
"Bagaimana Lan?" tanya Chandra pada Jaelani lewat sambungan teleponnya.
"Sudah siap, Tuan. Dokter Maya sudah berada di rumah sakit." Jaelani pun menjawab dengan tegas yang membuat Chandra seketika mengucapkan "Terimakasih." lalu memutus panggilan tersambungnya.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Kandungan yang telah dibayar oleh Jaelani pun langsung memeriksa Luna dan Jenifer bergantian.
"Bagaimana Dok?" tanya Chandra tidak sabar setelah Jenifer dan Luna selesai diperiksa.
Sedangkan Darius, laki-laki itu ditangani oleh Dokter yang berbeda untuk mengobati luka lebam yang hampir ada di setiap wajahnya.
"Usia kandungan Nyonya Luna dan Nona Jenifer hanya selisih satu minggu, lebih tua kandungan Nona Jenifer, Tuan." jelas Dokter Maya yang membuat Chandra menoleh pada adiknya.
"Terimakasih, Dok." Chandra pun bergegas menarik tangan Luna dan adiknya keluar dari ruangan Dokter Maya.
"Kita enggak lihat kondisi Kak Ari dulu, Mas?" tanya Luna saat Chandra terus saja menarik tangannya melewati ruangan dimana Darius diperiksa.
"Jaelani sudah ada di dalam untuk menemani Darius. Kamu tidak usah khawatir." tegas Chandra yang membuat Luna terdiam.
Sekarang Chandra sedang tidak ingin membahas Darius.. Ia ingin mendengar cerita dari Adiknya tentang kejadian sebenarnya yang terjadi bagaimana adiknya bisa hamil anak Raka, musuhnya.
"Ceritakan sama Kakak bagaimana semuanya bisa terjadi, Jen!" tuntut Chandra saat ketiganya sudah memasuki mobilnya.
Jenifer sudah dalam keadaan kepalang basah, ia pun akhirnya menceritakan bagaimana awal mula ia mengenal Raka hingga kejadian itu menimpanya dengan deraian air mata yang mengalir begitu deras membasahi wajahnya.
"Bodoh! Kenapa kamu seceroboh itu, Jen? Kamu enggak mikirin masa depanmu? Dad sudah menyiapkan JA Company untukmu!" cerca Chandra dengan menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika adiknya melakukan itu hanya untuk 'memiliki kekasih' dan dengan bodohnya mau dimanfaatkan oleh Raka.
"Kakak kira kamu wanita yang cerdas yang tidak gampang dimanfaatkan orang.. Ternyata Kakak salah, Jen." sambung Chandra dengan menyugar rambutnya ke belakang.
"Bagaimana Kakak bicara sama Dad dan Mom tentang keadaanmu?" sambungnya lagi dengan lesu yang belum mampu dijawab oleh Jenifer.
Sedangkan Luna, wanita cantik itu terus mengusap lengan Jenifer menenangkannya.
"Bagaimana juga ceritanya Darius bisa lebih tau lebih dulu keadaanmu daripada Kakak? Bagaimana Jen?" desak Chandra akhirnya setelah adiknya terdiam tak menanggapi cercaannya.
"Kak Darius mendatangiku saat Kakak bilang Kakak akan mengantar Dad ke Bandara untuk kembali ke London. Saat itu.. Kak Darius bercerita kalau dia mengetahui keadaanku dari Bang Raka sendiri dan aku tidak bisa berbohong padanya, Kak.. Saat itu juga Kak Darius sudah menawari aku untuk menjadi istrinya, tapi aku tolak. Aku enggak mau merusak persahabatan Kakak dengannya jika dia mengakui kesalahan yang tidak ia perbuat, Kak." jelas Jenifer yang kini membuat Chandra mengingat sesuatu.
jadi ini alasan Darius dulu tiba-tiba meminta restu dariku untuk menikahi Jenifer saat membantuku menyelesaikan proyek dengan si brengsek Raka? tapi kenapa dia tidak jujur saja saat itu. gumam Chandra bermonolog dalam hatinya.
Laki-laki itu sedang kesal karena terlambat mengetahui kelakuan busuk Raka pada adiknya.
"Lalu kenapa kamu tidak cerita sama Kakak tentang keadaanmu?" tuntut Chandra lagi.
"Aku enggak bisa melihat Kakak dan keluarga kita hancur jika kalian mengetahuinya, Kak.." lirih Jenifer.
