
"Di mana mereka, Jae? Sudah setengah jam kita menunggu, dan mereka belum sampai juga." Chandra menggeram kesal, karena waktunya sudah terbuang sia-sia untuk menunggu laki-laki yang tidak bisa dipegang omongannya.
Hari ini jadwalnya begitu padat, ia harus bisa menyelesaikannya agar bisa pulang lebih cepat dari biasanya karena akan menemani adiknya bertemu mertuanya.
Bagaimanapun, sore ini adalah pertemuan pertama kali antara adiknya dengan mertuanya, dan di Indonesia, sebagai wakil dari kedua orang tuanya yang berada di luar negeri sana, ia harus bertanggung jawab atas kebahagiaan adiknya.
Ia tidak akan tega membiarkan Jenifer datang seorang diri tanpa seorang pun keluarga yang menemani.
Dan Darius, sahabatnya itu sudah rela menawarkan dirinya untuk menjadi suami Jenifer agar keluarganya tidak menanggung malu atas aib yang dibuat oleh Raka.
Sudah sepatutnya jika Chandra harus menyempatkan waktu untuk datang ke rumahnya.
"Mereka sudah sampai, Tuan. Baru sampai parkiran." Jaelani memperlihatkan tabletnya yang berisi laporan foto pada Chandra.
Chandra pun berdiri sembari merapikan jasnya saat melihat Raka dan laki-laki paruh baya mendekat padanya beserta seorang pengacara.
"Siang Chand, maaf membuat kalian menunggu." sapa Raka untuk pertama kali setelah permintaan maafnya dengan Chandra.
Chandra menganggukkan kepalanya, memasang wajah super dinginnya.
"Kenalkan--" ucapan Raka terpotong saat Chandra mengangkat kelima jarinya. "Tidak usah berbasa-basi, karena Saya tidak punya banyak waktu." tegasnya yang membuat Raka terasa susah menelan saliva.
Chandra yang sekarang, berbeda sikapnya dengan Chandra yang dulu menjadi rekan sesama dosennya. Raka harus sadar akan hal itu.
Mereka berdua sekarang bukan teman kerja, melainkan seseorang yang telah banyak menorehkan luka pada Chandra bahkan keluarganya.
"Ehm. Baik. Bagaiman--" Raka berdehem kembali untuk menetralkan rasa gugupnya melihat tatapan yang begitu tajam Chandra padanya.
Laki-laki itu sadar dan sangat sadar jika perbuatannya 'merusak' Jenifer itu tidak bisa dimaafkan begitu saja.
"Pak Chandra.. Tidak ada yang perlu dibahas sebenarnya disini, karena Anda pasti sudah membaca dengan teliti berkas penyerahan saham sebesar tiga puluh persen dari Diamond Grup pada perusahaan Anda." pengacara Raka lalu menoleh pada Raka dan Papanya. "Bukan begitu Pak Raka?"
"Anda salah Pak Pengacara, Saya meminta bertemu berarti ada HAL yang patut dibicarakan disini terutama mengenai apa tujuan client Anda memberikan kepada saya saham sebanyak itu. Bisa diperjelas untuk apa?" tegas Chandra sangat mengena.
Raka menatap Papanya sebelum menjawab pertanyaan Chandra yang menuntut penjelasan.
"Saham tiga puluh persen itu untuk Arini--"
"Maaf. Jika untuk Arini, Saya berhak menolaknya. Karena perusahaan saya tidak ada kaitannya dengan Arini apalagi Anda." Chandra menoleh pada Jaelani. "Berikan dokumen pemberian saham kepada pemiliknya, Jae."
__ADS_1
"Tapi Chand--"
"Tidak ada tapi-tapian Tuan Raka terhormat." Chandra berdiri dari duduknya. "itu saja yang ingin saya sampaikan. Kami permisi." sambungnya sembari mengangguk lalu berjalan pergi diikuti Jaelani.
Raka mendesah pasrah, mata laki-laki itu berembun menatap punggung Chandra yang kini makin menjauh dari tempatnya duduk.
"Kita masih ada kesempatan. Sabarlah." ucap Papanya sembari mengusap punggung Raka.
***
"Kenapa wajahmu, Mas? Enggak jadi ngantar Jenifer ketemu mertuanya? Berubah pikiran?" Tanya Luna beruntun melihat suaminya tak seperti biasanya.
Laki-laki tampan yang menjadi suaminya itu sedang menekuk wajahnya, lalu memeluk dirinya erat sekali sepulang kerja.
"Ada apa?" Luna bertanya kembali sembari menepuk punggung suaminya saat Chandra tak kunjung bicara.
"Aku hanya butuh pelukan. Enggak usah tanya-tanya dulu, bisa?" Chandra melepas pelukannya demi menatap netra jernih milik istrinya, lalu kembali memeluk Luna yang kebingungan dengan sikapnya namun tak jua menolak pelukan darinya.
***
Dengan membawa beberapa kue yang dibikin sendiri oleh Luna dibantu Jenifer dan para maid yang ada di rumahnya, kini Chandra dan Darius mengendarai kendaraannya masing-masing bersama istri dan anaknya menuju rumah kedua orang tua Darius.
