
Luna yang sangat ingin menaiki becak akhirnya menyuruh sang suami membelokkan mobilnya ke alun-alun kota, tempat yang dulunya ia buat mangkal jualan bakso bersama Ibunya setiap hari sabtu dan minggu.
Kebetulan di alun-alun kota itu menyewakan becak beserta pengayuhnya untuk berkeliling alun-alun kota.
Biasanya mereka membayar lima puluh ribu rupiah untuk beberapa menit berkeliling di alun-alun kota yang begitu luas.
Naik becak itu adalah kenangan terindah antara dirinya dan sang Ayah saat dulu berada di desa A.
Dan entah kenapa malam itu Luna sangat menginginkannya.
"Mas.. Aku mau naik becak." ujar Luna sembari membuka seat-beltnya.
Keduanya baru saja sampai di alun-alun kota, dan kebetulan tempat parkir mobil Chandra saat itu sama dengan tempat parkir mobil Chandra saat akan mengajak paksa Luna untuk menikah dengannya.
Begitulah dalam pikiran Chandra saat ia menoleh pada kaca jendela.
Di tempat itu pula ia tidak mempedulikan permohonan Luna.. Dan kemarin, ia sempat menyakitinya.
Chandra merasa ingatannya ditarik paksa untuk mengingat kejadian beberapa bulan silam, saat dirinya bagaimana bisa menikahi wanita yang kini duduk di sebelahnya.
Bukankah istrinya ini wanita berhati baik yang mau saja dipaksa olehnya untuk menikah dengannya?
Bahkan istrinya ini tidak memberitahu Ibu mertuanya kan dengan paksaan menikah yang ditawarkannya pada istrinya?
Dengan mengesah dalam hati, Chandra berpikir.. sepertinya keinginan ngidam istrinya malam ini menyadarkannya jika ia harus benar-benar bisa menjaga hati sang istri.
"apa kamu ingin Daddy lebih memperhatikan Mommy, sayang? Maafkan Daddy yang sempat terlena dengan mantan kekasih Daddy, Daddy janji akan lebih mencintai Mommy-mu. Terimakasih karena sudah mengingatkan Daddy pada momen pertama kali Daddy meminta Mommy-mu untuk menjadi istri Daddy demi jabatan Daddy di perusahaan." batin Chandra bersuara sembari mengusap perut Luna.
"Maaass.." panggil Luna saat suaminya tak menjawab pertanyaannya, dan tenggelam sendiri dengan pikirannya sembari mengusap perutnya.
"Maass.." panggil Luna lagi dengan kini menggenggam tangan suaminya.
Chandra tersadar, lalu mendongak menatap istrinya. "Apa, Lun?"
"Aku mau naik becak, Mas." jawabnya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Chandra.
Keduanya pun keluar dari mobil lalu bergandengan tangan menuju tempat penyewa becak yang berjarak beberapa meter dari parkiran mobilnya.
"Eh, Luna.." sapa Reno saat Luna mendekat ke arahnya.
Laki-laki itu juga tersenyum dan menatap Luna tak biasa karena memang sedari dulu memendam rasa pada Luna.
Diam-diam dulu Reno selalu memperhatikan cara jualan Luna yang begitu sabar dan ramah pada setiap pelangganya.
Rasa ingin memiliki itu juga pasti ada di benaknya, namun saat menyadari posisinya yang hanya lulusan SMA dan seorang penyewa sekaligus pengayuh becak tidak memberanikannya untuk mengutarakan perasaannya pada Luna.
Laki-laki itu sadar diri jika dirinya tidak pantas untuk Luna. Dan takut tidak bisa membahagiakannya.
Tapi, bukankah jodoh itu tidak melihat lulusan apa dan pekerjaan apa? Bukankah jodoh itu yang mengatur adalah Yang Maha Kuasa?
Laki-laki itu hanya berusaha mendekati Luna dengan menjadi pelanggan setia Luna setiap Luna jualan di alun-alun kota.
"Ya.. Aku mau naik becak, Ren." Luna menjawab sapaan Reno dengan senyum ramahnya.
