Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Foto Wanita


__ADS_3

"Mas serius?" tanya Luna dengan membulatkan matanya.


Chandra menganggukkan kepala sebagai jawaban dan kemudian melajukan lagi kendaraannya.


"Lalu bagaimana proyek, Mas? Apa sudah selesai?" Luna terlihat begitu panik dan khawatir.


"Biarlah itu jadi urusan Mas, Lun. Kamu jangan terlalu memikirkannya, pikirkan kesehatanmu dan si baby." putus Chandra yang membuat Luna mengangguk.


semoga keputusan yang kita buat waktu itu untuk menerima proyek itu tidak salah ya, Mas. Semoga Tuhan melindungi kita. batin Luna merapalkan banyak doa sembari menatap suaminya.


****


Sesampainya di perusahaan, Chandra yang sudah ditunggu oleh Jaelani di ruang meeting pun langsung mengajak Luna menaiki lift khusus executive.


Hari itu ia harus mengadakan meeting dengan berbagai Direksi yang ada di perusahaannya untuk membahas proyek kerjasama yang terjalin dengan Diamond Grup.


Perpotongan waktu dari waktu yang ditentukan saat menjalin kerja sama itu membuat Chandra harus berpikir keras dan berusaha cepat untuk menyelesaikannya.


Pengerjaan proyek yang baru sembilan puluh persen karena seharusnya proyek itu selesai masih dalam waktu lima hari lagi, membuat Chandra membutuhkan banyak pekerja tambahan dalam waktu singkat.


Kolega bisnis, rekan dosen dan semua orang yang bisa diminta tolong untuk mencarikan tambahan pekerja telah dihubungi oleh Chandra sepanjang perjalanan tadi menuju kantornya.


Chandra harus menang. Ya, Chandra harus bisa menyelesaikan proyek itu dalam waktu kurang dua puluh empat jam agar bisa membuktikan pada Raka, jika dia bisa memperjuangkan apa yang memang harusnya dimilikinya.


"Kamu tunggu disini dulu, Mas ada meeting sebentar." pinta Chandra pada Luna dengan mengambil berkas yang telah disiapkan oleh Jaelani di meja kerjanya.


"Iya.. Mas. Mas meeting aja." ujarnya sembari tersenyum, yang tidak dilihat oleh Chandra karena laki-laki itu masih sibuk memilah berkas yang akan digunakannya untuk meeting.


Usai mendapat semua berkas yang dibutuhkan, Chandra pun langsung melangkah keluar dari ruangannya dengan tak lupa mengecup pucuk kepala dan bibir Luna. "Doain Mas ya, Mas butuh dukungan doa dari kamu." ujarnya yang membuat Luna langsung mengangguk, "Iya, Mas.. Aku pasti doain yang terbaik buat kamu." timpal Luna yang dijawab senyuman oleh Chandra.


Suara pintu yang ditutup dari luar menandakan Chandra benar-benar sudah menuju ruang meeting.


Luna.. Yang tadinya duduk di kursi depan kursi kebesaran milik suaminya pun berdiri untuk memindai ruangan kerja suaminya.


Wanita cantik itu beralih duduk di sofa.. Mengamati ruangan suaminya dari sofa yang ternyata begitu bagus interiornya.


Lalu, berdiri kembali dan beralih menuju kursi kebesaran suaminya.


Kursi yang baru pertama kali ia duduki itu terasa begitu nyaman dan Luna pun tanpa sadar menyandarkan kepalanya di kursi itu, menikmatinya.


Kring~~~


Ponsel Luna berbunyi, menampilkan Reyna yang tengah menghubunginya.

__ADS_1


Dengan cepat, Luna pun menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.


Panggilan tersambung..


Luna: Halo, Reyn..


Reyna: Luna.. Nanti kita ketemu di toko buku sebentar ya?


Luna: Toko buku? Memangnya mau ngapain, Reyn?


Reyna: Ya beli buku lah, Lun. Aku mau beli buku yang bisa buat referensi ngerjain tugas. Sebentar lagi kita kan ujian.


Luna: Aku nanti sama Mas Chandra, Reyn. Enggak enak kalau mampir-mampir dulu.


Reyna: Ayolah Lun.. Aku butuh kamu untuk memilihkan buku yang harus aku beli.


Luna: Kamu bisa tanya sama penjaga tokonya buku yang mau kamu beli.. Dia kan bisa membantumu mencari buku yang kamu butuhkan, Reyn.


