yang kebetulan hari itu akan menghadiri meetingnya setelah makan siang pun bisa mengikuti rapat mendadak yang hendak terjadi itu karena Jenifer mengatakan akan mengajak Luna pergi.


Laki-laki itu tidak ingin bertanya, tapi ingin mendengar secara langsung dari adiknya, ia akan membawa istrinya kemana agar ia bisa menyuruh pengawas yang biasa mengawasi Luna untuk bersiap-siap.


"Mom.." panggil Jenifer memulai pembicaraan.


"Iya.. Kamu mau ngajak Luna kemana?" tanya Emily


"Aku mau ngajak Kak Luna ke Mall.. Nonton, Mom. Ada film baru di bioskop. Boleh, ya?" Jenifer mengatupkan kedua tangannya di depan dada, meminta izin.


Luna menganggukkan kepalanya, "Nanti siang, Mas. Dosennya lagi ada acara." jelas Luna yang membuat Jenifer tersenyum senang.


"Boleh Mom ikut?" tanya Emily tiba-tiba.


"Buat apa Mom ikut?" tanya Chandra dan Jenifer bersamaan, membuat Luna langsung menoleh pada Chandra dan menepuk pelan pahanya. "Mas.." sergahnya.


"Mas cuman mau tanya, sayang.." Chandra mengusap pipi Luna yang membuat Jenifer meliriknya. "Kak.. Ada aku disini." ujarnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Chandra mengernyit.


"Kata Mom aku itu masih anak-anak, Kak." kelakar Jenifer yang membuat Emily langsung mencubit pipinya gemas. "Anak ini.." ujarnya sembari menggelengkan kepala, yang membuat semuanya tertawa.


Tawa bahagia yang baru saja tercipta yang membuat Emily seketika terdiam sembari menitikan air mata.


Entah apa yang dipikirkan oleh Emily saat itu.


"Mom menangis, Mas." bisik Luna pada Chandra, diterima baik oleh Emily ternyata belum bisa membuat Luna terbiasa pada Emily.


Wanita cantik berbulu mata lentik itu masih takut-takut untuk terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Mom mertuanya.


"Kenapa Mom?" tanya Chandra perhatian yang membuat Emily langsung menoleh padanya lalu duduk bersimpuh di depan Chandra.

__ADS_1


Chandra dan Luna yang melihat Momnya hendak bersimpuh pun langsung berdiri dan mengajak Emily untuk duduk kembali.


"Biarkan Mom bersimpuh di kakimu, Ndra." ujar Emily yang membuat Jenifer langsung mendekati Momnya dan mengusap pundak serta air mata yang membasahi wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Ada apa, Mom? Jangan seperti itu. Mom jangan bersimpuh di kaki Mas Chandra, karena itu tidak pantas, Mom." Luna lah yang mengambil alih, karena Chandra terdiam, hanya bisa menatap Momnya yang tiba-tiba hendak bersimpuh di kakinya.


"Ini bukan tentang pantas atau tidak. Mom banyak salah dengan suamimu, Lun." Emily terus terisak, pundaknya naik turun untuk sedikit meredakan tangisnya, tapi tidak bisa.


"Tapi tetap tidak sepantasnya orang tua bersimpuh di kaki anaknya, Mom." Luna pun ikut terisak, wanita itu berkata dengan suara sumbangnya.


"Kamu tidak tau hal apa saja yang membuat Mom begitu merasa sangat bersalah saat ini pada Chandra, Lun." Emily tergugu, tidak bisa meredam tangisnya walaupun sedikit.


Air matanya terus terjun bebas membasahi wajahnya yang mulai terlihat ada kerutan.


Jenifer yang melihat sorot mata penuh penyesalan di wajah Momnya, turut menitikan air mata tanpa suara.


Sepertinya, rasa bersalah Emily mencuat saat melihat Chandra bisa tertawa lepas dengannya untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya anaknya itu tidak pernah tertawa di hadapannya.


Chandra selalu menunjukkan muka masam dan datarnya setiap kali bertemu dengannya.


Dan penyesalan Emily semakin bertambah saat mengingat kejadian semalam, anaknya ini begitu manis dengannya setelah kesalahan yang ia perbuat kesekian kalinya, padanya.


Luna terus menggelengkan kepala sembari bercucuran air mata mendengar berbagai kata "Maaf" dari sekian banyak cerita yang dilontarkan oleh Emily.


Wanita cantik berbulu mata lentik itu menggenggam erat tangan Emily guna menenangkannya, namun sepertinya yang dibutuhkan Emily bukan itu.


Dan Luna pun langsung menoleh, dan ia bisa melihat jika suaminya meneteskan air mata tanpa suara.


Entah apa yang dipikirkan suaminya itu, tapi satu yang pasti, ia pun melepas genggaman tangannya pada Emily lalu berganti menggenggam tangan Chandra guna mendapatkan perhatian dari suaminya. "Mom butuh kamu, Mas. Mom cuma butuh satu kata dari kamu saat ini untuk menenangkannya." bisiknya tepat di telinga Chandra.


Chandra menoleh, mempertemukan mata basahnya dengan mata basah milik istrinya seakan mempertanyakan apa yang harus ia perbuat.


"Mom butuh satu kata dari, Mas. Maafin Mom atas kesalahan yang telah diperbuatnya, Mas." Luna pun menyakinkan suaminya.


Mendengar perkataan dari Luna, Chandra pun kembali menoleh pada Momnya, lalu beranjak dari duduknya dan beralih duduk di samping Momnya yang masih tergugu. "Chandra sudah memaafkan semua kesalahan, Mom. Maafkan Chandra juga ya, Mom."


Jenifer melepas usapannya di pundak Momnya, membiarkan Emily sepenuhnya berhadapan dengan Chandra. "Semoga hubungan kita lebih baik setelah ini ya, Ndra." pinta Emily yang dijawab anggukan kepala oleh Chandra dan langsung mendekap Momnya.


Wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Wanita yang telah mengASIhinya.


Bersambung...


Pemanasan dulu ya kak.. hihi

__ADS_1


__ADS_2