
"Nona Kezia.." ujar Jaelani sembari menajamkan penglihatannya saat melihat Kezia berdiri di depan ruang meeting.
"Dimana Tuanmu itu, Jae?" tanya Kezia dengan bersidekap tangan di depan dada.
"Tuan masih cuti hari ini, ada apa Nona mencari Tuan? Anda mau meminta balikan lagi?" tanya Jaelani dengan nada sarkasme disertai raut wajah jengah yang tidak dibuat-buat.
"Aku dengar dari Papa kalau Tuanmu itu sudah menikah. Aku hanya ingin mengucapkan selamat saja. Kenapa dia tidak mengundangku?" tanya Kezia tak terpengaruh ucapan Jaelani yang seakan memutarnya kembali ke masa silam, mengingatkannya atas kesalahannya pada Chandra.
Kezia merupakan anak dari salah satu pemegang saham di perusahaan milik Chandra, dan karna itulah ia mengetahui jika mantan kekasihnya itu sudah menikah.
"Buat apa Tuan Chandra mengundang Anda." satu kalimat pernyataan yang seperti ledekan untuk Kezia diucapkan oleh Jaelani.
"Tapi aku mau mengundangnya, Jae." teriak Kezia menghentikan langkah Jaelani yang hendak pergi dari hadapannya.
"Tuan tidak akan mau datang dengan apapun yang berkaitan dengan Anda." tegas Jaelani tanpa berbalik arah.
"Aku mau tunangan, Jae." teriak Kezia lagi, namun Jaelani tak menghiraukannya.
Jaelani jengah, marah dan selalu naik darah jika melihat Kezia berada di kantor Chandra.
Selain sikap angkuh dan sombong yang sering ditunjukkannya, juga karna dia yang selalu bermuka dua. Dan terutama karna Tuannya pernah ditipu olehnya.
Bukan Jaelani tidak mau mengusirnya, namun ia tidak bisa melakukannya.
"Sepertinya aku harus melaporkan ini pada Tuan." gumam Jaelani sembari berjalan meninggalkan Kezia yang masih berdiri di depan ruang meeting menuju ruangannya.
***
"Eh, Bapak sudah selesai berenang?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tadi bilang satu episode? apa itu?" alih-alih menjawab, Chandra tetep kekeh dengan pertanyaan yang belum dijawab oleh Luna.
"Bapak mandi dulu ya, aku siapkan bajunya." ujar Luna yang sepertinya menghindari menjawab pertanyaan Chandra.
Luna pun berdiri dari duduknya dan hendak berjalan menuju walk in closet, namun tangannya pun dicekal oleh Chandra.
"Luna Sabrina." ujar Chandra penuh penekanan, karna Luna mengalihkan pertanyaannya.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku menulis novel, Pak. Dan tadi aku baru selesai menulis satu episode buat hari ini." jawab Luna akhirnya sembari menatap ke sembarang arah.
Chandra menaikkan alisnya, "Kamu seorang penulis?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Luna.
__ADS_1
"Bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan pergi ke suatu tempat." titah Chandra sembari berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.
Sementara Chandra di dalam kamar mandi, Luna berjalan ke walk in closet untuk menyiapkan baju yang akan dipakai oleh suaminya.
Lagi, ia ingin mencoba berbakti kepada suaminya.
Sekian detik memilih, pilihan Luna pun jatuh dengan celana pendek berwarna coklat dan kaos polos berwarna navy, karna ia tau suaminya tidak akan berangkat bekerja ke kantor ataupun ke kampus.
Usai memilih baju untuk Chandra, Luna pun keluar dari walk in closet dan mendengar suaminya yang masih sibuk di kamar mandi, Luna pun memutuskan membawa celana jeans dan kaos pendeknya ke kamar yang ada di sebelahnya untuk mandi dan bersiap agar suaminya itu tidak terlalu menunggu lama.
****
"Mas.. Ini ruko siapa?" tanya Luna pada Chandra, memanggilnya 'Mas' karna ada Ibunya dan Radit yang ternyata juga ikut pergi bersamanya.
Mobil yang ditumpanginya bersama sopir Chandra berhenti di depan ruko bertingkat dua yang dekat dengan sebuah Mall yang jaraknya tidak jauh dari rumah mewah milik Chandra.
Bangunan tingkat dua itu terlihat baru saja selesai direnovasi. Terlihat banyak sekali alat untuk mengecat masih berserakan di dekat pintu masuknya.
Ruko itupun berwarna full biru seperti kesukaan Luna.
Luna pun menoleh lagi pada Chandra, saat merasa jika suaminya belum memberinya jawaban.
Hati Chandra menghangat setiap kali Luna bisa bersikap biasa kepadanya setiap ada Ibunya dan mau memanggilnya dengan sebutan 'Mas' tanpa ada kekakuan di dalamnya.
Ruko tersebut juga direnovasi atas rekomendasi Ibu mertuanya yang mengatakan jika Luna begitu menyukai warna biru.
"Mas.." panggil Luna lagi sembari memegang lengan Chandra, tapi laki-laki itu masih sibuk menatap ruko yang ada di depannya.
