Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Namanya Berjuang


__ADS_3

Usai berkutat kurang lebih tiga jam dengan aneka tepung dan bahan-bahannya serta Karina--chef handal yang dibayar oleh Chandra, akhirnya Luna pun berhasil juga membuat kue bakpia rasa durian di dalamnya.


Hasil perdana yang rasanya bisa dibilang lumayan itu merupakan percobaan entah keberapa kalinya yang dilakukan oleh Luna.


Chandra yang sedari tadi duduk di kursi sembari menatap macbook untuk mengecek email yang masuk pun tidak terganggu dengan suara ricuh yang dibuat oleh Luna dan Karina.


Laki-laki tampan itu tetap santai dengan gaya cool-nya karena memang semua itu ide dari dia.


Mendengar cerita dari Jenifer jika Dadnya telah menyetujui pernikahannya dengan Luna membuat langkahnya yang tadi sedang mengemudi tanpa arah pun menemukan titik terang.


Chandra berpikir, Momnya berlaku seperti itu mungkin karena alasan lain.


Dan membuat Luna bisa menguasai makanan favorit Momnya membuatnya berpikir agar Luna mendapatkan hati Momnya yang keras kepalanya setara dengannya.


"Ternyata susah-susah gampang ya Mbak, bikinnya." ujar Luna sembari melepaskan celemek yang menutupi baju mahalnya.


"Ya begitulah.." jawab Karina sembari menunjukkan muka kesalnya, karena waktu yang dijanjikan oleh Chandra hanya dua jam, dan yang terjadi mundur hingga tiga jam.


Bukan karena Luna tidak bisa, tapi memang Luna belum pernah membuat dan mengenali yang namanya kue bakpia itu.


Mendengar alasan yang dilontarkan oleh Luna karena selalu gagal dalam percobaan, Karina pun menghela napas pelan karena harus rela tidak hadir dari ajang bergengsi di acara masak salah satu televisi dan bersabar menghadapi kebingungan Luna.


"Kamu harus bayar aku sepuluh kali lipat, Chan." ujar Karina sembari duduk dan menyeruput smoothie yang sudah disiapkan untuknya.


"Oke." Dan Chandra pun menyanggupi tanpa berpikir dua kali.


"Memang bayaran Mbak Karina berapa, Mbak?" Dan Luna mulai kepo dengan gaji Karina, karena wanita berhijab itu selalu minta tambahan gaji dari suaminya sedari tadi.


"Seratus juta." Karina memberitahu gajinya yang berhasil membuat Luna membulatkan matanya. "Itu uang semua, Mbak?" tanyanya bodoh yang dibalas tawa kecil oleh Chandra dan Karina.


"Kamu gak usah mikir uangnya, Lun." Chandra pun mencegah istrinya untuk insecure.


"Memang Mbak ini Chef darimana kok bayarannya segitu banyaknya?" Luna masih kepo dan Chandra tidak mau menjawab karena tidak penting baginya.

__ADS_1


"Kamu tau Karina Aprilia?" tanya Karina dengan gaya khasnya.


"Karina Aprilia.." Luna terlihat mengingat nama itu. "Itu kan Master Chef yang jadi juri di acara memasak di televisi Mbak.." Dan saat Luna sedikit mengenali tai lalat yang ada di bawah mata Karina, Luna pun membulatkan matanya. "Mbak itu Karina Aprilia? Master Chef itu?" tuntut Luna sembari memegang lengan Karina.


Karina mengangguk anggun sebagai jawaban dan Luna pun langsung memeluk Karina dari samping. "Mimpi apa aku Mbak.. Bisa ketemu sama Mbak.." ujarnya lalu melepas pelukannya dan menatap Karina lagi. "Tapi Mbak kalau di televisi kan tidak memakai hijab, kenapa sekarang memakai hijab?" tanyanya kepo.


Dan Chandra membiarkan istrinya yang sedang berkenalan dengan Karina.. Laki-laki itu fokus lagi ke macbooknya karena Jaelani baru saja mengirim email tentang perusahaan yang hendak mengadakan kerjasama dengan perusahaannya.


Bergelut di bidang kuliner, memang mengharuskannya mengenalkan istrinya dengan banyak Chef agar jualan bakso istrinya itu mempunyai cita rasa yang khas.


