Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Merasa Dilupakan


__ADS_3

Keluar dari perusahaan Chandra.. Luna pun menaiki taksi untuk menuju kediaman Reyna.


Di dalam taksi, Luna melampiaskan rasa ingin menangisnya yang ia tahan semenjak keluar dari ruangan kerja Chandra.


Wanita cantik itu memegang dadanya yang tiba-tiba teraasa sesak setelah menemukan foto wanita di laci meja kerja suaminya.


Gambar dan gantungan berbentuk love itulah yang menyita perhatiannya.


Sebenarnya siapa wanita itu? Seberharga apakah dia dimata suaminya? Hingga sepertinya wanita itu terlihat spesial?


"Ke Jalan Sudirman ya, Pak." ujar Luna yang dijawab anggukan oleh sopir taksi itu.


Sepertinya wanita yang dijuluki si pencemburu ulung itu ingin menyalurkan rasa sedihnya pada sahabatnya.


Dulu.. Saat Chandra dan dia belum melakukan hubungan layaknya suami istri, dia pergi ke ruko Ibunya karena cemburu melihat Chandra yang berpelukan dengan Jenifer, yang ternyata adik iparnya.


Kemarin.. Saat Sintia--pegawai Ibunya dengan terang-terangan ingin menggoda suaminya, wanita itu memberikan delikan tajamnya pada suaminya karena cemburu.


Dan barusan.. Dia cemburu lagi melihat foto wanita cantik yang ada di laci meja kerja suaminya, tanpa bertanya dulu pada suaminya siapa wanita itu dan pergi menemui Reyna.


***


Dua jam meeting itu berlangsung, Chandra yang merasa sedikit pusing karena masih kekurangan tenaga kerja tambahan pun berkali-kali menyugar rambutnya ke belakang sembari berjalan menuju ruang kerjanya.


Dua puluh empat jam.. Ya, waktu itu sudah berkurang beberapa jam dan dia belum bisa mencari tambahan pekerja yang pas untuk menyelesaikan proyek tersebut.


semoga ada keajaiban. batin Chandra berdoa di tengah-tengah keputusasaannya.


Tidak mungkin dan tidak akan sudi ia kehilangan sebagian asetnya untuk Raka.


"Saya akan menghubungi teman-teman saya, Tuan." Jaelani mencoba memberi solusi yang dijawab anggukan oleh Chandra lalu laki-laki itu memasuki ruang kerjanya tanpa menoleh pada Jaelani.


Chandra terhenyak saat tak menemukan istri cantiknya di ruang kerjanya, laki-laki itu pun mencari dalam kamar mandi dan ruang kecil yang biasa ia gunakan untuk menginap yang ada di ruangan kerjanya.


Tapi hasilnya nihil, istrinya tidak ada di setiap sudut di ruangan kerjanya.


"Lunaa.." teriak Chandra yang membuat Jaelani yang sedari tadi masih berdiri di depan ruangan Chandra karena masih berdiskusi dengan para staff sekretarisnya pun secepatnya masuk ke dalam ruangan Chandra.

__ADS_1


"Maaf Tuan.. Nyonya tadi berpesan.. Katanya Nyonya mau pergi dengan sahabatnya." jelas Jaelani yang membuat Chandra menoleh menatapnya.


"Sahabatnya?" Chandra membeo, "Kenapa dia tidak minta izin langsung sama saya, Lan?" tanyanya menuntut.


"Mungkin Nyonya tidak mau mengganggu Anda yang sedang meeting, Tuan." jelas Jaelani yang membuat Chandra melangkah keluar ruangan kerjanya.


Laki-laki itu berpikir mungkin Luna sedang ingin berdua dengan Reyna dan tidak mau diganggu olehnya.


Waktu itupun bisa ia gunakan untuk mengecek kembali dan mengawasi jalannya proyek itu agar berhasil selesai dalam waktu dua puluh empat jam.


"Kita ke lokasi sekarang, Lan." titahnya tanpa menelpon dulu istrinya, dan berjalan cepat menuju parkiran untuk menaiki mobil menuju tempat proyek itu berada.


Mendengar Luna bersama Reyna, membuat Chandra sekarang bisa sedikit fokus pada proyeknya walaupun tetap ia mengkhawatirkan keadaannya karena tengah hamil muda.


"Baik, Tuan." Jaelani pun menyanggupi lalu mengikuti Chandra.


***


Ting tong.. Ting tong..


Apa yang dilakukan Reyna? Padahal kalau jam segini dia dirumah sendirian? gumam Luna bermonolog sembari berbalik badan, lelah memencet bel yang juga tidak dibuka pintunya oleh Reyna.