Merasa diacuhkan, Luna pun beralih bertanya pada Ibunya yang terus menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Bu.. Ini ruko siapa?"
"Ini rukomu, Lun. Hadiah dari Nak Chandra buat kamu, katanya karna kamu mau menjadi istrinya." ujar Ibu Halimah dengan meneteskan air mata.
Luna terperanjak, mulutnya menganga dan ia pun langsung menutupinya dengan tangannya. Masih belum percaya atas apa yang baru didengarnya.
Luna beralih lagi menatap Chandra, dan laki-laki tampan bak Dewa Yunani itu menganggukkan kepala dan tanpa aba-aba Luna pun langsung memeluknya.
Deg
Sekian detik Chandra terpaku menerima pelukan mendadak dari wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Dan beberapa detik juga ia membiarkan Luna memeluknya tanpa membalasnya.
Ia masih takut, ia masih belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan Luna di hidupnya. Namun, ia juga tak mungkin menyakiti Luna dengan melepaskan pelukan Luna begitu saja, apalagi ada Ibu mertuanya yang juga melihatnya.
__ADS_1
Ck! Sial. kenapa jantungku tiba-tiba berdebar lebih cepat dari biasanya. batin Chandra sembari menatap kepala Luna yang kini berada di depan dadanya.
"Bagaimana Ibu tau kalau ruko ini buat Luna?" Luna bertanya kembali pada Ibunya, karna Chandra sedari tadi hanya tersenyum dan mengangguk jika ditanya.
Sepertinya, laki-laki itu masih speechless mendapat pelukan mendadak dari Luna.
"Karna Ibu yang memilihnya, Lun." jawab Ibu Halimah sembari mengingatnya.
FLASHBACK ON
Tempo hari saat Luna pergi belanja dengan Jaelani, Chandra memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampiri Ibu Halimah ke kontrakannya agar menemaninya membeli sebuah ruko untuk Luna.
Chandra memang niat membelikan Luna ruko agar istrinya dan Ibu mertuanya tidak perlu berjualan keliling dengan mendorong gerobak di tengah teriknya panas dan di kala hujan.
Bukan tanpa alasan Chandra melakukan semua itu, ia hanya ingin menebus sedikit rasa bersalahnya karna memaksa Luna menjadi istrinya, padahal lecet mobilnya tidaklah seberapa.
Chandra memberhentikan mobilnya beberapa kali di beberapa tempat sebelum Ibu Halimah memilih bangunan tingkat dua yang memang berjarak dekat dari rumahnya.
Catnya yang sudah terlihat agak pudar, Ibu Halimah pun menyarankan agar Chandra mengecatnya menjadi full warna biru seperti kesukaan Luna.
"Terimakasih ya, Bu. Sudah mau aku repotkan." ujar Chandra saat ia sudah berhasil mendapatkan ruko untuk Luna yang mana nanti akan menjadi tempat tinggal Ibu Halimah.
Chandra tau, senyaman-nyamannya tinggal bersama anak dan menantu, lebih nyaman tinggal di tempat sendiri walaupun jika diibaratkan kata tempat itu tidak layak untuk ditinggali.
Tapi balik lagi, kenyamanan adalah hal nomor satu yang selalu diutamakan Chandra.
"Ibu tidak repot, Nak. Ibu malah senang karna tau jika laki-laki yang mau menjadi suami anak Ibu adalah orang yang sangat peduli dan berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Ibu yang berterimakasih padamu, Chandra." ujar Ibu Halimah seraya turun dari mobil Chandra.
"Jangan melebih-lebihkan seperti itu Bu, aku yang berterimakasih karna Ibu sudah mengizinkan aku untuk menikahi putri Ibu." ujar Chandra sembari tersenyum dan kini ia pun langsung menyalami tangan Ibu Halimah, untuk berpamitan karna orang yang ia bayar untuk mengikuti Jaelani dan Luna mengatakan padanya jika mereka sudah arah pulang ke rumah Luna.
FLASHBACK OFF
"Ibu yang memilihnya? Ibu juga yang nyuruh warnanya dicat kayak gini?" tanya Luna lagi dengan raut wajah bahagia.
"Iya, Luna. Berterimakasihlah pada suamimu, sayang." jawab Ibu Halimah sekaligus mengingatkan karna Luna sedari tadi belum mengucapkan terimakasih pada suaminya.
Luna menoleh, dan bola mata jernihnya bertemu dengan bola mata elang milik Chandra.
Sejenak, ia pun mengumpulkan keberanian dan akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali memeluk Chandra, "Terimakasih ya Mas, tapi ini gak termasuk hutang kan?" bisiknya lirih tepat di leher Chandra, dan laki-laki itu sejenak susah bernapas sekaligus menahan tawa mendengar ucapan istrinya.
"Ya, sama-sama." ujar Chandra tanpa menjawab pertanyaan nyeleneh dari Luna dan langsung menjauh dari Luna untuk menjawab panggilan masuk seraya mengambil handphonennya di saku celananya terdahulu.
__ADS_1
Bersambung....