Perjalanan yang memakan waktu setengah jam itu diisi dengan canda tawa, walaupun Luna beberapa kali menelisik mimik muka suaminya yang terlihat kadang sebal, tapi bisa tersenyum saat ia bertanya.
Ah, tapi masa iya Chandra terlihat badmood hanya karena itu? Bukankah laki-laki tampan bak Dewa Yunani yang menjadi suaminya itu adalah orang yang pertama menyentuhnya, orang yang memenangkan hatinya, orang yang bisa memilikinya, pun orang yang membuat ia bisa memiliki harta yang tak ternilai harganya yakni Devano anaknya.
Lantas, pantaskah Chandra masih meragukan cintanya?
Dengan segala keraguan hati, Luna memegang punggung tangan Chandra yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Mas.. Aku enggak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tapi satu hal yang aku mau kasih tahu ke kamu, kalau di sini." Luna menunjuk dadanya sendiri. "hanya ada kamu. Enggak ada yang lain." sambungnya sembari tersenyum manis.
Chandra menoleh sekilas lalu mengangguk. "Aku percaya." ucapnya sembari menyeringai seraya menatap jalanan padat di depannya.
Hem? Luna sedikit menaikkan alisnya menatap tak percaya dengan balasan dari suaminya.
Tanpa sadar mulut Luna pun terbuka mendengar itu, yang membuat Chandra tersenyum tipis.
Ia tahu jika istrinya pasti tengah resah karena ia yang tiba-tiba badmood, tapi berbicara soal penyerahan saham dari Raka pun tidak bisa dibicarakan saat ini.
__ADS_1
**
Pertemuan dengan keluarga besar Darius tak seburuk yang dibayangkan oleh Jenifer.
Wanita yang telah berbadan dua dahulu sebelum menikah dengan Darius itu sedari tadi dari rumah Chandra terus berkecil hati jika nanti ia tak diterima oleh keluarga Darius.
Pun Darius menikahinya tanpa meminta persetujuan dari kedua orang tuanya. Darius menelpon kedua orang tuanya hanya untuk mengabari jika ia akan menikah dengan wanita pilihannya.
Dan itu yang membuat insecure di diri Jenifer terus menerus bertambah.
Namun, setelah mendapatkan penyambutan yang luar biasa ramah dari kedua mertuanya, bahkan kedua orang tua Darius bergantian mengajak bermain Arini, anaknya.. Rasa pesimis dan insecure itu pun berangsur-angsur berkurang, dan Luna hanya memberikan jempol dan senyum manisnya seakan-akan bilang, 'apa aku bilang? Bener kan kalau kedua orang tua Darius itu baik? Makanya jangan insecure dulu.'
Jenifer hanya mengangguk disertai senyum kecil yang ia lemparkan pada Kakak iparnya.
"Nanti kalian menginap?" tanya Ibu Darius pada Darius dan menantunya.
Darius menoleh pada Jenifer meminta jawaban dari istrinya, "Gimana kamu aja Kak." jawab Jenifer seakan tahu apa yang akan ditanyakan suaminya.
"Kamu enggak keberatan tidur disini? Nyaman? Hem?" tanya Darius yang membuat Chandra tanpa sadar tersenyum mendengarnya, hatinya menghangat sang adik mendapatkan laki-laki yang meratukannya.
Jenifer hanya mengangguk sebagai jawaban dan Darius pun memberikan jawaban yang diinginkan oleh Ibunya.
"Aku mau nginap disini juga, boleh Mas?" celetuk Luna yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya.
"Jangan berpikiran macam-macam, aku cuman kangen desaku Mas, enggak yang lain." bisik Luna begitu pelan di telinga suaminya.
Chandra menarik napas dalam, begitu dalam hingga membuat Luna meringis melihatnya.
"Mas enggak nyaman ya?" kata Luna tepat sasaran yang membuat Chandra mengerutkan hidungnya lalu mengangguk.
"Yang seharusnya tanya kayak gitu tadi itu Mas ke Aku, bukan aku ke Mas, kayak Kak Darius ke Jenifer." celetuk Luna lagi yang membuat Chandra meremas tangannya.
Demi apapun, jika mereka sedang berdua di kamar, mungkin Chandra sudah mengecup bibir Luna itu berulang kali karena membuatnya gemas.
"Kak.." panggil Jenifer melihat Luna cekikikan dengan Chandra.
"Ada apa? Kalau mau menginap, ya menginap saja. Ini kan rumah mertuamu. Lagian kita pakai mobil berbeda tadi, Jen." kekeh Chandra.
Jenifer beralih menatap Luna, seakan meminta tolong agar mereka juga mau menginap, karena bagaimanapun ini pertama kali ia berada di rumah mertuanya.
__ADS_1
Bisa saja kan kedua mertuanya takut dengan Chandra, karena itu berbaik sikapnya padanya? Jenifer belum siap menghadapi itu, dia tidak sekuat Luna yang bisa melewati berbagai rintangan hanya agar diterima oleh Emily, mom nya.
...