Baru selangkah dari pintu, Reyna pun membuka pintunya dan Luna pun menoleh lalu membalikan badannya.


"Luna.." panggil Reyna terkesiap saat melihat sahabatnya ada di depan pintu yang ia buka dengan mata sedikit bengkak yang menghiasinya.


Luna tidak menjawab panggilan Reyna, wanita cantik itu langsung memeluk Reyna, menyalurkan rasa sedih yang sedang ia rasa.


"Kamu kenapa, Lun? Kamu berantem sama Pak Chandra?" Reyna bertanya yang tidak dijawab oleh Luna.


Wanita cantik itu masih asyik memeluk Reyna. "Hari ini kita cuti aja ya, Reyn. Aku lagi enggak mood masuk kuliyah." jawab Luna mengalihkan pembicaraan.


Reyna dilanda kebingungan, namun tak perlu menunggu detik menjadi menit, wanita itu mengangguk menyanggupi permintaan sahabatnya.


Lima belas menit menunggu Reyna yang tengah bersiap karena mereka akan pergi ke toko buku, Luna pun mengotak-atik ponselnya.


Disitu, di aplikasi chat sejuta umat itu Luna masuk ke room chat suaminya.

__ADS_1


Suaminya itu terlihat online.. Namun juga tak kunjung menghubunginya untuk sekadar menanyakan keberadaannya.


Luna tiba-tiba merasa dilupakan oleh suaminya setelah melihat foto itu, dan suaminya belum juga menghubunginya.


Padahal sudah hampir tiga jam dia keluar dari ruangan Chandra.


"Apa iya Mas Chandra belum selesai meeting jam segini?" batin Luna bermonolog sembari mengetukkan ponselnya di kepalanya.


Wanita cantik itu sepertinya lupa jika suaminya tengah serius mengurusi proyek yang jika gagal akan membuatnya kehilangan sebagian asetnya.


"Kamu kenapa, Lun? Ngelamun aja dari tadi.." Reyna mencoba bertanya, padahal sedari tadi ia sudah tidak tahan untuk menanyakan kenapa sahabatnya itu sampai datang ke rumahnya, padahal barusan beberapa waktu yang lalu saat ia menelponnya, sahabatnya itu sedang bersama suaminya dan tidak mau diajak pergi olehnya karena takut suaminya tidak membolehkannya.


Luna menoleh menatap Reyna yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca, "Aku enggak apa-apa, Reyn."


"Enggak apa-apa kok bisa sampai sini? Padahal kan tadi katanya kamu sedang bersama Pak Chandra, Lun." Reyna pun geram akhirnya, sifat sahabatnya yang sering tertutup dengan permasalahannya membuatnya tak tahan untuk sekadar menanyakan clue-nya.


"Aku tadi memang bersama Mas Chandra, Reyn. Tapi, kalau aku mau main ke rumahmu, masak enggak boleh?" Luna pun berusaha mengalihkan pembicaraan, bagaimanapun ia berusaha terbuka dengan Reyna, suaminya adalah dosen dari sahabatnya yang tidak sepatutnya apa yang menjadi masalah dalam rumah tangganya ia umbar.


"Kamu tadi diantar Pak Chandra kesini, Lun?" Reyna pun teralihkan.


Luna dengan matanya yang menatap ke sembarang arah pun mengangguk perlahan.


"Terus kenapa mata kamu bengkak gitu? Kamu abis nangis? Berantem sama Pak Chandra terus kabur minta dianterin kesini?" Reyna bertanya beruntun.


Luna menegakkan badannya yang semula duduk di tempat tidur Reyna.. Wanita cantik itu melangkah menuju pintu kamar Reyna. "Aku nangis bukan karena berantem dengan Mas Chandra, Reyn. Tapi karena aku terharu, aku hamil Reyna." Luna pun memberitahu hal yang belum diketahui oleh Reyna.


"Apa Lun?" Reyna pun meletakkan sisirnya lalu berjalan menyusul Luna, "Kamu hamil?" tanya Reyna yang dijawab anggukan kepala oleh Luna.


"Beneran? Aku bakal jadi Aunt dong? Bakal punya keponakan dong aku.." Reyna pun terkikik senang, dan Luna pun tersenyum karena pemikiran sahabatnya dari mata bengkak yang dilihatnya teralihkan.


Bersambung...


Maaf malem banget ya.


Semoga dapat feel-nya ya..


Happy reading:>

__ADS_1


__ADS_2