Terbiasa menjadi penjual dan pelanggan membuat Luna santai saja menanggapi sapaan Reno, tidak seperti Darius yang sempat memintanya untuk menjadi istrinya setelah laki-laki itu tau jika ia telah menjadi Chandra.. yang membuat Luna sangat menjaga pandangan apalagi jarak padanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Chandra merasai perasaan asing yang terasa panas di hatinya saat melihat keakraban Luna dengan laki-laki penyewa becak itu.
Apa kini calon anaknya juga ingin memperlihatkan padanya jika Mommy-nya juga bisa disukai orang lain dan membuatnya sakit hati dan merasakan perasaan cemburu?
Apa ini yang dirasakan oleh Luna saat melihatnya akrab dengan Kinara hingga membuatnya stress?
Kalau memang iya.. Calon anaknya itu sudah posesif dengannya sebelum lahir ke dunia.
Daddy-nya tidak boleh memperdulikan wanita lain selain Mommy-nya karena ia bisa membalas dengan apa yang bisa menyadarkan perasaan apa yang dirasakan oleh Daddy-nya untuk Mommy-nya.
"Becak yang mana, Lun? Kamu bisa milih dulu mana yang buat kamu nyaman." tawar Reno dengan menunjuk beberapa becaknya.
"apaaan? Buat kamu nyaman? Ini istriku, bung." batin Chandra tidak terima dengan sedari tadi menatap tajam Reno tapi tak dilihat oleh Reno karena laki-laki itu sibuk bercengkrama dengan Luna.
"Aku mau yang ini, Ren.." tunjuk Luna pada becak berwarna ungu, karena kebetulan becak milik Reno dicat dengan berbagai warna. "Tapi, aku bisa menyewa becaknya doang tanpa kamu yang ngayuh kan, Ren?" tanyanya yang membuat Chandra kini menoleh pada istrinya sembari terasa susah menelan saliva.
Apalagi ini? batin Chandra mengesah yang diketawakan oleh Authornya.. Hahahaha
"Kamu mau ngayuh sendiri ya, Lun?" Reno pun bertanya dengan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Iya.." jawab Luna dengan menampilkan cengirannya. "Bisa ya?" tanyanya.
"Bisa." Reno pun dengan cepat mengiyakan pinta wanita yang dulu dikaguminya.
Mendengar Reno yang membolehkannya, Luna pun kini beralih menatap suaminya dengan senyuman tanpa dosanya.
Chandra ketar-ketir, tidak mungkinkan istrinya ini akan menyuruhnya mengayuh becak keliling alun-alun kota malam-malam begini?
Kalaupun iya.. Mau ditaruh dimana mukanya? Apa istrinya ini lupa jika ia adalah pemilik perusahaan manufaktur terbesar di negaranya?
Baru saja ia memikirkan itu, dan sekarang istrinya memang memintanya mengayuh becak.
Apalagi istrinya menginginkan ini karena sedang mengandung anaknya.
Chandra tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, Istrinya ini membuatnya harus merakyat dengan kalangan bawah seperti istrinya.
"Mau apa?" Chandra berpura-pura bodoh.
"Ngayuh becak.. Aku lagi pengen naik becak dengan Mas yang ngayuh. Mas enggak mau anak Mas ileran kan?" Luna pun membujuk dengan manjanya, dengan sekarang menggoyangkan lengan Chandra.
"Kamu hamil, Lun?" Reno pun bertanya saat mendengarnya, tidak bisa untuk tidak ikut berbahagia.
Luna menoleh pada Reno, lalu mengangguk disertai senyuman sebagai jawaban.
"Selamat ya, Lun." Reno pun mengulurkan tangannya ingin mengucapkan selamat pada Luna, namun seketika tangan Luna yang baru saja hendak terulur ditarik oleh Chandra demi mendekati becak yang ingin ditumpangi istrinya.
Tidak bisa.. Ia tidak bisa melihat istrinya begitu akrab dengan laki-laki lain.
