
"Kak.. Apa bang Raka Kakak undang?" tanya Jenifer pada Luna yang kini masih dirias.
Wajah cantik itu terlihat lesu, bahkan jauh lebih kuyu daripada semalam. Jika bukan karena make up yang menutupi wajah pucatnya, bisa dipastikan jika Jenifer kini tengah hamil muda.
"Aku belum tahu, Jen. Kamu tahu sendiri kan? Kalau Kakak tidak diikutsertakan dalam persiapan pesta pernikahan ini?" Luna memberi tahu apa yang juga diketahui oleh Jenifer.
Jenifer mengangguk, namun ekspresinya jelas memberi tahu jika wanita itu tengah menyimpan sesuatu.
"Kamu sangat mencintai Pak Raka, Jen?" tanya Luna setelah ia sudah siap dengan make up cetarnya dan melihat Jenifer yang masih murung.
"Entahlah Kak.. Aku bingung dengan perasaanku sendiri." ujar Jenifer lalu berdiri menggandeng lengan Luna saat wanita cantik itu sudah begitu cantik dengan gaun berwarna gold yang membalut tubuh sintalnya.
Luna berjalan menuruni tangga bersama Jenifer dan melihat Mom mertuanya yang begitu open pada Ibunya.
Kasta mereka sungguh berbeda, seperti dia dan Chandra. Tapi, Emily terlihat begitu menghargai Ibunya.
Tanpa sadar, bibir Luna tersenyum tipis. Wanita cantik itu terharu dengan apa yang baru ia lihat.
Bahkan Emily tak sungkan untuk memangku Radit seperti cucunya sendiri.
"Mom memang seperti itu Kak.. Dia itu orang baik. Bahkan selalu menuruti apa perkataan Dad." Jenifer memberitahu saat melihat Luna yang terus menatap ke arah ruang keluarga, dimana semua keluarga sedang berkumpul.
Dan tidak perlu ditanya dengan siapa kini fokus arah tatap Luna.
Luna menoleh pada adik iparnya. "Terimakasih ya Jen.. Terimakasih karena sudah mau menerimaku dan Ibuku di keluarga kalian."
"Aku yang harusnya berterimakasih sama Kakak. Karena berkat kak Luna.. Kak Chandra bisa berbaikan dengan Mom." Jenifer menimpali.
"Maksud kamu apa?"
"Udah.. Enggak usah dipikirin. Yang penting kita cepat berangkat ke hotel. Pasti para tamu sudah pada nunggu Kakak." putus Jenifer lalu dengan cepat menuruni anak tangga dan semua yang sedang duduk pun langsung berdiri menuju mobil untuk berangkat bersama-sama menuju hotel.
****
HOTEL CA.
Di sebuah ballroom hotel tercanggih di negaranya.. Sedang terjadi pesta pernikahan yang luar biasa meriahnya.
__ADS_1
Pesta pernikahan itu dihadiri oleh banyak kalangan, bahkan banyak wartawan yang sudah bersiap sejak dini hari memenuhi parkiran hotel itu untuk mendapatkan berita tentang pesta pernikahan CEO perusahaan manufaktur terbesar di negaranya.
Hastag tentang pernikahan Chandra dan Luna pun menjadi trending topic saat kemarin Emily mengumumkan kepada semua orang jika anak keduanya akan mengadakan pesta pernikahan.
Pesta pernikahan yang disponsori lebih dari 100 vendor itu berlangsung begitu meriah dan begitu mewah.
Chandra dan Luna yang hari itu sama-sama menggunakan baju berwarna gold terlihat bergandengan tangan dengan mesra saat memasuki ballroom yang sudah dihias sedemikian rupa mewahnya.
Para tamu undangan yang sudah hadir bersorak, bertepuk tangan meriah mengiringi langkah kedua mempelai itu hingga sampai di tengah-tengah tempat dimana panggung pelaminan itu berada.
"Selamat atas pernikahan kalian Tuan dan Nyonya Chandra." Jaelani yang pertama kali mengucapkan pada kedua mempelai yang baru saja duduk di kursi pengantin.
"Terimakasih, Lan. Semoga kamu juga cepat menyusul." Chandra menimpali yang dijawab anggukan oleh Jaelani.