"Oh ya? Kalau kamu sampai memikirkan itu, kenapa kamu dengan bodohnya mau diajak begituan dengan Raka, Jen?" Chandra tidak bisa menahan teriakannya. "Mau kamu tutupi seperti apapun, akhirnya kebongkar juga kan? Mau kemarin atau sekarang.. itu sama-sama menghancurkan." sambung Chandra yang membuat Jenifer terus menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, Kak.. Aku minta maaf." lirih Jenifer berderai air mata.
"Minta maaf? Enggak cukup hanya itu, Jen.. Kamu berbuat kamu juga harus bisa menyelesaikannya."
"Maksud Kakak apa?" Jenifer mendongak menatap Kakaknya.
"Mas.. Udahlah." Luna mencoba melerai namun tak diindahkan oleh Chandra.
"Enggak bisa udahlah.. udahlah, Lun. Ini bukan masalah biasa. Dan kamu tidak usah terlalu ikut campur. Biar Mas yang menyelesaikannya." tegas Chandra dengan memukul kencang kemudinya.
"Maaas.. Mas juga harus mikirin anak Mas yang ada dalam kandunganku. Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Mas. Lebih baik kita cari solusi dari masalah ini." ujar Luna yang membuat Chandra kembali menatapnya.
"Maksud kamu apa?" Chandra pun bertanya pada istrinya.
"Kita tutupi saja masalah ini dari keluarga.. Biarlah Dad dan Mom taunya Jenifer hamil anak Kak Ari.. Bukankah penyesalan selalu datang belakangan, Mas? Dengan kita tidak perlu melakukan baku hantam dengan Pak Raka.. Kita akan membiarkan ia menuai karmanya sendiri." Luna mencoba memberi solusi yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.
"Itu tidak akan mungkin terjadi, karena aku enggak mau Darius dibenci oleh keluargaku, Lun."
"Maaass.." Luna hendak menyanggah namun Jenifer juga menyanggah.
"Betul kata Kak Luna, Kak.."
"Tidak Jen! Dad dan Mom harus tau kebenarannya.." tegas Chandra tak terbantahkan.
"Tidak akan! Aku yakin Dad dan Mom adalah orang-orang kuat. Walaupun nantinya kamu akan menikah dengan Darius.. Mereka harus tau kebenarannya, Jen.." Chandra tidak bisa dibantah lagi lalu seketika mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Baru saja Chandra hendak mencari kontak ponsel Dadnya.. Ponsel itu direbut oleh Luna.
"Kamu apa-apaan, Lun?" Chandra tidak terima dengan berusaha mengambil ponselnya yang digenggam oleh Luna.
"Aku ingin sekali ini Mas dengerin kata aku.. Aku istrimu, Mas." Luna mencoba mengambil hati suaminya. "Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin iya nanti Mas akan senang jika Mas bisa menghancurkan Pak Raka.. Tapi, Mas enggak sadar kalau itu akan membuat masalah baru yang lain akan timbul, Mas." sambungnya yang membuat Chandra menaikkan alisnya.
"Kita sebentar lagi akan mempunyai anak.. Aku enggak mau anak kita nanti akan menuai hasil dari perbuatan Mas sekarang ini. Aku enggak mau Mas nantinya menyesal karena telah melakukan perbuatan yang keputusan itu Mas ambil saat Mas sedang emosi seperti ini. Pikirkan dulu matang-matang, Mas.. Kita bisa mengambil keputusan nanti saat kepala Mas sudah agak dingin." sambung Luna lagi yang kini akhirnya bisa sedikit meluruhkan emosi yang mengungkung Chandra.
"Lalu Mas harus bagaimana? Usia kandungan Jenifer selisih satu minggu lebih tua dari usia kandunganmu, tidak lama lagi perutnya pasti akan membuncit sama seperti perutmu.." Chandra mengesah, menyugar rambutnya ke belakang.
Istrinya ini benar.. Memang jika dalam keadaan emosi jalan pintaslah yang akan selalu diambil dalam menyelesaikan masalah.
Ia juga hidup di dunia ini tidak sendiri... Ia juga ingin memiliki keturunan yang nantinya bisa membanggakannya. Dan pasti ia akan menyesal jika salah satu keturunannya yang akan menuai hasil dari perbuatan tercelanya.
"Mas pasti tau yang terbaik untuk masalah ini. Lebih baik kita pergi ke London bersama Kak Ari dan Jenifer untuk berkata dengan baik-baik pada Dad dan Mom. Mengatakan sesuatu hal apalagi ini kabar buruk tentang anak perempuannya lewat ponsel pasti akan membuat keadaannya berbeda jika kita mengatakannya secara langsung, Mas. Kita tidak bisa memastikan jika Dad dan Mom akan baik-baik saja keadaannya saat mendengarnya jika Mas terlalu gegabah mengatakannya lewat sambungan suara. Mas harus memikirkan itu juga, Mas.." jelas Luna panjang lebar.
