Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Merencanakan Sesuatu


__ADS_3

"Maafin aku, Ra. Maafin aku." Berbulan-bulan lamanya.. Tiada hentinya Raka terus memohon pada istrinya, Kinara.. Untuk memaafkan perbuatannya beberapa bulan silam.


Perbuatan yang tidak disengajanya itu.. Kebiasaan mendorong orang yang sedang dibencinya membuat ia harus merelakan kehilangan calon anak mereka.


Perbuatan Raka kala itu juga lebih menyakitkan lagi bagi Kinara.. Karena wanita yang biasa memakai dress selutut itu harus merelakan rahimnya diangkat.


Paksaan disertai berbagai ancaman yang diawali dari Ayah kandungnya untuk menikah dengan Raka guna menebus hutang keluarganya... Lalu Papa mertuanya yang memaksanya mengandung calon cucunya dengan tenggang waktu enam bulan.. Dan dari suaminya yang mengharuskannya merebut Chandra kembali hingga mempertaruhkan nyawanya memakan makanan yang membuat alerginya kambuh.. Membuat hidup Kinara merasa tiada gunanya.


Berulang kali Kinara hendak mengakhiri hidupnya dengan berbagai cara, namun dengan berbagai cara Raka bisa menggagalkannya.


Seperti biasa.. Saat ia tidak bisa bersama istrinya karena mengurusi perusahaannya.. Ia menyuruh beberapa bodyguardnya untuk menunggui Kinara di dalam kamarnya.


Semenjak Kinara mengalami 'insiden' itu memang Raka mengajaknya pindah ke apartemen untuk kenyamanannya.


Bahkan saat ini.. Raka mengajak Kinara beralih negara tempat tinggalnya untuk menghindari paksaan dan ancaman dari Papanya.


Berulang kali Papanya Raka memaksa Raka untuk menikah lagi guna mendapatkan keturunan untuk melanjutkannya mengurusi Diamond Grup karena dia hanya satu-satunya anak Papanya.


Tapi berulang kali Raka menolak dan hampir tidak bisa mengiyakan saat melihat wajah pucat pasi Kinara.


Karena dia.. Istrinya bisa sampai seperti ini.


Kinara yang frustasi.. Kinara yang hampir gila karena paksaan darinya.


Laki-laki itupun kini bisa meneteskan air mata.


Suatu hal takjub yang kini diketawakan oleh Authornya.. Hahahaha.. Maafin gue ya Raka.. Gue seneng soalnya lihat lo menderita.


Lo udah cukup bikin Luna sengsara.. Lo itu manusia yang begitu jahat, Raka.. Hahaha


Laki-laki yang dikenal arogan dan penuh obsesi itu mulai berpikir memikirkan Kinara yang belum juga bisa seperti dulu sebelum kehilangan anak dan rahimnya.


Kenapa.. Kenapa ia bisa kehilangan calon anaknya?


Kenapa juga hanya karena perbuatan yang tidak sengajanya membuat Kinara harus kehilangan rahimnya?


Cinta.. Mungkin kata itu hanya pantas disematkannya untuk Luna.. Tidak pernah sedikitpun Raka menaruh rasa pada Kinara.


Ia berhubungan badan dengan istrinya semata-mata hanya untuk mendapatkan keturunan.. Tidak lebih.. Dan tanpa Cinta.


Berulang kali Raka menyakinkan hatinya jika dia tidak boleh jatuh cinta pada Kinara.


Wanita yang mau saja menaruhkan harga dirinya untuk menjadi istrinya demi menebus hutang Ayahnya.


Kasihan? Kata itu sangat tidak mungkin terselip di hati Raka untuk Kinara.

__ADS_1


Perlakuan jahat bahkan selalu ancaman dan ancaman yang ia berikan pada Kinara.


Dan saat ini.. Saat Kinara masih dalam kubangan keterpurukan karena perbuataannya.. Raka merasakan secuil rasa bersalah mencuat di hatinya.


Tidak tega.. Ya.. Raka tidak tega melihatnya terus menangis berbulan-bulan lamanya..


Bahkan makan pun harus dipaksa.. dan kerap kali tangan Kinara itu harus ditancapkan selang infus untuk menyalurkan makanan agar tubuh wanita itu tetap ternutrisi.


"Ra.." Raka mencoba memegang tangan Kinara yang kini berada di atas kedua lututnya.


Kinara sedang menangis dengan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya yang sedang ia tekuk.


"Maafin aku, Ra. Ayo bangkit.. Masa depanmu masih panjang, Ra." Nada suara yang dipakai Raka kali ini juga agak lembut.. Tidak sekasar biasanya yang kini mampu membuat Kinara mendongakkan wajahnya menatapnya.


"Bangun, Ra.. Kamu itu wanita kuat. Jangan nangis terus. Masa depanmu masih panjang, Ra." Raka mencoba menggali semangat yang sempat terkubur di hati Kinara.. Untuk membangkitkannya kembali semangat menjalani hidup.


"Masa depan kamu bilang?" Kinara menatap tajam Raka dengan deraian air mata yang mengalir begitu derasnya. "Masa depanku kamu hancurkan, Ka! Kamu masih bisa bilang tentang masa depan sama aku!" teriak Kinara dengan menunjuk wajah Raka menggunakan jari telunjuknya.