Para tamu datang silih berganti. Susunan acara pun mulai dibacakan satu persatu, sesi pemotretan dengan pengantin pun bergantian.
Banyaknya kolega, teman bisnis, keluarga, bahkan rekan sesama dosen dan para mahasiswa dan mahasiswi Chandra yang tak lain teman-teman Luna, membuat kedua penganntin itu tidak sempat duduk.
"Mas.. Aku boleh minta minum?" bisik Luna setelah kerongkongannya terasa begitu kering.
"Ambilkan sirup berwarna orange di stand minuman itu." titah Chandra kemudian.
Luna menarik jas Chandra, membuat si empunya menoleh padanya. "Aku enggak mau minuman dari stand itu, Mas.. Aku maunya dari botolnya langsung terus batu esnya ditaruh di gelas sama airnya." cerocos Luna yang membuat dahi Chandra mengernyit.
apa ini yang dimaksud Mom dengan kata ngidam? tapi.. alat test kehamilan itu menampilkan garis satu. batin Chandra bertanya.
"Mas..." panggil Luna setelah melihat Chandra seperti melamun.
Chandra tersadar, lalu dia pun membisikkan apa yang diminta oleh Luna pada pelayan itu.
"Tunggu sebentar ya, sayang." ujar Chandra sembari mengusap pipi Luna lembut dan moment itupun tertangkap mata oleh Kezia yang baru saja menaiki panggung pelaminan.
Kezia memutar bola matanya kesal melihat Chandra memanggil istrinya "sayang" padahal dia sudah menjadi istri dari Kenzie, sepupu Chandra sendiri.
Kenzie menarik tangan Kezia yang masih tinggal di belakangnya, lalu mereka pun berjalan menyalami tangan Ibu Halimah hingga matanya tak sengaja melihat seorang anak laki-laki yang matanya begitu mirip dengannya.
Bahkan warna kulit serta caranya berbicara, hampir mirip dengannya.
__ADS_1
Kezia langsung mengarahkan tatapannya ke sembarang arah. Jantungnya berdegub kencang saat matanya bersirobok dengan mata Radit.
Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. batin Kezia menolak.
"Selamat ya Chan.. Selamat menikahi gadis miskin." ujar Kezia tanpa rasa sungkan sedikitpun.
Bahkan Kenzie sebagai suami malah tersenyum senang melihat istrinya mengejek sepupunya, bukan menyadarkannya jika itu tidak patut diucapkan.
Apalagi ada Abimana dan Emily yang mendengarnya.
"Kezia.." Emily memanggil wanita yang tidak jadi menjadi menantunya.
Dalam hati tiba-tiba Emily bersyukur Chandra tidak jadi memperistri Kezia, setelah melihat tabiatnya pada Luna.
Kezia tersenyum, wanita cantik itu merasa di atas angin saat mendengar Emily memanggilnya begitu lembut.
"Ada apa, Mom?" tanya Kezia dengan wajah senang.
"Jangan menghina menantuku. Miskin atau kaya bukanlah suatu ukuran untuk seseorang bisa menghina orang lain." jelas Emily yang kini langsung membuat wajah senang Kezia berubah cemberut seketika.
Mendengar Emily menyebutnya "menantu" membuat hati Luna menghangat, hari ini ia mendapatkan kejutan pesta pernikahan dari suaminya dan mendapatkan pengakuan dari Ibu mertuanya.
"Lunaaa.." teriak Reyna yang kini langsung dibekap mulutnya dengan tangan oleh Miko.
Keduanya sedang menaiki anak tangga untuk naik ke panggung pelaminan.
"Kita sedang di pesta, Reyn. Bukan di hutan." jelas Miko yang membuat Reyna menampilkan cengirannya.
"Sorry.." bisik Reyna yang membuat Luna yang melihatnya tersenyum.
"Sepertinya ada kabar baik yang belum aku dengar." ledek Luna saat Reyna dan Miko sudah berdiri di hadapannya.
"Lancar ya, Mik." Chandra ikut menimpali yang kini membuat Reyna dan Miko yang menjadi salah tingkah.
"Emmm... Selamat ya Lun.. Pak.." Reyna pun jadinya kehilangan kata-kata, padahal tadi dia akan mengucapkan banyak untaian manis untuk sahabatnya.
bersambung...
__ADS_1