"Tapi Mas enggak bisa izin dari kampus.. Kamu tau kan Moreno sudah mengundurkan diri, sayang?" Chandra berkata dengan raut wajah sendu.
Rasanya semua harta yang ia miliki tidak berguna saat ia mengalami keadaan seperti ini.
__ADS_1
"Biar aku saja yang ikut kalau gitu, Mas." Luna pun menyakinkan dirinya.
"Mas enggak akan bisa izinin kamu pergi dalam keadaan hamil muda kayak gini."
"Biar aku dan Kak Darius sendiri yang pergi ke London untuk meminta restu dari Dad dan Mom, Kak.." Jenifer menyela, membuat Chandra dan Luna menoleh padanya.
"Ini adalah kesalahanku. Kak Chandra benar, aku yang berbuat aku juga yang harus menyelesaikan. Biarkan ini aku hadapi bersama Kak Darius, Kak.." sambung Jenifer yang membuat Luna terharu.
"Tapi, Kakak enggak yakin kalau Darius sudah seratus persen melupakan Luna, Jen.. Kakak berat untuk merestui pernikahan kalian yang didasari tanpa cinta." Chandra akhirnya mengakui apa yang menjadi kegelisahannya sedari tadi untuk mengatakan sebenarnya pada kedua orang tuanya.
"Maas.. Mas enggak lupa sesuatu kan?" Luna pun mengingatkan suaminya tentang pernikahannya yang juga tidak didasari atas cinta.
"Apa?" Chandra lupa.
"Mas buka pesan dari aku di ponsel Mas sekarang." Luna berujar dengan mengetikkan sesuatu di ponsel Chandra lalu memberikannya pada suaminya.
*Isi pesan: Kita juga dulu menikah tanpa cinta, Mas.. Tapi kita bisa bertahan sejauh ini kan? Apa salahnya untuk mencoba, Mas? Jangan menghalangi sesuatu yang nantinya akan menyulitkan Jenifer untuk kembali menolak niat baik Kak Ari.. Mas juga dengar kan kalau Jenifer kemarin sempat menolaknya karena tidak mau merusak persahabatan, Mas?
Chandra mendongak menatap istrinya setelah melihat isi pesannya, lalu Luna pun mengangguk seraya tersenyum yang membuat Chandra menghela napasnya.
"Suruh Darius kesini, Lan." titah Chandra pada Jaelani lewat sambungan teleponnya dan langsung memutus panggilannya tanpa mendengar jawaban Jaelani.
Luna dan Jenifer saling bertukar senyum, dua wanita cantik itu tersenyum saat mendengar Chandra yang akhirnya mau merestui niat baik Darius untuk menikahi adiknya.
"Maafin gue, Ndra.." ujar Darius saat ia kembali masuk ke dalam mobil Chandra. "Gue enggak bermaksud bohongin lo." sambungnya yang membuat Chandra menepuk pundaknya.
"Besok lo dan Jenifer harus berangkat ke London." ujar Chandra yang tidak menjawab permintaan maaf Darius.
"Hah? Maksud lo apa, Ndra?" Darius pun terperangah dengan menatap Chandra, Luna dan Jenifer secara bergantian.
"Gue ngerestuin lo jadi adik ipar gue.. Tugas lo sebelum nikahin adik gue ada di London. Minta restu sama kedua orang tua gue." jawab Chandra yang membuat Darius membulatkan mulutnya. "Kamu serius, Ndra?" tanyanya meragukan.
"Iya.. Tapi lo berangkat sendiri sama Jenifer, gue enggak bisa ikut. Laki-laki harus gentle, gue dulu aja minta restu sama Ibu mertua gue.
Gue datang sendiri, bro." Chandra berucap dengan meneteskan air mata.
Tidak percaya jika sahabatnya mau berkorban segitunya untuknya dan keluarganya.
"Bener Mas datang sendiri? Lalu Pak Sekretaris ditaruh dimana kemarin?" Luna pun mencoba mencairkan suasana yang membuat semua orang yang ada di mobil itu tertawa.. menertawakan Chandra.
"Kamu jangan buka suara dong, sayang.. Mereka enggak ada yang tahu. Iya-in aja kan buat aku senang." Chandra pun merajuk manja dengan mengusap pipi Luna dengan sayang.
"Dunia milik berdua ya.." ledek Jenifer dan Darius yang membuat Chandra melempar senyum pada mereka dan langsung mencuri kecupan di bibir istrinya yang membuat Luna menepuk lengannya pelan dan kembali membuat semua tertawa.
Bersambung..
__ADS_1