"Maafkan aku.. Aku tidak sengaja melakukan itu, Ra." Raka menampakkan muka rasa bersalahnya.


"Tidak sengaja?" Kinara tertawa miris mendengarnya. "Setelah membuat aku kehilangan calon anakku dan rahimku.. Kamu bisa seenteng itu berucap tidak sengaja? Kamu itu manusia atau apa?" Kinara kembali menenggelamkan wajahnya di antara kakinya.


Raka terkesiap.. Laki-laki itu terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Kinara.


Tatapan tajamnya tidak pernah terputus saat menatap Raka.


Raka menganggukkan kepalanya.. Laki-laki itu juga langsung berdiri dari berjongkoknya dan langsung berbalik badan sembari mengusap wajahnya kasar keluar dari kamar Kinara.


Selama ini.. Memang Raka selalu tidur di kamar berbeda.. Tapi jika Kinara sudah memasuki alam mimpinya. Bodyguard yang dibayarnya membangunkannya dan ia pun beralih tidur di kamar Kinara guna memeluk istrinya. Menyalurkan semangat jika hidupnya masih panjang dan semangatnya harus tetap ada.


***


"Dimana, Lan?" tanya Chandra pada Jaelani lewat sambungan teleponnya.


"Saya sudah di parkiran, Tuan."


"Bisa kesini sebentar?" Pertanyaan bernada perintah itu membuat Jaelani seketika menjawab, "Baik, Tuan."


"Pak Sekretaris juga ke Mall, Mas?" tanya Luna pada suaminya yang baru saja memutus panggilan tersambungnya dengan Jaelani.


"Dia yang akan mengantar kita ke Bandara, Sayang." Jawab Chandra sembari menatap ponselnya.. Terlihat sedang mengetikkan sesuatu untuk seseorang.


"Bandara? Memangnya kita mau kemana, Mas?" Luna masih belum habis pikir dengan suaminya.


Hari ini suaminya tiba-tiba pulang kerja lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


Tiba-tiba juga suaminya menyuruh ia berganti pakaian untuk diajaknya ke suatu tempat yang ternyata ke Mall hanya untuk mengetahui makanan kesukaannya.


Baru saja.. Tiba-tiba suaminya menyuruhnya membeli baju baru bahkan koper untuk menaruh bajunya yang ia kira agar memudahkannya membawanya ke rumah.


Dan ternyata.. Sekarang suaminya akan mengajaknya ke Bandara. Bukan pulang ke rumahnya.


Sebenarnya... Mau diajak kemanakah ia?


"Mas.. Kita mampir ke tempat Ibu dulu ya.." Pinta Luna saat ketiganya sudah berada dalam satu mobil dengan Jaelani yang mengemudikannya.


Chandra menoleh menatap istrinya.. Ia tahu, Luna pasti ingin meminta izin dengan Ibunya saat akan bepergian.


Apalagi ia akan mengajaknya ke Bandara.. Dan bisa dipastikan mereka akan ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.


"Mas sudah bilang sama Ibu.. Kalau kamu khawatir akan itu." jawab Chandra sembari mendekap istrinya.


Luna pun yang sudah biasa di dekap suaminya langsung menguselkan wajahnya di dada Chandra.


Mereka berada di kabin belakang dan tentunya bisa bebas bermesraan dengan Jaelani yang menjadi nyamuknya.


"Mas sudah bilang sama Ibu kalau mau ngajak aku pergi?" Luna bertanya untuk memastikan dan dijawab "Iya" beserta kecupan di dahi oleh suaminya.


"Kamu itu istri Mas, Luna. Kamu itu tanggung jawab, Mas. Dan Mas berhak mengajak kemanapun kamu pergi. Bukankah Ibu pernah berkata seperti itu saat dulu kita mau ke Bandung?" Chandra bertanya dengan melepas dekapannya, lalu memegang dagu Luna agar Luna mau menatapnya.


"Aku tau, Mas.. Aku enggak lupa dengan itu. Tapi.." Luna tiba-tiba menunduk lagi.


"Tapi apa, Sayang?"


"Tapi.. Restu Ibu adalah Restu Tuhan yang menciptakan kita. Dan murka Ibu adalah Murka Tuhan yang menciptakan kita. Jadi.. Sebisa mungkin aku harus selalu meminta restu dari Ibu agar perjalanan kita selamat, Mas." Luna pun mengutarakan apa yang mengganjal di pikirannya.


Sedari tadi dirinya gelisah saat masih di dalam Mall saat suaminya akan mengajaknya ke Bandara untuk bisa meminta restu Ibunya langsung.. Tidak lewat sambungan teleponnya.


Selain meminta restu.. Ia juga sudah sangat rindu dengan Ibunya dan Radit, anak asuhnya.


Walaupun hampir seminggu sekali Ibu dan Radit berkunjung ke rumahnya.


Tapi rasanya ada yang kurang jika ia belum mengunjungi Ibunya di tempat tinggalnya.


"Begitu bahagianya Ibu Nyonya mempunyai anak yang begitu berbakti dan sangat mencintai Ibunya seperti Nyonya." Batin Jaelani berkata sembari menatap rear-view yang memperlihatkan raut memelas Luna pada Tuannya.


Chandra diam.. Tidak bisa menjawab perkataan Istrinya.


Karena sesungguhnya.. Ia sedang merencanakan sesuatu kejutan untuk istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2