Luna menoleh ke belakang dimana Reno masih belum menarik uluran tangannya dengan berteriak, "Makasih ya, Ren." ujarnya yang membuat Reno tersenyum dan mengangguk.
***
"Kamu suka sama laki-laki bernama 'Ren' itu?" tanya Chandra dengan nada tidak suka yang tiba-tiba terlontar sembari mengayuh becak berkeliling alun-alun kota.
Kalau bukan demi anaknya agar tidak ileran, laki-laki itu tidak akan mau menerima permintaan konyol istrinya itu.
__ADS_1
"Maksud Mas apa?" Luna pun mengernyit tidak paham pada pertanyaan suaminya.
"Kalian terlihat begitu akrab." jawab Chandra yang tidak menjawab pertanyaan Luna.
"Mas cemburu?" Luna pun menebak saat melihat raut wajah suaminya.
"Iya.. Mas cemburu."
"Emang gimana rasanya cemburu, Mas? Sakit enggak?" Luna malah bertanya yang membuat Chandra yang sedari tadi menatap ke segala arah kini menunduk menatap istrinya yang wajahnya mendongak padanya.
"Biasa aja." bohong Chandra yang kini membuat Luna tertawa pelan.
"Cemburu itu rasanya sakit tau, Mas.. Enggak biasa aja." Luna malah tambah membahasnya. "Aku dan Reno itu memang terbiasa seperti itu. Kita dulu sama-sama nyari uang disini. Cuman bedanya aku penjual bakso dan dia penyewa becak." sambung Luna menjelaskan, yang tidak ingin suaminya salah paham.
"Kalian pernah terlibat cinta lokasi?" Chandra pun tambah ngelantur pertanyaannya.
"Memang kenapa, Mas?" Luna dengan tersenyum bertanya.
gini ya rasanya dicemburuin suami? batin Luna geli karena baru kali ini merasa dicemburui oleh suaminya.
"Jawab aja dulu." Chandra tidak sabar mendengar jawaban istrinya.
"Enggak.. Aku dan Reno hanya berteman tidak lebih, Mas." jelas Luna yang membuat Chandra mengangguk, namun belum bisa menetralisir rasa panas yang beberapa menit yang lalu bersarang di hatinya.
"Mas belum jawab pertanyaan aku." Luna pun bertanya setelah keheningan yang terjadi tiba-tiba.
"Pertanyaan yang mana?" Chandra berpura-pura lupa.
"Yang tadi, Mas.."
"Yang mana?"
"Yang tadi.. Kenapa Mas tiba-tiba tanya soal aku dan Reno pernah terlibat cinta lokasi atau enggak?"
"Nanti aja Mas jawabnya kalau udah sampai rumah."
"Kok gitu?" Luna pun tidak terima.
"Ya gitu."
"Aku baru keluar dari rumah sakit loh, Mas." ujar Luna yang malah membuat Chandra bisa tertawa akhirnya.
"Memangnya apa hubungannya dengan kamu yang baru keluar dari rumah sakit, Lun?"
"Mas enggak lagi merencanakan untuk meminta hak Mas malam ini kan?" tanya Luna dengan bodohnya yang membuat Chandra dengan semangat mengayuh becaknya agar cepat selesai mengelilingi alun-alun kota.
"Memang kamu sedang sangat menginginkannya ya?" Chandra bertanya yang membuat Luna merasa terjebak sendiri dengan pertanyaan yang diajukannya.
Luna pun dengan segera menggelengkan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya, sejujurnya ia ingin memberi jarak sedikit pada suaminya untuk tidak langsung mengiyakan pintanya demi agar suaminya peka terhadapnya.
"Kalau enggak ya sudah.. Mas juga enggak setega itu." ujar Chandra kemudian dengan memarkirkan becak yang diayuhnya di tempatnya semula.
Kini, ia pun membantu istrinya turun dari becak dengan mengecup pucuk kepala Luna.. Untuk menunjukkan pada Reno yang kini sedang melihatnya jika Luna hanya miliknya.
Bersambung...
__ADS_1