
"Kamu gak pulang, Nak? Suamimu sudah menunggumu." tanya Ibu Halimah pada putri cantiknya, mengingatkannya.. yang masih terlihat asik meneliti setiap interior di rukonya.
"Sebentar lagi, Bu." jawab Luna tanpa menoleh pada Ibunya.
Wanita cantik itu memang begitu mengagumi setiap detail apapun yang ada di dalam ruko tersebut, karna memang baru pertama kalinya mereka masuk ke dalam ruko yang sudah direnovasi sedemikian rupa oleh pekerja yang dipekerjakan oleh Chandra.
"Sebentar lagi kok terus sih sayang.. Ini udah jam sembilan loh."
"Ibu ngusir Luna?" tanya Luna yang sedang merajuk manja, menghentakkan kakinya yang semula berdiri menatap dinding kini berjalan mendekat pada Ibunya, lalu duduk dan memeluknya.
Ibu Halimah tertawa, geleng-geleng kepala dengan kelakuan manja anaknya yang memang tidak berubah jika kepadanya.
Putrinya tetaplah putrinya. Anaknya yang begitu menyayanginya, begitupun sebaliknya.
"Kamu gak kasihan sama suamimu? Kalian tadi kan gak bawa sopir, besok juga Nak Chandra harus kerja kan?" ujar Ibu Halimah tak menjawab pertanyaan merajuk dari Luna sembari merapikan anak rambut Luna, dan menunjuk dimana Chandra terlihat sedang duduk di teras dan menguap beberapa kali.
"Ya udah, Luna sama Mas Chandra pulang dulu ya, Bu. Ibu baik-baik disini, kalau ada apa-apa langsung telpon Luna, ya." ujar Luna akhirnya mengalah saat Luna melihat memang suaminya terlihat sudah mengantuk.
Ibu Halimah tersenyum seraya mengangguk sebagai jawaban.
Luna pun berdiri dan dia tidak mau terlalu egois hanya mementingkan keinginannya, bagaimanapun suaminya begitu berbaik hati dengannya dan Ibunya.
Salahkah ia? Jika ia sedikit berharap jika ia dan Chandra bisa saling bertumbuh rasa dan menjadi pasangan suami istri selamanya?
"Pulang yuk, Mas." ajaknya pada Chandra yang membuat Chandra langsung berdiri lalu berjalan masuk ke dalam ruko.
"Mau kemana Mas?" tanya Luna dan beberapa detik kemudian ia pun menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri saat melihat Chandra yang ia kira akan ke kamar Mandi ternyata menghampiri Ibu Halimah, mencium punggung tangannya lalu berpamitan.
Luna lagi-lagi terenyuh, laki-laki itu begitu menghormati Ibunya. Apa iya, dia tidak akan jatuh hati kepada laki-laki yang begitu terlihat menghormati dan menyayangi Ibunya yang kastanya bahkan jauh di bawahnya?
Rasanya, Luna harus menarik kata-katanya yang terlontar pada Reyna jika ia tidak mungkin berani jatuh cinta pada laki-laki yang kini menjadi suaminya.
Laki-laki yang juga bisa menerima anak asuhnya seperti anaknya, walaupun awalnya mereka menikah karna terpaksa.
tapi, mas chandra bilang jika dia hanya butuh status dari aku. jadi gimana dong? aku gak boleh baper berarti ya. batin Luna mengingat perjanjian awalnya sembari menatap ruko yang tidak menyadari jika Chandra kini sudah berdiri lagi di sampingnya.
__ADS_1
"Ayok, Lun. Kenapa diem." ajak Chandra lagi sembari memegang lengan Luna saat melihat Luna yang ternyata sedang melamun dan tak mendengar ajakannya.
***
Malam semakin larut, jarak dari ruko ke rumah Chandra itupun terasa lama karna hanya keheningan dan suara deru mesin mobil yang menemani perjalanan mereka.
Chandra yang sudah mengantuk lebih fokus dengan jalanan di depannya, dan Luna yang terlihat lebih asik menatap jendela, merenungi hatinya yang kini mulai tumbuh rasa dengan suaminya.
Rasa yang seharusnya tidak boleh tumbuh, karna Chandra tidak pernah benar-benar mengharapkannya menjadi istrinya.
Laki-laki itu berulang kali mengatakan jika dia hanya butuh status darinya. Pikir Luna saat itu.
Helaan napas beratnya terdengar oleh Chandra, dan membuat laki-laki itu menoleh padanya.
Rasa ngantuknya pun menguar begitu saja melihat istrinya yang sepertinya meneteskan air mata, karna ia melihat istrinya itu beberapa kali mengusap matanya.