Reyna: Ayolah Lun.. Please, sebentaaaar saja.


Luna: (menghela napas) Nanti coba aku bilang sama Mas Chandra, ya.


Reyna: Sip.. Aku tunggu kabar baiknya ya, Lun.


Luna kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya, lalu meneliti apa saja yang ada di meja kerja suaminya.


Beberapa detik Luna meneliti meja kerja suaminya, tanpa sadar ia pun tersenyum saat menemukan di meja itu terdapat foto pernikahannya saat dulu mereka ijab qobul.


Luna memegang foto itu, lalu mengusapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Masih tidak percaya jika pernikahan yang tidak didasari dengan cinta itu bisa bertahan sejauh ini, bahkan tempo hari lalu mereka melangsungkan pesta pernikahan yang begitu meriah dan mewah.


Dan lagi, sekarang di rahimnya sedang tumbuh makhluk kecil yang nantinya akan melengkapi pernikahannya.


Andai dulu dia tidak menuruti omongan Ibunya untuk berkata jujur tentang dirinya dan menjawab dengan lugas saat suaminya bertanya padanya tentang apa yang dijelaskannya, mungkin hubungan mereka belum berkembang sejauh ini.


Luna pun memeluk foto pernikahannya dengan hati yang menghangat hingga matanya terpusat pada laci yang ada kunci berbentuk love nya.


Kunci itu terpasang, dan membuat Luna ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya.


Apakah memuat foto suaminya? Atau foto pernikahannya? Atau foto dirinya?


Ah, Luna pun menggelengkan kepalanya. Dirinya belum sepercaya diri itu untuk berpikiran jika di dalam laci itu ada fotonya.

__ADS_1


Ia belum yakin suaminya benar-benar mencintainya, karena laki-laki itu belum pernah mengatakannya.


Tapi, Luna juga tidak munafik untuk tidak menyadari segala perlakuan penuh cinta yang didapat dari suaminya.


Perlahan.. Luna memutar kunci tersebut, untuk membuka laci itu.


Setelah laci itu terbuka, hati Luna mendadak seperti dihantam sebilah pisau. Tajam dan sangat menusuk hati.


Di laci suaminya, terdapat foto seorang wanita.


Wanita itu berambut pirang, hidungnya mancung, dan bibirnya tebal.


Di foto wanita tersebut juga dihias gambar kecil berbentuk love yang begitu banyak di setiap sisi wajahnya, dan gambar itu digambar dengan tangan, buka berasal asli dari foto itu.


Hati Luna tiba-tiba sakit, matanya tanpa sadar meneteskan air mata.


Siapa wanita tersebut? Kenapa fotonya ada di laci meja kerja suaminya? Gantungan kunci dan gambar bentuk love yang ada di foto itu, apa wanita itu wanita yang dicintai suaminya?


Lalu? Apa sekarang Chandra masih mencintainya?


Luna pun menatap ke atas, menghalau air mata yang akan bersiap terjun bebas membasahi wajah cantiknya saat mendengar suara derap langkah mendekati ruangan kerja suaminya.


Ceklek~~~


Jaelani yang membuka pintu ruangan kerja Chandra, lalu matanya terpaku melihat Luna yang ada di ruangan tersebut.


Sekretaris dengan kekepoan tertinggi itu tidak mengetahui jika Luna mengikuti Chandra ke perusahaannya.


"Maaf Nyonya.. Saya mau mengambil berkas yang ketinggalan." ujar Jaelani sembari masuk ke dalam ruangan Chandra.


Merasa air matanya tidak lagi akan menetes, Luna pun mengangguk dan mempersilahkan Jaelani untuk mengambil berkas yang dibutuhkannya.


"Pak Sekretaris.." panggil Luna saat Jaelani sudah mencapai daun pintu dan hendak menutupnya.


"Ada apa Nyonya?" tanya Jaelani sopan.


"Tolong beritahu Mas Chandra.. Saya mau pergi dengan sahabat saya." pinta Luna dengan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa.


Wanita cantik itu butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya setelah melihat foto wanita itu.


Jaelani yang tidak tahu menahu tentang peraturan apa yang sedang diberikan oleh Chandra hingga Luna mengikutinya ke perusahaannya pun mengangguk, menyanggupi pinta dari Luna pada Tuannya tanpa bertanya dulu pada Chandra.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2