"Ya.. Semenjak aku melahirkan, aku memutuskan untuk berhijab dan satu jam yang lalu seharusnya aku sedang tampil di televisi dalam debut perdanaku memakai hijab. Dan karena kalian aku gagal." Karina pun mengungkapkan kekesalannya yang membuat Luna langsung menoleh pada suaminya.


"Kamu tidak usah termakan omongan Karina.. Dia memang seperti itu." Chandra berucap tegas lalu berdiri yang membuat Karina tertawa.


"Bucin banget sih kamu, Chan."


"Lha emang kenapa? Istriku ini." Chandra berucap dengan tegas yang membuat Luna kembali tersipu karena Chandra tidak malu untuk mengakuinya.


"Kamu ngusir aku? Ini apartemen milikku, Rin." Chandra tidak habis pikir.


"Oh ya! Aku lupa!" Karina pun menunjukkan cengirannya lalu bergegas mengambil tasnya. "Jangan lupa transferannya." ujarnya lagi sebelum benar-benar berlalu.


****


"Jangan takut ya, Lun. Apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikanmu." ujar Chandra menguatkan Luna yang terlihat gugup sekali akan masuk ke dalam rumah mewahnya.


Usai membuat kue bakpia yang sudah ditaruh di dalam toples kaca, Chandra memang langsung mengajak istrinya kembali ke rumahnya.


Ia ingin menunjukkan seperti dirinya dulu yang selalu melawan apa yang menjadi keinginan absurd Momnya.


"Kamu yakin hasilnya enak, Mas?" Luna pun mulai insecure sendiri, menghadapi Ibu mertuanya ternyata rasanya beda dengan menghadapi Bibi Maria.


"Enak.. Aku yakin dengan kehebatan Karina." sahut Chandra cepat yang membuat Luna mencebikkan bibirnya. "Mas tidak yakin dengan kehebatan aku?" tanyanya yang membuat Chandra tersenyum.

__ADS_1


"Kamu lebih hebat dari siapapun sayang." ujarnya yang membuat Luna kembali tersipu.


"Tapi, kalau Mom tidak menyukainya bagaimana, Mas?"


"Namanya berjuang, sayang. Mas yakin Mom menyukainya."


"Beneran?" tanya Luna lagi sebelum benar-benar turun dari mobil Chandra dan dijawab anggukan kepala oleh Chandra.


siapapun tidak akan bisa memisahkan kita, Lun. Sesuai janjiku saat aku mau menikahimu, kamu akan selalu bahagia dan nyaman bersamaku. karena aku tau kamu juga mulai menyayangiku, begitupun aku. batin Chandra sembari menatap istrinya yang kini sedang ia rangkul pinggangnya.


Tingtong tingtong..


"Tuan sudah pulang?" tanya Bi Asih saat maid itu membukakan pintu untuk Chandra dan Luna.


"Ya, Bi." Dan Luna lah yang menjawabnya karena Chandra hanya mengangguk samar sebagai jawaban.


Chandra dan Luna pun langsung masuk ke dalam rumahnya, dan langsung bertatap muka dengan Mom Emily saat wanita itu baru saja selesai menuruni anak tangga.


"Mom.." Chandra melangkah menyalami Mom-nya. Hal yang baru saja dilakukannya semenjak ia bertemu dengan Ibunya setelah beberapa tahun yang lalu dan berhasil membuat Emily terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


apa ini mimpi? Chandra menyalami tanganku? Tuhan.. Aku sedang bermimpi apa? Emily begitu senang tiada terkira.


"Mom." Luna pun mengikuti Chandra menyalami tangan Ibu mertuanya. "Ini kue bakpia untuk, Mom." ujar Luna sembari menyerahkan paperbag berisi kue bakpia itu pada Ibu mertuanya.


"Kue bakpia?" tanya Emily saat ia sudah sadar dari keterkejutannya saat Chandra menyalami tangannya dan membuka paperbag yang diberikan oleh Luna.


"Iya, Mom. Mom paling suka dengan kue bakpia kan?" Chandra berkata begitu lembut.


"Mom tidak sedang bermimpi kan, Ndra?" tanyanya pada anak laki-lakinya yang ternyata mengingat hal apa yang disukainya.


"Tidak, Mom. Mom tidak bermimpi. Apa yang Mom pegang adalah kue bakpia. Dan itu bikinan Luna." Chandra mengungkapkan dengan jelas yang membuat Emily sekarang menoleh menatap Luna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2