Chandra menghela napas sebentar, menyakinkan diri untuk tangannya yang kini mulai menjangkau tangan Luna yang sedang mengusap air matanya.
Saat tangan Luna bisa ia raih, Luna pun menoleh, lalu Chandra pun menggenggam tangan mungil itu seraya bertanya, "Kamu kenapa, Lun? Masih gak boleh Ibu, pindah? Atau kita menginap saja disana."
"Kalau kita menginap disana, Mas besok kerjanya gimana?" tanya Luna sembari menatap suaminya, tak melepas tangan Chandra yang kini menggenggam tangannya.
"Ada Pak Mun yang siap mengantarkan setelan kerjaku, Lun."
"Tapi, Kita tidur dimana Mas kalau kita menginap di ruko? Nanti Mas gak nyaman."
"Kamu tadi gak naik ke lantai atas?" tanya Chandra tak menjawab pertanyaan istrinya. Dan dijawab gelengan kepala oleh Luna.
"Di lantai atas itu ada satu kamar yang paling depan, khusus untuk kita." jawab Chandra yang membuat Luna menatap wajahnya.
"Kamu gak percaya?" tanya Chandra saat melihat Luna sepertinya tidak mempercayai perkataannya.
"Aku percaya kok, Mas." ujarnya kemudian sembari menatap ke depan yang ternyata sudah sampai di depan pintu gerbang rumah mewah milik Chandra.
Chandra pun melepas genggaman tangannya dan langsung memasukkan mobilnya ke garasi rumahnya.
__ADS_1
***
Tengah malam Luna terbangun karna merasa kandung kemihnya terasa penuh, ia pun bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk menuntaskannya.
Namun, saat ia baru keluar dari kamar mandi, tiba-tiba lampu padam dan hujan turun begitu derasnya.
"Aaaaaaakkkhhhh.." Luna yang takut akan gelap pun langsung berteriak ketakutan.
Chandra yang baru saja bisa tertidur pun terjingkat kaget mendengar teriakan istrinya.
Dalam setengah sadar, ia menyingkap selimutnya lalu mengambil telepon genggamnya yang ada di meja nakas dan menyalakan flashlight sebagai penerangan.
"Lunaaa.." panggil Chandra sembari berjalan mencari istrinya.
"Mas.. Aku disini." ujar Luna yang melihat cahaya dari handphone Chandra dan langsung berlari lalu memeluk Chandra begitu eratnya.
Chandra membalas pelukan Luna dan ia pun bisa merasakan jika tangan dan badan Luna yang sedang memeluknya sekarang begitu bergetar hebat, dan rahangnya yang mengenai pelipis Luna merasakan jika pelipis dan dahi Luna mengeluarkan keringat dingin, yang menandakan jika istrinya itu begitu ketakutan.
Perlahan namun pasti, Chandra berjalan menuntun sembari memeluk Luna dan duduk di atas ranjang mereka secara bersama.
"Kamu duduk disini dulu ya." Ujar Chandra lalu hendak berdiri namun ternyata Luna begitu takut dan tidak mau ditinggalkannya.
Chandra pun akhirnya mengajak Luna mendekat ke arah pintu dan ternyata mereka berdua tidak mendengar suara maid ataupun penjaga yang mengetuk pintu kamarnya walaupun lampu sedang padam.
"Kita tidur aja ya, Lun. Udah tengah malam soalnya." ujar Chandra yang dijawab anggukan kepala oleh Luna.
Tapi, lagi-lagi seakan semesta sedang berusaha menyatukan keduanya. Terdengar petir yang menggelegar dan Luna yang awalnya tidur berbatas guling dengan Chandra, langsung melempar guling itu ke sembarang arah dan ia mendekat ke arah Chandra, dan memeluknya.
Chandra kaget, namun sedetik kemudian ia pun tersenyum. Mungkin, seharusnya ia berterimakasih pada petir dan lampu padam, karna berkat mereka ia bisa berpelukan pertama kali dengan istrinya dalam keadaan sangat intim di atas ranjangnya.
Ranjang yang pertama kali menjadi saksi pernikahan malam pertama mereka tanpa terjadi apa-apa sepeerti pengantin baru pada umumnya yang menikah karna cinta.
Chandra semakin nyaman dan terlihat mengeratkan pelukannya, memposisikan diri agar istrinya itu tertidur dengan nyamannya tanpa berkata apa-apa karna ia takut membuat istrinya malu karna telah lancang memeluknya.
Helaan napas teratur terdengar, dan Chandra pun kembali tersenyum lalu memejamkan mata, berharap mimpi indah bersama istrinya.
__ADS_1
Bersambung....